
“Hilang..” itulah kata yang keluar dari mulut mereka berdua saat mendapati tubuh nenek tersebut tidak ada ditempatnya.
“Hey, di dunia ini jika orang mati tidak akan bergerak bukan!?” Pertanyaan konyol tapi tetap saja harus dipastikan jawabannya.
“Tentu saja tidak bisa! Aku juga tidak tahu kenapa bisa tubuhnya menghilang dalam waktu singkat!” jawab Chronoa.
“Begitu ya. Hmm apa menurutmu ada orang yang mengamati kita saat berinteraksi dengan nenek itu?”
“Hah? Menurutku tidak ada! Karena aku tidak mencium sesuatu yang mencurigakan, oleh karena itu aku tidak bilang apa apa padamu.” Selain insting nya yang merepotkan, penciumannya juga menyeramkan.
“Yah kau ada benarnya juga, aku juga tidak merasakan siapapun atau apapun yang mengawasi kita. Mungkinkah dia cukup kuat karena bisa lolos dari pengawasan kita?”
Membayangkan seseorang dengan kekuatan yang besar, Dyze menjadi sangat bersemangat, kebiasaannya pun tidak terlepas dari semangatnya.
“Dyze, jangan keluarkan senyuman itu secara tiba tiba dan tanpa alasan. Itu menyeramkan.” Ekspresi yang ia pasang persis seperti saat ia dengan Layond dulu, memandang dengan rendah.
“Oops, maafkan aku. Baiklah itu tidak penting. Yang terpenting sekarang ialah kekuatanku telah kembali, urusan melindungimu adalah hal yang mudah bagiku.”
“Hmmp, siapa juga yang minta dilindungi.”
“Akan tetapi, jika kau menjadi beban bagiku, aku tak akan segan untuk meninggalkanmu!”
Ekspresi wajahnya berubah, menjadi lebih tenang.
“Tenang saja, aku tidak akan menjadi bebanmu.”
“Heh! Coba kau buktikan sendiri.”
Karena telah menyelesaikan urusan disini, kami akan pulang kembali, ke tempat Claire berada, mungkin ia sedang kesepian disana.
“Teleport: Erdein City.”
Tepat setelah itu Dyze dan Chronoa (beserta Elf yang dibawa di punggung nya) berpindah tempat dengan sekejap, berjarak sekitar 15 meter dari pintu gerbang kota Erdein. Dyze memilih tempat ini karena terdapat berbatuan yang cukup besar, sehingga membatasi jarak pandang seseorang untuk melihat mereka.
Hal ini dia dilakukan agar tidak terlalu memancing keributan atau kecurigaan para penjaga gerbang karena melihat Dyze dan Chronoa tiba tiba saja sampai di depan gerbang.
Disisi lain, di tempat misterius, seperti sebuah kerajaan yang tersembunyi..
“Apa yang harus hamba lakukan dengan mayat nenek ini, Tuan?”
Sebuah suara datang dari siluet yang sedang berada pada ruangan megah namun terlihat mengerikan, dikarenakan terdapat banyak sekali hiasan tengkorak didalamnya. Kemudian siluet itu berlutut di hadapan sebuah takhta. Tidak lama setelah itu terlihat siluet seseorang menduduki takhta tersebut.
“Nenek itu telah melakukan perannya dengan sangat baik, kremasi dia sebagai penghormatan terakhir.”
“Sungguh Tuan terlalu berbaik hati pada manusia.”
“Begitukah menurutmu? Tapi Raiden, perlu kau ketahui jika nenek tersebut bukanlah manusia biasa.”
Ctaar!
Sebuah petir besar menyambar di awan yang tidak jauh dari ruangan mereka, kilatan dari petir itu membuat seisi ruangan sesaat menjadi terang. Namun bagian takhta tidak terkena cahaya tersebut, yang membuat siluet nya tetap terjaga.
Raiden memiliki rambut biru seindah permata selingan rambut kuning membuatnya terlihat mencolok, iris mata nya berwarna kuning dengan sedikit ke emasan. Postur di tubuhnya juga telah terbentuk, aura di sekeliling Raiden membuat siapapun yang bertemu dengannya akan menganggap dirinya “berbahaya”.
“Hamba mengingatnya, dia yang melakukan perjanjian dengan kita 42 tahun yang lalu bukan? Ia menawarkan kehidupannya di atas kuasa Tuan agar ditukar dengan kekuatan yang berpotensi mengetahui nasib Dunia.”
“Raiden memang hebat. Sebelum kedatangan orang itu, ia tak berguna sama sekali, tidak ada gunanya untuk mengoleksi kehidupannya. Khu khu khu, sampai saat itu tiba, saat Ariel melakukan penawaran dengan kita.”
Kedatangan Dyze dan Chronoa disambut dengan bahagia oleh Claire, ia telah menyiapkan jamuan besar, namun ia dibuat heran saat menyadari Chronoa seperti menggendong seseorang di belakangnya.
Ia pun berjalan mendekati Chronoa untuk melihat lebih jelas, betapa terkejutnya ia saat menemukan seorang Elf yang tidak sadarkan diri berada di tangan mereka. Dyze dan Chronoa memiringkan kepala mereka seolah tidak tahu masalah apa yang mungkin akan menimpa.
Claire hanya menghela napas pendek dan mempersilahkan mereka untuk masuk untuk menikmati hidangan yang telah ia siapkan.
Claire masih belum menyadari kalau Elf yang dibawa oleh mereka bukan Elf biasa. Dyze dan Chronoa pun makan bersama Claire setelah menempatkan Elf kecil tersebut di kamar peristirahatan.
Saat sedang ingin memakan Hidangan, Claire bertanya mengenai 'urusan' Dyze di kota Elfimp.
“Mengenai hal itu.. “
Dyze berpikir keras mengenai alasannya, ia tidak mungkin menggunakan alasan yang sama lagi jika tidak diperlukan. Dyze menutup matanya dan jatuh dalam renungan ketika memikirkan alasan yang bisa digunakan. Mempertimbangkan seluruh kemungkinan, kelihatannya dia telah menemukan jawabannya.
Apakah aku harus menceritakan yang sebenarnya padanya? Yah aku memang telah percaya padanya sih, kurasa ini saat yang tepat untuk memberi tahu nya apa yang terjadi di desa Elvire.
“....Eh?”
Claire membuat suara nada rendah yang tidak bisa dipercaya saat Dyze selesai bercerita.
Suasana menjadi hening, bahkan suara jam dinding menjadi sangat terdengar jelas. Seolah seperti sedang mencerna, Claire terdiam untuk sejenak.
“Yang benar saja!? Satu Desa yang memiliki cukup banyak kekuatan tempur itu hancur dalam sekali serangan oleh ‘skill' yang kamu sebutkan?!” Ia tersentak kaget dan tanpa sengaja membunyikan meja dengan keras menggunakan tangannya.
“Ya, benar. Cerita yang konyol bukan?” Komentar Chronoa.
Claire menjadi tenang dan duduk kembali seperti dirinya biasanya. Sambil menyeruput teh ia menjawab tenang komentar Chronoa: “Tidak, jika Dyze yang mengatakannya maka aku akan percaya. Meski ia berkata langit akan runtuh sekalipun, aku akan tetap percaya.”
Chronoa terlihat kesal karena teringat dia dulu menertawakan Dyze dengan kekanak-kanakan nya, berbanding terbalik dengan Claire yang sangat dewasa mempercayai Dyze meski itu diluar nalar manusia.
Sedangkan Dyze..-
Dia.. Percaya padaku?! Yah meski semua yang ku ceritakan itu kenyataan tapi bukankah pasti akan disangkal oleh manusia menurut akal sehatnya!? Sial, manusia terlalu rumit untuk dipahami.
.. Meski kelihatan dari luar ia tampak tenang tenang saja, nyatanya ia cukup disibukkan untuk mempersiapkan jawaban yang mungkin akan ditanyakan Claire selanjutnya.
Saat Claire terlihat ingin membuka mulutnya untuk bertanya, secara mengejutkan figur Elf mungil yang mungkin terlihat dari penampilan nya berusia sekitar 10 tahun, sedang menguap dan mengucek mata nya kemudian menyela Claire dan berkata dengan perut yang berbunyi.
“Aku lapar..”
“Pfft..!” Terdapat suara yang tak kuasa menahan tawanya.
“Dia mengingatkanku padamu, Chronoa.” Dyze tersenyum lebar, tidak, lebih ke arah senyum penuh kemenangan.
“Hah!? Yang benar saja!?”
Sementara Claire hanya menanggapinya dengan tertawa kecil, ia kemudian menghampiri Elf mungil tersebut dan mengurangi tingginya dengan cara duduk di depan Elf tersebut.
“Kamu, siapa namamu?”
“.. Aku lapar..” Ia hanya mengulangi kalimatnya, seolah hanya mengikuti ego nya saja. Claire sedikit terlihat kesal, oleh karena itu ia tidak melakukan tindakan sia sia itu lagi dan segera membawanya menuju meja makan untuk menikmatinya bersama sama.
Elf itu pun mulai menyendok sup yang telah dipanaskan, asap panas yang masih mengepul membuatnya meniup secara perlahan karena masih terlalu panas. Aroma harum yang tercium dari sup daging tersebut membuatnya tergiur ingin segera memakannya, saat merasakan cita rasanya, sekilas terlihat kilatan cahaya di kedua matanya.
Ia dengan cepat menghabiskan semangkok sup daging tersebut, ia tampak menikmati hidangan tersebut. Suara sendawa menjadi tanda bahwa ia puas dengan makanannya.
“Wow, kau makan begitu cepat.”
Yah tentu aku juga bisa makan secepat itu tapi itu bukanlah cara yang nikmat.
Dyze kemudian kembali memakan sup daging porsi besar tersebut dengan caranya sendiri. Claire menyadari bahwa ada yang aneh dengan Elf ini, saat dia selesai makan, tiba tiba saja tubuhnya mengeluarkan cahaya, memang tidak menyilaukan, namun juga tidak terlalu redup.
Claire kemudian mengamati dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki Elf tersebut, dia teringat tentang Ras Elf yang disebut sebut sebagai jenis Ras Elf terkuat di buku legenda, memiliki ciri ciri yang sama dengan gadis Elf tersebut.
Clairw menepuk-nepuk pipi untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak mungkin High Elf seperti itu berada di Kota Manusia, menurut informasi yang ia dapatkan dari buku legenda, terdapat 7 jenis ras Elf di dunia ini:
Ras Dark Elves (Elf berkulit gelap)
Ras Wood Elves (Elf hutan, Ras Elf jenis ini lah yang paling sering menjadi buruan manusia untuk dijadikan budak)
Ras Wild Elves (Elf primitif)
Ras Snow Elves (Elf salju)
Ras Lythari (Elf jenis ini memiliki kemampuan untuk merubah dirinya menjadi serigala.)
Ras Light Elves (Disebutkan bahwa Elf Cahaya digambarkan sebagai Elf yang paling cantik, mereka mempunyai ciri ciri yang cukup mencolok yaitu tubuhnya bercahaya, namun tidak menyilaukan.)
Diceritakan juga bahwa Light Elf memiliki rambut perak dan mata biru, benar benar cocok dengan semua yang Elf itu miliki.
Tidak, tidak, tenanglah, ini pasti hanya imajinasiku, tidak masuk akal jika Elf seperti itu berada di Kota manusia. Tapi.. Jika memikirkan alasannya, apakah kampung halamannya diserang? Dan dia adalah korban dari para pengungsi?... Akan sedikit aneh karena para Elf itu tidaklah lemah, meski fisik mereka kurang, kekuatan sihir mereka terbilang hebat.
Melihat Claire yang gelisah, Chronoa dan Dyze melirik satu sama lain untuk menemukan jawaban. Namun tentu saja jawaban tidak akan dapat ditemukan jika tidak mengetahui apa masalah yang sedang dialami.
Elf itu sepertinya cukup peka setelah mendapatkan apa yang ia mau, sudut mulutnya melingkar menjadi tanda dia akan membuka suara.
“Eiria.”
“Terima kasih atas jamuan kalian, itu enak sekali. Mengenai diriku..”
Dia terdiam, tidak dapat berkata kata, seolah ia memiliki beban untuk mengatakannya. Napas nya menjadi tidak beraturan, terlihat jelas dia ketakutan dan gelisah.
Dyze yang baru menyelesaikan makanannya, melihat Elf itu yang ketakutan, ia langsung tahu dalam sekali lihat, sesuatu sedang mengancam hidupnya.
“Yah tenang saja, jika kau tidak ingin bercerita sekarang, kau bisa menceritakannya besok.”
Dyze beranjak pergi dari meja makan meninggalkan mereka bertiga, seusai menyerahkan piring di dapur, pandangan Dyze tertuju pada sobekan kertas yang tertempel di papan dinding. Papan itu berisi banyak kertas kertas sobekan yang berisi kata kata hati dari Claire.
Dyze menghampiri kertas yang menarik perhatiannya, dia pun membaca isi dari kertas tersebut.
“Aku akan menjadi kuat demi dirinya.. Tidak peduli resiko apa yang harus kulalui.. Kah?” Dyze hanya tersenyum tanpa arti saat membaca nya.
Dia menjadi kepikiran karena hal itu, dia pun ingin mencari angin segar untuk menjernihkan pikiran nya. Ia pun keluar dari rumah Claire melalui pintu belakang untuk menikmati udara segar.
Sedangkan untuk Chronoa dan Claire, mereka telah menyelesaikan hidangannya. Setelah dapat menenangkan Elf tadi dengan susah payah dan mengantarkannya untuk pergi tidur, Claire pun mencuci piring dan alat makan lainnya sesuai kebiasaan rutinnya.
Tapi ada hal yang unik terjadi, Chronoa membantu nya mencuci piring, itu baru saja terjadi meskipun mereka telah tinggal bersama Claire berhari hari lamanya.
Keheningan dan suasana canggung pun terjadi di antara mereka. Claire sedikit tidak nyaman dengan suasana ini, ia menjadi terburu-buru untuk menyelesaikan cuciannya. Namun Chronoa memecah hening dengan bertanya padanya: “Hey, apakah kamu benar benar mempercayai nya?”
Pertanyaan Chronoa seperti merujuk pada dirinya di masa lalu yang menertawakan kebenaran.
Mendengar pertanyaan Chronoa, Claire memberi respon dengan bernapas lega. Ia hanya melirik kearah Chronoa, memberhentikan aktivitas nya, dan tidak berkata apa apa.
Ia kemudian memasang senyuman lega, kemudian melanjutkannya: “Begitu ya. Karena hal itu ternyata?” Ia terlihat terkekeh, kemudian mengusap bagian dahinya, meski tidak terlihat satu pun keringat disana.
“Apa maksudmu?” Chronoa sedikit heran dengan yang Claire maksud.
“Ah, habisnya kukira kamu membenci ku, hehe.. “ Ia sepertinya lega bahwa Chronoa tidak menyatakan ‘perang' padanya.
Chronoa tidak memiliki alasan apapun untuk membenci Claire, Claire terlihat senang dengan hal itu. Ia kemudian menjawab pertanyaan Chronoa sebelumnya sambil melanjutkan kembali aktivitas mencuci.
“Kepercayaan ya? Sejauh ini aku memang hanya percaya dengan 2 orang saja, namun 1 di antara mereka telah meninggalkan dunia. Sedikit sulit untuk mengatakannya tapi, dia seperti memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain...--“ Jawabannya berakhir bersamaan dengan aktivitas nya.
Dia menumpuk piring piring yang sudah dicuci kemudian merapikan nya, dan meletakkan alat alat makan di tempat masing masing.
“Huftt.. Akhirnya selesai juga.. Ah semoga jawabanku dapat memuaskanmu, Chronoa.” Setelah mengeringkan tangan, Claire berjalan menyusuri ruang tamu meninggalkan Chronoa yang tenggelam dalam lamunannya.
***
Pada malam harinya, tidak ada hal hal unik yang terjadi di hari itu selain mengenai Elf kecil –Eiria– Chronoa dan Dyze pun tidur di kamar tamu sedangkan Eiria tidur bersama Claire di kamarnya.
Umumnya Dewa tidak mengalami hal yang namanya ‘mimpi’ meski saat ia menjadi manusia sekalipun. Namun kali ini berbeda, Dyze mengalami hal yang bernama ‘mimpi’ untuk kedua kalinya.
Gelap sekali.. apa ini?
Aku membuka mata, dan hanya mendapati kegelapan yang menyelimuti pandanganku. Namun kegelapan ini tidak memblokir penglihatanku untuk melihat, lebih seperti menyembunyikan sesuatu dibaliknya.
Dyze berusaha berdiri dan mulai menyusuri kegelapan tak berujung ini. Setelah cukup lama berjalan, Dyze tidak mendapatkan hasil apa apa. Setelah menyilangkan kaki untuk duduk tiba tiba saja dia mendengar suara berat seperti ada yang terbuka tepat dibawahnya.
“Waaa!”
Tubuh manusia ini membuat jantungku seperti akan meloncat keluar ketika terjun bebas seperti ini.
Setelah cukup lama terjun bebas, akhirnya Dyze sampai ke dasarnya dengan pendaratan yang kurang mulus.
“Ugh, pantatku..”
Setelah merasa cukup mengelusnya, aku beranjak untuk menelusuri sebuah ruangan hitam yang seperti mengurungku. Ruangan ini memiliki jalur yang sangat rumit, berliku liku dan banyak jalan buntu. Butuh waktu lama untuk menemukan jalur yang benar.
Sesampainya diujung jalur, terdapat sebuah..benih emas?
Benih emas itu terlihat melayang disebuah altar, Dyze mulai menaiki sedikit demi sedikit tangga dari altar itu, hingga mencapai puncaknya. Rasa penasaran nya melebihi kewaspadaanku, mungkin kata “Rasa penasaran akan membunuhmu” akan cocok disematkan padanya.
Dyze menyentuh benih itu dengan sedikit waspada dan rasa penasaran tinggi. Setelah disentuh seolah mengenalinya, benih itu seketika bersinar terang yang menyilaukan mata, hingga membuatnya reflek menutup mata. Benih itu kemudian seakan terbuka dan memproyeksikan siluet dengan cahaya di dominasi warna biru muda dan gelap.
Semakin lama, siluet itu makin terlihat jelas. Aku sampai tertegun melihatnya, aku kembali mengamati nya dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk memastikannya kembali. Tidak salah lagi, ia benar benar mirip dengan wanita waktu itu!
Tiba tiba saja wanita itu mengeluarkan suara yang membuatku tambah yakin jika itu adalah dia.
“Akhirnya aku dapat bertemu dengan mu lagi..”
Wanita itu melanjutkan kalimatnya namun dengan sedikit tidak jelas: “Aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang kembali..aku akan..-mu”
“Hey! Siapa sebenarnya kau!? Mengapa kau begitu mirip dengannya?!” Teriakan ku penuh dengan emosi yang meluap, campuran emosi seperti sedih, senang, bingung, bercampur menjadi satu.
“Hanya ini satu satunya cara, kamu harus mewariskan Time Space Control padanya. Itu akan memicu distorsi ruang waktu dan aku dapat bertemu dengannya.” Ia seperti tidak mendengar, bukan, ia terlihat seperti tidak ingin merespon perkataanku.
“Dengan-nya? Siapa orang yang kau maksud!?” Apakah itu Claire? Apakah itu Chronoa? Pertanyaan demi pertanyaan mulai menumpuk di kepalaku, namun setelah itu aku menyingkirkannya jauh jauh saat melihat tubuh wanita itu mulai retak dan pecah menjadi kepingan cahaya biru yang indah.
Ia mengalirkan air mata dan terlihat berusaha meraih bahu Dyze. Dan secara alami tangan Dyze meraih tangannya yang perlahan berubah menjadi retakan besar. Dyze kira dia tidaklah hidup, namun pernyataan tersebut salah besar, karena tangan Dyze ditariknya hingga menyentuh pipi. Ia kemudian menggosok gosokannya seperti sangat rindu akan kehangatan tubuh seseorang.
Ia kemudian retak dan pecah sepenuhnya menjadi kepingan cahaya biru, melihat hal ini aku dapat merasakan bahwa batinku seolah berteriak sekeras kerasnya, seakan merasa sedih atas kepergiannya. Tanpa sadar batin itu mempengaruhi ku hingga membuatku tersentak.
“Aarrkh! Hosh..hosh..hosh. Mimpi!?” Dyze terbangun dengan keringat yang membasahi tubuh, terlihat teriakannya juga membuat Chronoa terbangun.
“Emhh? Ada apa sih paman? Larut malam berteriak seperti itu..Hoamm, apakah kamu bermimpi buruk?” Ia terlihat masih sangat ngantuk, tidak jarang ia mengucek mata dan menguap dalam waktu yang bersamaan.
“Mimpi buruk? ..entahlah aku tidak dapat mengatakannya seperti itu.”
“Haissh, aneh sekali. Sudahlah mending tidur kembali saja, kita bahas besok saja.” Ia merapikan bantalnya kemudian pergi tidur kembali.
“Sialan wanita itu membuatku kepikiran.”
Aku mengerutkan dahi dalam dalam dan menggerutu, tapi karena sudah larut malam, aku sebaiknya menyingkirkan itu untuk sekarang.. karena..
-..hoam.. tidur sepertinya lebih nyaman daripada berpikir.