
Chapter 21. Pertanyaan Yang Terjawab
Di tengah pesta yang meriah, dimana semua orang dapat bahagia tanpa mengkhawatirkan apapun diluar sana, Dyze pergi ke tempat sepi setelah memakan hidangan yang disajikan; daging rusa yang dibakar dalam suhu yang pas tetap menjadi terbaik baginya.
Atap rumah dari Tetua Wood Elf merupakan tujuannya. Memandangi langit malam yang dipenuhi lautan bintang selalu membuatnya merasa tenang. Tanpa memperdulikan sekitarnya, Dyze hanya menghela napas pendek saat menyadari Chronoa telah mengambil posisi duduk di sampingnya.
“Apa? Kenapa kamu terlihat tidak senang saat aku datang?”
Tanpa menoleh ke arah Chronoa, Dyze hanya mengangkat bahunya, seolah berkata: “Tidak, tidak apa-apa.”
Menghiraukan hal itu, Chronoa juga memandangi langit bersama Dyze, karena penasaran, dia menanyakan semua yang menjadi beban pikirannya selama ini.
“Hey.. Kenapa kamu terus memandangi Langit setiap malam?”
… Tidak ada jawaban, Chronoa menoleh dan mencoba bertanya lagi, namun dia berhenti saat Dyze menggerakkan mulutnya.
“Kenapa..ya? Entahlah.. Aku sendiri pun tidak tahu..”
Dia mengatakannya dengan mata sayu, membuat Chronoa berpikir Dyze memiliki kenangan buruk yang bahkan dirinya tidak ingin mengingatnya.
Merasa bersalah, Chronoa mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan di benaknya.
“B-begitu ya? .. Kalau begitu apa itu Energi Kehidupan? Kamu pernah menyebutkannya di kondisi tertentu..”
Chronoa menatap Dyze, menunggu jawaban. Tanpa memberikan respon spesial, Dyze menjawabnya:
“Energi kehidupan, akan kujelaskan secara singkat padamu.”
Chronoa menjadi tercengang saat mendengar penjelasan Dyze.
Energi kehidupan menurut penjelasan Dyze itu sendiri adalah umur. Benar, umur. Energi kehidupan tidak dimiliki oleh semua makhluk, hanya ras tertentu saja yang mempunyainya dari awal, seperti ras Dewa, Angel, Iblis yang sudah hidup ribuan tahun juga memungkinkan memiliki Energi Kehidupan.
Energi kehidupan ini juga dapat menjadi bayaran untuk menggunakan Skill; sebuah kemampuan mengerikan sekaligus menakjubkan yang dapat menghancurkan, menciptakan, dan mendukung lebih hebat dari sihir. Itu artinya setiap Dyze menggunakan skill saat bertarung, dia dengan bahagia dan bersemangat membakar umurnya sendiri.
“..Apa..? Bukankah itu artinya kamu sedang membakar umurmu sendiri?!”
Melihat Chronoa yang terbawa emosi, Dyze hanya mengangkat bahunya.
“Selagi itu menyenangkan dan aku menyukainya, kenapa tidak?”
Jawaban Dyze membuat Chronoa kehabisan kata-kata. Dia mengatur napas untuk menstabilkan emosinya. Saat tenang dia kembali bertanya:
“Waktu itu, aku mengaktifkan skill. Tapi tubuhku tidak lemas seperti kehabisan mana atau apapun itu, apa yang sebenarnya terjadi?”
Chronoa mendengar kata “Oh” keluar dari mulutnya.
“Mungkin waktu itu karena kau tidak sengaja mengaktifkannya dengan umurmu sendiri.”
“..Hah?”
Kalimat Dyze membuat Chronoa bingung.
“Apakah itu artinya aku memiliki Energi Kehidupan? Manusia sepertiku?”
Dyze mendengar itu mengetuk dahinya dengan pelan.
“Bukan begitu, bodoh. Energi kehidupan dan umur itu sesuatu yang berbeda, kami para Dewa tidak memiliki umur. Energi kehidupan memang seperti umur, namun bukan dalam arti yang sebenarnya.”
Chronoa memiringkan kepalanya seperti orang bodoh.
“Ck, sebagai contohnya saja. Tidakkah kau merasa ada suatu perubahan signifikan pada tubuhmu?”
“Hah? Tidak ada.. Kok.”
Chronoa terdiam, dia teringat perkataan Eiria yang mengatakan tingginya berubah.
Melihat ekspresi wajah Chronoa yang telah menemukan jawaban, Dyze angkat bicara:
“Ya. Pada awalnya tinggi Eiria denganmu itu setinggi leher, namun sekarang, dia hanya mencapai pundakmu saja.”
Chronoa bingung, dia menatap Dyze dan menanyakannya.
“Kenapa bisa?”
Dyze melihat ke langit sambil menjawab:
“Yah itu karena umurmu yang terpotong saat menggunakan skill. Itulah perbedaan Umur dan Energi Kehidupan, jika umur yang dikonsumsi, pertumbuhanmu akan sangat pesat, dan umurmu semakin pendek dan cepat menua. Sebaliknya, Energi Kehidupan tidak berdampak apapun pada tubuhmu, namun jika habis maka jiwamu akan musnah seketika dan membuat tubuhmu seperti cangkang yang kosong.”
Chronoa merinding saat mendengarnya.
“Bukankah itu terlalu berbahaya?”
Dyze hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju.
“Berbeda dengan umur, Energi Kehidupan dapat menambah atau terisi kembali jika memenuhi syarat dalam kondisi tertentu. Contohnya berupa keinginan kuat untuk tetap hidup.”
“Itu saja?”
“Tidak juga, menikmati sesuatu yang kau sukai juga dapat menambah Energi Kehidupan.”
Ekspresi Chronoa berubah, dia sepertinya memahami apa yang Dyze maksud.
“Ugh, aku sekarang tahu mengapa kamu begitu menikmatinya.”
Chronoa menggelengkan kepala, bersiap untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.
“Bagaimana dengan Firmament Deity?”
Setelah cukup lama terdiam, Dyze tersenyum ke arahnya, sebuah senyum yang membuat Chronoa pertama kalinya merasa terpana.
“Apa? Ternyata kau percaya dengan dongengku? Haha ya sudahlah, akan kuceritakan yang kau inginkan. Itu adalah tempat yang hebat, aku memiliki banyak kenangan hebat disana. Jika dibandingkan dengan Neiphr, tidak dapat ku ukur seberapa jauh perbedaannya. Tempatnya memang berada di atas langit sih tapi di dimensi yang berbeda dengan Neiphr, oleh karena itu kami tidak terjatuh jika menginjak awan..”
Dyze juga menjelaskan bahwa di Firmament Deity terdapat 13 Dewa, dan dia merupakan yang terkuat diantara dewa lainnya. 13 Dewa itu terbagi menjadi 2 kubu, Dyze sendiri tidak tahu masing-masing kubu disebut dengan apa, dia pun menamainya sebagai Kubu Kegelapan dan Kubu cahaya.
Dia sempat menjadi raja dan menduduki takhta terkuat di kubu kegelapan selama ratusan ribuan tahun dan 6 dewa di kubu kegelapan di bawah kendalinya, namun meski menjadi raja, dia merasakan bosan.
Rasa bosan ini telah menyiksanya selama ribuan tahun, meski terkadang terobati saat sparing bertarung melawan Dewa malapetaka selain dirinya—Zavist, dapat dibilang dia sebagai orang kedua terkuat di Firmament Deity.
Rasa bosan itu terus menggerogoti jiwanya, sampai pada saat dimana dia sedang berkeliling Firmament Deity sendirian tanpa sepengetahuan satu pun malaikat yang menjaganya. Setelah beberapa waktu yang lama dia berkeliling tanpa tujuan, dia menabrak penghalang. Penghalang tidak kasat mata itu membatasi kubu cahaya dan kubu kegelapan, tidak ada satupun dari mereka yang boleh melewatinya.
Saat itu Dyze terpikirkan niat isengnya, dia ingin melihat kegiatan kubu cahaya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia memanipulasi penghalang itu dengan kekuatannya agar bisa meloloskan diri. Setelah mencobanya beberapa saat, dia berhasil, meski memakan waktu untuk memahaminya.
Saat melewati penghalang itu dia menelusuri wilayah kubu cahaya yang begitu luas, tidak seperti kubu kegelapan yang berisi berbagai macam takhta dan bangunan besar, kubu cahaya tidak terlihat satupun takhta disana.
Setelah berjalan dalam waktu yang lama tanpa menemukan apa apa, dia akhirnya menemukan sesuatu. Sebuah meja besar berbentuk lingkaran, meja itu berisi 5 dewa kubu cahaya yang duduk mengitarinya. Mereka terlihat tertawa bersama dan suasananya sangat jauh berbeda dengan kubu kegelapan yang memandang kekuatan dan kaku akan candaan.
Dyze awalnya ragu untuk melangkah, namun karena tidak meragukan kekuatannya, Dyze pun melangkah mendekati mereka. Dyze telah siap dalam keadaan bertarung, namun dia justru ditatap aneh oleh mereka.
Dyze mengira dirinya pasti tidak akan disambut baik, karena siapa pun yang berada pada cahaya pasti membenci apa pun yang berada di dalam kegelapan.
Namun dia salah, salah satu dari mereka justru memanggilnya, mengajaknya untuk mendekat, berkumpul bersama mereka. Raizel, dia yang memanggil Dyze untuk berkumpul bersama mereka, kini Raizel, sang dewa petir menjadi teman akrabnya.
Dyze yang tidak pernah tertawa selama ribuan tahun lamanya, kini tertawa untuk pertama kalinya.
Dengan sangat mudah, mereka menerima Dyze, mereka tidak mewaspadai Dyze sebagai musuh, padahal mereka tahu di depan mereka adalah Dewa terkuat, tidak merasakan takut, mereka justru antusias menanyakan pada Dyze apa rasanya menjadi yang terkuat.
Dyze menjawab dia merasa lega dan sedih di waktu yang bersamaan, lega karena telah mencapai tujuannya, sedih karena tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat menghiburnya lagi. Namun kini perasaan itu telah hilang sepenuhnya, Dyze merasa nyaman tinggal bersama para Dewa di kubu cahaya yang kini menjadi temannya.
Dia juga menjabarkan nama nama dewa kubu cahaya yang merupakan temannya tersebut dengan rinci beserta kemampuan mereka yang dia ketahui.
-> Raizel, Sang Dewa Petir.
Dia merupakan salah satu dari dewa kubu cahaya yang menjadi teman akrab Dyze. Seperti gelarnya dia memiliki kuasa atas petir, tidak ada satupun di kubu cahaya yang dapat menandingi kecepatannya kecuali sang Dewi Waktu.
-> Chloe, Sang Dewi Waktu.
Dewi ini jarang berbicara langsung dengan Dyze, tapi dia merasakan jika dewi itu sering memperhatikannya. Kemampuan Dewi Waktu yang Dyze ketahui adalah dia mampu memanipulasi waktu sesuai kehendaknya, dia juga bahkan dapat pergi ke masa lalu jika dia menginginkannya.
“Chloe..?”
Chronoa memegang dagunya seolah tidak asing dengan nama tersebut, Dyze hanya menatapnya dengan bingung kemudian melanjutkannya.
-> Diana, Sang Dewi Panah.
Dewi ini sering berinteraksi dengan Dyze, dia juga memiliki perawakan yang cantik, meski tidak secantik dan seanggun Chloe. Sesuai dengan gelarnya, Diana sangat Handal dalam memakai busur atau dalam hal memanah.
Diana memiliki busur favorit yang terbuat dari jiwanya sendiri, yang diberi nama Arthemis. Diana juga pernah bercerita pada Dyze seandainya dia bisa menembakkan Arthemis dengan setengah kekuatan penuhnya pada Neiphr, maka semua yang berada di dalam Neiphr akan hancur seketika.
Chronoa merinding saat mendengarnya, karena sebegitu mudahnya dewa dewi dapat menghancurkan Neiphr jika mereka menginginkannya.
-> Argos, Sang Dewa Cuaca.
Dewa ini juga akrab dengan Dyze, dia dapat mengendalikan dan memanipulasi cuaca di Neiphr maupun Firmament Deity sesuka hatinya. Untuk kemampuan bertarungnya Dyze tidak terlalu tahu mengenai hal itu. Tapi yang jelas selain dapat memanipulasi cuaca, dia juga memiliki kuasa atas pengendalian alam.
-> Eirene, Sang Dewi Keberuntungan.
Dewi ini begitu agresif pada Dyze, membuatnya sering bertengkar dengan Chloe yang biasanya tenang.
Eirene tidak pernah sial dalam hidupnya, kecuali sekali, selain itu dia tidak pernah mengalami ketidak-beruntungan. Eirene juga memiliki kepintaran yang teratas dibanding dewa dewi lainnya, dalam pertarungan dia memanfaatkan keberuntungannya untuk melancarkan serangan yang terlihat mustahil, ataupun menghindari sihir mematikan. Namun dia memiliki musuh alami, keberuntungannya dapat di blokir oleh Dewi Kesialan—saudari kembarnya, Erina.
“Woah.. Tidak kusangka Dewi Keberuntungan benar benar ada..”
Chronoa bergumam dengan suara pelan. Menyadari masih ada 1 pertanyaan tersisa yang mengganjal di kepalanya, Chronoa menanyakannya pada Dyze:
“K-kalau begitu bagaimana bisa dirimu berada di Neiphr?”
Chronoa bertanya dengan gugup karena dia sendiri sadar bahwa ini pertanyaan sensitif, jika tidak berhati hati mungkin Dyze akan tersinggung.
Mendengar Dyze yang menghela napas, Chronoa meliriknya. Dia melihat ke arah bulan purnama, tatapannya tajam dan intens, tangannya mengepal erat hingga urat nadinya terlihat. Atmosfer di sekitarnya berubah drastis, membuat Chronoa menggigil karena angin malam tiba tiba terasa seperti membekukannya.
Dia menggerakkan mulutnya dan berbicara dengan berat, tatapannya semakin tajam hingga seperti terlihat kilatan cahaya merah di matanya.
“Waktu itu.. Dimana semuanya bermula..”