
Delta menatap laki-laki itu dengan sorot mata dingin, seolah mengintimidasi, dia berbicara menggunakan nada berat.
“Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu lagi. Saat ini aku dipanggil sebagai Delta oleh sosok yang memiliki potensi tidak terukur di mataku. Aku akan senang apabila kau mengingatnya.”
Laki-laki itu merinding, sampai pada titik dia melepaskan cengkramannya dan langsung berlutut.
“Maafkan aku yang telah lancang untuk kedua kalinya! Kumohon dengan amat sangat untuk menceritakan kebenaran yang telah terjadi!”
Delta berhasil menaklukannya, Alpha dan teman-temannya memberikan siulan, dan dia reflek langsung menoleh ke arah Dyze.
“Tidak buruk.”
Delta bahagia karena menganggapnya sebagai sebuah pujian. Karena prinsip Delta sendiri adalah jika kebahagiaan mutlak itu sebenarnya tidak ada, maka kita cukup untuk menciptakannya saja.
Setelah Delta yang disetujui sebagai perwakilan menceritakan semua yang dia ketahui pada laki-laki tersebut dan gadis kecil di sebelahnya yang ikut mendengarkannya.
…
“Ap.., Apa…? Tuan Leviathan telah mati, dan Nyonya Gorgon juga?!”
Laki-laki dan gadis kecil itu tertegun mendengar cerita dari Delta, secara tiba-tiba Laki-laki itu seperti berputus-asa.
“Dengan adanya kabar bahwa Tuan Leviathan telah menutup usia dan Nyonya Gorgon yang ikut menyusulnya pasti akan membawa badai baru ke Arbeltha..”
“Badai baru?”
Delta mulai menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan dari Dyze dan yang lainnya.
“Dulu sebelum Tuan Leviathan menunjuk Nyonya Gorgon-- Medusa sebagai petinggi, terdapat seorang Tiran yang menempati Arbeltha. Dia membawa badai yang abadi, mengisolasi Arbeltha dari seluruh Dunia. Dan pada akhirnya Medusa lah yang menggagas sebuah pemberontakan untuk terbebas dari jeratan nya.
Hal ini memicu sebuah perang saudara di Arbeltha, saat perang sedang berkecamuk, berita itu sampai ke telinga Leviathan, sehingga membuatnya langsung menuju Arbeltha untuk mengambil alih semuanya.
Setelah suasana menjadi lebih kondusif, Leviathan menunjuk Medusa sebagai salah satu penguasa tertinggi dari Arbeltha."
“Lalu? Apa yang terjadi pada Tiran itu? Dan salah satu penguasa tertinggi..?”
Delta, meski wajahnya kaku, tapi dapat dibedakan dengan jelas dari suara, tatapan matanya yang sangat jauh berbeda saat berhadapan dengan laki-laki tadi.
“Tua—Leviathan telah mengurungnya dengan segel terkuat di sebuah tempat yang diapit dua gunung besar. Lalu selain Medusa ada beberapa individu lainnya yang berkuasa di Arbeltha, mereka juga ditunjuk langsung oleh Leviathan.
– Xelyn, dia dikenal sebagai ras Qilin. Penampilannya dalam wujud Humanoid berupa wanita Dewasa berambut ungu panjang bergelombang, matanya merah seperti buah delima, dan memiliki tanduk banteng yang menjulang ke belakang.
– Sfanix dari ras Sphinx. Penampilannya dalam wujud Humanoid berupa laki-laki dewasa berambut jingga sama dengan kedua iris matanya, memiliki surai yang cukup tebal sehingga menambah kesan gagah padanya.
– Elinia dari ras Nagini. Penampilannya dalam wujud Humanoid berupa wanita dewasa yang memiliki karisma, berambut biru malam dengan matanya yang pucat.
– Lorness, atau dikenal sebagai Lochness. Hamba tidak begitu tahu menahu mengenai Lorness, yang jelas bahkan saat di lautan lepas hamba tidak pernah bertemu langsung dengannya.
– Tearos atau yang lebih dikenal sebagai Iku-Turso. Dia digambarkan sebagai seekor walrus raksasa, memiliki sepasang taring besar yang mencuat keluar dari kedua sisi mulutnya. Taring itu dikabarkan dapat menembus dan mengoyak sisik Naga sekalipun.
– Octavus atau yang lebih dikenal sebagai Kraken. Sama seperti Lorness, hamba tidak pernah bertemunya secara langsung, baik itu di daratan maupun di lautan lepas. Tapi hanya satu hal yang hamba tahu darinya, ukuran tubuhnya mungkin setara atau bahkan lebih besar dari Hydra.”
“Sepertinya mereka semua adalah lawan yang tangguh..”
Dyze tersenyum, dia berharap banyak pada mereka.
“Jadi? Siapa nama Tiran itu?”
Delta menghela napas dan berkata dengan serius:
“Kami menyebutnya sebagai Typhon.”
“Sepertinya kau melupakan sesuatu..”
Saat dia berbicara, atmosfer menjadi berubah secara signifikan, laki-laki itu merasa seperti ditekan dan memikul sebuah beban yang sangat berat, bahkan sampai pada titik dia tidak berdaya untuk dapat menatap matanya.
“Maaf telat memperkenalkan diri.., namaku Strawford Ironseth. Anda dapat memanggilku.., sesuka hatimu..”
“Bagus.” – Chloe tersenyum, namun bukan berarti petaka telah berakhir. Atmosfer menekan yang tadinya begitu pekat kini mulai menyusut.
Chloe melihat ke arah gadis kecil itu, dan dia spontan langsung mengenalkan namanya.
“Aku.. Irene..”
Kali ini atmosfer itu telah menyusut sepenuhnya, Chloe kembali pada moodnya yang biasa.
“Bagus~”
Strawford ironseth memiliki postur tubuh pendek, bahkan lebih pendek dari Sven Olward. Tapi meski dari segi ukuran dia kalah, jika dibandingkan dengan kekuatan dan daya tahannya maka dia jauh di atas Sven itu sendiri.
Otot lengannya besar, urat-uratnya timbul dan dapat terlihat jelas, dia juga memiliki bekas luka bakar di tubuhnya, hal itulah yang membuatnya dapat unggul dari Sven yang hampir tidak memiliki luka permanen sedikitpun.
Ironseth memiliki rambut berwarna coklat dan janggut yang cukup tebal, tempramennya parah yang bahkan dapat merenggut nyawanya sendiri, tapi sepertinya hari ini adalah keberuntungannya.
Sedangkan Irene, dia seorang gadis kecil dengan seumuran Livia yang mempunyai iris mata berwarna putih keabu-abuan. Sedangkan rambutnya berwarna biru seperti mata yang dimiliki Argus.
Tidak ada yang tahu pasti apa hubungan mereka, apakah ayah dan anak? Tapi itu cukup aneh karena Ironseth kemungkinan besar dari ras Dwarf, sedangkan Irene dia terlihat seperti gadis manusia pada umumnya.
Ataukah mereka dalam hubungan spesial?
Tapi apapun jawabannya itu tidak penting untuk sekarang.
Chloe melirik ke arah Dyze, dan dia mulai membuka mulutnya:
“Katakan semua yang kau tahu tentang Noire, ataupun semua yang terjadi akhir-akhir ini di benua Arbeltha.”
“Dan juga berikan aku sebuah barang sihir yang dapat menambah daya rusak suatu sihir saat dialirkan dengan mana miliknya. Ini akan menjadi bayaranmu..”
Dyze melempar ‘Relic’ yang berada di tangannya pada Ironseth, dia menangkapnya dan termenung sejenak.
“Ini..”
“Ini…”
“Ini…!”
Ironseth langsung tahu, dari ukirannya yang begitu detail dan indah, benda itu pasti memiliki nilai yang begitu tinggi.
“Jadi? Apa jawabanmu?”
“Baikk! Hamba akan langsung menyiapkan semuanya!”
Ironseth langsung bergegas ke ruangan lain dengan dibantu Irene.
“Wow.., aku tidak menyangka kamu akan memanfaatkan benda palsu itu..”
Livia, Claire, dan Argus mengangguk tanpa berkata-kata, mereka setuju dengan pernyataan Chloe.
“Dwarf, makhluk seperti mereka hanya peduli nilai pada harta, mudah saja untuk menaklukkan mereka dengan ketakutan. Tapi itu tidak menjamin bahwa mereka akan berkerja dengan membakar seluruh potensi yang ada. Untuk dapat berhubungan baik dengannya maka berilah mereka sebuah benda berharga sebagai kesan pertama mereka padamu.”
Mereka tercengang, karena tidak biasanya Dyze yang tidak menyukai hal rumit kini dapat dengan enteng menjelaskannya pada mereka.