
Terdengar suara tawa yang memecah keheningan, Asmodeus menoleh ke sumber suara dengan tatapan kebencian. Sosok pemuda yang dilihatnya memasang ekspresi menyeramkan di wajahnya dan berteriak:
“Bagaimana?! Apakah menyedihkan berpisah dengan orang yang disayang? Itulah yang selama ini kau lakukan pada korban korbanmu! Sekarang kau mengetahui apa yang dirasakan oleh mereka.”
Asmodeus tidak menjawab. Dia perlahan bangkit dari keterpurukannya. Dia menatap Dyze dengan intens—
Asmodeus berpindah tempat seakan teleport. Dia kini telah berada di luar kawah raksasa, tepat di depan Dyze yang sedang tersenyum melihatnya. Asmodeus menangkap dan mencengkram wajah Dyze, dia terbang dengan kecepatan tinggi. Asmodeus menggesekan kepala bagian belakang Dyze ke tanah dan menyeretnya hingga sampai di dekat gerbang, Dyze di bawa nya terbang ke udara dan dilempar Asmodeus ke Menara hingga Menara itu runtuh.
Di saat Dyze sedang di cengkram dan ingin dibawa terbang tinggi ke langit, sebuah teriakan histeris menarik perhatian Asmodeus.
“DYZEEEEEEEEE!”
Melihat Claire yang banjir air mata mengkhawatirkannya, Dyze hanya menatapnya sebentar dan menjentikan jari. Dalam sekejap seisi kota Erdein beserta gerbangnya menjadi lenyap tidak bersisa, membuat Asmodeus heran untuk sesaat, namun dia tidak terlalu memikirkannya.
Di ketinggian langit, Dyze terus dijadikan samsak tinju oleh Asmodeus. Hingga Dyze membalas, pertarungan sengit yang berada di level berbeda dari sebelumnya terjadi di langit.
Keduanya sama sama tertawa, seolah menikmati sensasi pertarungan yang menegangkan ini.
Seolah membalas kejadian yang dialami berkali kali olehnya, Asmodeus berhasil menendang jatuh Dyze di dekat bebatuan dimana Chronoa dan Eiria bersembunyi. Wajah mereka terlihat masih kebingungan saat menyadari kota Erdein telah lenyap tanpa sisa.
Pendaratan Dyze sama sekali tidak mulus, yang membuatnya langsung menghantam tanah dengan keras. Mendengar suara hantaman, dengan perasaan penasaran dan khawatir mereka melirik ke arah sumber suara.
“Dyze!?”
Asmodeus yang telah sampai kebetulan mendengar suara Chronoa, dia berniat untuk membuat Dyze bernasib sama dengannya.
Chronoa dan Eiria dikejutkan dengan kedatangan sosok pemuda berambut hijau rumput dan memiliki mata indah seperti Emerald berada di depan mereka, menatap mereka dengan penuh amarah.
“Tunggu sebentar.. Kau Eiria!?”
Mendengar pemuda itu mengenalnya membuat Eiria gemetar karena dia juga memikirkan jika yang ada di hadapannya sekarang bukanlah orang yang tidak dia kenal. Orang itu tersenyum. Namun di saat yang sama, sebuah sosok dengan mata membara dan kepulan asap dari mulutnya telah berada di samping pemuda itu.
“Tak akan kubiarkan..Kau Asmodeus!”
Suara berat dari sosok itu membuat siapapun yang mendengarnya menjadi merinding, tidak terkecuali Asmodeus. Eiria yang dari awal menduga bahwa pemuda itu adalah Asmodeus menjadi sangat ketakutan, traumanya belum menghilang.
Sosok itu melancarkan sebuah pukulan telak pada Asmodeus, membuatnya terlempar jauh. Sosok itu dipenuhi aura kegelapan yang sangat pekat menyelimuti tubuhnya. Meski sosok itu jauh berbeda dari orang yang ia tahu, Chronoa seperti sangat mengenalnya.
“Dyze..?”
Sosok itu menoleh, tatapan dari mata merah nya yang sedang menyala sangat tajam membuat Chronoa dan Eiria menjadi gemetar. Sosok itu membuka telapak tangannya, dan bergumam singkat namun sangat berat:
“.. Pedang.”
Chronoa awalnya ingin meminjamkan pedang biru miliknya, namun sosok itu menolaknya. Awalnya dia merasa bingung, hingga dia teringat perkataan Dyze padanya.
‘Dengan ini seharusnya sudah cukup.. Ya?’
Chronoa tersenyum sambil memegang pedang kayu cadangan.
Setelah memberikannya, sosok itu melapisi dan menyelimuti pedangnya dengan aura gelap miliknya lalu melesat menuju Asmodeus dengan kecepatan tidak kasat mata.
. . .
Dyze melancarkan tebasan pada Asmodeus, beberapa dari tebasan itu berhasil ditangkisnya, namun tebasan silang dari Dyze tidak dapat ditangkisnya, membuat luka dalam berbentuk ‘X’ di dadanya.
Luka di dadanya seperti terbakar dari dalam, dia menduga itu karena aura yang menyelimuti pedang kayu tersebut. Asmodeus tidak dapat menghindar saat Dyze ingin melayangkan tebasan akhir padanya namun—
“Ukhh!”
— Dyze mengeluarkan darah dari mulutnya. Tubuhnya seketika menjadi lemas. Melihat kesempatan, Asmodeus memasang seringai lalu menendang dada Dyze dengan sangat kuat.
Merasa telah terlempar cukup jauh Dyze menusuk tanah untuk memperlambat gerakannya, bersamaan dengan itu Dyze bergumam: “Fence Spear.” Setelah beberapa saat, dia terhenti tidak jauh dari Chronoa.
Aura yang menyelimuti tubuhnya perlahan menyusut dan mulai lenyap. Asmodeus yang telah berada tidak jauh dari Dyze tertawa dan berteriak:
“Kau telah mencapai Limit! Tidak ada gunanya melanjutkan pertarungan, kau hanya akan hancur jika memaksakannya!”
Aura gelap pekat yang menyelimuti Dyze kini sepenuhnya menghilang, membuat Chronoa dapat mengenalinya. Chronoa tidak terlalu terkejut lagi jika sosok tersebut adalah Dyze karena dia telah menduganya dari awal. Tapi dia tidak menyangka bahwa Dyze telah mencapai Limit yang ditakutkan olehnya.
Chronoa bimbang, dia tidak dapat menentukan keputusannya. Dia menatap ke arah Dyze, yang secara bersamaan Asmodeus menerjang ke arahnya.
Selain tidak merasakan khawatir ataupun panik, Dyze justru tersenyum dan menggerakan mulutnya.
“Fence Spear: Activated”
Tiba tiba tanah yang memiliki garis pedang Dyze mengeluarkan tombak yang menjulang tinggi dan berjejer seperti pagar. Asmodeus yang tepat berada di atasnya, menjadi tertusuk beberapa tombak yang membuat pergerakannya menjadi terbatas.
Dyze berjalan mendekat, Asmodeus berusaha melepaskan diri, namun percuma, sesuatu yang tertusuk oleh tombak itu diserap pergerakannya. Dyze menatapnya lalu tersenyum.
“Tadi itu menyenangkan. Akan kubuat kau tidak akan menderita lagi di Dunia yang busuk ini.”
Dyze memasang kuda kuda, dia seolah membuat gerakan ingin menarik pedang dari pinggangnya.
Namun tanpa pedang bergerak sedikitpun dari pinggangnya, Dyze menggumamkan sesuatu.
Tiba tiba tubuh Asmodeus seperti memiliki garis garis di sekujur tubuhnya, garis yang awalnya redup itu menjadi semakin terang dan terlihat seperti cahaya kebiru biruan yang cantik.
“--.. Star Cut!”
Saat Dyze menyambungnya, garis garis yang seperti bekas potongan pedang itu bereaksi.
Sebelum Asmodeus menjadi terpotong potong, sebuah ukiran bintang tercipta dari garis itu, tepat saat itulah Asmodeus langsung terpotong hingga kecil.
Yang tersisa dari tubuh Asmodeus hanya hati dan jantungnya.
Dyze segera memungutnya. Bersamaan dengan itu Dyze menyadari Chronoa dan Eiria mendekatinya.
Dyze menoleh ke belakang, melihat Chronoa yang memiliki kilatan cahaya di matanya.
“Uwaaah! Tadi keren sekali! Bagaimana caramu melakukannya?”
Dyze menggosok hidungnya dan menjawab:
“Aku hanya memusatkan seluruh kecepatan yang di miliki ke pedangku. Oleh karena itu aku tidak dapat bergerak selama teknik itu berlangsung.”
Chronoa terlihat antusias dan meloncat loncat.
“Benarkah?! Bisakah kamu mengajariku nanti?”
Dyze sendiri tidak keberatan dengan permintaan Chronoa.
“Ya. Mungkin.”
Dyze lega karena Chronoa tidak bertanya
mengenai yang terjadi sebelumnya.
Dia melirik ke arah Eiria dan melemparkan hati Asmodeus padanya.
“Bukankah seharusnya kau senang ? Sumpahmu telah terwujud.”
Eiria yang telah menangkap hati Asmodeus pun tersenyum:
“Ya.. Anda benar. Tidak ada yang kuperlu takutkan lagi.”
Dyze hanya mengangguk dan kemudian memakan jantung Asmodeus.
“A-apa yang kamu lakukan?”
Dyze hanya menjawab dengan wajah polosnya:
“Memakan jantung?”
Chronoa dan Eiria saling melirik, entah karena alasan apa, mereka berdua tertawa.
Belum habis Dyze memakannya, tubuhnya menjadi bersinar yang menyilaukan mata. Disaat mereka membuka mata, Dyze telah pulih dari semua luka lukanya, rambut belakang yang awalnya botak juga menjadi tumbuh sempurna.
“Woah! Tidak kusangka Legenda itu benar benar nyata”
Dyze mencoba melapisi tubuhnya dengan aura lagi.
Dan benar sesuai dugaannya, dia tidak merasakan dampak seperti tadi, sekarang dia telah melampaui Limitnya, sekarang Dyze resmi menjadi Super Human.
Super Human, tingkatan yang dua kali lebih tinggi dari manusia biasa, fisik dan sihir Super Human jauh lebih kuat dari High Human apa lagi Normal Human, namun jumlahnya terlalu sedikit karena tidak banyak manusia ataupun High Human yang berhasil melampaui Limitnya.
Dyze menyusutkan aura dan melirik ke arah Eiria:
“Apakah kau tidak ingin membalaskan dendam?”
“Eh?”
“Aku menyisakan itu untukmu agar kau dapat membalaskan dendam padanya.”
Eiria seketika berkaca kaca, teringat dengan ayah ibunya yang telah mati. Dengan air mata yang mengalir deras seperti air terjun, dia memakannya dengan lahap.
Setelah beberapa saat, tubuhnya menjadi bercahaya. Kemudian saat mereka membuka mata, cahaya redup yang menyelimuti Eiria kini menjadi jauh lebih terang. Namun meski begitu terang, itu tidak menyakitkan saat dipandang, justru sangat indah membuat orang ingin terus memandangnya.
Eiria merasakan kekuatannya telah kembali, tidak, bahkan kekuatannya sekarang jauh lebih kuat dari yang dia miliki dulu.
Dia mencoba memanipulasi rumput di pijakan mereka menjadi sangat tinggi dan lebat. Saat itu juga tangannya bercahaya dan rumput menjadi tumbuh tinggi dan lebat sesuai keinginannya.
“Wow! Kau dapat mengontrol alam?!”
Dyze dan Chronoa kagum dengan kemampuan Light Elf.
Eiria kini telah resmi menjadi High Elf. Fisik High Elf tidak dapat dianggap remeh seperti Elf lagi, karena mereka dapat menghancurkan pohon besar dalam sekali pukulan yang mana tidak dapat dilakukan oleh Manusia biasa tanpa sihir.