The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
chapter 9. Saat Yang Ditunggu Tunggu



Yang benar saja.. Apa yang sebenarnya dia lakukan?!


“... Apa yang harus aku lakukan dengan pil ini? Sialan!”


Tanpa pikir panjang Dyze pun memakannya, ia melakukan ini bukan tanpa alasan, itu karena Dyze percaya pada keputusan Ariel memilih nenek tersebut.


Setelah memakannya, tubuhku bereaksi, aku dapat merasakan energi yang awalnya berkecamuk di dalam tubuhku kini telah tenang!


Dyze hendak mencoba salah satu skill miliknya, namun terdengar suara teriakan tidak jauh dari tempat kami berada.


Disaat Dyze keluar dari gang sempit tersebut dan memeriksa keadaan, ternyata sekelompok bandit sedang menyerang kota, para Knight yang sedang berpatroli menghadang mereka, namun meski para bandit kalah jumlah, mereka mempunyai kualitas.


Para bandit itu jauh lebih kuat dari para Knight Kerajaan, he he he benar benar kebetulan.


Oops, kebiasaan seringai ku muncul kembali, Chronoa sepertinya melihat hal tersebut, karna itu dia bergetar.


“Apa yang akan kau lakukan Dyze?” Ia bertanya untuk memastikan.


“Para bandit rendahan itu akan menjadi bahan percobaan ku.”


Dyze kembali menyeringai sebelum mengaktifkan skillnya.


“Space Time Control : Time Stop.”


Swoosh! Angin tiba tiba tertiup dengan kencang, tidak lama kemudian disusul dengan gelombang energi yang seperti meledak keluar dari tubuhnya. Gelombang itu kemudian seperti membekukan waktu dari seluruh isi kota.


Selepas gelombang itu menghilang, seluruh isi kota seolah tidak memiliki warna, dan tentunya tidak ada yang bergerak sama sekali, kecuali para bandit. Dyze kemudian tertawa dan menunjukan ekspresi yang menyeramkan.


Dalam wajahnya tergambarkan perasaan lega, puas, sekaligus bahagia karena dapat kembali menggunakan skill nya dengan sesuka hati.


“Hey, lihat! Apa yang sebenarnya terjadi pada kota? Mengapa semua orang terlihat seperti mematung?!”


“Itu benar, seakan waktu telah membekukan mereka. Pemimpin, apa yang harus kita lakukan?!”


“Sheesh, kalian berisik sekali! Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi! Yang lebih penting sekarang kita akan mencari tahu alasannya.”


Tidak lama kemudian salah satu bandit melihat ke arah Dyze yang sedang menyeringai.


“Pemimpin! Lihat di gang sempit itu, terdapat seseorang yang dapat bergerak seperti kita!”


Disaat para bandit itu memusatkan perhatiannya pada Dyze, ia kemudian memasang senyum mengerikan di wajahnya, tanda kematian telah berada pada mereka.


(Sc : Google.)



“Matilah dengan mengenaskan.”


Dyze mengucapkan itu dengan senyuman mengerikan yang masih terpasang di wajahnya. Bersamaan dengan itu ia mengucapkan kata: “Undeniable Words.”


Tepat setelah para bandit itu mendengar nya, tingkah mereka menjadi sangat aneh. Para bandit itu mulai membunuh dirinya sendiri dengan mengerikan, salah satu bandit menggunakan pedangnya untuk memenggal kepalanya sendiri, bandit yang tidak bersenjata tajam sekalipun membunuh dirinya dengan mematahkan leher mereka sendiri.


Salah satu bandit yang berhasil selamat dapat tersadar karena rasa sakit yang ia rasakan, melihat teman teman dan pemimpinnya melakukan bunuh diri, membuatnya menjadi sangat ketakutan.


Bandit itu tidak dapat berdiri, ia mencoba sekuat tenaga yang dimilikinya. Namun percuma saja. Ia sudah terlalu lemas diakibatkan oleh pendarahan hebat di perutnya.


Seolah tidak ingin menyerah, bandit itu berusaha mencari cara alternatif untuk melarikan diri dengan merangkak dengan kedua tangannya.


Untuk lari sejauh mungkin dari pemandangan seperti neraka ini, setidaknya meski hanya untuk beberapa saat ia ingin hidup lebih lama.


Tapi percuma saja, insting bertahan hidup manusia justru membuat Dyze semakin kegirangan saat melihat korbannya sedang tersiksa.


Fenomena aneh ini disebabkan oleh Unique skill milik Dyze, yaitu Undeniable Words. Seperti namanya, “Kata kata yang tidak terbantahkan” Skill ini dapat membuat siapapun yang jauh lebih lemah darinya menjadi patuh dan tunduk pada kata kata atau disebut sebagai perintah yang dilontarkan oleh Dyze, meski perintah itu berarti membunuh diri mereka sendiri.


Dyze terlihat sangat menikmati pertunjukan kematian para bandit tersebut, tepat sebelum kematian bandit terakhir. Dyze menjentik jarinya sebagai tanda waktu akan kembali berjalan.


Waktu pun kembali berjalan dengan normal, di saat bandit terakhir mati karena kehabisan darah, seorang wanita berteriak histeris karena melihat pemandangan yang membuat manusia pasti akan muntah karenanya.


“Kyaaa! B-bunuh diri massal!”


Hal ini dimanfaatkan oleh Dyze untuk mencari sesuatu yang diburu para Bandit, lagipula tidak mungkin mereka melakukan serangan 2x pada tempat yang sama tanpa alasan, 'bukan?


“Dyze..kau yang melakukan ini semua bukan?” Chronoa menarik lengan baju Dyze dengan tangannya. Wajahnya pucat dan terlihat seperti gelisah, ya tentu saja, tidak ada manusia yang dapat menggambarkan bagaimana pemandangan tidak manusiawi ini. Kecuali manusia yang benar benar telah melewati neraka dalam hidupnya, mungkin ia akan tertawa saat menyaksikannya.


“Benar, apakah kau takut padaku?” Dyze menduga jika Chronoa takut padanya, oleh karena itu ia tidak banyak bicara seperti biasanya.


“Tidak, tidak sama sekali.” Chronoa justru mengatakan itu dengan senyum lebar, seakan beban pikiran nya telah terhapus saat mendengar jawaban Dyze.


Dyze terjatuh dalam lamunannya saat mendengar jawaban Chronoa. Sampai ia kembali dibawa ke alam nyata oleh Chronoa yang mengajaknya untuk ikut berlari bersama gelombang para warga.


“Paman! Ayo kita berlari bersama mereka!”


Syukurlah, ia kembali seperti biasa. Itu yang ada dipikiran Dyze saat melihat senyuman Chronoa, mereka pun menyusup diantara gelombang warga yang sedang berlari ketakutan menghindari Tempat Kejadian Perkara.


Diantara teriakan warga yang mengganggu, Dyze samar samar mendengar sebuah suara berat seorang laki laki dan suara anak kecil yang meringis kesakitan.


“Dengar! Jika kau menjadi anak pintar maka aku tidak akan menyakitimu!”


Sebenarnya itu tidak terlalu menarik perhatian Dyze, karena ia tidak tertarik untuk mengurus hal itu, akan tetapi kata kata yang dilontarkan anak kecil itulah yang membuatnya bergegas mencari keberadaan mereka.


“Tidak mau! Aku tidak akan menyia nyiakan nyawa yang telah diselamatkan oleh Nona Shearly!”


“Haa?! Apa yang kau maksud!? Apakah kau tahu teman temanku sekarang sedang mengepung pasar dan berbuat kekacauan, ini semua adalah salah mu lo!”


Dyze pun menarik tangan Chronoa keluar dari kerumunan dan menuju sumber suara yang berada di gang gang sempit, tidak lama kemudian mereka menemukannya.


Terlihat seorang gadis mungkin sedikit lebih kecil dari Chronoa, bertelinga runcing, memiliki rambut perak yang indah, dan iris mata biru terang seperti lautan. Sepertinya dia adalah ras Elf yang terkenal, jika karena anak ini para Bandit itu mengacau kembali itu cukup masuk akal karena harga Elf sangat tingi di pasar gelap. Tapi apakah ras Elf itu bercahaya seperti ini? Meski cahaya nya redup dan tidak menyilaukan tapi Chronoa terlihat sedikit bingung saat melihatnya.


“Hey bocah, apakah kau mengenal Shearly?”


“Eh?” Gadis Elf dan bandit itu kebingungan dengan kehadiran Dyze dan Chronoa yang tiba tiba.


“K-kau!? Darimana kau muncul?!” Bandit itu terlihat siaga dengan pedangnya, dia berusaha memperpendek jarak untuk dapat menebas Dyze, namun..-


“Mengganggu.” Sebelum dapat meraihnya, Dyze meniup pelan, disaat yang bersamaan Chronoa terlihat telah berada di udara untuk menendang wajah si bandit tersebut, namun dengan cepat Dyze menarik Chronoa kembali padanya.


“Hey! Apa yang kau lakukan paman?! Aku ingin menghajar wajahnya duluan!” Chronoa terlihat kesal karena diberhentikan.


“Yah jika kau tidak kuhentikan mungkin kau akan bernasib sama dengannya.”


“Huh? Apa yang kau maksud--?” Tiba tiba terdengar ledakan yang nyaris tidak terdengar secara singkat, saat Chronoa menoleh, wajahnya terkena cairan merah yang berbau, darah, benar itu adalah darah. Bandit itu meledak dari dalam karena lonjakan energi didalam tubuh yang memicunya, organ dalam Bandit itupun berceceran kemana mana, untungnya tidak mengenai Chronoa dan gadis Elf tersebut.


Bandit tersebut telah mati mengenaskan, ia mati karena tiupan angin dari Dyze. Hal itu dapat terjadi di karenakan bandit sempat merasakan takut pada Dyze karena ia tiba tiba saja datang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Karena itulah skill pasif Dyze, Afraid Of The Death terpicu hingga membuatnya terbunuh.


Afraid Of The Death, ketakutan akan kematian, pasif ini akan aktif jika seseorang ketakutan pada Dyze, maka dia akan mendapatkan kuasa penuh atas kematian orang tersebut. Benar benar skill yang menakutkan.


Dyze pun melewati bandit yang hancur tidak tersisa tersebut dengan santainya, dan Chronoa sepertinya masih sedikit syok dengan kejadian tadi. Dyze pun bertanya sekali lagi pada gadis Elf tersebut.


“Hei bocah, kutanya kau sekali lagi. Apakah kau mengenal Shearly?”


Elf kecil itu tidak menjawab, ia bukan tidak ingin menjawab, tapi ia tidak bisa. Ia merasa seolah udara membeku, seperti waktu sendiri beku di hadapannya. Gadis elf itu mulai menarik napas dalam dalam dan mengeluarkannya secara berulang ulang, sekujur tubuhnya menggigil dan banjir keringat, seolah ia kekurangan udara dan akan kehilangan kesadaran.


Dan benar saja, tidak lama kemudian ia terbujur kaku kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen.


“Yang benar saja.. merepotkan sekali!”


“Hey paman, apa yang akan kamu lakukan dengan Elf ini?”


“Elf? Ah, dia ya. Hmm entahlah, dia mengenal Shearly, jika memang nyawa nya diselamatkan oleh Shearly maka itu akan menjadi alasan yang jelas mengapa Shearly bisa mati.”


“..Lalu bagaimana dengan nenek itu? Dia sudah membantumu kan?”


“Oh..benar juga, aku hampir melupakannya. Sebagai penghormatan terakhir, akan ku kubur dia dengan layak.”


Dyze pun menyuruh Chronoa untuk menggendong Elf kecil tersebut, mereka kemudian menuju gang tempat nenek itu berada, namun sesampainya disana..