
“Apa yang .. Terjadi?”
Mereka dibingungkan oleh waktu yang tiba-tiba menjadi malam hari dari yang sebelumnya siang serta Hydra yang gelisah dan langsung terlihat lega sekaligus bahagia saat melihatnya kembali.
“Khiirk!”
Dyze melihat ke arah Xelyn dan memintanya untuk menerjemahkan perkataannya:
“Hydra bilang: ‘Syukurlah!’”
“Khiirk! Khirk .. Khirk .. khirk!”
“Selanjutnya: ‘Hamba kira kalian menghilang! Karena tidak keluar untuk waktu yang cukup lama .. Tapi setidaknya kini telah kembali .. Itu kabar yang menyenangkan!”
“Menghilang? Tidak keluar untuk waktu yang lama?”
Mereka melihat satu sama lain dan saling kebingungan, tidak mengerti apa kondisi yang sedang mereka alami sekarang.
“Tunggu dulu .. Di gua tadi terdapat sebuah Skill yang mampu memerangkap seseorang untuk selamanya apabila tidak dapat dihancurkan. Dan saat aku menghancurkannya kemungkinan besar konsep waktu itu sendiri lenyap di dalam sana ..”
“.. Jangan bilang?!”
Perhatian mereka semua terpusat pada Chloe yang sepertinya menemukan sesuatu.
“Apa itu yang seseorang inginkan? Membuat kita berada di sana untuk waktu yang singkat bagi kita namun begitu berbeda dengan yang dirasakan orang lain di luar? Tapi untuk apa ..?”
“Sepertinya ada yang merencanakan ini semua ya? Tidak masalah. Lagipula ini akan semakin menarik ..” – Dyze menyeringai sesaat lalu kembali menghapus senyumannya.
“Danaunya sepertinya dingin. Ayo. Mandi. Aku gerah.”
“Eh?”
Mereka semua masih termenung saat mendengar perkataannya kemudian tersadarkan kembali saat Dyze sudah melepas pakaian atasnya.
“Saya duluan~”
Argus melepas baju bagian atasnya dan langsung melompat ke danau menyusul Dyze.
Chloe dan yang masih berada di tepi air terjun kini juga melepas pakaiannya serta berlomba siapa yang paling cepat berada di sana.
Pada akhirnya Chloe lah yang menjadi pemenang utamanya meski dia tidak menggunakan kemampuan Space and Time control sekalipun.
Di malam hari dengan angin sejuk yang berhembus, menerbangkan rambut-rambut mereka yang tidak terikat, hawa dingin yang menusuk tulang namun tidak sebanding dengan yang pernah dikeluarkan olehnya.
“Fiuhh. Benar-benar menyegarkan.”
Dyze terlihat lega karena kegerahannya kini telah hilang sepenuhnya. Tidak hanya itu Chloe dan yang lainnya juga menikmati danau tersebut.
Meski danau tersebut memiliki ikan, tidak ada satu pun ikan yang mendekati Dyze, para ikan-ikan itu hanya mendekati Xelyn, Chloe, Claire. Hingga pada titik dimana ada beberapa ikan yang ‘berenang’ di dada Chloe.
Suasana begitu hening dan menyenangkan hingga sampai ketika ..
“Hey .. Dyze. Bisakah aku bertanya sesuatu padamu?”
“Apa?”
Tidak biasanya Claire memulai pembicaraan, Dyze langsung menoleh ke arahnya dan menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan.
"Maaf jika terkesan lancang, tapi aku benar-benar penasaran. Dyze, kamu itu sekuat apa dulunya?"
Suasana menjadi hening karena pertanyaan Claire. Dyze melihatnya sesaat lalu membuang wajah kembali. Dia mulai membuka mulutnya:
"Rasanya .. Puas dan menyedihkan dalam saat yang bersamaan. Dulu dalam keadaan paling santai sekalipun aku masih dapat menggenggam alam semesta yang tidak terbatas di telapak tanganku, tapi kini aku menjelma menjadi manusia yang bahkan tidak sebesar gunung sekalipun .."
"Mengingatnya benar-benar membuatku bernostalgia."
Semua yang mendengar itu terbujur kaku, kecuali Chloe yang dari dulu telah mengetahui kekuatan dan kebesaran Dyze yang sesungguhnya.
“Alam semesta yang tidak terbatas? Apa itu berarti terdapat alam semesta yang sama seperti kita dalam jumlah tidak terbatas di luar sana?”
Pertanyaan Claire benar-benar mewakilkan rasa penasaran mereka.
“Ya. Begitulah.”
“Hamba meminta izin berbicara. Jika begitu mengapa anda dulu terlihat bingung saat nyonya Chloe menceritakan tentang ‘semesta lain’?”
Dyze melihat ke arah Argus yang cukup jauh darinya.
“Ah. Aku hanya tidak menyangka bahwa aku juga memiliki ‘timeline’ tersendiri. Mungkin hal itu terjadi setelah runtuhnya kejayaanku. Karena mustahil aku dapat berada di timeline yang berbeda saat keberadaanku masih pada tahap Omnipresent(Yang Maha Hadir).”
“Timeline?”
Karena merasa ini bukan ranahnya, Dyze menatap Chloe, dan Chloe langsung paham maksud darinya.
“Timeline. Sebuah garis waktu. Dalam hidup kalian pasti pernah menghadapi sebuah pilihan, baik itu ringan maupun berat ..”
Mereka semua saling menatap satu sama lain dan sama-sama mengingat pilihan terberat dalam hidup mereka.
“Dan setiap pilihan yang digunakan maka pasti akan ada pilihan yang tersisa. Di timeline lain kalian pasti memilih pilihan yang berbeda dari kalian pilih di kehidupan ini. Dan setiap perbedaan itu akan selalu menciptakan Universe alias semesta yang berbeda setiap waktunya.”
“Dengan kata lain .. Setiap pilihan yang kita jalani itu akan menghasilkan timeline berbeda lalu memicu terciptanya alam semesta baru?”
“Bingo. Itu intinya.”
Chloe memuji Delta yang cepat tanggap, sedangkan untuk yang lainnya mereka terperangah karena tidak menyangka ‘Dunia’ yang mereka tinggali begitu besar.
“Yah meski menyedihkan aku tidak begitu membenci kehidupanku yang sekarang, karena dapat bertarung setara dengan kategori ‘lemah’ pada pandanganku dulu.”
“…”
Mereka hanya diam menanggapi perkataan Dyze.
“Lalu .. Sejauh apa kira-kira anda dapat menghancurkan sesuatu dengan kekuatan penuh?”
“Aku .. Tidak tahu. Aku tidak pernah mencobanya. Tapi aku sangat yakin, akan sangat mudah bagi diriku yang dulu untuk melenyapkan seluruh jagat raya ini dalam satu gerakan..”
“.. Tapi meski aku dapat melakukan itu, masih tersisa Firmament deity. Satu-satunya tempat yang belum bisa kuhancurkan hingga saat ini.”
Mereka tertegun karena dengan kekuatan Dyze yang sebesar itu masih tidak mampu untuk menaklukkan ‘Firmament Deity’.
‘Firmament Deity’ tempat apa ini sebenarnya?
“Ekhem. Maaf Tuan, apakah anda tidak ingin menanyakan sesuatu mengenai informasi-informasi yang anda dapatkan di batu-batu itu?”
Argus berusaha mengalihkan topik pembicaraan karena atmosfer begitu terasa dingin hingga pada titik membuat Livia dan yang lainnya menggigil.
“Aku tidak tertarik pada kisah pengkhianatan. Terlalu hina untuk diketahui ..”
“.. Aku sangat membenci pengkhianat.” –
Kalimat Dyze ini hanya didengar oleh Chloe, dia menatap Dyze tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya melihat dengan membisu.
“ .. Maafkan hamba.”
“Lupakan tentang itu. Beritahu detail padaku kapan ‘gerhana matahari total’ itu terjadi?”