
Meski sedang cemburu, Chloe berusaha untuk menyembunyikannya di hadapan Dyze, dengan cara berpura-pura tidak terpengaruh sama sekali.
“Ekhem.. Sepertinya kamu cukup berani ya..”
Claire tertawa kecil saat mendengar perkataan Chloe, dia membalasnya dengan memasang senyum yang membuat Chloe tambah kesal dalam hatinya.
“Hehehe.., jika bersaing untuk memperembutkannya aku tidak ada niat untuk mengalah..!”
“Ghiierkk!”
Hydra yang terlihat mulai menjadi berisik menarik perhatian mereka, karena mereka tahu makhluk seperti Hydra memiliki insting tajam yang dapat di andalkan.
Semak-semak yang berada tidak jauh di samping mereka tiba-tiba bergerak sehingga menimbulkan suara.
Chloe langsung berdiri bersiap untuk memetik jarinya, Claire dengan sigap memasang barriernya, dan Argus berancang-ancang untuk mengeluarkan lingkaran sihirnya.
“Tunggu.”
Perkataan Dyze membuat mereka menunda menyergap sesuatu yang berada di semak-semak tersebut, jika bukan karena perkataannya, mungkin sesuatu yang bersembunyi di baliknya sudah pasti akan meregang nyawa.
“Aku tidak merasakan niat jahat atau emosi negatif.. Biarkan aku yang mengurusnya.”
Saat Dyze hendak berdiri, pakaian-nya terbang dengan sendirinya menuju ke arahnya, menutupi benda yang membuat Claire dan Chloe menjadi ngiler. Saat Dyze meregangkan tangannya, baju itu masuk dan terpakai dengan sendirinya.
Selain itu, tubuh Dyze tiba-tiba menjadi kering tanpa ada setetespun air yang membasahi pakaiannya, wajahnya setelah mandi membuat Chloe dan Claire menjadi terpesona.
Dyze kemudian berpindah tempat dalam sekejap, mengabaikan jarak puluhan meter dari semak yang memisahkannya. Yang tersisa dari tempat awalnya hanyalah angin lembut yang menerpa sekitarnya.
“Cepat sekali.. Aku hampir mengira itu merupakan teleport..” – Argus yang merupakan ahli sihir terkuat di kalangan pahlawan kuno saja hampir salah dalam memperkirakannya.
“Tunggu apa lagi? Ayo kita menyusulnya!” perkataan Chloe menyadarkan Argus, hanya dia yang tertinggal di belakang, Claire dan Chloe telah maju menyusulnya, lagi-lagi Argus kecewa pada dirinya yang kurang sigap.
---
Saat mereka telah memasang pakaian dengan lengkap dan tiba di tempatnya, Dyze terlihat keheranan karena mendapati sesuatu di balik semak yang tidak berdaya, Claire dan Chloe menjadi penasaran lalu meminta izin untuk melihatnya dengan lebih jelas, begitu pula dengan Argus.
“Elf?” – kata itu muncul dari mulut Chloe, Claire dan Argus.
Mereka mengira makhluk yang sedang tidak berdaya tersebut merupakan Elf karena telinganya yang lancip serta tajam.
“Lebih tepatnya dia adalah Xana.”
“Xana?” – mereka sedikit heran dan kagum karena Dyze mengetahui rasnya dalam sekali lihat.
“Xana, ras Elf yang menempati perairan. Dan juga luka ini.. sebelah kakinya telah menjadi batu. Kemampuan untuk merubah objek ataupun subjek menjadi batu.. Gorgon.”
Meski cukup bingung karena Dyze tiba-tiba mengenalinya dalam sekali lihat, mereka berusaha untuk tidak meragukan kemampuannya.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan?” – pertanyaan ini dilontarkan oleh Chloe, Claire pun mengangguk sebagai isyarat menunggu arahan darinya.
“Tidak ada keuntungan untuk menolongnya..” – Dyze mulai beranjak pergi dan bergumam pada dirinya sendiri yang didengar oleh mereka.
“.. Aku bukanlah seorang pahlawan keadilan ataupun penyelamat kehidupan. Aku hanyalah sosok Dewa Malapetaka yang membawa kesengsaraan pada siklus kehidupan.”
Mereka yang mendengar itu hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata, dan Chloe langsung berlari ke arah Dyze dan memeluknya dari belakang.
“Apapun keputusanmu, percayalah, kami akan selalu mendukungmu!”
“Begitukah..?” – Dyze memasang senyum yang dia sembunyikan dari mereka, saat Argus dan Claire mulai menyusul, Xana itu tiba-tiba sadarkan diri dan memohon ke arah mereka sambil berjalan menggunakan tangannya dengan menyeret tubuhnya di tanah.
“Kumohon! Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi, tapi setidaknya bawalah anakku bersamamu!” – Xana itu seperti mengeluarkan sesuatu dari semak-semak, dan itu merupakan Xana yang masih remaja, seorang gadis kecil.
“Aku tidak akan membantumu hanya karena kau memelas padaku.”
“Kumohon padamu, Dewa! Ras kami sangat hafal dengan benua Arbeltha, hamba yakin bahwa anakku akan dapat menjadi pemandu yang baik untukmu!”
“…”
Mendengar seseorang memohon padanya sebagai ‘Dewa’ untuk pertama kalinya membuat hati Dyze merasakan emosi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
-Rasa senang karena diakui-
Dyze berhenti berjalan dan mulai mempertimbangkannya.
‘Bagaimana menurutmu?’
[ Izin menjawab. Saya rasa itu merupakan ide bagus, memiliki seorang pemandu di tempat yang tidak dikenali sebelumnya akan sangat berpengaruh pada perjalanan anda. ]
“Baiklah. Tapi aku tidak akan membawanya pada perjalanan berikutnya.”
“Itu sudah cukup, Terima kasih!”
Dyze mulai menghampiri Xana itu dan memungut anaknya. Tapi sebelum dia pergi meninggalkannya, Dyze menanyakan sesuatu padanya.
“Apa yang menyebabkan kalian seperti ini?”
Xana itu menjawab dengan raut wajah berduka.
“Gorgon.. Mereka mengincar sesuatu yang hanya dimiliki ras Xana.”
“Sesuatu yang hanya dimiliki oleh rasmu?”
“… Karena hamba berhutang pada anda maka akan kuberitahu semuanya.”
“Ras kami, Xana, sering dijuluki dengan Peri air karena menempati daerah perairan seperti air terjun, danau ataupun sungai..”
“– Langsung saja menuju intinya.”
“Ah, um, iya.”
“Leluhur kami meninggalkan sebuah benda(item) yang disebut dengan Relic. Relic yang dijaga dengan penuh kekuatan kami memiliki sebuah efek yang begitu dahsyat saat aktif. Ras Xana berada di bawah naungan kepemimpinan dari tuan Leviathan, sama seperti Siren, Mermaid dan lain sebagainya.
Gorgon.. Mereka merupakan komandan tertinggi yang dipercaya oleh tuan Leviathan, tapi entah apa alasannya, mereka tiba-tiba menyerang ras kami tanpa adanya perintah dari tuan Leviathan sekalipun..
Kemungkinan besar mereka mengincar Relic peninggalan leluhur kami yang kekuatannya bahkan dapat mengubah Dunia. Dan semua ini biasanya hasrat murni dari mereka yang menginginkan kekuatan.”
Urat-urat di dahi Dyze tiba-tiba bermunculan, dia mengepalkan tangannya dengan keras, dan suaranya pun berubah menjadi berat.
“Singkatnya pengkhianat ya..”
“Dyze..” – Chloe tahu betul bahwa Dyze sangat membenci pengkhianat karena peristiwa serupa yang dia alami sendiri telah merubah hidupnya.
“Kau, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Hamba hanya akan menunggu waktu kematian, karena racun dari Malbor telah menyebar pada seluruh syaraf di dalam tubuh hamba. Hamba dapat merasakannya, betapa sakitnya waktu kematian akan tiba.”
“… Begitukah. Sebagai penghormatan terakhirmu untukku, bisakah kau memberitahuku dengan rinci dimana para Xana yang tersisa?”
Xana yang mulai melemah itu mengumpulkan segenap kekuatannya dan berusaha menjelaskannya dengan rinci.
“Ras kami yang tersisa ditawan untuk dijadikan tumbal di malam purnama merah, sebagai syarat utama untuk pengaktifan Relic. Hanya itu yang dapat hamba sampaikan.. Hamba mohon dengan amat sangat untuk menjaga keselamatan putriku…” – tangan dari Xana itu untuk terakhir kalinya mengelus dengan lembut rambut anaknya, dan dia menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan tersenyum seolah beban telah lepas dari pundaknya.