
“Tuan putri! Anda kemana lagi..?!”
“Haah.. Hari ini adalah hari ke-17 setelah orang itu ingin agar aku menjadi lebih kuat. Apakah malam ini dia juga melihat langit yang sama denganku?”
Namaku Eiria, satu-satunya Light Elf yang masih tersisa di Neiphr. Banyak hal yang telah terjadi, terutama saat aku dapat mengendalikan dan memanipulasi tanaman di hutan membuat para Elf menjadi tanduk dan patuh sepenuhnya pada perintahku, karena itulah aku kini dipanggil sebagai ‘Putri’ oleh mereka.
“Haduh putri, anda jangan selalu keluyuran tiap malam begini dong.. Keselamatan anda merupakan tanggung jawab saya..”
“Ya, santai saja. Aku akan bertanggung jawab secara penuh.”
“Tapi..!”
“Apa kau berani membantah?”
“..!”
Orang yang sedang berbicara denganku merupakan Elf yang ditugaskan untuk menjagaku setiap harinya, dia bernama..
“Bawahan ini tidak akan berani pada anda.”
“Tidak perlu begitu formal padaku, tapi bukan berarti kau dapat membatasi kebebasanku, Leon.”
“Baik..!”
Nama lengkapnya adalah Leo Nel, aku suka memanggilnya sebagai ‘Leon’ karena penggambaran singa cocok dengannya.
Leon memiliki postur tubuh gagah diantara pemuda Elf berbakat lainnya, rambutnya oranye dan memiliki mata kuning keemasan, dia memiliki kelebihan dalam bidang memanah dan sihir, Leon mampu menguasai sihir angin, api, dan tanah, dimana mayoritas Elf hanya mampu menguasai satu elemen saja yaitu angin.
Selain dalam bidang memanah, dalam hal fisik sekalipun dia tidak akan kalah, karena dia mampu melawan beberapa regu Elf yang mengepungnya dan mengalahkan mereka seorang diri.
“Kemarilah. Duduk disebelahku.”
“Eh? Bawahan ini tidak layak!” – Leon juga merupakan orang yang tegas, dia percaya diri dengan kemampuannya namun tidak dengan kedudukannya, karena dulu Leon hanya Elf petarung seperti pada umumnya, akulah yang menyadari potensinya dan merekrutnya sebagai salah satu pasukan dari regu khusus yang dilatih langsung olehku; Storm.
“Santai saja. Kau juga menyukai pemandangan langit malam yang penuh bintang ini, bukan?”
“… Itu benar, Putri.”
“Kalau begitu tidak perlu sungkan.”
“Baiklah!”
“Waah!”
Kami menikmati langit malam yang penuh dengan lautan bintang untuk waktu yang lama, nyatanya Aelfric selalu memintaku untuk tidak menyelinap sembarangan saat malam, tapi untuk sebuah keindahan seperti ini seharusnya layak untuk diperjuangkan.
“Lihat! Itu bintang Sirius, bintang paling terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang!”
“Itu rasi bintang Crux! Salah satu rasi bintang yang paling popular, beruntung aku dapat melihatnya kali ini..”
“Haha, kau sangat antusias sekali ya, Leon.”
“Hehe, saya sangat menyukai langit malam terutama jika berhubungan dengan bintang-bintang..” – dia menjawab dengan sekilas menatapku dan tersenyum lalu menatap langit kembali.
“.. Bahkan saya berharap jika bisa peristirahatan terakhir saya akan berakhir di sebuah tempat dimana para bintang bersinar dengan terangnya.”
“Benar.. Aku juga dapat memahaminya, itu pasti akan sangat indah..”
“Tuan putri, bisakah saya menanyakan satu hal?”
“Tanyakan saja.”
“Mengapa anda begitu menyukai langit saat malam?”
“…”
Benar juga, sejak kapan aku menyukai langit malam ya?
Dulu saat ras ku masih dengan jumlah yang banyak aku tidak tertarik sama sekali dengan keindahan alam, tapi kini mengapa aku merasa terikat saat melihat langit malam ya?
Tunggu..
Terikat?
Oleh apa?
“Kurasa karena aku terikat oleh sesuatu..”
“Terikat oleh sesuatu?”
“Bagaimana denganmu, Leon?”
Kata-katanya terputus, dia melihat ke tanah sesaat lalu melihat kembali ke langit dan melanjutkan kalimatnya.
“Keluargaku aslinya bukan dari hutan ini.. Keluargaku berada di hutan terpencil dengan perdesaan yang miskin. Suatu saat terjadi krisis makanan saat musim dingin, dan waktu itu aku sedang berburu di malam hari.
Saat pulang ke rumah aku dapat melihat dari kejauhan pintu rumahku terbuka, dengan sifat ayahku yang teliti dan tegas tidak mungkin dia akan membiarkan pintu terbuka begitu saja, begitulah pikirku saat itu.
Perasaan gelisah mulai menyelimutiku, aku bergegas masuk ke dalam rumah dan menemukan orang tua ku tidak apa-apa, justru mereka sedang memakan daging dengan lahapnya.
‘Syukurlah’ merupakan kata pertama yang terlintas di pikiranku saat melihat mereka baik-baik saja.
Dan saat itu aku melihat sepatu dan perlengkapan musim dingin yang biasanya dipakai oleh manusia berada di pojokan ruangan, namun aku hanya menganggapnya peralatan pada umumnya.
Kebetulan saat itu mereka bilang: ‘Langit dengan bintang telah menuntun makanan ke predator yang sedang kelaparan.’ Begitulah awal dari ketertarikanku pada langit berbintang.”
“Begitu ya..”
Aku juga bersyukur karena orang tua mu tidak menjadi korban dari kelaparan, meski masih penasaran dengan beberapa hal, aku memutuskan untuk tidak menanyakannya lebih lanjut.
“Sekian untuk hari ini, aku ingin tidur.”
“Kalau begitu biarkan saya menemani anda—“
“Jangan harap.”
“Maafkan saya!”
Maaf Leon, aku menghargai usahamu tapi yang berada di pikiran dan hatiku hanyalah orang itu.
Aku mulai berjalan kembali dari atap menuju ruanganku yang terbilang cukup mewah dibandingkan kamar mereka sendiri.
Aku mulai mengambil posisi tidur di atas Kasur yang lembut, sambil memeluk sebuah barang panjang yang Chronoa beri nama ‘Guling’.
“Aku merindukannya, aku ingin menjadi kuat secepatnya..”
Kata-kata itu terus bergumam dari mulutku hingga tanpa sadar membuatku tertidur..
“zzZ”
---
“Umhh.. Sudah pagi ya?”
Eiria dibangunkan oleh cahaya matahari yang menembus tirainya, setelah meregangkan tubuhnya, dia membuka tirai sepenuhnya dan menyambut hari yang baru.
“Selamat datang hari ke-18! Semoga aku lebih baik dari sebelumnya.”
Eiria mulai antusias, setelah merapikan pakaiannya dia langsung menuju tempat latihan tersembunyi yang hanya diketahui olehnya.
“Baiklah... Sekarang aku akan bereksperimen dengan pohon-pohon ini..”
Eiria mulai mengumpulkan amarah dan energinya secara bersamaan di satu titik lalu ‘meledakkanya’ keluar. Membuat sebuah aura intimidasi yang terdapat sebuah ilusi sosok iblis menyeramkan di belakangnya.
Aura intimidasi milik Eiria membuat pepohonan disekitarnya menjadi layu dan kering seolah terhisap olehnya.
“Jadi begitu.. Aura intimidasiku sebelum dan sebelumnya tidak pernah sekuat ini.. Dan juga semakin kuat sebuah aura intimidasi maka akan dapat mempengaruhi makhluk disekitarnya.., ‘Kah?”
“Kalau begitu saatnya mencoba untuk mengendalikan Bumi.”
“Summon: Golem Warlords.”
Tanah yang menjadi pijakannya tiba-tiba bergetar dan perlahan mencair dan membentuk sebuah makhluk besar seperti Golem dengan inti berwarna merah di dadanya.
Terlihat di tangan kanannya membawa kapak besar, dan tangan kirinya membawa perisai yang terbuat dari tanah namun kokoh.
Eiria mencoba memanjat dan menduduki kepala golem tersebut yang dari awal memang telah tersedia sebuah kursi.
“Bergeraklah sesuai perintahku, Golem Warlords!”
“Giik..”
Golemnya tidak merespon perintahnya, hanya mengeluarkan suara-suara aneh yang diartikan oleh Eiria sebagai penolakan.
“Masih tidak layak seperti biasanya ya? Sheesh..”
Eiria lalu turun dan menepuk tangannya sekali, sesaat kemudian golem yang kokoh itu menjadi cair dan menyatu kembali dengan tanah.
“Aku akan segera menjadi kuat untuk dapat bertemu denganmu!”
“Tunggu saja! Aku pasti tidak akan mengecewakan harapanmu!”