The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 72. Kedatangan Sosok Yang Bersama Hydra



“— Tunggu!”


Suara Dyze memberhentikan Chloe yang akan menebas batang lehernya dan Argus yang telah menyiapkan sihir pemusnah.


Lalu karena kecepatan Chloe yang diluar nalar membuat debu-debu yang berterbangan di sekitar mereka kini tersapu secara sepenuhnya.


Hal ini memperlihatkan sosok siluet yang berada di baliknya.


Wanita berambut ungu panjang bergelombang, matanya merah seperti buah delima, dan tanduk banteng yang menjulang ke belakang.


Benar-benar memiliki karateristik yang cocok untuk Xelyn seperti yang digambarkan oleh Delta.


“Hey! Turunkan kami!”


Salah satu dari orang bertopeng itu berteriak ke arahnya, membuat Qilin itu mengayunkan tangannya ke bawah hingga membanting mereka ke tanah.


“Ketahui tempat kalian, dasar tol*l!”


“ARGH!”


“KAH”


“URGH!”


Tindakannya menyebabkan orang-orang itu menjadi remuk dan pergerakannya menjadi lumpuh sepenuhnya.


Di saat yang sama, mereka semua bisa melihat Hydra yang mengamuk di alun-alun kota tidak jauh dari mereka sedang menginjak, memakan, dan meremukan orang-orang bertopeng yang dia temui.


Meski Hydra sendiri kini tidak memiliki bentuk fisik yang jelas untuk dapat dikenali, tapi dia mempunyai sebuah aura khas yang hanya dapat diketahui oleh beberapa orang spesial saja.


“Gravity manipulation?”


Argus secara spontan saat mengucapkannya, karena dilihat dari kacamata nya yang seorang pengguna sihir kelas tinggi maka hampir dapat dikatakan penilaiannya mengenai sihir yang pernah dia lihat sebelumnya tidak akan salah.


‘Apakah penilaianmu tidak akan salah?’


[ Izin menanggapi. Ya, anda hanya perlu percaya pada saya, maka semua masalah anda akan selesai dalam sekejap mata. ]


‘…’


“Dyze! Mengapa kamu menundanya? Jika kamu perintahkan sekarang juga—“


Chloe menatap Qilin itu dengan sorot mata tajam dan menggunakan aura nya untuk mengintimidasi.


“— Maka akan kupenggal kepalanya dalam sesaat saja!””


“Santai. Kedatangannya bersamaan dengan kemunculan Hydra yang mengamuk tidak mungkin sebuah kebetulan belaka.”


“… Kalau begitu..”


Chloe menghela napas lalu menyarungkan kembali pedangnya, Argus mencabut sihirnya, Livia dan yang lainnya pun menjadi tenang kembali, untuk Claire dia masih waspada dengan barrier miliknya.


“Pemikiran anda sungguh luar biasa.”


Menanggapi pujiannya, Dyze justru memasang wajah jengkel dan membalasnya:


“Berhentilah menjilatiku, bicaralah tujuanmu yang sebenarnya.”


Bukannya tersinggung atas perkataan Dyze, Qilin itu justru melebarkan sudut mulutnya dan tersenyum kecil.


"Saya telah mendengar semuanya, tentang pengkhianatan Medusa atau pun kabar kematian Tuan Leviathan.."


Mereka lebih merasa penasaran ketimbang merasa kebingungan kenapa Qilin itu dapat mengetahuinya dengan sangat cepat.


Sedangkan Dyze dia hanya mengangkat alisnya tanpa berkata apa-apa.


Dan entah angin apa yang sedang berhembus, Qilin itu secara tiba-tiba berlutut pada Dyze lalu mengarahkan tangan kanannya ke dada kemudian bersumpah:


"Saya, Xelyn, dari ras Qilin, yang awalnya bertugas sebagai pilar Guardian Arbeltha kini tunduk sepenuhnya dan mengabdi pada sosok satu-satunya yang dapat menundukan Hydra."


Hal ini tentu saja tidak sesuai bayangan mereka, dan Delta serta teman-temannya tidak pernah memikirkan kemungkinan Xelyn akan tunduk begitu saja padanya.


“Sudah seharusnya begitu. Kau mendapatkan semua informasi tadi dari Hydra kan?”


“Itu benar.”


“Tapi bagaimana bisa? Hydra sendiri tidak pernah berbicara langsung padaku.”


“Saya akan menjelaskannya dengan singkat dan mudah dimengerti. Hydra dapat berbicara dengan saya karena saya memiliki kemampuan bawaan dalam mengerti Bahasa hewan.”


“Begitu. Itu memang kemampuan yang berguna meski tidak terlalu terpakai saat pertarungan.”


Dyze melirik ke arah Chloe, Claire, Argus dan yang lainnya, mengharapkan sebuah tanggapan mereka mengenai sumpah setia dari Xelyn.


Dan mereka semua memberikan reaksi yang berbeda-beda tapi satu hal yang pasti, menerima sumpahnya seharusnya tidak memberikan kerugian sedikitpun.


“… Tergantung bagaimana kesetiaan yang kau berikan padaku itu mencerminkan sikapku padamu.”


“Ya. Hamba siap menerimanya.”


Dyze kemudian bersiul sebagai isyarat pemanggilan bagi Hydra, dan tanpa membuatnya menunggu lebih lama lagi, Hydra langsung berlari hingga menggetarkan Bumi(tanah) di setiap langkahnya.


“Khiirk!”


Meski tidak terlihat, Dyze dapat merasakan Hydra kini telah berada di sisinya.


“Terjemahkan.”


“Baik. Hydra berkata: ‘Hamba memenuhi panggilan anda dengan patuh.’”


Dyze hanya tersenyum kecil, sesaat kemudian dia kembali membuang senyumannya.


“Bunuh mereka semua, dan sisakan satu untuk di introgasi.”


“Baik!”


Mereka semua pun membagi peran dan perorangan dari mereka setidaknya dapat membunuh 1 hingga 2 orang.


Seandainya musuh mereka berjumlah ribuan ataupun ratusan ribu sekalipun mereka tidak akan membaginya seperti ini, karena jika jumlahnya sebanyak itu mereka pasti akan memutuskan untuk bersaing memperebutkan jumlah terbanyak dalam pembantaian yang akan dilakukan.


Mereka semua melakukan tugasnya dengan baik, hingga hanya satu orang saja yang tersisa. Mengenai banteng yang dilawan Dyze sebelumnya, dia dibunuh dengan keji oleh Chloe dan yang lainnya.


“Bicaralah.”


Cuih!


“Aku tak sudi membongkar rahasia organisasi demi seorang monster sepertimu!”


Orang itu meludahi Dyze dan langsung bunuh diri di tempat dengan menggigit lidahnya sendiri hingga putus.


“Brengs*k..”


Dyze menyapu ludah di wajahnya, kini dia berada dalam kondisi diambang kemurkaan, hingga tidak ada satupun yang berani mengajaknya bicara.


“Ayo.”


Hanya satu kata, tapi entah kenapa begitu terasa berat dan menakutkan.


Bahkan Hydra sekalipun tidak berani untuk bersuara, dia mengangkat Dyze dan yang lainnya dengan membisu.


“—Tunggu!”


Suasana begitu sepi dan hening, tidak ada satupun orang yang berani membuat suara, hanya ada suara hembusan angin yang menyapu debu dan puing-puing kecil dari reruntuhan bangunan yang telah hancur.


Hingga ada sebuah suara yang berani untuk mencegat jalannya. Dyze pun melirik ke arahnya dengan tatapan murka, sumber suara itu— Eleina merinding saat melihatnya.


Tapi dia tetap berusaha untuk dapat menyampaikan niatnya sebelum kemungkinan kematian akan menghampirinya.


“K-kamu— tidak! Anda bukanlah Andrius kan?”


“Apa kepentinganku untuk harus menjawab pertanyaanmu?”


“…”


Karena Eleina tidak bisa menjawab pertanyaannya, Dyze berdecih dan langsung hendak meninggalkan kota itu.


Tapi lagi-lagi Eleina menghentikan langkahnya.


"Aku benar-benar akan membunuhmu lo."


Dari balik topengnya Dyze melotot dan menatapnya dengan sangat intens.


Eleina selama hidupnya tidak pernah merasa setakut ini, dia menelan ludah dan berusaha melanjutkan tindakannya.


“Anda bisa melakukan itu setelah mempertimbangkan kepentingan yang akan saya sampaikan.”


“… Bicaralah.”


“Saya memiliki sedikit informasi yang mungkin akan berguna untuk anda mengenai organisasi yang dia sebutkan sebelumnya.”


“Oh?”


Amarah Dyze sepertinya mulai menyusut mendengar pernyataan yang cukup melegakan dari Eleina.


“Kau akan kubiarkan hidup .. Setidaknya untuk saat ini.”


“Terima kasih banyak!”


“Naiklah. Kita bicarakan di lain tempat.”


Eleina tiba-tiba melayang seolah ditarik oleh sesuatu dan pada akhirnya dia ditempatkan pada posisi yang sama dengan Chloe dan yang lainnya.


“Mohon tunggu!”


Di suasana kota yang sepi seperti telah ditelantarkan sepenuhnya ada sebuah suara yang memanggil Dyze, disusul dengan kerumunan suara yang juga menimpalinya.