
Setelah menyelesaikan urusannya, Chloe pun mengembalikan waktu seperti semula.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Dyze?” – pertanyaan Chloe dan Claire dijawab Dyze dengan melihat ke langit.
“Aku akan mengikuti perkataannya, aku akan berkeliling Dunia dan menaklukkan berbagai ras ataupun individu yang kuat agar menjadi kekuatanku untuk melawannya.”
“Begitu..?”
“Jadi apakah ada diantara kalian yang hapal dengan lokasi-lokasi benua?”
Semua orang disana terdiam, tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan Dyze. Lalu Chloe mengangkat tangannya dan mengusulkan sesuatu.
“Bagaimana jika kita meminta bantuan Sven?”
“Sven?” – bagi Claire dan Argus yang tidak pernah bertemu langsung dengannya tentu akan asing dengan nama tersebut.
Tapi Dyze justru memberi Chloe jempol dan memujinya.
“Benar juga. Usulan yang bagus..”
Mereka pun bersiap-siap, setelah menyiapkan segala hal, mereka berteleport dengan mengenakan jubah agar tidak dikenali sebagai Buronan.
…
***
Mengisahkan tentang aktivitas pagi Kota Elfimp yang makmur kini menjadi gempar akibat guncangan hebat yang terjadi pada kota mereka.
Bahkan anak dari pandai besi paling bergengsi di kota Elfimp; Sven Olward, Ikut membicarakannya saat sedang berkumpul dengan keluarganya di meja makan.
“Hei Ayah.., bagaimana pendapatmu mengenai guncangan yang terjadi sebelumnya?”
Karena Sven merupakan tipe orang yang tidak terlalu memikirkan masalah yang telah terjadi sebelumnya, dia menjawab dengan santai.
“Paling hanya gempa yang lebih besar dari biasanya..”
“Tapi itu mustahil! Bayangkan pohon pun banyak yang tumbang dan gugur akibat guncangan dahsyat nya. Jika rumah kita tidak terbuat dari material anti-gempa kemungkinan besar akan bernasib sama dengan tempat tinggal beberapa warga yang roboh di saat kejadian..!”
“…”
Sven tidak bisa membantahnya, karena dalam hati kecilnya dia juga berpikir hal yang sama seperti anaknya.
“Sudahlah nak. Jika kamu sudah selesai makan maka pergilah bermain atau beraktivitas lainnya..”
Suara tersebut berasal dari Istri Sven – Daisy Olward. Dia merupakan seorang wanita paruh baya dengan rambut biru berkepang dua. Matanya juga berwarna biru aqua seperti rambutnya.
“Baiklah bu..~”
Anak hasil perkawinan mereka bernama Kenma, dia tergolong anak setengah ceria dan setengah pendiam. Dia tidak terlalu mempunyai banyak teman, Kenma juga sering diperhatikan oleh warga kota karena pekerjaan Ayahnya yang bergengsi.
“Hufft.. Aku kangen Chronoa…” – Kenma bergumam kecil pada dirinya sendiri.
“Aku sudah selesai.. Izin untuk keluar.”
Kenma berjalan keluar meninggalkan alat makannya di meja.
Setelah Kenma tidak ada di ruang makan, Sven mengangkat tangan dan melambaikannya sebagai isyarat pada bawahannya untuk keluar dan meninggalkan mereka berduaan saja.
Bawahannya pun menuruti perintah Sven tanpa membantah, mereka semua meninggalkan ruangan namun tetap berjaga di depan pintunya tanpa diketahui Sven maupun Daisy.
Di saat mereka sedang ingin menikmati Dunia seolah hanya milik berdua, terdengar sebuah suara aneh dan kilatan cahaya tidak jauh dari Meja Makan.
“Suara itu..”
“Berasal dari ruangan bawah tanah, ‘kan?” – mereka saling menatap satu sama lain dan menelan ludah secara bersamaan karena seketika suasana menjadi mencekam.
Sven dengan tubuh besarnya mulai memasang badan dan perlahan mendekati pintu ruangan yang sebelumnya pernah dihampiri oleh Chronoa.
Srett..
Pintu terbuka dengan sendirinya, dan terlihat empat figur sosok manusia berjalan keluar dengan darah yang telah mongering di salah satu baju di antara mereka.
“Tuan!”
“Nyonya!”
“Apakah kalian baik-baik saja!?”
Bawahan Sven menghunuskan pedang dan mengacungkan senjata ke arah sosok-sosok misterius. Sven dan Daisy masih tidak dapat mengenalinya karena kegelapan masih menutupi wajah mereka.
Salah satu diantara mereka terlihat ingin menarik pedang dari sarungnya, dan pantulan cahaya dari mata pedangnya membuat Sven merasa familiar dan tidak menyangka.
“Pedang itu..!”
“Apa kau.. Chronoa!?”
“Kau tidak salah tapi juga tidaklah benar. Banyak hal yang terjadi, kini aku bukanlah sebagai Chronoa lagi.”
Sven sangat mengenali suara ini, tapi terdapat banyak perbedaan diantara suara Chronoa yang dia kenal dengan wanita misterius yang sedang berbicara padanya: wanita itu menggunakan intonasi angkuh saat berbicara dengannya seolah pangkat atau derajat Sven lebih rendah dari Wanita itu sendiri. Jika dibandingkan dengan Chronoa yang segan padanya karena kagum, mereka benar-benar bertolak belakang apabila dinilai dari sikap.
“Jangan gegabah Sven. Tujuan kami disini bukan untuk merenggut nyawamu ataupun keluargamu.”
“Suara ini..!?”
Keempat individu itu mulai melangkah mendekati Sven dan kegelapan yang tadinya menutupi wajah mereka kini tersapu oleh cahaya lampu sihir.
“Dyze..!”
“Oh? Kau masih mengingat namaku ya?”
“Yah itu bagus. Dengar, kali ini akan berbeda dengan waktu itu. Aku tidak akan segan lagi padamu hanya karena pangkat atau derajatmu lebih tinggi dari manusia pada umumnya.”
Dyze mulai melangkah mendekati Sven, disusul dengan ketiga orang dibelakangnya, para bawahan Sven yang melihatnya pun dengan cekatan langsung melesat ke arah Dyze dengan mengarahkan pedang dan tombak mereka ke titik vitalnya; Jantung.
“JANGAN!”
Teriakan Sven seolah membekukan waktu mereka, dan tanpa disadari sebuah mata pedang berwarna biru telah mengiris permukaan leher mereka.
“Mendekat lagi, kubunuh kalian.” – Wanita yang memiliki sepasang mata dan rambut berwarna hitam seperti malam yang tidak berujung menatap mereka dengan intens, pedang miliknya yang hanya berukuran sekitar 90 CM entah bagaimana dapat menjangkau mereka semua dalam sekali gerakan.
Para bawahan Sven menelan ludah, mereka dapat merasakan kengerian yang nyata dari tatapan matanya yang mengintimidasi, seolah berkata: “Kematian akan datang menjemput orang yang tidak memenuhi perintah.”
“Baiklah.. Apa maumu?”
“Hah. Tidak sulit, kami hanya meminta peta benua saja.”
“.., Apa?”
Sven mengira Dyze akan meminta hal yang lebih ‘Menguntungkan’ tapi semua tidak selalu berjalan sesuai dugaannya.
“Apa kau tidak bisa?”
“… Baiklah, akan kuberikan untukmu.”
“Sebagai ganti dari keselamatan istriku dan para bawahan setiaku, aku akan menjelaskan deskripsi dari setiap Benua padamu.”
“Bagus.”
***
Sven menjelaskan dengan rinci informasi dasar setiap benua pada Dyze dan yang lainnya.
Di Dunia yang bernama Neiphr ini terdapat 7 Benua besar mengapung di lautan yang luas.
Sven menjelaskan dari Benua yang mereka pijak terlebih dahulu, yakni Stolas.
Stolas, merupakan Benua yang dikuasai oleh manusia. Mereka sangat anti dengan ras yang berbeda dari manusia. Sebagai contohnya, Elf dijadikan budak, Demi-Human(Manusia setengah hewan) yang sedang berjuang untuk hidupnya dipaksa bertarung di Arena sebagai 'Avatar' untuk saling bunuh membunuh dengan petarung lainnya.
Dan bahkan sesama manusia sekalipun tidak luput dari keserakahan dan akhirnya memicu peperangan yang membawa kehancuran.
Terlebih lagi Stolas memiliki sumber daya yang cukup melimpah, membuat keserakahan manusia untuk menguasai daratan Stolas secara penuh semakin menjadi-jadi.