The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 25. Game Telah Dimulai



Chronoa pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh Dyze untuk membangunkannya yang sedang tertidur lelap.


“Cepat banguun..! Ini sudah pagi lo..”


Karena suara berisik Chronoa, Dyze terbangun, dia meregangkan tubuh untuk mengumpulkan nyawa.


“Sheesh, berisik sekali. Lagipula jika pagi hari memangnya kenapa..?”


Dia bertanya sambil mengucek-ngucek matanya. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Chronoa menyadarkan Dyze sepenuhnya. Setelah membawa tas, mereka pun melanjutkan perjalanan.


Di perjalanan, Chronoa lebih banyak melamun yang membuat panggilan Dyze menjadi terabaikan olehnya.


“Apa kau tidak mendengarnya!?”


Nada tinggi Dyze membuatnya tersadar. Membuat sebuah kata tidak sengaja terucap olehnya:


“Mereka tidak datang..”


“Hah?”


“Eh? Tidak apa-apa kok. Aku hanya salah ucap..”


Meski merasa aneh, Dyze tidak menanyakannya lebih lanjut. Dalam lamunan Chronoa, dia merasa aneh dan sedikit khawatir, karena para sosok-sosok itu atau bisa disebut juga ‘mereka’ tidak mendatangi mimpi Chronoa lagi. Chronoa menjadi ragu, apakah yang disampaikannya selama ini itu pesan atau Cuma kebetulan?


***


Kini sudah lebih dari setengah hari mereka berjalan, lagi-lagi tanpa menemukan siapapun atau apapun. Dari kejauhan, Chronoa seperti melihat sesuatu. Untuk melihatnya dengan lebih jelas, Chronoa memicingkan matanya.


“Ada apa?”


Dyze menghentikan langkahnya saat Chronoa melihat ke suatu titik.


“Tidak mungkin..”


Yang dilihatnya membuatnya mematung untuk beberapa saat. Dia menggelengkan kepala dengan cepat kemudian menarik tangan Dyze dan berlari.


“Kenapa ini?!”


“Sudahlah, ikut saja!”


Mereka pun berlari menuju sesuatu yang menarik perhatian Chronoa.


“Yang benar saja…!”


Meski Chronoa tidak dapat mempercayainya, ini nyata. Pohon rimbun raksasa berwarna hitam tepat berada di depan mereka. Seperti yang Chronoa pikirkan, pohon ini berasal dari mimpinya. Angin sejuk berhembus membuat daun pohon yang berwarna hitam itu bergoyang.


“T-tunggu!”


Menghiraukan Chronoa yang mematung, Dyze melangkah maju dan berteduh di bawah pohon itu.


Sambil menepuk-nepuk tanah di sampingnya, dia menatap Chronoa.


“Kemarilah.”


Tergoda akan hal itu, Chronoa mengabaikan kegelisahannya dan bergegas menuju kebahagiaannya. Setelah meletakkan tas di samping tas-tas milik Dyze, Chronoa mengambil posisi duduk kemudian bersadar di pundak Dyze, menikmati sejuknya angin yang terus berhembus menggoyangkan daun pohon.


“Padahal aku tidak begitu lelah. Tapi tempat ini nyaman sekali, membuatku ingin singgah di bawahnya.”


… Tidak ada respon, Dyze menoleh ke arahnya, dan mendapati Chronoa telah tertidur dengan mulut terbuka.


“Sheesh.. Payah sekali.. Hoamm.”


Seperti terhipnotis oleh angin yang berhembus, Dyze menjadi lelah dan ingin beristirahat. Namun apa yang dilihatnya saat ingin menutup mata membuat rasa kantuk itu hilang seketika.


Dyze memasang seringai di wajahnya sambil berkata:


“Akhirnya..”


Karena suatu kabut misterius muncul di sekitar mereka, meski penglihatannya terhalangi, Dyze dapat merasakan hawa kehadiran seseorang di dekatnya. Dia juga mulai melihat sebuah bayangan dari balik kabut di hadapannya.


Dyze memasang beberapa sihir pelindungnya, karena berjaga-jaga jika musuhnya bermain licik pada Chronoa. Sebagai perpisahan, Dyze mengelus dengan pelan kepala Chronoa sambil tersenyum.


“Tidak apa, kau akan aman bersamaku. Percayalah.”


Dyze percaya diri meski dia akan meninggalkannya sendirian karena sihir-sihir perlindungan atau pertahanannya yang terbilang efektif dari segala serangan.


Defends Of Dome(Kubah Pertahanan); dapat menangkis segala serangan fisik, bahkan Dyze menduga jika cakar naga pun tidak dapat menggoresnya.


Anti Magic Area(Area Anti Sihir); sebuah area berbentuk lingkaran yang dapat disesuaikan, Area ini tidak dapat ditembus oleh sihir yang lebih lemah dari pertahanannya dari luar maupun dalam, yang itu berarti, Chronoa tidak dapat keluar selama pertarungan berlangsung jika mencoba membebaskan diri menggunakan sihir.


Setidaknya 2 sihir itu yang paling dipercaya oleh Dyze untuk melindunginya.


Dyze yang telah berada diluar membunyikan lehernya dan berkata dengan senyuman:


“Baiklah. Game telah dimulai!”


Dyze menerjang menuju kabut tanpa rasa takut.


 


Kalimat yang berangsur-angsur seperti ditujukan padanya membuat Chronoa menjadi tersentak dari tidurnya.


“A-apa!?”


Tanpa mendapati siapapun, dan lagi-lagi terbangun di pohon hitam yang rimbun. Chronoa mulai berdiri dan menunggu kehadiran sosok itu, karena menurut firasatnya, dia akan mendapatkan jawaban yang dia cari di mimpi ini, jika tidak, maka setidaknya sebuah kata kunci.


“Dengar. Jangan sampai kamu merasakan kegagalan.. Kegagalan yang membuat dirimu lebih tersiksa daripada berada di lubang neraka…”


Suara itu berasal dari belakangnya, secara reflek dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Kemudian sebuah suara yang lain kembali muncul di samping—tidak, suara itu muncul di sekelilingnya, seakan mereka sedang memutari Chronoa.


“Benar. Demi misi pastinya ada suatu pengorbanan berupa kematian.. Jangan lengah.”


“Misi ini sangat berperan penting demi menyelamatkannya. Jangan sampai gagal demi dirinya dan dirimu sendiri..”


“Berhasil atau tidaknya dirimu tidak akan menghindari kematian. Takdirmu telah ditentukan..”


Suara-suara ini seperti memenuhi kepalanya, membuat Chronoa sampai meringkuk dan mencengkram kepalanya.


“Ukkhh! Apa maksudnya itu..?!”


Chronoa yang sedang kesakitan karena suara-suara ini pun tidak dapat menangkap maksud mereka. Hingga mereka mengucapkan kalimat yang sama membuat Chronoa dapat berpikir jernih kembali.


“Pahamilah.”


“Pahamilah..”


“Pahamilah…”


“Demi dirimu.”


“Demi dirinya..”


“Dan demi kami…”


‘Kami?’


Sebuah kata yang selalu ganjil menurutnya. Namun Chronoa masih tidak dapat memahami maksud dari setiap perkataan mereka.


‘Tunggu! Misi.. Kegagalan.. Kematian.. Penyelamatan.. Sebuah kata yang selalu terulang di kalimatnya. Apakah itu sebuah kata kunci atau petunjuk!?’


Chronoa berpikir keras mencari setiap kemungkinan alasan dari kata-kata tersebut untuk mengetahui jawaban yang dicarinya.


 


“Ughh, sudah lebih dari sehari aku berjalan tanpa kepastian, apakah yang disampaikannya itu benar.. Huh?”


Ditengah keluhannya, pemuda itu melihat sesuatu, dia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas.


“Bingo!”


Pemuda—tidak, Argus. Memasang senyum di wajahnya.


Argus mengangkat tangan kanannya, membuat kabut raksasa yang menghalangi pandangan tercipta di sekitarnya. Karena merasa cukup aman, Argus mengaktifkan sihir pertamanya.


『Special Vision』


(Penglihatan Khusus)


Kelopak mata Argus mengeluarkan cahaya hijau, dengan ini dia dapat melihat dengan jelas di dalam kabut.


Tidak ada tanda-tanda pergerakan. Membuat Argus memiliki keyakinan untuk melanjutkan pengaktifan sihirnya.


『Floaty Body』 , (Tubuh Yang Ringan).


『Pain Reduction』,(Pengurangan Rasa Sakit).


『Tetragon: Erupt Trap』, (Jebakan Erupsi Segi Empat).


『Circle: Tornado Trap』 , (Jebakan Tornado Lingkaran).


『Maximize Magic Asault』,(Memaksimalkan Serangan Sihir)


Merasakan adanya pergerakan Argus membuat ilusi di kabut berupa bayangan dirinya sendiri.


“!”


Argus melompat ke sisi lain saat merasakan sesuatu bergerak dengan sangat cepat ke arahnya. Dia juga mendengar sebuah suara yang mengejeknya.


“Illusi huh? Lemah!”


Saat suara itu memudar, sebuah angin kencang tertiup, membuat kabut argus menjadi tersapu bersih.