The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 69. The Sinners



“Tindakan yang bagus.”


Dyze memuji Chloe dengan membelai kepalanya, dan hanya karena pujian itu sudah cukup untuk membuatnya begitu gembira.


Hal itu membuat Claire dan yang lainnya iri, namun meski begitu mereka mengakui bahwa Chloe sangat pantas untuk mendapatkan perlakuan spesial darinya.


Dyze memegang dagu, dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Menurut ceritanya, pedang ini dapat berbicara. Tapi mengapa sejak tadi aku tidak mendengar apa-apa?" – Dia berbicara sendiri menghadap tembok dengan menggenggam pedang hitam di tangan kanannya.


[ Izin menjawab, pedang yang dia maksud sebelumnya pasti memiliki sebuah ego. Dan sebelum tubuh yang ditempati si Ego benar-benar mati atau lenyap dari Dunia ini, dia akan terus hidup, tidak akan kembali pada wujud sejatinya. ]


"Dengan kata lain.., dia masih hidup?!"


DUAR!


Sebuah dentuman dahsyat terdengar dari luar, mengejutkan mereka yang berada di dalam Guild.


“Grand Master! Kota telah diserang! Mohon bantuannya--?!”


Resepsionis membuka pintu dengan terburu-buru dan mendapati Grand Master yang begitu dihormati kini tidak memiliki kepala lagi.


Saat dia hendak berteriak histeris, Claire langsung melesat ke arahnya, menyumpal mulutnya dengan robekan kain dari baju Grand Master dan segera mematahkan lehernya dalam sekejap.


Melihat tindakannya yang cekatan, Dyze bersiul.


“Kelihatannya kalian bersemangat sekali ya?”


Chloe dan Claire hanya meresponnya dengan tertawa kecil.


“Baiklah. Saatnya kita untuk memeriksa keadaan di luar.”


Mereka semua mengangguk dan mengikuti Dyze yang berjalan keluar dari ruangan.


“Wow. Sunyi sekali ya.”


Tempat dimana para petualang biasanya berkumpul untuk sekedar minum-minum ataupun berdiskusi tentang misi, kini telah ditelantarkan.


Mereka melangkahkan kaki, lantai yang terbuat dari kayu menimbulkan bunyi berisik karena suasana sedang sepi.


“Pergilah kalian para pendatang brengs*k!”


Dyze berhenti berjalan, yang membuat mereka semua heran, karena tidak biasanya dia mengulur waktu jika ada pertarungan di depan matanya.


“Kalian mendengar suara itu?”


Mereka semua mengangguk.


Saat Dyze hendak membuka mulutnya, sebuah ledakan dari luar Guild menimpali perkataannya.


“Aku sedang jenuh, pertarungan dalam melawan musuh yang terlalu lemah membuatku begitu tersiksa. Untuk kali ini, aku akan mengamati kekuatan lawan terlebih dahulu lalu langsung menerobos apabila dia memiliki kelayakan.”


Mereka yang masih bingung dengan perubahan drastisnya hanya menatap satu sama lain dan mengangkat bahu masing-masing.


Dyze dan yang lainnya pun mengintip dari jendela untuk mengamati keadaan yang sedang terjadi di sekitarnya.


---


“Haah.. Haah..”


Namaku Eleina, seorang petualang kelas S yang diberi gelar ‘Si pembunuh terhebat’ karena kecepatan dan kegesitanku yang begitu mumpuni.


Aku selalu membanggakan kekuatanku, semua orang mengagumi dan segan padaku.


Sampai di mana hari ini tiba..


“Senior!”


“Eugio!”


Hari di mana aku merasakan keputus-asaan yang sebenarnya.


“TIDAAAAAAAAAAAAK!”


Mereka..


Mereka..!


THE SINNERS!


Para monster berwujud humanoid brengs*k itu menyerang kotaku.


Mereka menggunakan semacam portal yang dapat mengabaikan jarak, dan tiba ke sini dengan tujuan yang tidak dapat kupahami.


Mereka membunuh.


Membakar rumah para warga..


Dan membuat sebuah ledakan dahsyat yang membuat telinga sakit.


Tentu saja dengan harga diri dan rasa cinta ku yang tinggi pada kota tempat tinggalku ini, aku berdiri dengan penuh keyakinan mengarahkan kedua belatiku ke arah mereka.


Lawan yang sedang berada di hadapanku saat ini memiliki postur tubuh seperti banteng berukuran tiga meter yang berwujud humanoid, kulitnya ungu, dan tanduknya menyala.


Saat dia mengalihkan pandangannya ke target lain, aku segera menghilangkan jejak dan menyamarkan hawa keberadaan lalu mencoba menggorok lehernya dari titik buta.


Namun itu semua percuma, dia dapat merasakan hawa keberadaanku yang telah di samarkan dan menangkapku saat itu juga.


Dengan insting bertahan hidupku, aku berusaha berontak, dengan menusuk-nusukan kedua belati-ku pada matanya.


“KAKAK SENIOR!”


Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Eugio tidak jauh dariku.


Eugio, aku telah bersamanya sejak dia kecil, bahkan dia dulu sering sekali berbicara mengenai dirinya yang kelak dewasa nanti akan melamarku.


Dia anak yang manis, ku anggap Eugio seperti adik kandungku sendiri.


Tapi..


Monster ini..


Dia melirik ke arah Eugio dengan senyuman yang berbeda dari sebelumnya.


“JANGAN! JANGAN DEKATI AKU EUGIO!”


“Eh?”


Terlambat..


Semua itu sudah terlambat..


Monster bangs*t ini melepaskan cengkramannya padaku dan langsung berlari menuju ke arahnya.


Dengan segenap tenaga dan harapanku aku terus mencoba untuk menggerakan kakiku, tapi meski ku pukul berkali-kalipun tetap saja percuma.


Karena syok dan rasa tegangku yang begitu tinggi membuat syaraf otot ku menjadi lemas dan tidak merespon.


Hal inilah yang membuat aku menyaksikan Eugio digenggam oleh monster itu dan merobeknya menjadi dua di hadapanku.


Mengapa?!


Dunia ini begitu kejam pada adik polosku?!


MENGAPA!?


Setiap tetes air mata dari tangisan histerisku, tiap hentakan tanah dari pukulan tanganku, dan tiap kata dari mulutku yang mencaci makinya, semua itu hanya membuat monster itu semakin kegirangan.


Haah..


Yasudahlah.


Mungkin Dunia ini terlalu busuk untuk kutinggali.


Aku merebahkan diri sambil mendengar setiap langkah berat dari monster itu menuju ke arahku.


Apapun nasib yang akan menimpaku kelak, aku ikhlas.


Asalkan itu dapat menggiringku menuju Dunia yang lebih baik, aku ikhlas.


Dan asalkan itu mampu membuatku bertemu lagi dengan Eugio.. Aku ikhlas..


Aku mencoba menggapai bintang di langit pagi dengan genggaman tanganku sambil bergumam:


“Ah.. Meski mentari sedang bersinar dengan terangnya, bintang-bintang itu akan tetap abadi dan tidak pernah pudar.. Hingga selamanya..”


Aku menghentikan ucapanku saat menyadari bahwa monster itu kini telah berada di hadapanku.


Dengan tenaga yang tersisa, aku berusaha bangkit dan meludahinya.


“Lakukanlah! Kematian hanya akan membuatku bahagia.”


Monster itu terlihat murka, dan saat tangannya hendak menggapai wajahku, aku menutup mata.


Namun setelah menunggu beberapa saat aku tidak merasakan apa-apa. Karena heran dengan kondisi yang terjadi, aku membuka mata.


“?”


Dan pemandangan di hadapanku membuatku tertegun tidak dapat berkata-kata sedikitpun.


Seorang pemuda dengan tinggi yang kurang lebih sama denganku yakni 182CM sedang memukul mundur monster tersebut dengan pedang hitam di tangannya.


Tunggu..


Topeng itu..


Pedang hitam..


Dan jas penghargaan..


Aku mengenalnya!


Dia Andrius bukan?!


Tapi..


Mengapa dia terlihat begitu berbeda?


Pemuda itu memasang seringai lebar di wajahnya lalu menghempaskan monster tersebut ke dinding kota.


Tidak..


Jika di sini yang paling cocok dalam definisi monster itu sendiri adalah..


Dia.


Dan tanpa menghiraukan sedikitpun dengan kehadiranku, dia terus maju menghantam banteng tersebut dengan pukulan mentahnya, terkadang memberinya sebuah tendangan vital dan terakhir, dia mencoba menebas silang banteng tersebut dan mengukir tanda X di dadanya.