The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 54. Hancurnya Mental



***


“Sepertinya sudah saatnya.” – kata itu keluar dari mulut Dyze, mereka yang mendengarnya langsung membuka mata.


“Kepalaku sakit..” – Claire memegangi kepalanya.


“Aduduh..” – begitu juga dengan Chloe.


“Tubuhku jauh untung lebih kuat dari sebelumnya.” – Dan Argus, sepertinya rintihan sebelumnya hanya seperti sandiwara belaka.


“Idemu sungguh bagus sekali Dyze! Memaksa detak jantung kita untuk berhenti sementara lalu memompanya kembali saat mereka membawa kita menuju markasnya..” – Chloe memuji taktik yang dilakukan oleh Dyze.


“Tidak, tidak juga. Haha tidak kusangka kalian langsung paham saat melihat senyumanku..”


“Yah habisnya agak tidak mungkin juga bagimu untuk tersenyum apabila tidak ada hal menarik ataupun menyenangkan yang menarik perhatianmu.”


“Aku setuju.” – Claire hanya membalasnya singkat.


“Benar sekali, mungkin jika anda tidak memberikan tanda dan langsung pingsan begitu saja akan membuat kami lepas kendali..” – Argus yang biasanya tidak terlalu banyak komentar sekalipun kini mengangkat suara.


Suasana ini membuat Dyze merasa canggung, dia pun mengalihkan topik dengan berdiri dan menyentuh dinding ruangan.


“Dinding ini.. Teksturnya seperti familiar..”


[ Izin menjawab, dinding ini terbuat dari Slime stone, yang biasanya merupakan bahan dasar untuk membuat penjara bagi narapidana yang memiliki tenaga besar. Karena Slime Stone ini tahan terhadap serangan fisik dan mampu memantulkannya kembali. ]


“Begitukah?”


“Sedang berbicara dengan siapa kamu, Dyze?” – Pertanyaan itu dilontarkan oleh Chloe dan Claire yang merasa bingung melihat Dyze berbicara dengan dirinya sendiri.


“Tidak ada. Lupakan saja.”


“Yang lebih penting, lagi sepertinya ruangan ini kebal terhadap serangan fisik dari dalam..”


“Begitukah? Lalu biarkan aku mencobanya..”


Chloe mencoba untuk memukul permukaan dinding itu, namun pukulannya justru dipantulkan layaknya meninju seekor slime.


“Merepotkan.. Jika ini besi maka pasti akan langsung hancur..”


“Begitukah? Lalu Argus, apa kau bisa menggunakan sihir?”


“Akan saya coba.”


Saat Argus mencoba menggunakan salah satu sihir terlemahnya, hasilnya nihil. Dia merasa energi sihirnya terhisap oleh batu-batu yang tertempel di langit-langit.


“Maaf, sepertinya karena batu-batu yang berada di ruangan inilah yang membuat sihir saya tidak berfungsi.”


Dyze pun tertawa terkekeh-kekeh, sebuah senyuman terror terpasang di wajahnya, dan entah kenapa dia menutup separuh wajahnya dengan menggunakan telapak tangan, menyisakan mata kanannya saja yang diperlihatkan.


“Begitu ya. Jadi mereka telah mengantisipasi semua akses keluar. Kek kek kek.. HAHAHAHA aku semakin ingin mendengar teriakan penderitaan dari mereka!”


Setelah puas tertawa, Dyze menjentikkan jarinya dan bergumam:


『 Ouranos Vox 』


---


Dan kondisi dari luar penjara kini sedang dihebohkan oleh sesuatu di langit.


“Lihat! Awannya berubah bentuk!”


Para bawahan Orchid kebingungan saat melihat awan-awan yang menyatu dan menjelma menjadi sebuah terompet berukuran cukup besar.


Terompet di langit itu kemudian mengeluarkan suara seperti sebuah siulan dan dengungan yang memekikkan telinga.


Karena ukurannya yang cukup besar dan berada tepat di atas benua Arbeltha, maka tidak mustahil untuk suara ini dapat terdengar hingga pelosok Arbeltha sekalipun.


“ROAAAARR!!”


Dan bersamaan dengan itu terdengar raungan mengerikan datang menuju ke arah mereka.


“AARKKH!”


“TOLOOONG!”


Selama raungan keras itu berlangsung, banyak dari prajurit atau bawahan dari Orchid yang mati secara misterius.


Ada yang mati seperti terinjak sesuatu hingga hancur – “AAARKKH!”


Dan banyak prajurit yang melarikan diri tanpa arah karena sesuatu yang menyerang mereka tidak dapat dilihat.


“Ada apa ini!? Kenapa kalian terlihat ketakutan dan berlarian!?”


Karena keributan yang ditimbulkan memancing Orchid untuk keluar dari ruangan saat sedang menyiksa Livia.


“TOLONG AKU KOMANDAN!!”


Teriakan dari salah satu prajuritnya membuat Orchid mencari sumber suara, dan dia sampai tertegun untuk beberapa waktu, saat melihat prajurit itu sedang melayang-layang di langit seolah sedang dimainkan oleh sesuatu.


“Cih!”


Teriakan-teriakan yang terus memenuhi kepalanya memaksa Orchid untuk kembali sadar, dia dengan sigap mengambil busur emas yang dibaluti batu-batu indah di permukaannya, lalu berusaha menebak-nebak dimana letak dari makhluk yang sedang dia hadapi.


“Disana!”


Setelah mengatur pernapasan dan memperkuat inderanya, Orchid dapat merasakan sesuatu tidak berwujud yang memiliki ukuran raksasa berada 25 meter di hadapannya, dia sedang memainkan prajurit-prajuritnya layaknya sebuah makanan yang hanya menunggu waktu untuk disantap.


「 Heaven Velos 」


Anak panah milik Orchid menjadi bercahaya dan sebuah lingkaran kecil layaknya bidikan tercipta di mata kanannya, dia menutup mata kiri untuk menambah akurasi.


Setelah itu..


Dilepaskan!


Anak panah itu melaju dengan kecepatannya, menembus dan membelah udara, layaknya sebuah predator yang sedang memburu mangsanya, anak panah ini akan terus melaju hingga dapat mencapai targetnya.


“Tidak mungkin..!!” – Orchid sampai melangkah mundur dan matanya melotot karena melihat fenomena yang dia tidak ingin percaya selama ini.


“Heaven Velos milikku seharusnya dapat menembus apapun termasuk kulit naga sekalipun! Kecuali 2 makhluk yang mustahil untuk ditembus oleh anak panahku.. Tuan Leviathan dan..”


Jangan-jangan!


“Hydra!? Berarti informasi yang mereka laporkan itu sebuah kebenaran..?”


“Cih! Hanya ada satu cara untuk memastikannya!”


Dia kembali menarik tali busurnya dan kini bergumam dengan cepat, anak panah itu kemudian dilepaskan, namun kali ini dia tidak mengarahkannya ke tempat sebelumnya, Orchid justru membidik langit di atas titik awal dia menyerang.


“Meledaklah. Panah pewarna.”


Anak panah itu meledak dan mengeluarkan semacam bubuk berwarna kuning menghujani semua yang ada di bawahnya.


Dan sesuai perkiraannya, bubuk-bubuk pewarna itu menyerupai seekor kadal raksasa layaknya naga berkepala Sembilan.


Bergerak!


Bergeraklah!


Orchid mematung, dia tidak dapat menggerakan tubuhnya sama sekali, bahkan saat dia tahu bahwa Hydra itu akan segera memangsanya.


Dia hanya bisa sebatas menutup mata dan menunggu ajalnya tiba, namun saat Orchid telah pasrah dia mendengar suara:


“Apa? Jarang sekali melihatmu pasrah seperti ini..”


Suara ini..!


Saat Orchid membuka kembali matanya, dia telah berada cukup jauh dari Hydra, sekitar berjarak 75 meter jauhnya.


“Nyonya Gorgon!”


“Hydra ya.. Lawan yang merepotkan. Dia seharusnya kebal dengan pembatuan milikku. Tapi demi mengetahuinya aku harus melakukannya!”


Dia menurunkan Orchid dari pangkuannya dan mulai melesat ke arah Hydra dengan tatapan membara.


---


“Raungan itu..”


“Milik Hydra, kan?” – Claire menyambung perkataan Chloe.


“Teriakan ketakutan akan kematian dan tangisan histeris karena menghadapi terror.. Sungguh menyenangkan sekali saat mendengarnya. Tapi sepertinya sudah saatnya.”


Dyze terlihat memiringkan kepalanya dan membunyikannya. Lalu langsung menghantam dinding itu hingga hancur lebur karena tekanan dari dua arah.


Meski begitu mereka terlihat tidak terkejut sama sekali, karena nyatanya Chloe dan Argus tadi hanya mengeluarkan secuil yang tidak berarti dari kekuatan aslinya.