
“Apa yang kalian lakukan?!”
Suara tersebut berasal dari Chloe, luka bakarnya telah menyebar hingga ke pipi, wajah dan paha miliknya.
Tanpa menjawab apa-apa Claire yang disebelah Argus langsung berlari ke arah Dyze dan memeluknya tepat disamping Chloe.
“Maafkan aku Dewi! Tapi jika seperti ini aku tidak akan mengalah!” – Claire mengatakannya sambil tersenyum ke arah Chloe.
Tidak disangka, aura gelap yang menyelimuti Dyze juga membakar kulit Claire, apakah itu artinya aura gelap itu berbahaya untuk seluruh makhluk hidup?
“Dasar bodoh, sudah kubilang panggil saja Chloe!”
“Baiklah. Aku tidak akan kalah darimu, Chloe!”
Di saat Claire dan Chloe sedang bersaing, Argus mengambil posisi dan mulai bersiap menggunakan Skillnya.
“Absolute Restraint!”
Ratusan rantai dengan warna merah seperti bunga Higanbana keluar dari tanah dan langsung mengikat Dyze.
Kali ini Argus tidak mencoba menyerap kesadaran Dyze, karena itu akan sangat fatal jika suatu kesalahan yang tidak diinginkan terjadi.
“Arkkhh!”
Argus mengerang karena dia mencoba menyerap Aura gelap yang menyelimuti tubuh Dyze, tubuhnya mulai melepuh dan terbakar seperti Chloe dan Claire.
Tapi luka sekecil ini tidak akan menghentikan pengorbanan besar mereka untuk orang yang dipedulikan.
Mereka masing-masing berteriak berharap Dyze secepatnya kembali pada mereka.
“Dyze! Cepat sadarlah! Perjalanan kita baru akan dimulai!”
“Aku tidak akan kalah dari Chloe! Karena itu berikanlah aku kesempatan berjalan di sisimu!”
“Tuan! Meski awalnya saya masih tidak begitu loyal pada anda, tapi mulai sekarang saya akan mendedikasikan penuh hati saya untuk anda!”
…
***
[ Perkenalkan saya merupakan Unik Skill; Intelligence Assistant(Asisten Kecerdasan) – yang diwariskan oleh individu bernama Raizel. Anda dapat memanggil saya dengan sesuka hati. ]
“Kau.., Ah. Jadi kau yang dia maksud ya.”
Dyze kini berada di tempat antah-berantah, dia tidak pernah berada di tempat ini sebelumnya.
“Dimana ini?” – Dyze menanyakan itu sambil melihat sekeliling, sejauh apapun matanya memandang hanya terdapat kegelapan pekat layaknya kabut yang menyelimuti sekitarnya.
[ Anda sekarang berada di alam bawah sadar anda. ]
“Begitukah..”
“Hey.. Beritahu padaku. Mengapa dia melakukan hal itu?”
[ Pemilikku sebelumnya melakukan ini semua demi anda. Dia mengorbankan seluruh Energi Kehidupan miliknya yang tersisa untuk disalurkan pada anda melaluii perantara saya. Dengan itu anda dapat mengakses Wujud atau Form anda sebagai Dewa malapetaka. ]
“B*ngsat.. Perasaan ini lagi.. Aku membencinya.”
“Jelaskan maksud dari perkataan-perkataan terakhirnya padaku.”
[ Baik. Beliau mewasiatkan pada anda untuk mengumpulkan kekuatan secara matang, yang artinya anda perlu untuk berkeliling Dunia dan menaklukkan berbagai ras serta individu kuat untuk dijadikan ‘kekuatan’ anda. ]
“SIAL!”
Dyze menghantamkan tangannya pada kegelapan yang tidak berdasar. Dia terlihat ingin menangis namun tidak dapat melakukannya.
Apa yang akan kamu rasakan jika kehilangan seorang teman dekat atau sahabat yang mengorbankan nyawanya demi kepentingan dirimu?
Perasaan marah pada diri sendiri?
Kecewa karena tidak dapat menyelamatkannya?
Ataukah bahagia karena kepentingan dirimu telah terpenuhi?
Emosi yang campur aduk itu membuat Dyze tertawa keras seolah menjadi gila karenanya.
Saat dia mulai lelah, sebuah cahaya bersinar dari kejauhan.
“Apa.., itu?”
[ Raih dan gapailah cahaya itu. Cahaya itu merupakan perwujudan dari harapan anda untuk terbebas dari ini semua. ]
Setelah mengatakan hal itu dengan lantang pada dirinya sendiri, Dyze mulai meraih cahaya yang kini berada tidak jauh di depannya.
Saat berhasil menggapainya, cahaya itu bersinar terang dan membentuk sebuah lorong yang terbuat dari cahaya, menyapu bersih kegelapan pekat yang ada di sekitarnya.
Dia mulai berjalan masuk ke dalam lorong cahaya yang tidak berujung, hingga Dyze mendengar berbagai suara yang memanggil dirinya, saat itulah dia tiba-tiba berkedip dan ketika membuka kembali matanya dia telah kembali ke Dunia nyata.
“Ughh.. Apa yang terjadi…”
Lorong cahaya yang begitu terang sebelumnya membuat Dyze menjadi sedikit pusing dan berkunang-kunang.
“?!”
Dyze dikejutkan saat menyadari bahwa Chloe dan Claire sedang memeluknya, namun bukan itu masalahnya, di tubuh mereka terdapat luka bakar yang serius.
“Akhirnya kamu bangun juga, Dyze.”
“Syukurlah.”
“Hamba senang atas kembalinya anda, Tuan.” – Selain Chloe dan Claire yang menderita luka bakar serius, Argus juga sama seperti mereka, tapi tidak ada satupun tanda mereka terlihat kesakitan, mereka tetap berdiri kokoh dengan memasang senyum bangga di wajahnya.
“Kalian..”
[ Izinkan saya menjelaskan situasinya. Dilihat dari kondisi tubuh masing-masing individu yang menderita luka bakar ekstrim, hal itu hanya dapat terjadi apabila mereka bersentuhan langsung dengan tubuh anda yang sedang diliputi aura kegelapan. Dengan kata lain mereka berusaha membangunkan atau menyadarkan anda dengan menyerap dan bersentuhan secara langsung dengan tubuh anda yang sedang diliputi aura gelap. ]
“Begitukah..”
Tanpa diduga Dyze langsung menghancurkan rantai-rantai yang mengekangnya lalu mengumpulkan mereka semua.
Di saat mereka semua sedang bertanya-tanya dalam kepalanya, tanpa diduga Dyze langsung memeluk Chloe, Claire dan Argus secara bersamaan lalu mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk pertama kali dengan tulus.
“Terima kasih.., Atas pengorbanan kalian…”
Mendengar itu untuk pertama kalinya membuat mereka merasa malu dan terharu.
Setelah momen haru tersebut selesai, Argus menggunakan sihir penyembuh miliknya untuk membantu Claire menyembuhkan lukanya, sedangkan Chloe, kulitnya berganti seperti sebelumnya.
“Apa ini?” – Dyze mengatakan hal itu sambil menyentuh Barrier milik Claire, sensasinya seperti menyentuh dinding yang sangat keras namun transparan.
“Itu Barrier milikku yang kubuat menjadi sebuah kubah besar.”
“Benarkah? Kau hebat ya bisa membuat seperti ini untuk pertama kalinya.”
“Ti-tidak juga.”
Dyze pun teringat tentang perkataan terakhir Raizel, dia meminta Claire untuk mengembalikan kubahnya menjadi seperti semula.
Claire pun menurutinya.
Kubah raksasa berwarna emas transparan itu kini lenyap hanya dalam beberapa saat. Mereka pun berjalan menghampiri jasad Raizel.
“Raizel..”
Kalimat itu keluar dari mulut Chloe dan Dyze, mereka meratapi kematian teman dekatnya – kemudian Dyze mendekatinya dan mengambil jantungnya.
‘Hey.. Dengan begini permintaannya akan terkabulkan, bukan?’
[ Benar. ]
Dyze pun langsung memakan jantung Raizel dengan utuh – selama ini dia tidak pernah memakan jantung seseorang hingga habis atau secara utuh.
Tapi kali ini berbeda, karena permintaannya Dyze pun melakukannya tanpa ragu sedikitpun.
Meski sedikit syok saat melihatnya, Chloe, Claire, dan Argus tidak berbicara sepatah katapun.
Setelah selesai, Dyze menyapu darah di mulutnya dan membakar jasad Raizel dengan api yang paling dingin.
“Selamat tinggal, kawan. Dan terima kasih untuk semuanya.”
Melihat Dyze yang terlihat bersedih membuat Argus menjadi bertanya pada Chloe.
“Apa yang terjadi pada Dewa yang mati setelah bereinkarnasi?”
Karena Claire yang sepertinya juga ingin tahu, Chloe pun menjawabnya.
“Tergantung keinginan dari Dewa itu sendiri. Terkadang mereka akan bereinkarnasi di Dunia lain ataupun jauh di masa depan nanti.”
“…”
Jika memang itu alasannya, masuk akal apabila Dyze bersedih seperti itu – begitulah pikir mereka.