The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 33. Sebuah Penyesalan



“ARGGGGHHHH!!”


Chronoa mencengkram kepalanya, Riley sampai berusaha mencegahnya, karena jika dibiarkan maka dia pasti akan cedera – sebuah memori atau kenangan terputar kembali di kepalanya, dia seperti dipaksa sadar oleh sesuatu bahwa ini bukanlah kehidupan yang harus dijalaninya.


Tekad yang tadinya telah lenyap sepenuhnya mulai tumbuh dan mekar kembali, sebagai perpisahan terakhir, dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka.


“Ayah, maafkan aku yang selalu mengabaikan sosokmu. Selalu menyepelekan keberadaanmu, tapi aku kini tidak menyesal memiliki sosok ayah sepertimu.”


“Ibu, meski ibu terlihat mengerikan saat marah ataupun mengingatkan sesuatu, tapi ibu selalu melakukannya demi kebaikan kami, tanpa kehangatan dan kasih sayangmu, aku mungkin tidak akan bisa merasakan kehangatan dari seorang ibu di Dunia yang terkutuk ini.”


“Dan Lealta, terima kasih untuk waktunya selama ini, aku tidak pernah mempunyai teman sebelumnya, hanya kamu satu-satunya orang yang mendengarkan keluh kesalku.”


Meski sekilas terlihat kesedihan di wajah mereka, namun di akhir, sebuah senyuman terpasang jelas di wajah mereka.


“Akhirnya kamu telah mengikhlaskan kami ya?”


“Yah, tetap saja jika sesuatu terjadi padamu aku akan merangkak dari Neraka untukmu~!”


"Hehe, Nona Chronoa kini telah dewasa..”


Di saat itu, Dunia-nya menjadi terbakar seperti lukisan dan mulai runtuh, di saat-saat terakhir dia dapat melihat senyuman kedua orang tuanya, dan untuk terakhir kalinya Riley mengelus pipinya sambil mengatakan:


“Ibumu akan menjadi kupu-kupu kuning di setiap saat kamu suka maupun berduka.”


Layond menambahkan dengan senyuman:


“Dan Ayahmu akan menjadi lebah untuk siapa saja yang membuatmu tertawa ataupun bahagia.”


Lalu mereka mengucapkannya secara bersamaan:


“Kami mencintaimu, kami akan mengawasimu dari sisi kehidupan lain..”


“Selamat tinggal.. Ayah, ibu, Lealta.”


Dengan berat hati, Chronoa memeluk mereka dan mengucapkan perpisahan, dalam hatinya dia masih tidak bisa merelakan mereka sepenuhnya, dikarenakan penyesalan yang begitu besar tertanam pada jiwanya.


Dia menyesal karena tidak menikmati kehidupan indahnya, telah mengabaikan sosok ayah yang begitu sayang padanya, dan tidak pernah serius dalam menjalani kehidupan.


Kini dia menyesali semua itu sekaligus bersyukur karena bisa dipertemukan untuk terakhir kalinya.


(A/N: Jangan pernah menyia-nyiakan kasih sayang yang diberikan orang tua pada kalian. Meski terkadang mereka berisik ataupun resek, itu semua untuk kebaikan kalian. Apa bila mereka sudah tiada untuk selamanya, kalian tidak dapat mengulang waktu dan kembali ke masa lalu seperti Chronoa.)


Dunia itu kini runtuh dan terbakar sepenuhnya saat Chronoa telah melepaskan mereka.



“Argggh!?”


“Haah. Haah.. Haah…”


Chronoa terbangun dengan keringat dingin yang telah membasahi tubuhnya, dengan memegang mata kanannya, dia mengamati sekitar.


“Ruangan ini lagi?”


Dia terbangun di ruangan hitam itu lagi, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan: Chronoa tidak terbangun di dasar kegelapan, melainkan dia seperti melayang di udara. Lalu saat dia mengamati sekitarnya, dia menemukan sebuah bibit emas melayang tidak jauh darinya.


Dengan tenaga yang seadanya, Chronoa menghampiri bibit emas dengan aura menyilaukan itu. Dan saat dia telah hampir sampai mendekatinya, bibit itu seperti terbuka lalu memproyeksikan sesuatu tepat di hadapan Chronoa.


“KA-KAMU!?”


Chronoa syok dan kebingungan saat melihat sosok proyeksi itu sangat mirip dengan Wanita yang membunuh ‘Dyze’ dalam Dunianya tadi.


Terdapat satu perbedaan yang mencolok dari mereka, yaitu mata Wanita yang membunuh ‘Dyze’ memiliki mata seperti ikan mati, sedangkan sosok di hadapannya mempunyai mata normal yang bersinar seakan menemukan harapan.


“Perkenalkan, diriku adalah Celina. Aku adalah cerminan jiwa dari Dia dan dirimu juga persis sepertiku.”


“A-apa yang kamu katakan?!”


“Akhirnya telah datang waktuku untuk mengerjakan tugas.”


“… Tugas?”


“Kita tidak punya banyak waktu, aku akan menjelaskannya secara ringkas namun jelas. Kamu merasa seperti familiar pada sosok Wanita yang mengistirahatkannya, bukan? Kamu merasa dia seperti sosok-sosok yang selalu ada di mimpimu selama ini.”


“Mengistirahatkan? Dan bagaimana kamu bisa tahu!?”


“Yah itu simple, karena dirimu adalah diriku, tetapi diriku bukanlah dirimu, aku memiliki seluruh ingatan dan dapat mengakses segala ingatan yang kamu miliki, namun kamu sendiri tidak memiliki ingatan apa-apa mengenai kehidupan yang kita jalani sebelumnya.”


“T-tunggu dulu.. Aku adalah dirimu? Dan kehidupan sebelumnya? Apa maksudnya itu!?”


“Apakah itu artinya..”


“Benar, kamu dapat hidup kembali dengan cara menggabungkan jiwa kita kembali menjadi satu.”


Chronoa menjadi sedikit terkejut dan juga khawatir mendengar jawaban itu.


“Apakah itu artinya jiwa ku sebagai Chronoa akan menghilang?”


“Tenang saja, jiwamu dan jiwaku akan bersatu, karena memang pada dasarnya dirimu adalah diriku, jadi jiwamu tidak akan menghilang.”


“Apakah itu artinya kau yang akan menemani Dyze selanjutnya?”


Mendengar pertanyaan itu membuat Celina memasang raut wajah aneh.


“.. Jangan bilang kamu cemburu pada dirimu sendiri?”


Celina hanya menarik napas lalu menjawab:


“Dengan kata lain, saat diri kita menyatu, kepribadian kita juga akan menyatu, dan kita akan menjadi individu awal dengan kepribadian bercampur dari kedua jiwa yang terpisah, yaitu kita.”


“... Syukurlah. Jika individu itu masih memiliki ingatan Chronoa di dalamnya maka aku tidak dapat dikatakan mati atau lenyap, begitu kan?”


“Ya, kesimpulanmu benar.”


“Baiklah, kalau begitu..”


Celina membuat bibit yang awalnya lebih besar darinya itu menjadi menyusut dan kini berada di telapak tangannya.


“Ambillah Demi-God seed ini, lalu buatlah dia menjadi mekar.”


“Demi-God seed? Dan bagaimana caraku membuatnya mekar?”


“Mudah saja, kamu hanya perlu mendekati dan mengangkat Demi-God seed dengan kedua telapak tanganmu seperti berdoa, dan rasakanlah, bayangkan dia merupakan bagian tubuhmu sendiri.”


‘Rasakan..selayaknya seperti bagian tubuh sendiri..’


Tidak lama kemudian Chronoa merasakan gejolak pada dalam tubuhnya, sepertinya Celina juga merasakan hal yang sama.


“Katakan keinginan terbesarmu dengan sungguh-sungguh, keinginan itu akan terkabul jika Demi-God seed ini mekar.”


‘Keinginan terbesar..aku ingin hidup! Bukan untuk diriku sendiri, tapi demi menyelamatkan orang yang ku sayangi. Aku ingin hidup kembali, meski harus melewati neraka sekalipun. Aku ingin hidup meski mengalami ribuan kematian sekalipun. Aku harus hidup, agar kejadian itu tidak terulang kembali!’


Karena harapan dan doa mereka selaras, bibit itu menjadi bersinar dan mekar, mengeluarkan sesuatu seperti pohon berdaun emas dari dalamnya, pohon itu tumbuh dengan subur, ditambah sebuah partikel cahaya yang berguguran dari daunnya pun menambah kesan elegan dan indah dari pohon tersebut.


Di saat itu juga, Celina tiba-tiba terbang ke arah Chronoa dan memeluk dirinya.


“Selamat diriku, kamu telah berhasil mengabulkan permohonan kami. Sekarang dan untuk selamanya kini kita akan menjadi satu, terima kasih atas jasamu.”


Celina melebur dan memasuki tubuh Chronoa, lalu bersinkronisasi dan menjadi satu dengan jiwa Chronoa, membentuk kembali kepribadian baru yang disebut..


“Chloe.”


***


Karena Dyze yang terus meledakkan energi negatif membuat rantai-rantai yang mengekangnya hanya tersisa sedikit, dapat dikatakan jika Argus sedang terdesak lagi.


‘Sial! Apa tidak ada cara lain!?’


Di saat Argus sedang berusaha dan berharap memiliki cara lain, dia melihat sesuatu, sebuah cahaya bersinar terang dari jantung gadis yang cukup jauh di belakang Dyze, namun karena penglihatannya yang sangat baik, Argus dapat melihatnya dengan jelas.


‘Cahaya? Apakah Dewa mendengar doaku?’


Jantung dari gadis itu seperti membentuk sebuah tubuh yang membuat Argus tercengang untuk kesekian kalinya.


“Tubuh itu.. Yang benar saja!?”


‘Apakah ini regenerasi? Tidak, tidak mungkin, dia tadi seharusnya telah mati! Jadi itu artinya dia bangkit dari kematian? Sepertinya aku menyaksikan sebuah sejarah…’


Tubuh itu tidak memiliki luka atau lecet sedikitpun, bahkan lubang besar di perutnya kini telah sepenuhnya menghilang.


Sosok itu membalikkan badannya, melihat ke arah mereka, Argus cukup dikejutkan karena melihat sosoknya yang menjadi seorang Wanita dewasa, dan sosok yang dilihat Argus sebelumnya merupakan seorang gadis remaja.


‘Apakah dia orang yang berbeda?... Lalu mengapa dia bangkit dari jantung gadis itu?’


Sebuah pertanyaan tidak terjawab memenuhi kepala Argus, sekeras apapun dia memikirkan kemungkinan dan alasannya, dia selalu menemukan jalan buntu