
Saat Argus hampir mencapai batasnya, Energi Negatif yang menyelimuti Dyze meledak, namun tidak melukai tubuhnya sedikitpun, sebaliknya, ledakan itu menghasilkan gelombang energy yang mematikan.
Membuat siapapun atau apapun yang berada di dekatnya menjadi mati dan layu, termasuk yang mati akan menjadi mati kembali. Tapi ini hanya berlaku sejauh radius 30 Meter, sedangkan Argus berada pada jarak radius 100 Meter jauhnya dari Dyze, oleh karena itu dia selamat dari kematian massal itu.
Tapi meski begitu, Argus masih merasakan dampak dari angin yang berhembus, membawa gelombang itu masuk menuju ke dalam tubuhnya.
“ARRGGHH!!”
Argus meronta-ronta karena merasa organ dalamnya seakan ditusuk oleh ribuan jarum yang tidak ada habisnya, membuat jantungnya berdenyut kencang dan seperti akan meledak di saat itu juga.
Namun—
“SIAAAL! AKU TIDAK AKAN MATI HANYA KARENA INI!”
『 Maximize Magic: Awareness! 』
Argus memaksimalkan kesadarannya dengan menggunakan energi sihir yang tersisa. Dengan ini, Argus tidak akan kehilangan kesadaran untuk beberapa saat.
Debu-debu yang ditimbulkan akibat ledakan energi tadi kini telah memudar, Argus kembali dibuat tercengang saat melihat puluhan rantai miliknya telah hancur tidak bersisa.
‘Apa ini..? Apakah karena ledakan tadi?! Makhluk apa dia sebenarnya? Manusia? Apakah manusia sekarang sekuat ini?!’
Argus hanya bisa berdecih dan menyapu keringat dingin di dahinya. Tapi tanpa memperlihatkan sedikitpun ketakutan, dia menatap Dyze dengan penuh tekad.
“— Namun! Persetan dengan makhluk apa kau itu, jika ada yang mengancam kehidupan di Neiphr, akan ku musnahkan dia!”
--
Sementara itu di sisi lain, Chronoa terbangun di ruangan hitam, ruangan itu tidak memiliki ujung, ia berdiri dan mencoba menelusuri ruangan hitam tersebut. Sejauh apapun dia berjalan, ia tidak menemukan apapun disekitarnya, sampai suatu ketika..
Ia melihat punggung dari seorang yang sangat ia kenali dari jauh. Punggung itu adalah punggung dari Dyze, ia mulai mempercepat langkah nya dan berlari ke arah Dyze, di saat ia menepuk pundaknya, tiba-tiba orang yang didepannya berubah menjadi sosok yang sangat ia rindukan, ayahnya, Layond.
Tepat setelah Layond berbalik ke arah Chronoa, ruangan hitam itu berubah menjadi rumah miliknya, disana juga terlihat Riley yang sedang mencuci piring serta peralatan dapur lainnya dan Lealta yang sedang menyapu seisi rumah. Suasana yang benar-benar ia rindukan setelah kepergian mereka.
“Ada apa, Noa? Kenapa kamu terlihat seperti ingin menangis? Apakah malaikat kecilku butuh pelukan hangat dari ayahnya?”
Godaan Layond membuat Chronoa yang terlihat menahan sesuatu langsung melompat dan memeluk Layond dengan sangat erat. Dia membuat Riley, Lealta hingga Layond itu sendiri kebingungan terhadap tingkahnya.
Air mata yang ditahan Chronoa akhirnya mengalir dengan deras, rasa penyesalan, rasa malu, dan rasa rindu bercampur aduk menjadi satu, Chronoa mencengkram baju bagian belakang milik Layond lalu berbicara dengan terisak-isak.
“Maaf..maafkan aku pak tua, tidak, maksudku Ayah!! Maafkan aku karna telah mengacuhkan mu selama ini.. aku sungguh menyesal..”
Layond menjadi terharu saat mendengar Chronoa memanggilnya ayah, karena Chronoa sendiri hanya pernah memanggilnya ayah beberapa kali saja dalam hidupnya.
“Whoa.. Tidak kusangka kamu akan memanggilku ayah… Apakah sesuatu telah terjadi?”
Chronoa hanya menggelengkan kepala sambil berkata: “Mhm..” dengan pelan.
“Tidak ada yang terjadi. Hanya saja.. Aku mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan… Aku bersyukur itu hanya mimpi….”
Chronoa mengatakan kalimat itu sambil bersandar di dada Layond. Layond yang memiliki insting tajam pun mengetahui sesuatu terjadi pada anaknya, namun dia hanya mengelus kepalanya dengan lembut sambil tersenyum.
“Tenang saja. Semuanya akan baik baik saja.. Ayahmu akan melindungimu dari mimpi buruk. Bahkan jika ayahmu telah mati, mayatnya akan bergerak, dan jiwanya akan merangkak dari dasar Neraka untuk melindungimu..”-- Layond pun memeluk Chronoa lalu menyapu air matanya.
Setelah beberapa saat membiarkannya untuk tenang, Layond mengajak Chronoa ke kota Canara, kota tempat surga liburan berada.
“Umu!”
Sesampainya di kota Canara, kerajaan Azerbazan, Chronoa terlihat tersenyum lebar, seolah bukan dirinya seperti biasa.
“Lihat! Di sana ada pertunjukkan sihir!”
Chronoa dengan antusias menarik tangan kedua orang tuanya, Lealta yang ikut menyusul di belakangnya.
“Perhatian Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kali ini saya, Mr. X akan menampilkan pertunjukkan sihir air.”
“Hufft..” Chronoa baru saja sampai, dia menyapu keringat dan menyimak pertunjukkan di teater itu dengan serius.
Pria itu memegang ember lalu mengangkatnya ke atas.
“Saksikanlah, hanya dengan segelas ember berisi air, saya dapat mengubahnya menjadi furniture atau barang-barang yang dikehendaki..”
Setelah mengatakan itu, Pria tersebut meletakkan embernya di lantai lalu memejamkan matanya untuk beberapa saat.
“Wahh!”
Suatu perubahan terjadi, air dari ember tersebut terlihat melayang mengelilinginya, “Pedang”, hanya dengan sebuah kata yang diucapkan dari mulut orang itu, air tersebut menggumpal lalu membentuk sebuah pedang.
“Wooohh!”
Sorak sorai penonton yang antusias memenuhi telinga, termasuk Chronoa yang terlihat sangat menikmatinya.
Pria itu mengangkat jari telunjuknya sebagai isyarat untuk diam, suasana rusuh tadi pun perlahan mereda.
“Hanya dengan imajinasi saja, jika anda dapat memanipulasinya dengan benar, anda dapat membentuk sebuah benda apapun dari bahan seadanya..”- tiga pria dengan menggunakan topeng masuk ke teater dan menempatkan tong berisi air dalam radius 5 Meter di depan Pria bernama Mr. X itu, sepertinya mereka adalah staff-
“…Dan senjata yang dibentuk pun memiliki kualitas serupa dengan bahan aslinya. Seperti ini misalnya..-“ Pria itu mengayunkan telapak tangannya dengan mata yang masih tertutup pada salah satu tong.
“Kyaa!”
“Apa-apaan itu?!”
Tong berisi air itu meledak dengan keras, namun air di dalamnya tidak membasahi teater, sebaliknya, air itu justru terbang ke arahnya dan menyatu mengelilinginya.
“Woah… Hanya dengan air kita bisa membuat senjata sekuat itu?!” -- Chronoa terlihat terpesona melihatnya.
“Anoo.. Bagaimana jika kita mengimajinasikan sesuatu yang dapat digunakan? Seperti kereta kuda misalnya?”
“Oooh~?” Mr. X terlihat tertarik pada pertanyaan yang diajukan Chronoa.
“
Sayang sekali, meski air dapat dimanipulasi dan dijadikan senjata darurat, tapi tidak akan terlalu berguna jika digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memotong daging untuk memasak ataupun contoh lainnya. Dan untuk alat transportasi seperti kereta kuda, ya? Menarik. Kurasa kamu akan mampu membuatnya jika bisa memanipulasi elemen Bumi.”
“Benarkah?!”
“Ya. Kereta kuda yang terbuat dari elemen Bumi itu pasti akan berkerja seperti kereta kuda yang biasa. Tapi, jika kamu tidak mampu mempertahankan bentuknya, kereta kuda itu akan melebur dan hancur kembali ke dalam Bumi.”
“Begitu..”
Setelah merasa puas melihat pertunjukannya, Chronoa dengan semangat yang masih membara menarik kedua tangan orang tuanya, dengan tersenyum lebar yang menyilaukan, seakan berkata: “Ayo bersenang-senang lagi!”