
“Nama hamba Nirvia. Karena hamba merupakan roh hutan maka hamba akan berguna untuk anda sebagai pemandu, karena di benua ini, tidak ada yang lebih tahu dari kami para Dryad.”
Dyze melihat ke Chloe tanpa bersuara, dia mengangguk, kemudian melihat ke arah Claire, dia juga mengangguk. Dyze pun menghela napas dan melihat ke arah Nirvia.
“Apa kau masih ingat dengan sekumpulan orang-orang yang kau pernah temui sebelumnya?”
“Yang bersayap? … Ah yang itu. Hamba mengingatnya, tapi kemungkinan besar mereka telah melarikan diri jauh sebelum kejadian ini terjadi.”
[ Apakah anda ingin menggunakan Reality Warping? ]
‘Untuk apa?’
[ Dengan Reality Warping anda dapat membuat realitas dimana kelompok yang anda cari berada di hadapan anda. ]
‘A-‘
“Tapi anda tenang saja! Hamba bisa melakukannya sendiri!”
“?”
Saat Dyze hendak mengonfirmasi jawabannya, Nirvia tiba-tiba berbicara dengan percaya diri, karena menganggap aka nada tontonan kembali, Dyze pun hanya menganggguk.
Dyze dan yang lainnya menjaga jarak, membiarkan Nirvia berkonsentrasi dalam melakukannya.
Nirvia menutup matanya dan menenggelamkan tangan ke dadanya sendiri sambil memegang Inti Energi Kehidupan.
Dia bergumam:
“Atas nama ratu Dryad sang penguasa hutan, Nirvia, kuperintahkan kalian untuk menghijau kembali.”
『 Kebangkitan Alam 』
Swoosh!
Angin berdesir kencang di sekitar tubuhnya, menghamburkan rambut dari Nirvia, cahaya hijau mulai bersinar terang keluar dari dadanya.
Hutan-hutan yang tadinya mengalami kekeringan hingga menghitam kini mulai perlahan hidup dan menjadi segar seperti keadaan sebelum mengalami kematian.
Hutan-hutan yang mengalami penghijauan kembali semakin meluas, menjauh dari titik awalnya—Nirvia.
Tumbuhan-tumbuhan yang meliputi tubuh Nirvia, kondisi awalnya yang layu dan mengering total kini mengalami hal yang sama seperti pepohonan di sekitarnya— bangkit dan subur kembali.
Aura hijau dari tanaman menyelimuti tubuhnya, dia benar-benar seolah menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya.
“Tunggu .. Ratu?”
Dyze memiringkan kepalanya karena mendengar kata yang mengganjal di pikirannya.
Sudut bibir Nirvia melengkung, dia menatap Dyze sambil berkata:
“Hamba tidak ada niat sedikitpun menyembunyikannya pada anda.”
Sama seperti yang pernah dialami sebelumnya, Nirvia tiba-tiba berlutut ke arah Dyze dan mengukir sumpahnya yang disaksikan oleh kelima orang lainnya.
“Biarkan hamba memperkenalkan diri sekali lagi. Nirvia ratu dari Dryad yang sering dipanggil sebagai ‘Ratu Kehidupan’ menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada penguasa yang mampu menaklukkan kematian.”
“Aku merasa dejavu.” Perkataan Chloe disetujui Claire dengan anggukannya, sedangkan Argus dan Eleina hanya tersenyum canggung. Untuk Arcandra dia hanya menyimak tanpa berkomentar sedikitpun.
Mengenai reaksi mereka, tidak ada satupun yang terlihat begitu terkejut atau heran, karena peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami sebelumnya jauh lebih tidak masuk akal dari sekedar menghidupkan kembali hutan mati sejauh 1 kilometer.
“Aku tidak menyepelekan sumpahmu. Tapi kau perlu membuktikan performa-mu terlebih dahulu padaku.”
“Performa?”
Melihat reaksi mereka yang biasa saja, menjadi pertanyaan tersendiri bagi Nirvia.
Bagaimana bisa seseorang yang dijuluki ratu kehidupan dipandang seperti ini?
“Ya. Buktikan padaku kau bisa melakukan apa untuk dapat berguna.”
Nirvia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dyze.
“Hamba bisa memanipulasi kehidupan selama berkaitan dengan alam. Sekaligus berbicara dan dapat meraup informasi dari mereka.”
“Termasuk manusia?”
“Itu benar, karena manusia termasuk bagian dari alam.”
Nirvia mengangguk sekali kemudian mulai berdiri dan menghampiri salah satu pohon yang ada di dekat mereka.
Dia terlihat berbisik dan berbicara pada pohon layaknya berinteraksi dengan makhluk hidup.
Sesaat kemudian, Nirvia kembali ke pada Dyze dan berlutut kembali.
“Hamba telah mendapatkan tempatnya.”
“Oh?”
---
Dua sosok bayangan terlihat menembus hutan dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat menggunakan mata manusia.
Mereka adalah bawahan(pelayan) Dyze yang setia; Arcandra dan Eleina.
Di sisi lain terdapat 4 orang yang sedang terbang dalam kecepatan yang lebih pelan dari kedua orang yang berlari di tanah.
Formasi seperti ini disarankan oleh Argus, karena dia menganggap terlalu berbahaya jika semua diantara mereka berada di udara.
Karena itulah Dyze mengutus Eleina dan Arcandra yang memiliki kelebihan dalam kecepatan untuk mendahului mereka, agar jika menemukan sesuatu mereka dapat kembali dalam sekejap mata.
Nirvia yang tidak memiliki kemampuan terbang alami dibantu oleh sihir milik Argus untuk dapat mengudara seperti mereka.
Kini mereka hampir sampai di tujuan yang dimaksud.
.
..
…
Eleina dan Arcandra tiba-tiba berhenti, memberi suatu sinyal pada mereka.
“Sepertinya mereka menemukan sesuatu.”
Dyze dan yang lainnya pun mendarat di dekat mereka, mengamati sesuatu yang ditemukan oleh kedua orang itu.
Sebuah barikade di depan gua kecil yang memiliki tinggi setara orang dewasa terbangun di depannya.
Barikade itu terbuat dari mithril, sebuah logam yang kuat, dimana menurut ceritanya, atribut yang terbuat dari mithril dapat menahan serangan dari cakar naga sekalipun.
Beberapa lentera tergantung di dinding gua, alasan dari terpasangnya lentera itu karena waktu mulai menjelang malam hari, dimana kegelapan dapat membatasi indra sebagian orang.
Dua penjaga bertopeng dengan angka 07 dan 12 tertulis di dahi mereka sedang berjaga di pintu masuk. Dan ada yang menjadi perbedaan antara penjaga itu dengan anggota The Sinners yang pernah mereka temui yaitu;
Para penjaga itu menggunakan ban lengan berbentuk bulat di sekitar ketiak mereka, dengan warna coklat yang familiar.
Masing-masing dari mereka berdiri di belakang barikade, sepertinya di dalam memang terdapat sosok penting yang sedang mereka jaga.
“Ban lengan itu .. Sepertinya berbeda dari banteng yang kita temui sebelumnya.”
Dyze melihat ke arah Eleina, dia mengangguk dan memasang wajah masam:
“Maafkan hamba tuan. Hamba tidak pernah mengetahui mengenai ban lengan ini sebelumnya. Bisa jadi ini merupakan terobosan baru dari organisasi.”
Dyze menghela napas, dia kemudian mengaktifkan skill miliknya.
『 Perfect Silence 』
Sebuah kubah berbentuk bulat menyelimuti mereka dan seisi gua, kecuali suara Dyze dan yang lainnya, tidak akan ada suara yang dapat terdengar.
Dyze menunjuk ke arah dua penjaga itu sambil melihat ke arah Eleina dan Arcandra.
“Bereskan dengan cepat.”
Keduanya mengangguk kemudian hilang bersamaan dengan datangnya malam yang menelan semua cahaya dari matahari.
Arcandra muncul di belakang penjaga no. 7 dan mengeleminasinya bahkan sebelum ketahuan sama sekali. Setelah melakukan itu dia langsung menghilang dan kembali pada Dyze.
Tapi akibatnya, posisi Eleina dalam kondisi Stealth sekalipun menjadi ketahuan.
“Penyusup bangs*t!” Pria dengan nomor 12 itu berusaha berteriak memberitahu keadaannya pada kawanan yang berada di dalam gua, namun layaknya berteriak ke lautan dalam—itu semua percuma.
Eleina dengan pria nomor 12 beradu senjata; belati ganda melawan pedang yang terasah, siapa yang akan lebih unggul?