The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 60. Replika(?)



Dyze seperti mengambil sesuatu dari sampingnya, dan karena tertutup oleh tubuhnya, Livia tidak dapat melihatnya dengan jelas.


“Ini. Dengan ini seharusnya sudah cukup membangkitkan potensi dari darahku.”


Dia memberikan sebuah jantung yang ada di tangannya pada Livia.


“Ini..?”


Livia dapat menebaknya, pemilik dari jantung ini.


“Jantung dari Orchid. Ketika orang dapat membalaskan dendamnya, maka hanya perasaan itulah yang mampu menggambarkan kebahagiannya.”


Perkataannya bergetar di hati Livia, dia merasakan suatu sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Apakah rasa puas?


Rasa marah?


Ataukah kebencian?



Semua emosi itu bercampur aduk secara rata, dan Livia yang sekarang berbeda dengan yang dulu.


Pada awalnya Livia hanyalah seorang gadis kecil biasa pada umumnya, yang lugu dan polos. Dia juga benci dengan darah, Livia pasti selalu menghindari tempat yang memiliki bercak darah ataupun tanah yang memiliki genangan darah setelah diguyur hujan.


Namun kali ini berbeda.


Dia justru tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.


Apa yang salah dengannya?


Pergi kemana kepolosannya sebelumnya?


Apakah kematian dapat merubah hati seseorang?


“Mengapa kau tersenyum?”


“Tidak. Hanya saja, hadiah ini sangat spesial untuk Livia.”


“…”


Dyze hanya menatapnya dari kejauhan saat Livia berlari ke tempat yang tersembunyi tanpa mengucap sepatah kata pun.


“Anak yang unik, bukan?”


Suara khas yang berasal dari samping dan aroma tubuhnya yang harum membuat Dyze langsung dapat menebaknya.


“Tidak juga. Karena inilah aku membenci anak-anak.”


“Hmm~ Begitukah?”


“Lupakan itu. Dimana Claire sekarang?”


“Aku juga tidak tahu. Mungkin dia sedang melakukan aktivitas wanita?”


“Aktivitas wanita?”


Dyze baru pertama kali mendengarnya, tidak heran jika dia tidak dapat menangkap maksud dari Chloe.


“Setiap wanita memiliki rahasianya masing-masing~”


Dyze langsung mengerti apa yang dikatakannya dan langsung memasang wajah masam.


“Karena inilah aku membenci wanita.”


Melihat wajah Dyze yang menurutnya lucu membuat Chloe tertawa kecil.


“Hahaha bercanda saja kok! Claire, dia sedang menuju suatu tempat, sepertinya kamu juga dapat menebak maksudnya.”


Dyze memegang dan mengelus dagunya lalu berkata:


“Mhm. Sepertinya aku tahu maksudnya. Kebetulan Livia juga melakukan hal yang sama.”


“Ya. Aku juga melihatnya.”


---


Di sisi lain, saat Livia hendak mengonsumsi hadiah yang diberikan padanya, telinganya menangkap sebuah suara.


Crunch Crunch Crunch


Crunch Crunch


Crunch


Suara itu..


Suara yang seperti sedang memakan sesuatu itu tidak jauh darinya, namun dia memutuskan untuk mengabaikannya, karena sekarang dia masih lemah, menantang sesuatu yang tidak diketahui kekuatannya sama saja mendekatkan diri dengan kematian.


Livia pun memakan jantung Orchid hingga habis. Dia menggambarkan rasanya seperti memakan daging mentah. Tidak begitu enak, namun juga tidak begitu buruk.


Saat dia keluar dari tempatnya, dia tidak sengaja berpapasan dengan Claire dari arah yang sama.


“Eh kamu?”


Livia menunjuk ke arah sudut mulut Claire yang terlihat masih memiliki bekas darah, karena malu, dia dengan spontan langsung menghapusnya.


“Hahaha lupakan itu. Ayo, tujuan kita sama kan?”


Claire hanya bisa tertawa kaku dan mengajaknya keluar tanpa menceritakan apa-apa.


---


"Hey.. Aku selama ini penasaran.. Kategori 'Kuat' menurutmu itu bagaimana sih?"


pertanyaan Chloe membuat Dyze bingung, dia menjawab dengan memiringkan kepalanya:


"Mm.. Yang mampu memuaskan hasrat bertarungku.. Mungkin?"


Jawaban Dyze membuat Chloe memasang ekspresi wajah yang aneh.


"Bukankah hasrat bertarungmu mustahil untuk dapat dipuaskan..?"


Dyze menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hanya sebatas pendukung kebingungannya.


Pertanyaan Chloe membuat Dyze terus berpikir di benaknya.


Apabila aku tidak mengetahui tingkatan untuk lawan yang ideal untukku lalu bagaimana caranya aku dapat puas dalam suatu pertarungan?


[ Saya mempunyai usulan yang bagus untuk anda. ]


Suara wanita kaku seperti AI itu memberikan Dyze harapan.


'Usulan? Apa maksudmu?'


[ Saya dapat membuatkan sebuah Tiering System untuk mengukur kekuatan seorang individu jika anda menginginkannya. ]


'Tiering System?'


[ Singkatnya, sebuah metode untuk anda dapat menentukan atau memperkirakan kekuatan lawan anda secara kompleks. ]


Sebuah petir seperti menyambar di dalam kepalanya, Dyze terlihat tertarik dengan usulan yang diberikan olehnya.


'Usulan yang bagus. Segera proses lah.'


[ Dimengerti, tapi prosesnya akan memakan waktu yang cukup lama.. ]


'Terserah, lakukan yang kau bisa saja.'


[ Dimengerti. ]


[ Mulai membuat.. ]


"Dyze?"


Dyze yang dari tadi sedang melamun disadarkan oleh Chloe yang memanggil namanya.


“Hm? Kenapa?”


“Sudah kubilang kategori kuat menurutmu itu bagaimana sih?”


“Untuk saat ini masih tidak ada. Dan aku akan terus mencarinya meski harus ke ujung Dunia sekalipun.”


“Begitu..?”


Chloe murung, dua perasaan berbeda bercampur dalam hatinya. Di satu sisi, dia bahagia karena tidak harus bertarung dengan orang yang dia sayangi seperti para saudari-saudarinya yang telah mengalami hal seperti itu.


Namun di sisi yang lain, dia juga merasa hampa karena melihat keinginan Dyze yang selalu gagal tercapai.


“Hey. Apa yang kau pikirkan?”


“?”


Chloe tersadar dari lamunannya saat Dyze menegurnya. Dan di saat itu Livia serta Claire juga telah datang menyapa mereka.


“Heey!”


Chloe melambai, membalas sapaannya.


Dan tanpa diduga, Dyze langsung berdiri dan meraih sesuatu di sakunya.


“Livia. Aku ingin memberitahu mu sesuatu.” – Dyze mengatakan itu sambil meraih-raih sesuatu di saku celananya.


“Sesuatu?”


Tanda tanya besar melayang di atas kepala mereka, dan tidak butuh waktu lama Dyze telah menemukannya.


“Ini.”


“Bukankah ini.. Relic milik leluhurku?”


Livia kebingungan, bukan karena dia heran mengapa Relic leluhurnya berada di tangan Dyze, melainkan dia bingung dengan maksud Dyze menunjukan benda itu padanya.


“Ya, tapi benda ini merupakan sebuah replika, hingga tidak pantas untuk disebut sebagai Relic.”


“Apa itu... Replika?”


Melihat Livia yang asing dengan kata itu membuat Argus yang berada di samping Chloe meminta izin untuk berbicara.


“Singkatnya itu hanyalah sebuah tiruan.”


Livia tertegun untuk beberapa saat, hingga dia kembali seperti biasanya, seolah tidak ada sesuatu yang mengganggunya sama sekali.


“Begitukah? Livia tidak terlalu memperdulikannya sih..”


“Hah? Jadi kau tidak ingin mengambil benda ini?”


“Unn. Meski itu asli sekalipun Livia tidak akan keberatan menyerahkannya pada orang lain jika orang itu adalah kamu, Dyze.”


Senyum lebar yang di pasang Livia terlalu silau baginya. Namun bagaimana pun juga, seorang Dewa Malapetaka tidak akan dapat merasakan empati ataupun simpati.


Jika terdapat suatu kejadian langka dimana Dyze memiliki kebaikan hati, maka dapat dikatakan itu hanya merupakan emosi palsu.


‘Jadi mending kuapakan benda ini?’


[ Izin menjawab, akan efektif jika anda terus menyimpannya dan menukarnya dengan individu yang tertarik dengan item atau benda kuno. ]


“Hm. Begitu.”


“Ada apa?”


Mereka semua menoleh ke arah Dyze, dan hal ini dia manfaatkan untuk mencari topik lain.


“Livia, apa kau mengenal seseorang yang menyukai dengan benda kuno?”


“Ketertarikan dengan benda kuno..”


Livia memikirkannya sesaat, sampai sebuah lampu menyala di kepalanya.


“Ada! Biasanya yang menyukai dengan benda-benda seperti itu adalah ras Dwarf..”


“Dwarf ya..”


Dyze mempertimbangkannya dengan melihat baju Livia yang telah robek-robek, dia menoleh ke sekitar, memperhatikan baju Chloe serta Claire yang sudah lusuh, dan hanya baju Argus seorang yang terlihat tidak begitu buruk.


“Sepertinya aku telah menentukan tujuan berikutnya.”