
Dahulu sekali, bangsa manusia di Neiphr memiliki 10 pahlawan yang sangat kuat dan berjasa bagi keberlangsungan dari kejayaan yang mereka rasakan.
Terdapat:
— Argus yang berperan sebagai ahli sihir, dia juga merupakan orang paling berbakat dalam sihirnya.
— Raymon yang berperan sebagai petarung garis depan. Dia pengguna kapak raksasa yang terbuat dari mithril dan suka menekan musuhnya lalu melambat-lambatkan alur pertarungan.
Hal itu di dukung oleh Unique Skill yang dimilikinya yang membuat Raymon mendapatkan 2% pengurangan kerusakan(damage reduction) setiap kehilangan 1% darahnya.
Itulah yang membuat Raymon unggul jika bertarung dengan mengandalkan waktu. Tapi Skill miliknya memiliki batas hingga 40% pengurangan kerusakan saja.
— Eldrick yang juga berperan sebagai ahli sihir di garis belakang, namun dia tidak sehebat Argus dalam memaksimalkan potensinya.
— Arhans yang berperan sebagai pencari Relic. Dia cukup jarang masuk ke dalam pertempuran secara langsung. Arhans hanya membekali teman-teman kelompoknya dengan Relic spesial yang dia temukan.
— Waller, sama seperti Arhans dia jarang masuk ke medan perang dan bertempur langsung dengan musuh. Itu karena dia memiliki peran sebagai ahli formasi, taktik dan strategi.
Tidak hanya laki-laki saja yang berada di kelompok(party) 10 pahlawan manusia, terdapat beberapa wanita tangguh yang juga sama kuatnya dengan mereka:
— Helen, biasanya bertugas untuk mendukung garis belakang dengan kemampuannya seperti sihir dan lain sebagainya.
— Gretha, seorang petarung garis depan seperti warrior yang biasanya sudah siap mati. Dia juga merupakan salah satu rekan dari Raymon karena mereka sama-sama berjuang di garis depan.
— Neva, dia merupakan seorang Assasin pengguna dual blade yang ahli dalam membunuh ketika lawannya dalam keadaan lengah tanpa diketahui seorangpun pergerakannya.
— Qiana, seorang Healer(penyembuh) sekaligus jantung bagi kelompok(party). Karena selain mampu menyembuhkan luka serius dalam waktu hitungan detik, dia juga mampu membuat sebuah kubah pelindung yang cukup kuat hingga pada titik dapat menahan napas dari naga kuno sekalipun.
Para orang-orang hebat itu disatukan dan menjadi satu kelompok yang mampu menaklukkan seluruh ras di Dunia, semua itu dapat dilakukan karena ketua mereka yang sangat kuat mampu membuat orang-orang hebat seperti mereka tunduk di bawah perintahnya.
Atau .. Begitulah seharusnya yang terjadi.
Sayangnya, saat bangsa manusia dalam kejayaan tertingginya, Argus, sang ahli sihir terhebat dari mereka berkhianat.
Dan entah kenapa semenjak kepergian Argus berpindah kubu pada lawan, performa Arcandra, sang ketua, menurun drastis, dia terlihat depresi dan menyimpan semuanya sendiri.
Hal ini memicu perpecahan dari berbagai pihak, hingga pada puncaknya 10 pahlawan menjadi tidak terdengar lagi semenjak daratan terbesar Dunia, Rodinia terbelah.
Arus-arus lautan yang mengamuk menyapu dan menenggelamkan semua yang ada di daratan, Bumi(tanah) berguncang merobohkan semua yang berpijak di atasnya, dan langit menjadi hitam pekat dengan badai petir yang bergemuruh merusak mental semua yang berada di bawahnya.
Dikabarkan saat peristiwa itu terjadi terdapat 3 hingga 4 orang dari 10 pahlawan manusia yang gugur terseret ombak, ataupun gugur karena hal lain.
Kemungkinan yang gugur itu ialah: Waller, Qiana dan Arhans.
---
“Qiana .. Arhans .. Waller ..”
Argus syok, dia tidak mengetahui bahwa teman-temannya ada yang gugur karena peristiwa mengerikan itu.
“Ah .. Brengs*k .. Kukira aku sudah siap untuk menerimanya ..” Dia mengumpat pada dirinya sendiri dan menggenggam dahinya dengan sangat keras seolah hendak menghancurkannya saat itu juga.
Argus menoleh ke arah sumber suara yang berat dan menekan.
Lalu mendapati Dyze menatapnya dengan intens.
“Kau. Apa memang kau dari awal selemah ini? Melihatmu yang seperti ini mengingatkanku pada diriku yang menyedihkan saat itu.”
Dyze mencengkram kerah baju Argus dan mengangkatnya hingga membuat Argus merasa tercekik.
“Jika kau memang benar-benar ingin mati maka akan kukabulkan sekarang juga. Jawab. Kau hanya memiliki waktu kurang dari 2 detik.”
Dengan dikejar waktu, Argus berusaha membuka mulutnya meski dalam keadaan tercekik, namun percuma mulutnya masih tidak dapat terbuka, setelah termenung di bawah alam sadarnya untuk beberapa saat, Argus akhirnya menemukan titik terangnya.
Dia menyingkirkan segala perasaan dan emosi yang dia rasakan sebelumnya.
“Ma .. Maafkan hamba ..”
Berhasil. Dia dapat berbicara, Argus kemudian melanjutkannya:
“Keteguhan hamba sempat goyah .. Tapi berkat anda itu semua kini lenyap sepenuhnya.”
“Bagus.” Dyze melepaskan cekikannya, membuat Argus terjatuh dan terbentur permukaan gua dengan keras.
Argus bernapas dengan terengah-engah karena jika telat sedetik saja maka mungkin dia akan kehilangan kesadarannya.
“Sheesh. Aku memang menyukai orang yang berputus asa, tapi jika orang itu merupakan bagian dari bawahan yang patuh padaku, aku sangat malu menerimanya.”
“Maafkan hamba.”
“Terserahlah. Untuk sekarang lebih penting kau membaca batu yang tersisa.”
“Baiklah ..”
Argus mulai berdiri dan mendekati batu di sisi kanan yang berada di dekatnya.
“Dia akan terbangun saat siang diselimuti kegelapan layaknya di malam hari. Kebangkitannya akan mengguncang seluruh pelosok dari benua Arbeltha. Dia dikurung atas dosanya di sebuah tempat yang terhimpit oleh gunung kembar.”
Argus kemudian berbalik dan menghadap pada Dyze.
“Sepertinya hanya itu. Dan kemungkinan besar apa yang dimaksud siang diselimuti kegelapan layaknya di malam hari ini adalah gerhana matahari total.”
“Gerhana matahari .. Total?”
Dyze memiringkan kepalanya, dia bukan tipe orang yang suka berpikir rumit seperti itu.
“Terserahlah. Jika hanya itu maka sudah cukup.”
“Ayo. Kita keluar.”
“Baik.”
Mereka semua berjalan dan mengikuti Dyze dari belakang menuju keluar gua.