
Dyze memandangi dunia luar melalui balkon dengan menopang dagu nya. Angin malam yang
sejuk berhembus menerbangkan daun di depannya. Kota Erdein tidak begitu padat
pada malam hari. Hal itu memberi nya ketenangan yang membuatnya jatuh dalam
lamunan.
Dyze mendongak ke arah langit yang sedang bersinar terang. Tidak ada awan yang
menghalangi cahaya bintang yang menghiasi langit malam kali ini. Dyze menghela
napas singkat. Ia juga bergumam dengan pelan hingga seorang pun tidak akan
mendengarnya.
“Lihat. Dunia tetap terlihat cantik meski Manusia telah mengotorinya..”
Dyze tersenyum. Sebuah senyum yang tidak dapat dikatakan baik.
Lamunan nya terpecah saat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya. Dan suara
datang—
“—Apa yang sedang kamu gumamkan? Suara mu terlalu kecil.”
Chronoa. Dia datang dengan memeluk guling dan telah menggunakan piama miliknya.
“Cih, nakal sekali. Sudah berapa lama kamu menyadarinya?!”
Mendengar Dyze yang bernada cukup tinggi pada nya, Chronoa tidak menganggapnya serius dan
menguap dengan santai nya.
“Hm? Entahlah. Mungkin dari kamu melihat langit.”
“Bukankah itu sejak awal!?”
Mengabaikan Dyze yang terlihat kesal karena kehadirannya, Chronoa hanya berjalan memasuki
balkon dan duduk di salah satu dari 2 kursi yang tersusun rapi di masing masing
ujung balkon. Chronoa memilih kursi yang dekat dengan Dyze berdiri, kursi pojok
kiri.
Dengan mata mengantuk ia memeluk guling dengan erat, Chronoa juga bergumam kecil namun
tidak dapat di dengar Dyze. Tapi Dyze telah melihat nya, dari gerakan mulut nya
saja dia telah tahu apa yang dimaksud Chronoa.
“Papa..”
Dyze hanya menatapnya dengan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa kasihan.
Menyadari Chronoa tidak mungkin datang tanpa tujuan menghampirinya, Dyze memiliki alasan
untuk membangunkannya dari tidur.
“Jadi? Apa maksudmu datang kesini?”
Mendengar suara yang familiar, Chronoa menjadi terbangun.
“Emhh? Ah, ya. Maaf aku ketiduran.”
Chronoa mengucek ngucek mata nya. Ia juga meregangkan tubuhnya untuk mengembalikan
tenaga.
“Jadi apa tujuan mu saat ini?”
Mimik wajah nya berubah. Menjadi serius, seperti orang yang berbeda. Karena topik yang
berat, suasana menjadi dingin dan mencekam. Tubuh Chronoa seperti berat untuk
digerakan.
Dyze menyeringai dan melompat ke railing(pagar) balkon. Ia membalikkan tubuh nya
agar menghadap Chronoa yang berada di belakang nya.
“Pertanyaan bagus. Mungkin sebelum bertemu dengan Noire sialan itu, aku akan melepaskan
penat dengan bertarung melawannya.”
Chronoa yang awalnya terlihat sangat mengantuk kini menjadi segar dan tidak terlihat
mengantuk sama sekali karena terkejut mendengar jawaban Dyze.
“Maksudmu Asmodeus!? Yang benar saja..! Memang benar kekuatanmu telah kembali, namun
wujudmu tetaplah Manusia bukan?”
“Eh?”
Dyze menunjukan mimik wajah seperti orang bodoh.
“Eh matamu! Apakah kamu tidak tahu apa yang mungkin kamu akan alami?!”
Chronoa terlihat kesal karena tidak menyangka Dyze tidak memikirkan hal seperti ini.
Dyze hanya meresponnya dengan menggelengkan kepala.
Chronoa menghela napas panjang.
“Kamu mungkin akan mendapat Limit(batasan) saat menggunakan skill mu.”
“Limit?”
Dyze menunjukan ekspresi seperti orang bodoh lagi.
Chronoa seperti sakit kepala saat melihat Dyze tidak mengerti keadaannya sekarang ini.
“Yah aku juga tidak tau pasti. Tapi yang jelas, Manusia dan seluruh individu dari semua
ras yang ada memiliki Limit nya sendiri. Saat kamu mencapai puncak dari
kekuatan, Limit ini akan membuatmu tidak dapat berkembang lagi. Jika kamu
memaksa, tubuhmu akan hancur karena tidak dapat menahan kekuatan yang terlalu
besar..”
Dyze tidak menunjukan respon apa apa. Dia hanya terlihat mengedipkan mata, dan mulutnya
terbuka.
“…Dan Manusia memiliki Limit yang lebih banyak dari ras lainnya. Jika hanya dengan
berlatih, kamu tidak akan pernah bisa melampaui Limit mu sendiri. Tapi ada
Legenda yang mengatakan jika Individu mengonsumsi bagian tubuh dari orang yang
memiliki Limit lebih sedikit dari nya, maka individu ini akan dapat melampaui
Limit pertama nya.”
“Limit pertama..? Limit lebih sedikit dari nya..?”
Kata kata itu tidak sengaja keluar dari mulut Dyze.
Ia tiba tiba tersadar kembali saat Chronoa berhenti bicara.
Dyze turun dari railing balkon dan menggoncang bahu Chronoa.
“Bukankah itu gawat?! Dan apa yang kamu maksud dengan Limit pertama?”
“Uggh.. Akan segera kujelaskan.. Jadi berhenti menggoyangkan bahu ku!”
Dyze berhenti menggoncangkan bahu Chronoa.
“Melampaui Limit pertama berarti kau telah berada di tingkat selanjutnya dari Ras mu.
Ambil Manusia sebagai contoh nya, Limit pertama seorang manusia adalah
tingkatan High Human. Jika seseorang berhasil menembusnya, maka dia akan
berevolusi menjadi High Human.”
“Dan individu yang memiliki Limit lebih rendah atau sedikit darimu itu menandakan
dirinya pernah melampaui Limit sebelumnya.”
Dyze menunjukkan Ekspresi yang bingung.
“Hadeh..
Akan ku jelaskan secara ringkas. Limit itu adalah hambatan saat mencapai puncak
kekuatan dari tingkatan kita sekarang. Jika kamu dapat menembusnya maka kamu
akan berada di tingkat selanjutnya.”
“Oh!”
Wajah Dyze
seperti menemukan jawaban.
“Dan kita sekarang masih berada di bawah Limit pertama? Yang berarti kita masih belum
berada di puncak kekuatan Manusia ya?”
“Benar sekali! Meski manusia itu lemah dan busuk tapi kamu masih dapat menggunakan
skill mu dengan baik di wujud manusia ini bukan?”
“Ya.. Tapi kurasa itu juga akan gawat jika tiba tiba saja aku mencapai Limit saat di
tengah pertarungan.”
“Benar.. Apakah kamu akan mengurungkan niat mu?”
Mimik wajah Chronoa menunjukkan bahwa ia berharap Dyze tidak meresikokan hidup nya.
“Tentu..—“
Dyze menyeringai.
“--Tidak. Justru akan membuatku semakin menyala nyala saat memikirkan aku akan mencapai
batas. Aku juga ingin tahu seberapa kuat diriku dalam wujud ‘manusia normal'.”
Chronoa menunjukkan ekspresi pasrah.
“Manusia normal? Maksudmu manusia yang belum pernah mencapai Limit ataupun
melampauinya?”
“Ya. Memang begitu kan arti nya?”
“.. Aku tidak pernah bilang itu salah sih, tapi dari awal kamu bukanlah manusia normal.”
Chronoa menghela napas singkat.
“Jadi? Kapan kita akan berangkat?”
“Hm? Kita? Aku sendiri pun tidak masalah kok!”
Dyze menjawab nya dengan enteng.
Chronoa kesal mendengar jawaban nya.
“Yang benar saja! Aku tidak bisa membiarkan dirimu yang suka bertindak gegabah bertarung
sendirian.”
“.. Besok. Aku akan membawa Eiria bersamaku.”
“Hah? Apa kamu serius?!”
Dia percaya Dyze mampu melindungi nya tapi..
“Ya tentu saja. Di saat aku sudah bosan, akan ku wujudkan sumpahnya.”
“Sumpah..?”
Chronoa teringat sumpah yang Eiria ucapkan saat pagi tadi.
“Lakukansesukamu.”
Mendengar itu Dyze hanya mengangguk padanya.
Namun pertanyaan Chronoa tidak berakhir saat itu.
“..Bagaimana dengan Claire?”
Dyze terlihat membalikan badan nya dan menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang bagaikan perhiasan.
“Aku tidak akan membawanya.”
Chronoa terlihat tidak setuju dengan keputusan Dyze kali ini.
Tanpa ia sadari, Chronoa berdiri dari kursi nya. Dia berbicara dengan nada yang tinggi:
“Tapi! Bukankah dia juga mengharapkan untuk melihat Dunia luar bersamamu?! Lalu
mengapa—“
Kalimat nya dipotong oleh Dyze yang menjawab dengan santai.
“—Aku tidak memiliki alasan untuk membawa nya.Dan juga, dia hidup di Dunia yang berbeda
dengan ku. Aku sama sekali tidak memiliki rasa kasihan ataupun memberikan
pengampunan pada Musuh ku. Tapi Dia tetaplah Manusia..”
Chronoa tidak mengerti apa yang dimaksud Dyze.
Menjawab Ekspresi bingung Chronoa, Dyze melanjutkan kalimat nya:
“…Manusia pasti memiliki pemikiran Naif di kepala nya. Seperti mengharapkan tidak ada nya
korban dalam peperangan yang di picu oleh mereka sendiri. Manusia juga terkadang
mengampuni musuh dengan harapan mereka akan berubah menjadi kepribadian yang
lebih baik ke depannya.”
“T..tapi darimana kamu bisa menentukan jika Claire itu naif atau tidak?”
“..Claire sepertinya telah menebak jika Eiria berasal dari Light Elf. Hal itu dapat
dilihat dari ekspresi terkejut yang berlebihan. Dia tahu jika Asmodeus pasti
cepat atau lambat akan menemukan Eiria, dan itu akan membahayakan dirinya
ataupun kita. Tapi meski dia tahu tentang itu, dia tetap membiarkan Eiria yang
berpotensi membahayakan dirinya tinggal bersama nya.”
Mendengar
itu, Chronoa tidak bisa berkata apa apa. Dia menutup wajah nya menggunakan telapak tangan dan duduk
kembali ke kursi nya.
“Maaf.. Aku naif. Emosi ku sebagai anak kecil masih belum hilang dariku.”
Dyze menghela napas singkat. Ia membalikkan badan nya dan ingin menuju lorong kamar
nya.
“Ayo.”
Ajakan singkat Dyze tidak dapat dibalas oleh Chronoa. Ia hanya mengikuti punggung Dyze
dari belakang sambil memeluk guling nya.
‘Punggung yang besar dan terlihat kokoh. Mengingatkan ku pada Ayah saat berburu, dia
selalu berada di depan ku. Namun entah karena apa aku ingin mendahului nya. Aku
tidak ingin berada di belakang nya.’
Chronoa berhenti mengelamun dan memutuskan untuk mengejar Dyze yang telah berada cukup
jauh dari nya.
Setelah sampai, Chronoa berjalan di sisi kanan Dyze.
Secara tiba tiba, dia menggandeng tangan Dyze yang berada di samping nya.
‘Benar.. Mungkin ini alasan nya. Aku ingin berjalan di sisi mereka. Aku ingin melindungi
bukan dilindungi.’
Melihat Chronoa senyum senyum dengan sendiri nya, membuat Dyze menatap nya dengan
ekspresi aneh.
Menyadari hal itu Chronoa menarik Dyze untuk lebih cepat menuju kamar.
“H-hey..Tunggu!”
***
Udara yang terasa sejuk dan terdapat kabut di pagi hari nya. Kicauan burung juga menambah
kesan saat bangun pagi. Awan mendung berada sekitar kota Erdein, membuat langit menjadi lebih gelap dari pagi biasanya.
Namun di tempat yang jauh dari kota Erdein, di ruangan gelap seperti gua terlihat Sebuah Siluet yang sedang memukul meja karena amarah nya.
“Noire itu! Apa yang dia rencanakan sebenarnya..”
“Tenanglah Tuan, mata-mata dari raja iblis Noire memang telah terbukti kualitasnya.”
Wanita bertanduk, memiliki sayap kelelawar, mata berwarna merah muda seperti delima
dan rambut berwarna biru tua sedang berlutut pada siluet itu.
“Cih. Kau benar. Dunia seperti berada di genggaman
nya, karena mata-mata nya tersebar luas di seluruh penjuru Dunia.”
“Jadi, Tuan Asmodeus. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Asmodeus, iblis yang memiliki badan besar, memiliki tanduk cukup panjang, rambut nya
berwarna merah menyala. Mata oranye nya tersirat ambisi yang membara.
Asmodeus menyeringai.
“Tunggu apa lagi? Siapkan pasukan dalam jumlah besar. Kita akan menginvasi kota Erdein jika Elf-- Eiria tidak ditemukan!”