
Pada keesokan hari, namun saat malam harinya. Dyze kembali bermimpi hal yang sama seperti yang ia alami dua hari sebelumnya.
Namun kali ini dia tidak terbangun di labirin seperti sebelumnya dia justru langsung bertemu dengan wanita itu di bawah langit yang gelap, seolah sedang membungkus mereka.
“Kau lagi!? Yang benar saja, ini tidak seperti mimpi yang ku dengar dari Chronoa.”
Setelah menggerutu, dia mendengar wanita itu bicara sesuatu. Ia mengira hal itu akan sama seperti di mimpi mimpi yang ia alami sebelumnya, namun itu sesuatu yang berbeda.
“Tidak banyak waktu tersisa. Cepat.. Wariskan ultimate skill Space Time Control milikmu padanya...! Pada orang yang paling tepat menurut benak mu! Aku.. Percaya... Pada pilihanmu. Begitu pula.. Dengan dirinya... “
Suara nya perlahan memudar bersamaan dengan pecahnya seluruh anggota tubuh yang kembali menjadi cahaya biru itu lagi.
Meski sudah mengalami hal ini sebanyak 3 kali sebelumnya, namun ia sama sekali belum terbiasa dengan perasaan saat wanita itu menghilang.
“AAARKHH!”
Dyze berteriak lebih keras dari sebelumnya, saat terbangun napas nya berat dan tidak beraturan. Chronoa menjadi terbangun karena teriakan Dyze.
“Ada apa sih paman!? Mengapa kau berteriak setiap malam lagi dan lagi? Apakah kamu mengalami mimpi itu lagi untuk ke-tiga kalinya?”
Chronoa terlihat kesal sambil menanyakan perihal itu. Dia terlihat sangat mengantuk dan membenamkan wajahnya di bantal yang empuk. Setelah itu tidak terdengar lagi suara darinya.
“.. Jika hari itu tidak dihitung maka memang benar ini adalah yang ke-tiga kalinya aku mengalami ini.”
Dyze kemudian kembali ke posisi tidur dan menyilangkan tangannya di belakang kepala sambil menatap langit langit.
‘Pilihan ya? Yang terlintas di kepala ku saat memikirkan itu hanya ada bocah nakal ini di dalamnya. Apakah itu benar benar pilihan yang tepat?’
Tak ada jawaban. Ia tidak dapat menemukan jawaban nya, karena kepala nya terlalu terbebani, ia memutuskan untuk memikirkannya besok hari saja, ketika ia terbangun dari tidur pulas nya.
***
Pada pagi harinya, Dyze memutuskan pilihannya.
Dia berjalan menyusuri lorong dan mulai menuruni anak tangga mencari keberadaan Chronoa yang telah bangun jauh lebih dulu darinya.
Namun sesampainya disana, Dyze mengerutkan dahi nya, karena tidak mendapati siapa pun di sekitarnya. Claire yang biasanya sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang tengah sambil membaca koran pun juga tidak terlihat keberadaannya.
Dyze berdecih, ia kemudian melewati lorong menuju halaman belakang, tempat Chronoa dan Eiria bermain biasanya.
Sesuai dugaannya, Dyze mendapati Chronoa dan Eiria sedang berkompetisi memanah. Kelihatannya Eiria jauh unggul di atas Chronoa, ia terlihat kesal karena hal itu
Hal ini tidak aneh karena Claire mengoleksi panah dan pedang di rumah nya, dia terkadang berlatih ilmu pedang dan panah, namun tetap saja, dia tidak memiliki bakat untuk menguasainya.
Dyze berjalan mendekati mereka.
Eiria melihat kedatangan Dyze. Chronoa yang menyadari itu menghentikan aktivitas nya. Saat ia berbalik badan-
“Apa yang ingin kamu lakukan disini.. –“
Dyze terlebih dahulu menempelkan jari telunjuk nya di dahi Chronoa, dan menggumamkan sebuah kalimat.
“Atas izin ku, aku menunjukmu sebagai pewaris Time Space Control berikutnya.”
Seakan terpicu oleh kalimat itu, dahi Chronoa mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.
“-Huh..?”
Chronoa merasakan sesuatu yang aneh saat cahaya itu bersinar.
Napas nya terengah-engah.
Otaknya terasa pusing.
Dunia dalam pandangannya seperti berputar dan melintir.
“H-hey! Kau kenapa?”
Dyze menggoncang bahu Chronoa.
Meski suara Dyze begitu dekat dengannya, Chronoa seperti mendengar suara itu dari kejauhan dan bergema.
Chronoa kehilangan kesadarannya.
Pemandangan yang ia lihat sebelum akhir kesadarannya adalah Eiria, teman akrab Chronoa yang sedang mengkhawatirkan nya. Figur pemuda dengan rambut hitam abu abu juga melihatnya dengan tatapan cemas.
“Kuhh, kepala ku..”
Chronoa terbangun di bawah pohon hitam yang rimbun dengan sisa pusing di kepala nya. Angin dingin yang seperti menembus tulang berembus yang membuat daun hitam pohon itu menjadi bergoyang.
Chronoa mulai berdiri.
Dari kejauhan, ia memicingkan mata untuk mempertajam penglihatan nya.
Dan Chronoa mendapati sosok-
Chronoa dengan sigap langsung berlari mendekati sosok yang sedang duduk di atas tumpukan-
Mayat. Chronoa dibuat terkejut setengah mati saat mengetahui tumpukan yang begitu besar seperti gunung ini adalah mayat.
Sosok yang tadinya berada di puncak tumpukan mayat ini turun dengan gravitasi yang tidak pengaruh padanya, seolah dia yang mengatur dunia mereka sekarang.
Saat berada di dasar, dan mereka saling menatap satu sama lain.
Chronoa merasa ganjil saat melihat sosok yang begitu mirip dengan nya itu. Rambut hitam bagaikan malam yang tak berujung terurai dibuat terbang oleh angin yang berembus.
Yang membedakan sosok itu dengan dirinya adalah mata merah kosong yang seperti telah mengalami neraka sesungguhnya.
“K. Kami.. Telah gagal...”
Kami ? Bukankah hanya ada kita berdua disini? Namun Chronoa hanya menyimpan itu di dalam benaknya.
“Jangan. Sampai.. Membuatnya merasakan... Neraka. Itu lagi.. “
Sosok itu berbicara seperti sedang menangis, namun tidak ada ekspresi apa pun yang terpasang di wajah pucat nya.
Tiba tiba saja terdengar suara yang sangat banyak dan padat bergema di sekitar mereka.
“Benar..“
“Jangan. Sampai.. Kita... Akan gagal lagi. Kali ini...“
“Kamulah cahaya harapan kami..”
“Jangan. Sampai.. Menyesal... “
Chronoa tidak ingin mempercayai hal ini, namun itulah yang sebenarnya terjadi.
Chronoa sampai terduduk dan terus memegangi kepala nya dengan keras, berharap suara di kepala nya itu berhenti.
Saking keras nya suara itu bergema berulang ulang di suara nya, ia berteriak sekeras yang dia bisa.
Dan—
Chronoa tersentak dari tidurnya, ia lega saat melihat langit langit yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi—Dalbergia, yang sangat ia kenali.
‘Mimpi?..’ Setelah memikirkan hal itu sejenak, dia melihat seisi ruangan.
Ia tidak mendapati seorang pun di sana, hanya ada kain di sebuah mangkuk berisi air.
Sepertinya kain itu digunakan oleh Claire untuk mengompres dirinya. Karena ranjang yang basah dapat disimpulkan bahwa saat sedang berada di ‘mimpi' itu dia sangat berkeringat.
Ia beranjak dari kasurnya, dan membuka pintu nya.
Pintu mulai terbuka.
Saat sepenuhnya terbuka, dia pun keluar dari kamarnya dan menutup kembali pintu.
Namun ia dikejutkan saat menoleh ke sisi kanan nya. Dyze yang sedang tertidur bersandar di dinding kamarnya.
Chronoa sekilas terlihat tersenyum karena ia tahu bahwa Dyze sebenarnya mencemaskan dirinya.
Namun senyum itu ia buang jauh jauh saat membangunkan nya.
“Hey, apakah Dewa kita kali ini tertidur seperti ini?”
Dia memasang senyum nakalnya.
“Hm..?”
Dyze yang masih belum begitu sadar masih mengucek ucek mata nya.
Merasa terabaikan Chronoa mengguncang bahu Dyze yang sedang menguap.
“Mmh.. Hm? Ah, Chronoa ya.”
Ia melebarkan matanya saat mengetahui figur di depannya adalah Chronoa.
Segala pertanyaan yang telah bersarang di kepala Dyze pun dilontarkan ke Chronoa.
“Kau ini! Sebenarnya apa yang sedang terjadi!?”
“Aku tidak mencemaskan mu tapi sedikit mengejutkan ku saat proses pewarisan skill memiliki dampak seperti ini.”
“.. Pewarisan skill?”
Kalimat itu tidak sengaja keluar dari mulut Chronoa setelah bertanya-tanya di benaknya.
“Ah.. Pewarisan skill merupakan metode untuk memberikan atau menghadiahi skill pada individu yang di kehendaki. Pengetahuan ini mungkin baru di dunia mu.”
Skill? Apakah ada kaitannya dengan mimpi tadi?
“Skill apa yang kamu wariskan padaku?”
“Kamu telah melihatnya dua kali. Dan merasakan dengan sangat jelas saat pengalaman pertama.”
Mendengar itu, hanya kata ini yang terlintas di kepala Chronoa sekarang.
“Time Space Control: Decelerate?”
“-Benar!”
Seperti terpicu oleh kalimat itu sebuah gelombang meledak keluar dari tubuhnya, membuat dunia sekitar menjadi abu abu kehilangan warna.
“Wow! Menakjubkan, padahal ini pertama kalinya kau mencoba.”
Dyze memandang keluar dari jendela.
Namun tidak usah disebutkan, Dyze memiliki ketahanan terhadap skill pengendali waktu, jika orang tersebut masih jauh dibawah-Nya.
“Apa? Apa yang terjadi?”
“Kemari dan lihatlah!”
Dyze mengajak Chronoa melihat kota bersama nya.
Tidak, tidak mungkin itu yang terjadi bukan? Sebuah pemikiran liar muncul di pikiran Chronoa--
“.. Yang benar saja!?”
Dan pemikiran liar itu kini menjadi kenyataan, seisi kota kehilangan warna nya. Pergerakan mereka menjadi sangat sangat lambat.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Chronoa lebih terlihat bingung dari pada antusias dengan apa yang ia lakukan.
“Itu karena kamu tidak dapat mengontrolnya.”
Dyze menyilangkan tangan-Nya ke belakang kepala.
“.. Huh?”
Dyze memperlihatkan gerakan menjentikkan jari pada Chronoa.
Dengan tanpa berkata apa apa, ia menuruni tangga.
Chronoa mencoba gerakan yang Dyze perlihatkan. Saat jentikan jari nya terdengar, sebuah gelombang tiba tiba menyusut dan kembali ke dalam tubuhnya.
Kota kembali berwarna, dan aktivitas seisi kota kembali seperti semula.
Karena masih tidak dapat mencerna sepenuhnya, ia terjatuh ke dalam lamunan. Hingga suara dari Claire di lantai dasar membangunkannya ke alam nyata.
“Dyze?! Yang benar saja, kukira kamu masih di atas sedang tertidur!”
Chronoa tersenyum pasrah, kemudian menuruni tangga. Eiria yang melihat Chronoa, langsung menghampiri dan menanyakan keadaan nya.
Begitu pula dengan Claire, ia menanyakan hal yang sama. Sedangkan Dyze, dia hanya bersandar di dinding dan menatap keluar jendela, melihat dunia luar.
Aku berharap kebersamaan ini tidak akan berakhir.
“Aku baik baik saja.”
Chronoa tersenyum lebar dengan tulus untuk pertama kali dalam hidupnya.