The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 70. Kehilangan Orang Yang Berharga



“Membosankan sekali..”


Dyze begitu lesu dan tidak bersemangat dalam mengamati pertarungan puluhan hingga ratusan petualang melawan ‘Monster’ berwujud Humanoid.


“Dyze, coba lihat ke sana.”


Dyze melihat ke tempat yang ditunjuk oleh Chloe, dan sepertinya kali ini dia cukup tertarik.


Dari sekian banyak pertarungan yang terjadi, Dyze terfokus pada seorang wanita berambut indah seperti mawar putih, pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan yang elastis sehingga tidak menyulitkannya dalam bergerak.


『 Stealth 』


Wanita itu tiba-tiba menghilang, hawa keberadaannya pun menjadi buram, hingga sulit untuk dirasakan.


Tapi itu semua hanya dirasakan oleh orang yang kekuatannya tidak jauh dengannya, Dyze dan yang lainnya masih dapat merasakannya dengan sangat jelas.


“Jika dibandingkan hawa keberadaan Hydra yang cukup sulit untuk dirasakan maka kemampuan miliknya sudah seperti mainan anak kecil saja.”


Komentar dari Gamma membuat Alpha geram dan memukul kepalanya.


“Aduh! Kenapa sih..?”


“Lancang sekali kamu! Membandingkan sesuatu yang sudah seharusnya dan juga belum tentu dia memiliki kelayakan untuk dibandingkan dengannya!”


“Mhm. Aku setuju dengannya.” Beta mengangguk sepakat dengan pernyataan Alpha.


“Be-benar juga. Aku berpikir hal yang sama dengannya..”


“Ya. Menurutku itu tidak pantas untuk diucapkan.”


Karena Omega dan Delta juga berpikir demikian maka Gamma semakin terpojok.


“Eeh?” – Dia kebingungan, terlihat dari raut wajahnya dia panik dan ingin menangis seperti anak kecil.


Gamma melihat ke arah Stigma dengan mata berbinar-binar, penuh dengan harapan.


“Tenang saja, Gamma. Aku akan selalu ada di sisimu..”


Gamma seperti menemukan harapan, setidaknya biarkanlah satu orang berpihak padanya.


“.. Tapi kali ini aku memang kurang setuju dengan perkataanmu yang terlalu sembrono.”


“Tidak..!”


Harapannya telah sepenuhnya sirna.


Karena perkataannya yang dinilai lancang dan kurang berhati-hati apakah ‘dia’ akan tersinggung?


Gamma perlahan melirik ke arah Dyze dengan sesekali meneguk liur karena tegang.


"Apa?"


Hanya dengan kata itu saja mampu membuat Gamma bergetar hebat.


"Apakah anda marah?"


Dyze memasang raut wajah bingung saat menanggapi pertanyaannya.


"Marah? Kenapa? Perkataan mu memang benar kan?"


Mereka semua tercengang, Gamma sendiri langsung dapat bernapas lega.


"Beruntung sekali kamu."


Alpha menyenggol lengannya sambil tersenyum.


"Hehe itu hanya sebuah anugrah darinya."


Mereka semua tersenyum gembira dan tertawa kecil bersama, karena bersyukur tidak ada satupun orang yang dikasihi gugur di hadapan mereka.


Beralih pada Dyze, dia kelihatannya sedang sangat fokus dalam melihat pertarungan wanita berambut putih tersebut dengan banteng ungu berwujud humanoid.


‘Menurutmu berapa kesempatannya untuk menang?’


[ Izin menjawab. Individu itu hanya memiliki 7.3% kesempatan dalam membunuhnya. Itu dapat terjadi apabila lawannya tidak menyadari keberadaan darinya. ]


‘Dengan kata lain .. Itu tidak mustahil .. ‘kah?”


Dyze menanti apa yang selanjutnya akan terjadi saat wanita itu kini telah berada di titik buta banteng tersebut.


“Kah!”


“Yah tertangkap ya?”


Dyze cukup kecewa karena dia sendiri mengharapkan wanita itu dapat melawan takdirnya sendiri.


Meski jarak yang memisahkan mereka cukup jauh, Dyze masih dapat mendengarkan dengan jelas suara tulang-tulang wanita itu yang diremuk-kan.


“Hahaha banteng itu ternyata cukup ahli juga!”


Jika ada orang yang berpikir mereka akan bersimpati padanya, maka itu pemikiran yang sangat dangkal.


Asalkan orang terdekat mereka aman dan baik-baik saja maka tidak peduli apa yang terjadi pada nasib orang di sekitarnya atau pun seisi Dunia itu sekalipun, mereka akan tetap bahagia seperti biasanya.


Melihat wanita itu yang berontak dalam cengkraman banteng tersebut, Claire mengomentarinya.


“Dia melakukan itu karena insting bertahan hidup yang memaksanya hingga sampai ke titik tersebut dan juga dengan harapan dia akan terbebas dari semua ini .. Meski itu terbilang mustahil sih.”


“Wow. Ternyata kau cukup hebat dalam menganalisa arus pertarungan ya?”


Claire menjadi malu-malu karena menganggap itu sebagai pujian. “Ini juga merupakan salah satu dari kemampuan mata yang aku peroleh sebelumnya.”


“Ah, benar juga. Ngomong-ngomong kemajuan apa saja yang dapat kau rasakan setelah memakan jantungnya?”


Claire pun mulai menjelaskan semua kemajuan yang dia rasakan hingga sekarang.


Pertama, perubahan yang paling jelas terasa hingga saat ini ialah tubuhnya yang semakin ringan dan kekuatan di dalam darahnya seolah menggebu-gebu.


Kedua, dia merasa otaknya menjadi lebih encer dari sebelumnya, hal ini membuatnya dapat berpikir lebih cepat dan jernih dari biasanya.


Dan yang terakhir, Claire memperoleh beberapa kemampuan mata yang baru, diantaranya:


『 Analysis 』


Mampu membuat Claire menjadi lebih bijak dan unggul saat menganalisa alur pertarungan.


『 Long Distance 』


Mampu membuat Claire memperbaiki jarak pandangnya menjadi lebih jernih dari sebelumnya.


『 Dark Vision 』


Mampu membuatnya melihat dengan sangat baik di dalam kegelapan, baik itu di kedalaman lautan ataupun di dalam gua terdalam sekalipun.


Dan itulah kemampuan-kemampuan yang dia telah rasakan hingga saat ini, semua kemampuan itu bertipe Support karena hanya mendukung performa Claire dalam pertarungan maupun diluar pertarungan.


“Begitukah? Itu cukup berguna, meski tidak terlalu berdampak banyak pada lawan sih.”


Chloe berkomentar, sedangkan Dyze hanya diam karena dia tidak begitu peduli pada sesuatu yang diluar pertarungan.


‘Tampaknya dia mendapat banyak kemampuan baru. Apakah dia berevolusi?’


[ Memproses.. ]


.


..



[ Individu bernama Claire sekarang merupakan bagian dari High-Human, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan berevolusi kembali. ]


‘Hm~’


“Senior!”


“?”


Perhatian mereka kini kembali terfokus padanya karena seorang pemuda berambut biru dan memiliki iris mata coklat berlari ke arah wanita yang kini panik saat mengetahui pemuda tersebut akan terancam marabahaya.


Dyze tersenyum kecil saat wanita itu dilepaskan dari cengkramannya dan bergumam pelan:


“Jangan terlalu berbahagia apabila menemukan harapan, karena ada kemungkinan bahwa apa yang diharapkan berbeda dengan yang dialami di kenyataan.”


“…”


Mereka semua mendengar apa yang dikatakannya tapi tidak ada satupun yang berani untuk mengomentarinya.


Banteng itu berlari ke arah pemuda tersebut dan dapat sampai di belakangnya dalam sekejap.


“EUGIO! KUMOHON LARILAH!!”


Pemuda yang bernama Eugio itu melirik ke belakang dengan perlahan dan langsung membeku ketakutan saat melihat banteng humanoid berukuran 3 meter berada di hadapannya.


“Senior.. Tidak.. Maksudku kakak.. Selamatkan aku…”


“EUGIOOOOOOOOOO!!”


Banteng humanoid itu menggenggam kepala Eugio hingga retak dan melepaskannya saat Eugio terlihat hendak tidak sadarkan diri.


“Keputus-asaanmu belum berakhir sampai disini.”


Banteng itu tersenyum lebar, dia terlihat menikmati jeritan putus asa dari Wanita tersebut dan raut wajah menderita dari Eugio.


“AH—ARGHH!— AAAKHH!!”


“EUGIO! TIDAAKKKKKK!!”


Eugio yang malang, dia dirobek menjadi dua oleh banteng tersebut hingga memperlihatkan tulang dan bagian seisi tubuhnya dengan sangat jelas berceceran di tanah.


“Fiuh. Sangat menggairahkan.”