The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 80. Alasan Eleina & Xelyn Mengikutinya




Setelah melalui malam yang panjang dan melelahkan itu, mereka semua memasang kembali pakaiannya dan tidur di atas Hydra hingga sinar matahari secara alami membangunkan mereka.


Karena lapar, mereka semua mengambil ikan yang ada di sana dan membakarnya lalu memakannya dengan lahap.


Setelah merasa kenyang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan mengendarai Hydra.


Di atasnya, Dyze sedang duduk di belakang kepala-kepala Hydra sambil menikmati hembusan angin pagi yang menerpa.


“Argus. Apa kau tau tempat gunung kembar itu berada?”


“Ya. Kemungkinan. Karena hamba dulu pernah sekilas berada di sana.”


“Begitu.”


Dengan arahan Argus yang menganggap bahwa gunung kembar itu merupakan tempat yang sama seperti yang pernah dia pijaki dulu, mereka kini mengarah ke timur laut.


Di tengah waktu senggang seperti ini, mereka saling mengobrol satu sama lain; Alpha dengan Beta, Omega dengan Livia, Gamma dengan Delta, Chloe dengan Dyze, Claire dengan Argus, dan Eleina dengan Xelyn.


Berfokus pada Xelyn dan Eleina yang sama-sama orang terbaru dalam mengikuti Dyze, mereka membicarakan sesuatu yang cukup menarik untuk diketahui dibandingkan yang lainnya.


Dimulai dari Xelyn yang menanyakan suatu hal pada Eleina.


“Hey. Apa alasanmu untuk mengikutinya? Dia sangat kuat. Bahkan Hydra saja tunduk di bawah kekuasaannya tanpa susah payah sedikitpun. Bukankah manusia seperti kalian ini sangat takut pada ‘sesuatu yang berbeda’?”


“.. Itu benar. Manusia akan selalu takut pada sesuatu yang berbeda dari mereka. Jika sesuatu itu berada di pihaknya, maka manusia akan menyanjungnya setinggi langit. Tapi apabila sesuatu itu berbuat satu hal saja diluar keinginan mereka, maka manusia akan menjatuhkan martabatnya serendah mungkin..”


“.. Tapi! Justru itulah yang membuatku memutuskan untuk mengikutinya. Aku ingin bertaruh pada takdir..”


“Supaya saat Dunia menyanjungnya kau berada disana juga.., ‘kah?”


“Benar sekali. Dan juga .. Apakah kamu membenci manusia?”


“…”


Xelyn menatap langit, menutup matanya, dan membiarkan angin yang berhembus menerbangkan rambutnya seperti bendera.


“Seharusnya tidak.”


Eleina menatap Xelyn tanpa berkata-kata, dalam tatapannya, seolah menyiratkan bahwa dia tahu bahwa Xelyn mengalami sesuatu yang buruk di semasa hidupnya.


“Kamu tidak perlu bercerita jika tidak ingin mengungkapkannya. Setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing, yang membedakannya ialah bagaimana cara mereka menanggapinya..” – Eleina mengatakan itu sambil melihat ke arah Dyze yang tersenyum saat berbicara dengan Chloe.


Xelyn membuka matanya, sekilas melihat ke arah Eleina lalu kembali membuang wajah.


“Begitu. Aku mengerti maksudmu.”


“Ngomong-ngomong. Alasanmu sendiri apa?”


Xelyn menghela napas lalu memasang ekspresi serius.


“Keberadaan Hydra disini merupakan peran terbesar yang membuatku takluk tanpa harus bertarung dengannya.”


Eleina memiringkan kepalanya lalu memikirkan sebuah tanda tanya besar di kepalanya.


“Maksudmu..?”


“Kamu sendiri tahu kan. Hydra itu sangat kuat dan ukurannya juga tidak masuk akal. Tapi itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuan Leviathan. Oleh karena itu saat mendengar kabar kematiannya aku syok, jantungku seolah berhenti dan bergeser dari tempat yang seharusnya.


Meski Hydra begitu jauh di bawah Tuan Leviathan, dia merupakan salah satu dari sedikit makhluk yang diakui olehnya. Keterkejutanku semakin bertambah saat mengetahui Hydra ditaklukkan dengan begitu mudah oleh seorang pemuda yang sepertinya berasal dari ras manusia.


Dan disaat itulah aku langsung menduga bahwa ‘Dia’ bukanlah orang dari golongan manusia.


Memang benar terkadang manusia dapat menjadi lebih kuat dari perkiraan kita, tapi potensi kekuatan yang dia miliki sekarang seperti kamu terjun ke jurang terdalam— tidak ada batasnya.”


“Jadi alasanmu untuk mengikutinya berdasarkan potensi kekuatan yang mungkin dimiliki olehnya?”


Xelyn menggelengkan kepalanya sekali.


“Tidak. Itu bukan alasan utamanya.”


“Apa?”


“Alasan utama aku tunduk patuh padanya ialah .. Aku meyakini ada sesuatu yang salah dibalik kabar kematian Tuan Leviathan.”


“..?”


“Tuan Leviathan itu sangat kuat! Bahkan kedua penguasa lainnya tidak mungkin dapat dengan mudah untuk membunuhnya! Lalu siapa yang berani menyebarkan berita ini jika hanya sebuah kebohongan semata? Tapi.. Di saat itu. Hydra juga memberitahuku bahwa yang menyampaikan berita ini pertama kali ke telinga Medusa adalah Behemoth, sang penguasa daratan.”


“Behemoth?!” – Eleina menganga saat mendengar itu, karena bagaimana mungkin Behemoth, sang penguasa daratan dapat menyampaikan kabar itu dengan sangat enteng, padahal semua orang di Neiphr mengetahui bahwa Leviathan salah satu faktor terpenting dalam menjaga keseimbangan Dunia.


“Apakah menurutmu ini ada hubungannya?”


Xelyn menatap Eleina, dari sorot matanya yang terlihat seperti anak kecil kehilangan arah, dia menunggu jawaban dari Eleina.


“…”


Sayangnya Eleina tidak bisa begitu banyak berkomentar, karena jika itu kenyataannya maka sesuatu yang besar pasti akan terjadi.


“Kamu sebenarnya juga berpikir demikian, bukan? Oleh karena itulah aku mengikutinya."


"..."


Eleina kini paham alasan Xelyn mengikuti Dyze, setelah obrolan ini mereka menjadi semakin akrab dan mengerti satu sama lain.