The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
104. Realm Destroyer



Keempat sosok Undead itu terdiri dari Undead tengkorak yang berpedang serta menggunakan setelan baju kulit, kemudian ada Undead seperti Zombie yang menggunakan penutup wajah dengan tangan kosong, lalu ada Undead yang mirip sekali dengan Lealta, yang membedakan mereka hanya lah kulit Undead itu yang begitu pucat.


Lalu yang terakhir, Undead berjubah mewah layaknya seorang bangsawan, mata kirinya seperti memiliki kilat merah yang sekilas menyala, kemudian struktur tengkorak miliknya begitu rapi dan terlihat elegan, begitu berbeda dengan tengkorak yang dimiliki oleh para Skeleton biasa.


Dyze langsung menargetkan Undead berjubah mewah itu sebagai buruannya, namun di tengah jalan, Undead dengan baju kulit yang fleksibel serta berpedang melesat dengan kecepatan setara dengannya.


Tepat saat Undead itu berada di depan wajah Dyze dan hendak melesatkan bilah pedangnya ke arah leher Dyze, Arcandra dengan kecepatan setara 2 kali kecepatan cahaya menepis serangan Undead itu dengan pedang hitam miliknya.


“Terus lah maju, Tuanku! Serahkan yang disini pada hamba!”


Dyze memoles senyum sesaat, dan tanpa berbalik dia terus melaju ke arah Undead buruannya.


Sedikit lagi ..


Saat pedang Dyze hampir mencapai batang leher yang telah menjadi tulang dari Undead itu, alih-alih mengeluarkan ekspresi takut .. Dyze justru merasa dia seperti tersenyum padanya.


Senyuman yang aneh.


Bukan seperti sebuah senyuman yang mengandung rasa senang, atau pun senyum mengerikan seperti yang dimiliki oleh Chloe.


Senyuman itu lebih seperti sebuah ekspresi hambar yang biasanya di keluarkan oleh orang yang telah jenuh dengan kehidupan Dunia—


Senyuman pasrah.


“?!”


Bilah pedangnya terhenti.


Tidak dapat mencapai dan menebas lehernya.


“Apa?!”


[ Dia memiliki sebuah Skill Pasif yang melindunginya dari serangan berbahaya berupa penghalang tembus pandang. Penghalang ini tidak akan hancur jika anda menggunakan kekuatan yang lebih lemah darinya. ]


[ Tuanku bahaya mengincar anda dari kedua sisi! ]


Dyze berdecih, dia kemudian menendang penghalang tidak terlihat itu untuk menjaga jarak.


Setelah mendarat dan menginjakkan kaki di tanah, Dyze melihat ke arah mereka.


Undead dengan penutup wajah itu terlihat tidak melakukan apa-apa karena dia hanya menggunakan tangan kosong saja, kemudian ada yang sedikit berbeda dari Undead ‘Lealta’.


Kedua tangannya berubah menjadi seperti cakar naga, meski ukurannya tidak begitu besar, yang menarik perhatian ialah ketajamannya, hanya dengan sekali lihat, Dyze langsung mengetahui jika cakar itu tergores sedikit saja pada kulit manusia, maka kulit mereka akan langsung robek dengan mengucurkan darah segar yang melimpah.


Tanpa ditanyakan oleh Dyze, Athena langsung menjelaskannya.


[ Undead dengan penutup wajah itu merupakan seorang ahli sihir, di balik badannya, terdapat banyak sekali lingkaran sihir yang dimantrai dengan sihir tidak terlihat. ]


Dyze memusatkan penglihatannya pada titik yang dimaksud oleh Athena, dan kebenaran dia temui sama persis dengan apa yang di katakan Athena.


[ Kemudian Undead dengan cakar naga kuno itu memiliki Skill Transformasi sama seperti anda, namun sepertinya dia hanya mampu memusatkan itu ke beberapa titik dari bagian anggota tubuh saja. ]


Seringai Dyze mulai terbuka.


“Aku adalah Lord Of The Undead—Licht. Melihat kekuatan kalian .. Sepertinya tidak salah lagi. Perkiraan orang itu selalu menjadi kenyataan.”


[ Licht, seorang Undead yang memiliki kuasa atas Undead lainnya. Dia dapat menciptakan sebuah jiwa buatan dengan tujuan untuk menyempurnakan raga mayat yang menjadi bonekanya. Yang perlu anda ketahui hanyalah penguasaan sihirnya yang setara atau bahkan lebih unggul dari individu bernama ‘Argus’. ]


“Jiwa buatan? Apakah itu artinya ..”


Dyze memasang kuda-kuda dengan menggenggam pedangnya di samping pinggang, memposisikan tubuh pada 45°, kaki kiri ditaruh di belakang agar dapat menopang tubuhnya dengan mudah.


“Kalau begini aku tidak perlu memikirkannya lagi.”


『 Realm Destroyer 』


Dia melakukan serangan yang sama saat melawan Shub-Niggurath, sebuah tebasan yang dapat membelah dan menghancurkan planet besar—Jovian dan bintang di luar sepengetahuannya.


Tapi tebasan yang mampu menghempaskan seisi hutan itu tidak berdampak sama sekali padanya.


“Wah.”


Dyze saja sampai cukup kagum melihat daya tahan penghalang milik Licht tersebut, dia kemudian membunyikan lehernya dan memasang kuda-kuda baru.


『 Realm Destroyer: Second Drive (Gerakan Kedua) 』


Kali ini Dyze tidak menekukkan tubuhnya hingga 45°, dia hanya berdiri tegak menatap Licht.


Tangannya menggapai pedang hitam yang ada di pinggangnya, kemudian—


GEMURUH!


Energi gelap di sekitar wilayah Silence Forest berkumpul dan bersatu di pusat pedang milik Dyze.


Di saat yang bersamaan, sebuah lingkaran sihir yang tidak terhitung jumlahnya dan lebih terlihat seperti gerbang yang terbuka berada di belakang Licht.


Licht mengangkat kedua tangannya, gerakannya mungkin mirip seperti orang yang sedang menyambut atau merayakan sesuatu.


“Cepatlah! Kalau tidak Dunia mungkin akan hancur bersama dengan kami!”


Dyze menyeringai, kemudian membalasnya:


“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud tapi .. “


Dyze memutar kaki kanannya di tanah hingga 90° ke belakang.


Hembusan angin kecil akibat perputaran itu tercipta, mengibaskan beberapa helai rambut dari Chloe, Claire, Eleina, dan Nirvia.


“Ini sudah berakhir.”


Dyze menggerakan tangannya untuk menebas ke arah Undead itu dengan begitu cepat sehingga menimbulkan reaksi ledakan singkat di sekitar pinggangnya, karena tidak ada aba-aba darinya, Chloe hanya menyaksikan semua peristiwa itu dari dekat.


[ Serangan anda kali ini berpotensi lebih besar untuk dapat meruntuhkan realita! ]


Aku tidak peduli.


Tentu saja dia tidak akan peduli, karena memang begitulah sifatnya.


Serangan Dyze berupa tebasan raksasa berwarna merah, ungu dan hitam yang bercampur menjadi satu melesat ke arah Licht.


“Benar! Datanglah padaku!”


Tapi anehnya, perlahan demi perlahan saat tebasan itu semakin dekat dengannya, Licht dan para Undead di dekatnya menyadari bahwa serangan itu mengecil dari ukuran sebelumnya.


“Hei lari kemana kau!?”


Undead berpedang yang sedang dilawan oleh Arcandra, mundur, dan memasang badan paling depan di antara semua Undead di dekat Licht.


Undead Lealta kemudian maju dan berdiri di belakang Undead berpedang.


Kemudian Undead dengan penutup wajah melangkah dan berdiri membelakangi Litch.


Mereka melakukan semua itu karena melihat serangan milik Dyze yang perlahan mengecil sedikit demi sedikit membentuk seperti sebuah kerucut.


Serangan itu tidak dapat ditahan.


Entah darimana pemikiran itu muncul, para Undead itu seolah dari alam bawah sadarnya, mereka berjalan membentuk formasi lurus dengan saling membelakangi.


Serangan itu menembus pertahanan pertama—Undead dengan pedang gugur.


Sesaat kemudian ..


Serangan itu menembus pertahanan kedua—Undead Lealta gugur.


Lalu yang berikutnya ..


Serangan itu menembus pertahanan terakhir—Undead dengan penutup wajah gugur.