The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 6. Kemurkaan Sang Dewa



Chapter 6. Kemurkaan Sang Dewa


Astaga, kekuatan mereka?! Ini benar-benar kuat. Aku harus pulang sialan! Batin seorang wanita dengan rambut pendek bewarna biru. Tangannya sedikit bergemetaran. Mata abu-abunya melirik sekitar dengan gelisah.


Sebelumnya, wanita ini hendak pergi meninggalkan pasar. Sialnya, sekumpulan bandit mendadak datang, mengepung pasar, dan membuat kekacauan. Padahal, seorang perempuan yang tidak lain adalah Shearly ini, harus segera pulang dan mengobati Layond.


Kini, Shearly yang telah melawan mereka dengan sekuat tenaga telah berhasil dikalahkan dan tersekap bersama warga lainnya. Ia tertunduk seakan telah menyerah.


“Cih, Bertahanlah Layond....”


Langit benar-benar mendung sore ini. Juga, apa-apaan? Perasaan ini ... sepertinya, malapetaka yang besar akan segera datang.


Tidak, sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan itu. Aku adalah dewa malapetaka, mustahil petaka itu sendiri balik menyerangku.


“Dyze! Pak Tua ... dia, tidak berada di kamarnya!”


Deg!


Bagian dari dadaku mulai mengeluarkan suara yang sangat ribut. Perasaan ini semakin besar. Tidak, tidak mungkin. Layond, dia baik-baik saja.


Tidak mungkin, tidak mungkin. Tapi, perasaan ini terus menuntunku menuju pintu halaman belakang. Sial. Aku harus memeriksanya.


• * *


“Hiks, hiks, Pak Tua? Tidak, Ayah? K-kau mendengarku ‘kan?”


Tepat setelah aku membuka pintu halaman belakang, aku mendapati seorang pria berambut cokelat berlumuran darah dengan beberapa bekas cabikkan di tubuhnya.


Ia memeluk seorang wanita berambut hitam yang memiliki lubang cukup besar di bagian perutnya. Aku berharap ini adalah mimpi buruk. Sayangnya tidak semua keinginan dapat terkabul.


Ini nyata. Mereka berdua sudah mati. Ini sama sekali bukan pemandangan yang bagus untuk Noa. Sayangnya, aku terlambat mencegah anak itu untuk memasuki halaman belakang, tempat mereka berdua tewas.


“B-bangunlah Pak Tua payah. Kenapa bajumu begitu kotor? Bu-bukankah kau ... selalu melarangku untuk m-mengotori baju? Ibu bisa marah ‘kan? Hiks, hiks, L-lalu, apa yang Ibu lakukan? Kenapa ibu tertidur di sini? Apa yang terjadi? Apa yang ... aaaaaargh!”


Noa mulai menangis keras dan memukuli tanah dengan tangannya hingga terluka. Kurasa itu tetap sia-sia. Mereka telah pergi untuk selamanya.


“Belum ... aku belum memberinya apa-apa. Aku tak mengira mereka akan pergi secepat ini. Aku tidak mengira sama sekali.... Kenapa? Siapa yang melakukan ini?!” isaknya lirih.


Ck, ia terus saja melukai tangannya. Ini tidak bagus. Aku lalu segera menghentikannya.


“Dyze...?” ia melihatku dengan wajah tanpa harapan. Brengsek, aku memang menyukai keputus-asaan. Tapi mengapa kali ini berbeda?! Aku harus menolong anak ini? Memangnya itu hal yang bagus untuk dewa malapetaka sepertiku?


Ck, baiklah. Aku sudah berhutang padanya. Aku cukup terkejut saat menemukan tulisan dengan noda darah yang berada di dinding. Tapi kurasa nanti saja untuk membahas hal ini.


“Kau tak perlu memberikan mereka apa-apa karna itu percuma, mereka sudah mati..” Untuk sesaat, aku teringat kejadian saat aku kehilangan mereka.


“...sesuatu yang telah hilang darimu tidak akan kembali lagi padamu.”


Ia terdiam dan tertunduk lemas..baiklah, setidaknya ia sudah berhenti menyakiti tangannya.


“Lalu ... aku harus bagaimana?! Hiks, beritau aku Dyze! Aku, hiks, aku harus bagaimana?”


Aku membisu—tidak dapat mengeluarkan kata kata sedikitpun.


“Aku sedikit penasaran dengan dalang di balik semua ini,” ucapku kemudian. Noa tampak terkejut mendengarnya.


“Benar! S-siapa yang-“


“Lihat itu.” Aku menunjuk suatu rangkaian huruf yang tertulis di tembok.


“No, i, re? Noire? Maksudmu dia pelakunya?”


Karna tidak dapat memberikan jawaban pasti, aku memutuskan untuk tidak memberikan harapan palsu untuknya.


Noa terdiam kecewa. Yah, itu masuk akal. Lalu, kenapa juga bagian dari diriku terus saja mengatakan akulah pelakunya? Tunggu..kurasa itu ada benarnya.


Aku adalah dewa malapetaka dengan inti energi kehidupan yang masih belum mampu netral sepenuhnya.


Masuk akal jika serpihan EK dari dewa malapetaka mengundang kehancuran untuk makhluk di lingkungan terdekatnya.


Aku ingin mengatakan ini. Tapi, entahlah, Aku tidak tahu bagaimana caranya. Dia akan sangat terkejut atau bahkan membenciku ‘kan? Tch, tapi aku tetap harus mengatakannya.


“Hei, k-“


“Dyze, apakah kau melihat Lealta saat kita pulang?” Ia memotong ucapanku. Sialan. Tapi ada benarnya, kemana Lealta pergi? Apakah dia pergi sebelum insiden ini terjadi?


“Tidak, aku tidak melihatnya,” balasku.


“Hm, apakah menurutmu Lealta memiliki hubungan dengan Noire?” Tanyanya dengan tatapan kosong. Terlihat kemarahan, kesedihan, penyesalan yang tergambarkan didalam tatapan kosongnya.


“Itu...-“


“A-AH-AAAAAAAAAAH!!” suatu teriakan dari ambang pintu halaman belakang mengagetkanku dan Noa. Sontak aku menoleh dan melihat pelanggan Layond.


Ia biasa membeli kulit monster dan beberapa tanduk rusa. Tapi aku tidak mengingat namanya.


Tapi bagaimana bisa ia sampai kemari? Apa karna pintu yang terbuka itu?!


“Hei, pergilah!“


“Layond...! Astaga. Apa yang anak-anak ini lakukan padamu!?”


“Brengsek! Jangan sentuh ayahku!” Noa membentak orang itu. Tidak lama kemudian, satu per satu warga mulai memasuki halaman rumah.


Noa tampak sangat terkejut. Tampaknya, teriakan orang sialan ini telah menarik perhatian para penduduk.


Penduduk mulai berdatangan memasuki rumah Emilton.


“menjijikan sekali!” perlahan para warga mulai membicarakan pemandangan yang baru saja mereka lihat.


“wkwk, orang sok hebat itu mampus juga.”


“Apa anak-anak ini yang melukai mereka?”


“Ugh, apa-apaan perut wanita itu?!”


Ocehan mereka semakin menjadi-jadi dan membuat Noa kehilangan kesabaran.


“Cepat pergi Bajingan! Jika kalian hanya bisa membuat keributan, pergi saja!” bentaknya.


Mereka terdiam.


“Tapi, siapa yang membuat mereka seperti ini?” Tanya seorang penduduk tiba-tiba.


“…itu, aku, aku tidak tahu,” jawab Noa pelan. Mendengar itu warga desa menjadi terus-menerus mendesak Noa untuk memberikan jawaban yang jelas.


“Kalau begitu, siapa yang menyebabkan ini semua?”


“Benar, siapa yang membuat Layond menjadi seperti ini?”


“Seharusnya kalian tahu. Mereka ‘kan, orang tua kalian!”


“Hei, bisa jadi, anak pendatang itulah yang melakukannya! Bukankah itu masuk akal?”


“Cepat, mengakulah! Kau pelakunya ‘kan?”


Para warga terus berbicara satu sama lain. Noa yang sangat tertekan memegangi kepalanya dan meringis kesal.


“Cukup, aku adalah pelakunya.” Seorang lelaki berambut hitam sedikit abu-abu yang tidak lain adalah Dyze, mengangkat tangannya.


“Dyze? M-maksudmu...?” Chronoa menatap Dyze dengan tangan yang sedikit bergemetaran. Hal itu memang sulit ia percaya.


“Sudah kuduga!”


“Anak itu memang parasit keluarga Emilton!”


“Dasar tak tahu malu!”


“S-sesosok Iblis! Iblis yang menjelma sebagai Manusia ini pasti membuat mereka berdua mati mengenaskan dikarenakan Riley yang menyerahkan jiwanya pada Iblis dahulu! Sungguh kematian yang hina. T-tidak ada pilihan lain, cepat bakar mereka!”


“I-itu benar! Kita harus memusnahkan sosok iblis dan kedua mayat hina ini!”


Warga segera menggotong mayat Layond dan Riley.


“YANG BENAR SAJA!? Hentikan. Hentikan! Jangan bawa mereka pergi! Sialan, jangan sentuh tubuh orangtua ku dengan tangan kotor kalian brengsek! ” Gadis yang merupakan anak dari Layond itu memberontak dan menahan orang orang agar tidak menyentuh ayah ibunya.


“Mengerikan, Emilton muda ini bahkan telah terpengaruh si iblis! Tahan mereka berdua!” seru salah satu penduduk.


Tepat setelah perkataan orang itu selesai, para warga lain mulai mencoba menahan Chronoa. Tapi tentu saja, menangkap Chronoa itu bukan hal yang mudah.


Ia segera melompat dan melarikan diri. Sayangnya, terdapat Mage yang biasanya mengawal Druggist diantara kerumunan warga, ia menciptakan rantai dengan sihir yang segera mengikat anak malang itu.


“Aaargh, apa-apaan ini!? Lepaskan aku, sialan!” Chronoa memberontak sekuat tenaga, tapi itu tidak berhasil. Rantai sihir milik sang mage sangat kuat. Gadis itu lalu dibawa salah satu warga menuju tempat mayat pasangan Emilton akan dibakar.


Sementara Dyze, ia diikat dan dibawa ke tempat yang sama tanpa perlawanan. Seakan ia benar-benar pelaku yang menyerahkan diri.


Sesampainya di sana, para penduduk mulai menyalib Layond serta Riley. Tetua desa lalu memulai ritual dengan mengatkan kalimat yang artinya sulit dimengerti.


“Hmmp hmp hmmp” Chronoa kembali memberontak seraya berusaha mengatakan pada mereka untuk tidak membakar kedua orang tuanya.


“Diam anak kotor sialan!” Salah satu wanita penduduk desa memukul pipi Chronoa. Dyze hanya terdiam dengan tatapan kosong melihat jasad Layond dan Riley mulai terbakar secara perlahan namun pasti.


• * *


“Musnahlah.”


Swooosh! Angin berhembus dengan sangat kencang namun singkat, menghempaskan beberapa warga dan segala yang berada di sekitar Dyze termasuk Chronoa. Rantai sihir yang tadinya mengikat Dyze kini terlepas. Seluruh tubuhnya diselimuti aura tebal yang suram.


Seolah menutupi kemurkaan nya, langit yang mendung itu kini mengeluarkan hujan yang sangat deras, petir pun menggelegar dengan nyaring hingga memekikkan telinga.


“I-iblis ini! Dia, uhuk, dia mulai menyerang balik!” seru tetua desa. “Hentikan dia!” sambungnya. Tapi, penduduk desa terlalu lamban.


Dyze lebih dulu mengangkat tangan kanannya ke arah langit. Kemudian berbicara dengan pelan sambil memasang ekspresi kosong. Ia tampak tersenyum mengerikan seolah menikmati apa yang akan terjadi setelah ini.


“Circle Of The Death.”


Tepat setelah Dyze mengucapkannya, tercipta sebuah lingkaran sihir yang sangat besar di langit.


“A-apa itu?” lebih dari setengah warga desa Elvire berlutut mendadak. Tampaknya mereka mulai menyadari bayangan kematian akan segera menghampiri.


Lingkaran sihir itu mulai mengeluarkan cahaya merah dan...,


Sreeet! Puluhan tiang kayu timbul dari tanah, tepat di belakang punggung para warga. Masing-masing kayu itu kemudian menarik tubuh mereka dan mengikatnya dengan tali yang juga berasal dari tanah.


Tidak cukup sampai di situ, lingkaran itu kembali mengeluarkan cahaya merah, dan menurunkan hujan lava. Akan tetapi bukan lava biasa melainkan lava berwarna hitam, Rintik lava itu, perlahan turun dan mengguyur penduduk yang terikat dengan tiang kayu.


Kini mereka merasakan apa yang mereka lakukan terhadap Layond dan Riley, tidak, mereka merasakan ribuan kali penderitaan kematian dibanding dengan Layond dan Riley.


Meski hujan deras sedang mengguyur desa , lava hitam ini tidak akan padam. Rumah warga, pepohonan, Dyze dan benda lain yang tidak terikat tiang kayu Dyze, tentu saja terhindar dari guyuran lava itu. Erangan penduduk Elvire mulai terdengar. Beberapa dari mereka memohon ampun pada Dyze. Namun beberapa malah mengutuknya. Bahkan seorang mage yang mengikat Chronoa sekalipun tidak dapat lepas dari ikatan yang hanya terbuat dari kayu tersebut.


Ditengah penderitaan dan hanya ada teriakan sebelum menjelang kematian, terdengar suara seringai: “keh kek kek” suara itu berasal dari Dyze, ekspresi dari wajahnya menunjukan kepuasan yang mendalam karna warga desa itu telah mengalami kematian yang menyakitkan.


Lagi lagi, ia menggunakan skill disaat inti energi kehidupannya sedang tidak netral.


“Hmp, Uhuk!” Dyze kehilangan kesadaran setelah memuntahkan darah akibat menggunakan Skill-nya.


“Dyze! Dyze! Bangunlah!” samar-samar Dyze dapat mendengar Chronoa memanggilnya disaat terakhir sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.