The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 43. Perseteruan Antara Dua Sahabat




Di atas ketinggian sekitar 2 Kilometer diatas daratan, terdapat dua sosok yang sedang bertarung, salah satu sosok tersebut diselimuti aura emas seperti warna dari petir, dan di sisi lain, sosok yang tersisa diselimuti oleh Energi Negatif yang membentuk sebuah aura di tubuhnya.


Kedua sosok tersebut sedang asyik dalam urusannya masing-masing, mereka tidak akan memaafkan siapapun mencampuri urusan mereka.


Tapi..


Kedua sosok itu tidak menyadari bahwa seseorang mengawasi mereka dari kejauhan, dari tempat yang nyaris mustahil untuk dijangkau.


Dan entah bagaimana caranya, orang misterius tersebut dapat mengakses penglihatan salah satu dari kedua sosok yang sedang bertarung, Raizel. Setelah mengaksesnya dia memindahkannya pada sebuah Cermin berbentuk oval yang sedang melayang.


“Baiklah.. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kebenaran sesungguhnya? Dan apa yang akan dilakukannya saat telah menemukannya?” – Sosok itu tersenyum, seolah tersirat pesan bahwa dia sangat menanti kelanjutan yang akan terjadi.


***


Raizel dalam pikirannya terus bertanya-tanya, ‘Mengapa? Mengapa dari tadi kau terus tertawa? Apakah itu bentuk rasa bersalahmu?...’ Tapi dia tidak ingin keteguhan hatinya runtuh hanya karena hal tersebut.


Dia terus mendesak Dyze hingga dimana dia menggunakan salah satu kemampuannya sebagai Dewa Petir.


『 Thunderstorm Manipulation 』


Dengan kemampuan tersebut Raizel dapat memanipulasi ataupun mengendalikan badai berpetir disekitarnya dengan sesuka hati.


“Thunder: Level 3: Target: Lock.”


Raizel membuat sebuah gerakan seperti menembak ke arah Dyze lalu mengucapkan kata, “Bang” dari mulutnya.


Dan setelah itu sebuah petir berwarna ungu menggelegar dan langsung menyambar Dyze.


Biasanya bagi orang yang telah tersambar petir Level 3 milik Raizel maka pasti akan hangus dan hanya menyisakan abunya saja, tapi lain halnya dengan Dyze, meski dia tidak dalam wujud Dewanya, dia masih tetap utuh dengan pakaian yang sedikit berdebu dan kotor.


“Hadeh. Pakaianku kotor karena ulahmu.”


“… Sudah kuduga petir kecil seperti itu tidak akan mampu membunuhmu.”


“Ya, itu benar, tapi aku juga tidak dapat menghindarinya lo.”


“…”


Melihat Dyze yang masih begitu santai membuat Raizel menjadi ragu, dalam hati kecilnya dia menolak percaya Dyze telah mengkhianatinya, tapi sebuah bisikan-bisikan yang entah darimana asalnya terus memprovokasinya, membuat keyakinannya yang tadinya hampir goyah kini menjadi teguh kembali.


“Karena dari tadi kau diam saja, maka kali ini pembalasan untuk bajuku yang telah kau rusak.”


Dyze melesat ke arah Raizel, dan akibat dia melamun sebelumnya, Raizel menjadi tidak sempat bereaksi dan langsung tercekik oleh Dyze.


“Hmm.. Aku tidak akan mengakhirimu disini.”


Dyze melepaskan cekikannya, saat Raizel dapat bernapas lega, Dyze tiba-tiba menghantam kepalanya dengan sebuah tendangan, akibatnya tanah tempat Raizel mendarat dengan keras menjadi meledak dan hancur lebur serta pecahan-pecahannya berterbangan di udara.


“Urggh..”


Raizel bangkit dengan memegangi kepalanya, dia merasakan pusing karena menabrak permukaan tanah dengan keras.


Dengan mata yang masih berkunang-kunang Raizel melihat kedatangan Dyze yang perlahan menuruni udara.


“Dyze! Jawab pertanyaanku! Mengapa kau saat itu melindunginya!?”


“…”


Karena Dyze yang terus diam dan tidak memberikan jawaban, membuat Raizel yang tadinya masih seperti orang setengah sadar kini menjadi terbangun sepenuhnya akibat emosi yang terpicu dari pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


Raizel mulai mengangkat pedangnya dan mengarahkan pada Dyze, lalu melapisinya dengan petir.


Setelah itu dia melesat ke arah Dyze dengan kecepatan penuh, dan Dyze yang melihatnya pun langsung melakukan hal yang sama; Memperkuat pedang milik Chloe dengan Energi Sihirnya – kemudian Dyze melesat ke arah Raizel.


Sepertinya ini merupakan serangan terakhir dan mereka mempertaruhkan semuanya disini.


Raizel mulai merasakan waktu disekitarnya melambat, dan sebuah suara yang tidak asing mengalir di telinganya meminta untuk mereka berhenti bertarung.


“Jangan diteruskan! Raizel sepertinya..!”


Tapi Raizel memutuskan untuk mengabaikan suara tersebut dan mulai jatuh pada lamunannya.


‘Hey.. Apa menurutmu aku berada di pihak yang benar?’


[ Mencoba memproses pertanyaan.. ]



[ Maaf, jawaban tidak dapat ditemukan. ]


‘Apakah itu artinya aku yang salah?’


[ Mencoba mencari jawaban.. ]



[ Maaf, jawaban tidak dapat ditemukan. ]


‘Bagaimana bisa.., Mengapa tidak ada jawaban yang dapat memuaskanku!?’


[ Jawaban tidak diketahui.. ]


Raizel mulai bimbang, keyakinan di hatinya mulai goyah, dia khawatir jika yang terjadi selama ini tidak sesuai yang dipikirkan olehnya.


[ Pemberitahuan, ada suatu sinyal yang ingin terhubung dengan anda. ]


‘Sinyal...?’


Awalnya Raizel ragu untuk menerimanya tapi Skillnya justru menyambungkannya tanpa persetujuan Raizel.


‘Apa yang kau lakukan!?’


[ Maaf jika lancang, tapi ini merupakan yang terbaik untuk anda. ]


Di saat Raizel sedang jengkel dengan Skillnya yang bertindak seenaknya, sebuah rekaman seperti pecahan ingatan seseorang terputar di kepalanya.


“A-apa ini!?”


[ Ini merupakan rekaman ingatan seseorang yang mengirimkan sinyal pada anda. ]


Raizel mulai syok saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, selama ini dia mengira Dyze yang merupakan teman baiknya mengkhianati dirinya karena melindungi Zavist, ternyata semua yang terjadi tidak sesuai dugaannya.


‘Pola yang kualami saat kematian Shina pun serupa, apa itu artinya..’


[ Kemungkinan besar Individu bernama Shina melakukan hal yang sama dengan-nya, dia mengorbankan dirinya untuk keselamatan orang yang dipedulikan, yakni anda. Bukti berupa sayatan di lehernya dapat menjadi bukti bahwa awalnya dia ingin bunuh diri tapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya. ]


‘Jadi maksud perjanjian itu..?’


Raizel menjadi depresi saat mengetahui kedua orang yang dia benci justru telah menyelamatkan hidupnya selama ini.


Di saat penyesalannya mulai menumpuk, waktu kembali berjalan seperti semula – sekilas Raizel memasang senyum di wajahnya.


Setelah itu Raizel memacu kecepatannya hingga mereka saling menusukkan pedangnya di titik tubuh yang berbeda.



***


“Uhuk!”


Suara khas yang berasal dari dua orang yang saling memuntahkan darah dari mulutnya.


Mereka sama-sama cedera, namun salah satu diantara mereka justru menderita luka fatal; Sebuah pedang yang telah dilapisi sihir bersarang di perutnya, hanya masalah waktu baginya untuk menjumpai kematian.


Dan disisi lain – dia hanya menerima sebuah luka ringan di bagian pundaknya, sambil melotot akibat tidak percaya, dia menahan orang yang tengah sekarat agar tidak jatuh.


“Kenapa…, Raizel! Kenapa kau lakukan ini!?” – Dia meratapi Raizel yang telah terkapar lemas di pelukannya.


Saat tangan Raizel mulai menyentuh pipi Dyze, sebuah suara seperti ledakan yang samar terdengar.


“Ughuk!”


Raizel kembali memuntahkan darahnya, kali ini terdapat percikan api di genangan darah yang keluar dari dalam tubuhnya.


Hal ini dapat disebabkan akibat sihir yang berada di dalam pedang Chloe tidak sengaja terpicu dalam kondisi tertentu.


Akibatnya organ dalam Raizel mulai terbakar, membuatnya semakin menjadi lemah.


“Maaf.. Dyze. Hanya ini satu-satunya cara.. Untuk menebus dosaku..”


Sorot matanya mulai redup dan kosong, napasnya menjadi sedikit terengah-engah, dan tangannya berusaha menggapai pipi Dyze.


Mengetahui sahabatnya ingin menyampaikan sesuatu, Dyze pun mendekatkan telinganya pada Raizel yang sedang terbaring sekarat.


“Aku tahu dengan sifat pendendam milikmu kau pasti akan membalas-nya.. Oleh karena itu jangan sampai nekat untuk melawannya dengan pasukan seadanya. Persiapkanlah semuanya dengan matang..” – Tangan Raizel yang awalnya dipegang erat oleh Dyze kini menyentuh dahinya.


Sebuah cahaya terang bersinar persis seperti yang dulu Chronoa pernah alami, tapi terdapat perbedaan disini, Dyze tidak kehilangan kesadarannya, dia hanya kebingungan mengenai kondisinya saat ini.


“Aku titipkan dia padamu.. Dia pasti akan berguna untukmu suatu saat nanti..”


“Raizel! Jawab pertanyaanku! Kenapa kau melakukan ini semua!?”


Raizel yang kini telah hampir kehilangan kemampuan penglihatannya berusaha meraba-raba pipi Dyze, dan dia memasang senyuman di wajahnya.


“Aku melakukan ini untuk dapat memperkuat dirimu. Dengan pengorbanan ini kau akan dapat mengakses wujud dewa-mu meski hanya untuk beberapa saat..”


“Raizel..”


“Dan setidaknya.. Biarkan aku beristirahat dalam dirimu untuk selamanya.. Aku ingin melihat perjalananmu dari sisi yang berbeda…” – tangan yang memegang pipi Dyze jatuh ke tanah.


Pemandangan yang dia lihat sekarang merupakan—


Neraka.


Dia kembali merasakan kehilangan orang yang disayang untuk kesekian kalinya.


Dan lagi-lagi setiap orang yang berharga dalam hidupnya saat mati selalu memasang senyuman di wajahnya.


Mengapa?


Mengapa hal ini bisa terjadi lagi padanya?


Apakah Tuhan memiliki dendam pribadi padanya?


Aura hitam pekat bercampur warna ungu gelap meliputi dirinya, tanah--


Tidak, seluruh Neiphr berguncang hebat, kali ini Dyze jauh lebih murka dari sebelumnya.


Langit yang awalnya menjadi cerah akibat kematian Raizel, kini menjadi gelap gulita kembali.


Dan itu tidak hanya berlaku pada langit di atas mereka saja, seolah Neiphr diselimuti oleh langit yang sedang berduka.


Chloe, Claire dan Argus sigap mendekati Dyze yang memiliki kemungkinan untuk kehilangan kendali lagi.


“Claire! Gunakan Barriermu untuk mengurungnya!”


“Dan Argus! Siapkan Skill pengekang milikmu, apabila dia berhasil menghancurkan Barrier milik Claire!”


“Baik Nyonya!”


Claire menjadi sedikit ragu-ragu saat menyadari bahwa Chloe tidak mengemban tugas sama sekali.


“Dan kamu, Chloe?”


“Aku pernah melakukan ini sebelumnya, jadi tidak masalah. Buatlah sebuah kubah yang terbuat dari Barrier-mu. Lalu buatlah lubang kecil sebagai pintu masuk-ku. Setelah itu tutup seluruh akses kubahmu agar menjadi sempurna!”


“…”


Claire hanya menundukan kepalanya tanpa memberikan konfirmasi jawaban apa-apa.


Tapi saat ini bukanlah waktu untuk mempermasalahkan hal spele seperti ini.


Klikk.


Chloe kembali memperlambat waktu Dunia, tapi kali ini terdapat pengecualian untuk individu baru; Claire dan Argus.


“Barrier : Heavenly Dome!”


Mata Claire mulai berubah dari yang awalnya merah layaknya permata ruby kini menjadi kuning ke oranye-an seperti emas.


Setelah sebuah kubah yang terbuat dari Barrier berwarna oranye milik Claire telah tercipta dengan baik, Chloe langsung melesat masuk melalui akses pintu yang telah disediakan oleh Claire.


Tapi saat Chloe telah memeluk Dyze dan kulitnya mulai melepuh, Claire justru mengabaikan arahan dari Chloe untuk menutup semua akses masuk, dia berlari dengan kecepatan suara masuk menuju kubah emas raksasa yang mengurung mereka.


“Apa yang dia lakukan sih!?”


Argus menjadi bimbang; Apakah dia harus tetap mematuhi perintah Chloe tidak peduli apapun yang terjadi? Ataukah dia harus melanggar perintahnya demi keselamatan Chloe?


“Sial! Disaat seperti ini mana bisa aku untuk ragu-ragu!”


Dia memutuskan untuk melanggar perintahnya dengan mengikuti jejak mereka.


Tepat sebelum Kubah emas milik Claire tertutup sepenuhnya, Argus berhasil memasukinya.