
“Kau merupakan seorang ibu yang sangat baik. Sebagai penghormatan terakhir, aku akan mengantarkan kepergianmu.” – kata itulah yang diucapkan Dyze saat membakar mayat dari Xana dengan api miliknya.
Dia kemudian pergi di susul dengan Chloe dan Claire yang bergantian menggendong Xana kecil, Argus yang seorang pelayan pun berjalan paling belakang untuk memastikan keamanan.
‘Hey, apa kau tahu bulan purnama merah yang dimaksud olehnya?’
[ Izin menjawab, saya telah memperhitungkan semuanya. Bulan purnama merah itu disebut dengan gerhana bulan total, dan itu akan terjadi di besok malam. ]
‘Begitu. Jadi kita harus menemukan tempatnya dalam kurun waktu sehari ya. Merepotkan sekali..’
[ Tidak perlu untuk melakukan hal serumit itu, untuk anda percaya saja dengan insting yang anda miliki. Ada kemungkinan sekitar 30,322% mereka yang akan menemukan anda. ]
‘Itu sudah cukup.’
“Permisi, untuk sekarang kita akan kemana?” – Dyze sempat bingung saat mendengar suara Claire berbicara terlebih dahulu dari Chloe, namun dia tersenyum dalam hatinya karena menganggap ini sebuah ‘Kemajuan’.
“Mm.. Aku lapar.. Ayo kita berburu 2 hingga 4 rusa untuk makan malam!”
“Unn!” – Claire meresponnya dengan senyum yang berseri-seri, sehingga meninggalkan bekas di ingatan Dyze.
Saat mereka sedang mencari buruannya, suara berisik dari semak kembali menarik perhatian mereka.
“Periksalah, itu jauh lebih efektif daripada melindungiku dari sesuatu yang tidak diketahui kekuatannya.”
Kata-kata Dyze membuka ‘mata’ mereka. Claire yang memiliki tugas utama untuk melindungi pun tetap tinggal, sedangkan Chloe dan Argus yang berfokus pada serangan pun melangkah dengan cepat menuju semak-semak dan memeriksanya.
Setelah beberapa saat menunggu, mereka memberikan sebuah isyarat yang memiliki arti tidak ada ancaman di sekitarnya.
Dyze dan Claire pun mendekati ke arah semak-semak itu dan Dyze tersenyum saat melihatnya.
“Bingo.”
Sekitar 6 rusa dan 4 kelinci ditemukan tidak berdaya dibaliknya, mereka menderita bekas luka yang sama, yakni goresan dalam di titik vital dan hanya kelinci yang menderita racun di tubuhnya, terlihat dari urat-uratnya yang bermunculan menjadi berwarna ungu yang tidak wajar.
‘Hmm.. 4 kelinci telah terkena racun, apakah menurutmu mending dibiarkan saja?’
[ Izin menjawab. Cara terbaik adalah dengan memberikannya pada Hydra. Karena dia memiliki atribut racun otomatis dia kebal terhadap racun. ]
“Begitukah?”
“Eh? Kamu berbicara dengan siapa, Dyze?” Chloe mengira dia sedang berbicara dengannya.
“Tidak, tidak apa-apa.”
Dyze memerintahkan mereka untuk mengangkut rusa-rusa dan kelinci itu ke tepi Danau dan memakannya bersama.
“Untuk kelinci ini, mau kamu apakan?” – Dyze menjawab pertanyaan Claire saat memberikan kelinci-kelinci itu ke Hydra.
“Aku hanya memberinya makan, meski dia bisa mencarinya sendiri sih.”
“Kalian yang sedang lapar, ambillah.”
Dyze melempar satu per satu kelinci yang telah beracun itu dan disambut dengan baik oleh Hydra, dia memakannya dengan lahap.
“Khiirk..” kepala-kepala Hydra itu terlihat ingin bermanja dengan Dyze, setelah mengelusnya beberapa kali, dia pun kembali pada mereka.
Setelah mengumpulkan beberapa kayu bakar, mereka pun memasak rusa itu dan memotongnya setelah hampir matang lalu membagikannya secara rata.
“Yum! Daging rusa memang terbaik apabila sedang berpergian.” Chloe terlihat gembira saat memakannya, begitu pula dengan Claire dan Argus, namun mereka tidak terlalu menunjukannya karena masih malu dan segan padanya.
“Urggh..” – Xana kecil itu terbangun karena mencium aroma daging yang begitu harum.
“Aku.., dimana?” Dia yang masih setengah sadar mengucek-ngucek matanya dan melihat sekeliling.
“Ibuku! Dimana ibu!?”
Karena merasa terganggu ocehannya yang berisik, Dyze pun memberikannya sepotong daging rusa yang masih dalam keadaan terbaik.
“Jangan berisik. Makan dan dengarkanlah.”
Dyze berhenti mengunyah dan menatap ke langit.
“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana tapi..”
“Yang lebih penting lagi—“
“—ibumu telah mati.”
“A.. pa?”
Saat mendengar itu sepotong daging di tangannya jatuh ke tanah, matanya kini menjadi kosong seperti ikan mati, dia tiba-tiba berlari tanpa arah menjauh dari mereka.
Namun sebelum dia semakin jauh meninggalkannya, Dyze menyaringkan suaranya yang membuat Xana kecil itu terdiam dan kembali ke tempatnya.
“Aku telah membakar jasad ibumu sebagai penghormatan terakhir. Dia seperti terkena semacam racun yang membuatnya sekarat, namun dengan tenaga terakhirnya, Xana itu berhasil membuatku tertarik untuk melakukan sesuai permintaannya. Dan permintaan itu ialah untuk menjagamu.”
Dia dengan tidak bertenaga duduk dan menanyakan hal yang membuatnya setelah itu langsung menangis tersedu-sedu.
“Apa perkataan terakhir dari ibuku?”
Dyze sekilas melihat ke arahnya, kemudian dia melanjutkan mengunyah daging di tangannya.
“Dia belum sempat mengatakannya, tapi dia mampu mengusap rambutmu dengan lembut untuk terakhir kalinya. Dan itu artinya kau tahu sendiri kan.”
“Huff.. Huff.. Mama.. Dia akan selalu menyayangiku.. Hiks..”
Di tengah Xana kecil itu yang sedang menangis meratapi kepergian ibunya yang terlalu dini, Dyze berbicara padanya.
“Menangislah. Terkadang meluapkan segalanya itu melegakan..”
Tangisan Xana kecil itu semakin histeris, namun Dyze tidak terlihat emosian dan sensitif seperti biasanya, dia hanya mengucapkan sesuatu lalu pergi begitu saja.
“Pilihlah, kau sendiri yang akan memutuskannya. Pertama, kau akan menjadi pemanduku sesuai dengan kehendak ibumu, atau kau ingin tetap disini tanpa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengutuk Dunia. Waktumu tidak banyak, pilihlah sebelum terlambat.”
Yang lainnya pun ikut beranjak pergi menyusul Dyze, meninggalkan gadis yang sedang menangis tersedu-sedu seorang diri.
…
Chloe melihat Dyze yang sedang duduk di tepi danau melihat ke arah langit, dia memutuskan untuk duduk di sisi kanannya, dan Claire duduk di sisi kirinya. Sedangkan untuk Argus dia hanya duduk di belakang dari mereka.
“Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini. Jangan-jangan kamu sedang galau?!”
Merespon perkataan Chloe, Dyze menepisnya dengan melihat ke arahnya.
“Huh? Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Tapi reaksinya itu.. sepertinya dia merasakan perasaan yang sama saat aku kehilanganmu dan Raizel. Sial, aku membencinya.”
Perasaan yang sama saat aku kehilanganmu – kata itu bergema di kepala Chloe, dalam pandangannya, dia melihat Dyze seperti memiliki cahaya indah di sekitarnya, membuat momen itu berbekas abadi di hatinya.
Saat Dyze kembali menatap langit malam, sesuatu menyentuh-nyentuh pundaknya, saat dia menoleh—
“Chuu~!”
Sensasi yang sama seperti sebelumnya kini dia rasakan lagi, sebuah ciuman hangat mendarat di bibir mereka. Dan meski Claire terlihat terkejut, dia tidak menghentikan aksinya, apakah ini yang disebut dengan sifat Sportif dalam sebuah kompetisi?
Mereka berciuman untuk waktu yang cukup lama, kedua pihak tidak ada yang berniat untuk melepaskannya, sampai Chloe merasa puas dengan sendirinya.