The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 84. Time Rewind




Chapter 84. Time Rewind



Beberapa saat sebelum Hydra meraung ..


“Apakah kamu yakin ini akan berhasil?”


Chloe melirik ke arah Argus dengan mewakilkan pertanyaan mereka semua.


“Iya. Hamba berani menjamin kita akan memperoleh kemenangan bahkan tanpa menggunakan kemampuan Time Stop milik anda.”


“Begitu. Yah rencana milikmu juga tidak begitu buruk sih. Ayo Hydra.”


“Khiirk!”


Chloe, Alpha, Beta, Gamma, Delta, Omega, Eleina, Xelyn beserta Livia ditugaskan untuk menyerang Arcandra secara terbuka tanpa adanya pengecoh.


Sedangkan untuk Argus dan Claire, mereka melesat ke arah Dyze untuk melindungi sekaligus memberitahunya mengenai pengambilan alih pertarungan melawan Arcandra.


Setelah melakukan itu, Argus dan Claire langsung memacu kecepatan menyusul Chloe serta yang lainnya.


Di perjalanannya, Argus sambil melamun memikirkan rencana yang sedang mereka lakukan sekarang.


***


Para Siren { Alpha, Beta, Gamma, Delta, Omega } memiliki tugas utama dalam menghancurkan fokus Arcandra dengan nyanyian mereka, bahkan jika memungkinkan, mereka harus membuat pikiran Arcandra menjadi kacau sehingga pergerakannya menjadi terbatasi.


Tapi karena badai abnormal dengan petir-petirnya yang terus bergemuruh membuat suara mereka para siren menjadi tenggelam, hal inilah yang akan menjadi peran dari Xelyn yang ternyata dapat memanipulasi cuaca sesuai suasana hatinya.


Setelah para Siren mampu mengacaukan pikirannya, Livia sebagai ras Xana yang memiliki potensi dalam memanipulasi air mencoba mengeringkan beberapa persen air yang berada di dalam tubuh Arcandra.


Saat itu terjadi Arcandra pasti akan merasakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya, hal ini dimanfaatkan oleh Chloe dan Eleina yang bertugas sebagai eksekutif cadangan dalam rencana ini.


Setelah beberapa saat mengulur waktu hingga Argus dan Claire sampai di sana, rencana sebenarnya pun dimulai.


***


Dan keberuntungan yang menyertai Argus sepertinya sangat besar, karena sampai detik ini semua berjalan sesuai rencananya, Chloe bersama dengan Eleina beradu senjata melawan Arcandra.


Chloe tidak menggunakan kemampuannya dalam memanipulasi waktu, karena jika dia menggunakannya maka ini semua akan berakhir begitu cepat.


“Livia! Hydra! Kalian jaga jarak!”


Seolah seorang komandan, dia mengarahkan Livia dan Hydra untuk menjaga jaraknya dengan Arcandra. Hal itu di dasari oleh ukuran tubuhnya, Hydra begitu rentan untuk di serang Arcandra.


“Nyonya! Eleina! Mundur terlebih dahulu!”


Mendengar arahan sejelas itu tentu membuat Arcandra terpancing dan tidak akan membiarkannya, dia mengibaskan sebuah tebasan besar ke arah mereka, namun belum sempat mengenainya, Chloe dan Eleina seolah lenyap begitu saja.


Di saat tebasan itu hendak menghantam permukaan Barrier seperti sebelumnya, Argus tiba-tiba berteriak:


“Sekarang!”


Kubah barrier milik Claire terbuka, menyesuaikan ukuran dengan tebasan milik Arcandra, hasilnya, tebasan itu berhasil keluar dari lingkup area yang terisolasi dari Dunia luar.


“Apa yang dia rencanakan?”


Hal ini membuat Dyze saja bingung, dia mengamati tebasan itu yang kini sedang terbang melaju ke langit seolah hendak keluar dari Neiphr itu sendiri.


Dan benar saja, tebasan itu mampu mengabaikan serta merobek bagian kecil dari atmosfer, hingga pada puncaknya..


Bulan terbelah menjadi dua.


Menyebabkan iklim menjadi kacau, arus laut menjadi naik secara signifikan bahkan dapat mencapai pergelangan kaki mereka di saat itu juga.


“Apa ..?!”


Di saat mereka semua tercengang melihat tebasan itu hingga mampu membelah bulan, Chloe tiba-tiba teringat tugasnya.


『 Time Rewind 』


Setelah Chloe menggunakan kemampuannya, seluruh kehidupan yang ada di alam semesta ini secara mutlak berubah menjadi dalam keadaan seperti bangun tidur.


Saat mereka membuka matanya, bencana mengerikan yang terjadi sebelumnya kini seolah tidak pernah terjadi. Bulan masih utuh, barrier berbentuk kubah Claire masih dalam keadaan maksimal tanpa terbuka sedikit pun.


“… Mimpi?”


Satu pertanyaan besar menyangkut di batin mereka masing-masing, apakah tadi hanya sebatas ilusi semata?


“Jangan hiraukan itu! Fokus pada rencana!”


Meski Argus juga memiliki pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi, dia lebih memilih untuk melanjutkan rencana daripada memikirkan sesuatu yang menurutnya sia-sia.


“Absolute restraint!”


Dia kembali menggunakan kemampuan menyegel terbaik yang dimilikinya. Saat rantai-rantai dari ‘Neraka’ itu menjerat Arcandra, Arcandra bergumam pada Argus:


“Argus .. Wahai adik kecilku. Kamu merupakan satu-satunya orang yang di Dunia ini yang tahu betul bahwa rantai mainan seperti ini tidak akan menghentikan pergerakan abangmu kan?”


“Ya .. Oleh karena itulah aku memperhitungkan semuanya untuk melawanmu!”


Argus berkedip dua kali, hal ini mungkin telah di sepakati oleh mereka sebagai sinyal. Karena tepat setelah itu, Chloe tiba-tiba langsung berada di samping Arcandra kemudian merebut pedang hitamnya lalu kembali ke posisi asalnya, lebih cepat dari satu kali kedipan mata.


“Jadi begitu. Kecerdikanmu memang tidak pernah berubah, Argus.”


"Terima kasih atas pujiannya. "


Dengan berkaca-kaca-- dengan penuh tatapan tekad dia menatap Arcandra.


Setelah menghela napas singkat dia menepukan kedua telapak tangannya dan bergumam


『 The End Of World's 』


Bumi(tanah) berguncang, gelombang laut mulai membesar secara signifikan, lempeng bumi bergeser, mengakibatkan adanya dorongan lava yang sangat kuat hingga mampu sampai pada permukaan.


Lubang-lubang yang cukup besar di tanah mengucurkan lava yang sangat panas menjulang ke langit layaknya sebuah air mancur.


Itu tidak hanya berlaku pada satu lubang saja, semua lubang yang terhubung dengan lempeng Bumi di seluruh Neiphr mengeluarkan lava yang membakar apapun disekitarnya.


"Jadi ini kartu AS mu?"


"Tidak. Kehancuran Dunia berupa bencana alam saja tidak akan mampu melenyapkanmu, karena kamu.. Tidak, kita semua pernah bertahan dari keadaan yang lebih mengerikan dari sekarang."


"..."


Arcandra yang dari awal murung menjadi tambah murung setelah mendengar perkataannya.


"Lalu? Dengan cara apa kamu membunuhku, adik kecilku?"


Haruskah aku membunuhnya?


Tidak ada kah jalan yang lebih baik dari ini?


Mengapa?


Perkataan Arcandra sempat membuat tekad Argus menjadi goyah, namun dia disadarkan oleh Chloe yang melemparkan pedang hitam milik Arcandra ke udara.


"True form: Ace."


Dengan menggunakan form sejati nya, Argus meraih pedang hitam itu dengan kecepatan hampir mendekati cahaya.


"Kau! Orang seperti mu tidak akan bisa menaklukkan ku!"


Ego yang bersemayam di dalam pedang hitam itu berupaya merenggut kebaikan dan nilai kemanusiaan yang masih ada di dalam hati Argus.


"Ah. Jangan susah payah untuk melakukannya. Semenjak aku tunduk pada nya, nilai kemanusiaan ataupun kebaikan tidak kubutuhkan lagi."


Dengan itu, Argus dapat menggenggam pedang hitam itu tanpa mengalami keterbatasan sedikitpun.


Dia mengarahkan mata pedangnya ke arah Arcandra kemudian bergumam:


"Sama seperti sebelumnya, akhirmu dipicu kesalahanmu sendiri."


Dengan kecepatan yang memasuki ranah cahaya, Argus langsung menusukkan pedang hitam itu di dada bagian kanan Arcandra.


Di detik-detik kejadian itu, Arcandra meraih pipi Argus dengan tangannya kemudian mengelus nya dengan lembut:


"Maaf.. Aku masih tidak bisa menjadi abang yang baik untukmu.."


Argus tidak dapat menahannya. Air mata bercucuran keluar dari kelopak matanya, dengan berat hati dia memutar pedang nya searah dengan jarum jam.


Dengan mulut bergetar dia bergumam:


"Kamu merupakan orang terbaik yang pernah ku miliki dalam hidupku. Selamat tinggal.. Abang sekaligus kaka tersayang ku."


『 Consdended Energy .. 』