
Saat sosok wanita itu melihat ke arah mereka, dia seperti berancang-ancang untuk lari, namun saat kakinya melangkah, dia justru lenyap bersamaan dengan hembusan angin yang cukup kencang, lalu secara tiba-tiba muncul di hadapan Argus, sambil berbisik di telinganya.
“Kerja bagus, kini kau dapat beristirahat.”
Tepat setelah dia mengatakan itu, Argus merasakan waktu menjadi membeku, Dunia kehilangan warnanya, dan tidak ada satupun benda ataupun makhluk hidup yang dapat bergerak di sekitar mereka.
***
Aah.. Lelah sekali. Perasan putus asa ini.. Aku pernah merasakannya sebelumnya, saat DIA MENGKHIANATI TEMAN-TEMANKU!!
Tapi..
Kini telah baik-baik saja…
Karena sebentar lagi aku akan menuju ke Dunia dimana ketenangan abadi berada.
Di saat Dyze hampir menutup mata sepenuhnya, dia mendengar sebuah suara yang seperti memanggil dirinya.
“Dyze. Dyze.. Dyze… Dyze!”
Dyze sangat mengenali suara itu, membuat dia dapat membuka matanya yang awalnya sangat berat untuk dibuka.
Dan dari langit-langit dia melihat sebuah retakan yang di dalamnya berisi cahaya.
“Tuan, tolong jangan kembali lagi, jika tidak anda mungkin akan kembali tersakiti.”
“Itu benar, Master. Bersama kami merupakan pilihan terbaik saat ini..”
Len dan Nel mencoba membujuk Dyze, namun karena emosi amarahnya masih berbekas di kepalanya membuat dia jengkel pada mereka.
“Tidak usah khawatir! Aku tahu niat kalian baik tapi aku harus menemuinya..”
Dyze mengatakan itu sambil mengelus kepala mereka menggunakan kedua tangannya.
“Kalau begitu kami tidak memiliki hak lagi untuk menghalangi anda.”
“Benar kata kakak Len, Selamat tinggal Master.”
“Ya. Kita pasti akan bertemu lagi.”
Dengan kesadaran seadanya, Dyze berusaha meraih retakan itu, namun dia tidak dapat menjangkaunya.
“Len.. Nel…”
Sampai Len dan Nel membantu Tuan dan Master mereka tanpa diperintah sama sekali, karena bantuan mereka Dyze berhasil menjangkau retakan itu.
Saat dia menggenggam cahaya yang berada di dalamnya, cahaya itu tiba-tiba bersinar terang membuat ruangan di sekitar Dyze menjadi lenyap termasuk Len dan Nel saat itu juga.
“Dyze. Dyze.. Dyze… Dyze!”
Suara itu kembali terulang memanggil dirinya, membuat Dyze yang menutup matanya karena cahaya tadi kini membukanya lagi untuk mencari sumber suara tersebut.
“Dimana ini..?”
Dyze terbangun dalam posisi telentang, dia perlahan bangkit dengan memegangi kepalanya sambil melihat sekitar.
“Ruangan hitam ini lagi..”
Dia terbangun di ruangan hitam, dengan bola cahaya yang mengambang di depannya.
Dyze berusaha meraih bola itu namun dia justru melebur dan membentuk sebuah sosok yang menyerupai orang yang sangat dikenal Dyze.
“Chronoa.. Tidak, Chloe?!”
“Bagaimana mungkin..?”
Dyze yang terlihat seperti orang bodoh pun dipeluk oleh Chloe lalu menyandarkan kepala Dyze ke dadanya.
“Tenang saja..aku akan menepati janjiku.” Dia mengatakan itu dengan senyuman hangat dan mengelus-elus rambut Dyze.
“Kau..Chronoa atau Chloe?! Entah apa yang sedang terjadi, aku tidak dapat membedakan kalian berdua!”
Dia tidak menjawab, dia hanya memeluk Dyze semakin erat dan berbisik di telinganya: “Sekarang sudah baik-baik saja. Akan kuceritakan semuanya nanti..”
Setelah mengatakan itu, dia tiba-tiba melayang lalu mengulurkan tangan pada Dyze, meski masih tidak dapat memproses semua yang terjadi, dia tetap memilih untuk menggenggam tangannya.
Dan cahaya itu kembali bersinar terang meruntuhkan ruang hitam di sekitarnya, hanya menyisakan wajah ‘Dia’ di ingatannya.
***
Chloe Sang Dewi Waktu, kini telah bangkit kembali, dan seolah menyambut kebangkitannya, Neiphr yang awalnya mendung dan badai kini menjadi terang serta hangat.
“Fiuuh.. Setelah mengalami ribuan kematian akhirnya berhasil juga ya?”
Setelah mengatakan itu Chloe memasang ancang-ancang dan saat ingin berlari, dia lenyap kembali lalu muncul di hadapan Dyze yang terlihat sedang mengumpulkan energi negatif ke seluruh tubuh untuk meledakkan diri,
“Semoga saja. Kali ini akan berbeda..”
Chloe langsung memeluk Dyze dengan erat, tapi energi negatif yang menyelimuti tubuh Dyze membuat kulitnya terbakar, itu karena Demi-God merupakan makhluk yang tergolong suci, jadi akan sangat rentan jika bersentuhan langsung dengan atribut negatif yang berlawanan dengannya.
“Tenang saja..aku akan menepati janjiku.” Dia mengatakan itu dengan tersenyum hangat lalu meletakkan kepala Dyze di dadanya, sambil mengelus rambutnya matanya berkaca-kaca.
“Semuanya sudah baik-baik saja.. Aku akan menceritakannya nanti…”
Sebelum kulitnya semakin terbakar, energi negatif yang menyelimuti tubuh Dyze mulai lenyap, dan hanya menyisakan tubuhnya yang tidak sadarkan diri di dadanya.
“Syukurlah. Aku benar-benar bersyukur.. Kali ini berhasil…”
Dia menangis terisak-isak mensyukuri keberhasilan yang akhirnya tercapai, dan entah ilusi atau bukan, tapi ribuan sosok yang serupa sepertinya sambil terbang di belakangnya dengan tersenyum menuju langit. Tidak hanya itu, sebuah kupu-kupu kuning hinggap di telinganya, disertai dengan seekor lebah yang terlihat mengitari mereka.
Chloe tersenyum saat kupu-kupu dan lebah itu terbang layaknya seorang sepasang kekasih menuju langit yang tidak terhingga.
--
Klikk.
“... Apa yang sudah terjadi?!”
Argus tertegun saat melihat sosok ‘Monster’ telah tertidur di dada seorang wanita yang bangkit dari kematiannya. Dia menarik napas panjang dan tersenyum lega.
“Yah setidaknya ini semua sudah berakhir, kan?”
Argus roboh, dia telah mencapai batasnya. Tapi karena sihir Awareness miliknya masih aktif dia dapat melihat wanita itu berjalan menghampirinya.
“Kerja bagus. Apakah kau bisa menyembuhkan diri sendiri?”
“Ah.. Aku seharusnya bisa, tapi aku terlalu lelah dan telah mencapai ‘Limit’…”
Argus menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat luka bakar wanita itu.
“K-kamu sendiri bagaimana? Luka itu..”
“Ini? Gampang saja kok.”
Kulitnya tiba-tiba mengelupas dan beregenerasi menjadi yang baru dan jauh lebih mulus dari sebelumnya.
“Hey.. Kau telah mencapai ‘Limit’ bukan? Dan ini bukan pertama kalinya kau mencapai ‘Limit’ bukan?”
“Ba-bagaimana kamu tahu!?”
“Yah karena Ancient Human sendiri merupakan tingkatan tertinggi dari rantai evolusi manusia. Sangat sulit untuk menembus ‘Limit’ terakhir, dan jika kau berhasil melakukannya, maka kau akan menciptakan kategori baru untuk evolusi berikutnya.”
Argus tercengang mendengar pernyataannya, terlebih lagi dia dapat mengetahui bahwa Argus merupakan seorang Ancient Human dalam sekali lihat.
“Hey.. Aku punya penawaran untukmu.”
“Penawaran?”
“Ya. Aku akan memberimu darah seorang Demi-God, hal ini pasti akan membantumu berevolusi dan menciptakan ranah baru..”
Argus menelan ludah saat mengetahui sosok di hadapannya merupakan Demi-God, salah satu ras legenda dan mulia di seluruh Dunia.
“Lalu, syaratnya?”
Wanita itu menyeringai sesaat lalu melihat ke arah ‘Monster’ yang tertidur di dadanya.
“Aku akan menjadikannya sebagai Raja semesta, untuk melakukan itu butuh pelayan yang kuat berdiri di sampingnya, karena tidak mudah untuk menggulingkan kekuasaan orang itu. Jadi karena itu, tunduk dan patuhlah padanya.”
Dari seluruh kejutan yang ada, inilah yang paling membuat Argus syok, tapi tawarannya bukan tawaran yang buruk, karena bisa menerobos ‘Limit’ dan menciptakan ranah baru merupakan kesempatan yang tidak dapat diabaikan.
“Bolehkah aku bertanya satu hal?”
“Katakan.”
“Mengapa kamu ingin menjadikannya Raja dari Semesta?”
Wanita itu menjawabnya sambil melihat ke langit dengan tangan yang masih mengelus kepala ‘Monster’ itu.
“Karena hanya dia yang layak.”
Jawaban itu membuat Argus takjub, tanpa pikir panjang, dia langsung menerimanya.
“Aku bersedia menjadi pelayan setianya dan akan menjadi perisai hidup jika ada bahaya yang mengancamnya.”
“Bagus.”
Wanita itu menggigit jarinya lalu meminumkan darahnya pada Argus.
“Telan dan rasakan. Mungkin akan terasa sedikit sakit, tapi jika kau mampu menahannya, maka ranah baru akan tercipta.”
Di saat darahnya melewati kerongkongan, Argus merasakan sengatan listrik dari dalam tubuhnya.
“ARGGHHHHH!!”
“AH! AH! AAHHHHH!”
“AAHHHHHHHHHHHHHH!”
Dia merasakan sebuah rasa sakit yang tidak dapat digambarkan, serupa dengan rasa sakit kematian, jauh berkali-kali lipat lebih sakit dari luka yang dia derita sekarang.
Setelah merintih kesakitan untuk beberapa saat, Argus tidak sadarkan diri. Wanita itu mengira dia telah mati, wanita itu menampar-nampar wajah Argus hingga membuatnya terbangun.
“Urrgghh..”
“Selamat, kau berhasil menciptakan ranah baru. Beri namalah!”
“Eh? Ah, haha.. Hahaha! Akhirnya, impian hidupku tercapai! Dulu aku pernah meminta pada si Noire itu, tapi aku lupa jika dia telah mencapai dari puncak kehidupan.”
“Noire?! Kau mengenalnya?!”
Wanita itu tiba-tiba menjadi seperti marah dan mencengkram kerah bajunya.
“A-ah akan kuceritakan nanti..”
“Baiklah.”
Wanita itu melepaskan cengkramannya dan memperkenalkan diri.
“Benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Aku adalah Chloe.”
“Terima kasih atas tindakan yang anda lakukan, Nyonya Chloe.”
“Tidak perlu basa-basi. Beri nama ranahmu sekarang.”
“…”
Setelah memikirkannya beberapa saat, Argus menetapkan nama untuk ranahnya.
“Celestial Human!”