
Chapter 24. Harga Diriku Hanya Untuk Orang Itu
Para Elf di luar rumah Aelfric menjadi heboh mengenai simbol yang berada di dahi mereka. Dyze dan Chronoa yang telah menuruni tangga dibanjiri oleh pertanyaan.
Dyze hanya tersenyum pahit tanpa menjawab apa-apa. Menggantikannya, Chronoa menunjuk ke ruangan tetua Elf, dan hanya mengucapkan kata: “Pergilah.”
Merasakan situasi tidak nyaman, para elf itu langsung meninggalkan mereka dengan hormat dan langsung menyerbu rumah kepala Desa yang terlihat ingin keluar dari ruangannya,
Dyze melirik ke arah Chronoa dan bersiul menggodanya. Seolah depresinya tadi tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Apa? Sekarang kau sudah bisa diandalkan. Apakah kau menginginkan sesuatu?”
Mendengar kata itu jantung Chronoa menjadi berdetak lebih kencang, dia bertanya dengan gugup.
“A-apapun?”
“Ya. Apapun.”
Jawaban Dyze membuat pikirannya melayang kemana-mana, sebuah kepulan asap yang tidak diketahui asalnya berada di atas kepalanya.
Dia juga berulang kali mengucapkan kata yang sama: “Apapun..”
Chronoa terbawa ke alam sadar kembali saat mendengar suara teriakan Eiria.
“Heeeey! Tunggu aku..!”
Napas Eiria terengah-engah saat sampai di hadapan Dyze dan Chronoa, dia bersemangat sekali hari ini. Melihat Dyze mengangkut 2 tas besar, dia menawarkan bantuan.
“Bisakah saya membawanya?”
Dyze hanya membuang muka, dia berjalan meninggalkan Eiria, melambaikan tangan dan berkata dengan gagahnya:
“Tidak, kau tidak pantas menjadi tukang pengangkut barang. Aku tidak akan membawa beban lebih bersamaku, kembalilah jika telah merasa kuat.”
Dengan itu, Eiria ditinggalkan oleh Dyze menuju Dunia luar. Meski dia menangis, Eiria tidak berpikir Dyze telah membuangnya.
“Hiks.. Aku tidak dipandangnya sebagai tukang angkut barang.. Maka itu artinya dia membuka kesempatan untukku dapat berjalan bersamanya..! Aku yang sekarang hanyalah beban baginya, tunggulah..! Aku akan menjadi kuat dan kembali bersamamu.”
Eiria dengan cepat melesat menuju rumah Tetua, melewati dan mengabaikan kerumunan Elf yang begitu menyempitkan. Berkat usahanya, Eiria berhasil masuk ke rumah Tetua, dia tidak menemukan Tetua Elf di tempat biasanya, dia pun mencari Tetua ke seluruh ruangan, hingga menemukannya sedang berada di ruang pribadi yang dijaga oleh 2 orang penjaga berupa pelayannya.
Awalnya para penjaga itu menolak kehadiran Eiria dengan halus, namun karena Tetua Elf mengenali suaranya, Eiria pun diperbolehkan menemuinya.
“Jadi? Apa tujuan anda datang kesini?”
Eiria yang masih berdiri pun seketika langsung berlutut pada Aelfric.
“Kumohon. Bantu aku menjadi lebih kuat!”
Aelfric terlihat ingin menggoda Eiria:
“Mengapa anda tidak bersujud? Jika anda bersujud maka pasti akan ku kabulkan saat ini juga.”
Kali kedua bagi Aelfric dibungkam oleh orang lain semasa hidupnya. Eiria menatapnya dengan tajam, sebuah tatapan yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun sebelumnya. Dia berbicara dengan pelan, namun suaranya seakan memenuhi seisi ruangan.
“Kepala ini berarti harga diri yang kumiliki. Seumur hidup aku tidak akan pernah ingin menempatkan kepalaku di tanah kecuali untuk orang itu. Jika kamu tidak ingin mengajariku, maka aku akan membuatmu terpaksa mengajar untukku.”
Tangan Eiria diselimuti oleh aura hijau yang subur, melalui jendela, Aelfric dapat melihat tanaman rambat dari rumahnya seakan bergerak melihat ke arahnya. Aelfric semakin dikejutkan saat menyadari bahwa seluruh isi hutan sedang bergerak seolah mengintai dirinya. Gerakan mereka seolah berkata dengan sendirinya: “Kamu tidak akan bisa melarikan diri.”
Mengalami tekanan mental, Aelfric dengan segera meminta—tidak, dia memohon pada Eiria untuk menghentikannya. Eiria pun tersenyum gembira, tanaman tanaman hutan menjadi tenang dan kembali pada posisinya semula. Aelfric, dalam hatinya terdalam meronta-ronta karena merasa tidak sanggup mendidik monster cilik seperti Eiria.
‘Tunggu saja! Saya akan menjadi kuat dan kembali ke sisi Anda!’
Di sisi luar hutan, Chronoa mencoba bertanya pada Dyze mengenai tindakan yang dia lakukan tadi.
“Ah. Itu? Yah, aku hanya tidak ingin membawa beban lebih bersamaku.”
Meski jawabannya sudah jelas dan cukup nyelekit, Chronoa masih berpikir bukan itu motif sebenarnya Dyze meninggalkan Eiria begitu saja.
Tanpa saling berbicara, mereka telah meninggalkan Omorfia Forest jauh di belakang.
Dyze dan Chronoa berjalan menuju utara selama berjam-jam, memandang jauh ke Horizon sekalipun mereka tidak dapat menemukan bangunan atau makhluk hidup, hanya ada hamparan lapangan yang sangat luas dan sepi.
Angin sepoi-sepoi berhembus seakan mengantar kepergian mereka. Meski tidak merasa lelah, Chronoa bertanya sesuatu pada Dyze.
“Mengapa kita tidak menggunakan skill saja untuk menempuh perjalanannya?”
Chronoa melirik ke arah Dyze, ingin mengetahui reaksinya. Dia dikejutkan saat melihat Dyze memasang wajah cemberut, dengan nada tidak bersemangat dia menjawab:
“Jika yang kau maksud adalah Skill teleport, itu tidak dapat digunakan jika aku belum pernah ke tempat yang ingin dituju sebelumnya. Jika yang kau maksud Skill Fly, yah aku tidak menggunakannya karena jika kita terbang menggunakan Skill Fly, perjalanan akan semakin singkat.”
Bingung mendengar pernyataan Dyze, dia mencoba memastikan jawabannya.
“Bukankah itu bagus jika cepat sampai menuju tujuan?”
Perkataan Chronoa membuat Dyze menatapnya dengan wajah lesu.
“Ya tidaklah! Jika begitu mengapa kita membawa persediaan makan sebegitu banyaknya selama perjalanan?”
“.. Apa itu artinya kamu ingin memakan semua itu selama perjalanan?”
Dengan nada santainya, Dyze hanya membalas:
“Ya. Tentu saja.”
Chronoa menepuk dahi dan menarik napas singkat.
“Sungguh, aku tidak mengerti pola pikirmu sama sekali.”
Mereka berjalan, dan terus berjalan di atas lapangan yang luas, hingga matahari berada di atas kepala. Saat itulah perut Dyze berbunyi, secara kebetulan Chronoa mendapati sebuah pondok yang sudah sangat tua tidak jauh dari mereka.
Singgah di tempat itu merupakan pilihan yang bagus. Sambil merogoh makanan, Chronoa bertanya mengenai tidur siang.
“Apakah kita akan tidur siang? Kamu tau, udara di luar sangat panas, terutama pada siang hari..”
Dyze yang telah makan dengan porsi besar dalam waktu yang singkat sambil bersendawa dia mengangguk dan mulai merebahkan dirinya.
Tas yang masih berisi makanan dijadikannya sebagai bantal. Dyze merubah posisi tidurnya menjadi menyamping, membelakangi Chronoa yang sedang menghabiskan makanannya.
Setelah habis, Chronoa mulai merapikan peralatan makannya dan Dyze kembali ke dalam tas. Meregangkan tubuh sebelum tidur merupakan kebiasaan rutinnya untuk menambah kenyamanan. Dengan mata yang sudah mulai mengantuk, dia mencari posisi tidur yang pas.
Tidak dapat menemukan ruang yang leluasa karena gubuk ini terlalu kecil, Chronoa pun merebahkan diri nya di samping Dyze dan memeluknya dari belakang layaknya sebuah guling.
--
Karena terlalu kenyang, mereka menjadi tertidur melebihi jadwal yang ditentukan. Cahaya dari matahari pagi yang menembus melalui jendela dan beberapa celah kecil dari pondok itu membuat Chronoa terbangun.
“Emh.. Eh..? Tunggu! Sudah pagi!?”