
Kota Erdein saat pagi sangatlah padat, dikarenakan banyak kereta kuda dari para bangsawan rutin mengunjungi kota Erdein untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di pagi yang ramai itu, seisi kota digemparkan dengan berita yang berada di koran.
“Hey! Apa kau telah membacanya?”
“Benar, sepertinya kedamaian tidak akan berlangsung lama lagi.”
Kericuhan terjadi di kota Erdein, setiap orang mengalami khawatir jika perdamaian tidak dapat lagi mereka rasakan, namun itu tidak berlaku pada seorang pemuda berambut hitam dengan sedikit bagian rambut nya berwarna abu abu yang menambah kesan karisma.
Ia justru tersenyum di balkon saat membaca judul berita yang dibawakan.
“Raja Iblis Bengis, Asmodeus. Memulai Pergerakannya.. ya?”
Kemudian terdengar gema suara dari ruangan yang tidak jauh dari balkon berteriak mencari dirinya.
“Dyzee..! Dimana kamu?”
Pemuda—Dyze yang mengetahui suara itu berasal dari Claire pun menghampiri sumber suara.
Setelah menuruni anak tangga dan melewati dapur, ia pun sampai di sumber suara, yakni lantai dasar, ruang tengah.
Saat sampai di ruang tengah, Dyze mendapati Claire yang telah duduk di sofa kulit berkualitas tinggi. Ia menikmati secangkir teh yang masih hangat dan terlihat sedang membaca dengan serius koran yang menggemparkan kota.
“Ada apa? Dan juga, bocah itu—Chronoa, dimana dia sekarang?”
“Hm? Ah, gadis itu sedang bermain dengan Eiria di halaman belakang..yang lebih penting, apa kamu sudah mengetahui mengenai berita yang menggemparkan seisi kota ada di koran ini?”
Claire mengibas ngibaskan koran yang dia pegang, kemudian meletakkannya di meja kecil berbentuk bundar di dekatnya.
“Gempar? Seisi kota? Oh, mengenai..—“ Dyze sengaja memutus kalimat nya saat mendengar gemuruh seperti orang berlari mulai mendekati mereka. Claire sepertinya tidak menyadari hal itu, ia terlihat bingung saat Dyze memutus kalimatnya.
Lebih jelas. Lebih jernih. Suara itu telah sangat dekat dengan mereka. Dyze kemudian menyambung kalimatnya.
“—… Pergerakan yang dilakukan oleh Asmodeus, sang Raja Iblis Bengis ya..”
Tepat setelah itu..suara benda jatuh. Terdengar suara benda jatuh yang tidak jauh dari mereka, Dyze dan Claire reflek menoleh ke arah sumber suara.
Chronoa dan Eiria, terlihat 2 figur gadis yang berbeda ras namun begitu akrab sedang berdiri di penyekat ruangan yang memisahkan ruang tengah dan halaman belakang.
Chronoa, dia terlihat berdiri seperti biasa, raut wajahnya terlihat normal, namun ia merasa ganjil saat melirik ke arah Eiria.
Tidak hanya dirinya, Dyze dan Claire pun merasakan hal yang sama. Seandainya semua orang melihat keadaan Eiria sekarang juga pasti akan mengira ada yang tidak beres dengan gadis ini.
Eiria, seorang gadis Elf yang tidak diketahui asal usulnya sedang bergetar hebat, keringat dingin membanjiri tubuhnya, napas nya terengah engah, membuat siapapun pasti khawatir dengan keadaannya.
“H-hei? Eiria? Apa yang sedang terjadi?”
Sementara Claire dan Chronoa menghampiri Eiria dan menenangkannya, Dyze hanya mengamati dari kejauhan. Claire yang melihat Eiria seperti menggigil segera menuju ke dapur untuk membuatkannya secangkir cokelat panas. Sedangkan Chronoa membawa nya untuk duduk di sofa tepat di depan Dyze.
“Tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkan selimut untukmu.”
Chronoa beranjak pergi dari ruang tengah menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Kini hanya mereka berdua saja yang ada di ruang tengah, namun Dyze masih waspada dengan keadaan sekitarnya, ia pun memasang sihir Silence(kesunyian) yang cukup besar berbentuk lingkaran di sekitar mereka.
Saat itulah Dyze bertanya padanya dengan ekspresi serius namun santai seolah dia tertarik dengan topik ini.
“Jadi? Apa hubunganmu dengannya? Bukankah sudah saatnya kau menceritakannya?”
Sebuah kemajuan terjadi padanya, ia terlihat ingin membuka mulut namun dicegah oleh sesuatu.
“Apa maksudmu, Dyze?”
Tiba tiba saja sebuah suara datang mengejutkannya, itu Claire dan Chronoa. Claire memberikan secangkir Cokelat panas yang ada di tangannya untuk di nikmati oleh Eiria. Sedangkan Chronoa, ia menyelimuti Eiria seolah mereka teman yang sangat akrab.
‘Sial! Inilah yang membuatku tidak menyukai sihir, banyak kecacatan di dalamnya. Silence merupakan salah satu bukti nyatanya, meski Silence dapat membuat suara kami yang berada di dalam area nya menjadi senyap dan tidak dapat didengar orang, hal itu juga berlaku untuk kami yang berada di dalam. Kami tidak dapat mendengar apapun yang ada diluar sana.’
Dyze menggerutu di dalam hatinya, ia kembali ke alam nyata karena panggilan Chronoa.
“Hey paman! Bisa kamu jelaskan mengenai pernyataan mu tadi?”
Saat ingin menanggapi, terdengar sebuah suara dari Eiria yang menyela obrolan mereka.
“Asmodeus..dia iblis yang sangat kuat. Meski dia baru beberapa dekade belakangan ini mengemban gelar ‘Raja Iblis’ nya, ia telah diakui oleh 3 raja iblis tertua. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa dia iblis yang sangat kuat. Dan dia juga.. yang menjadi dalang dibalik pemusnahan Light Elf, saat ini hanya aku Light Elf di dunia yang tersisa.”
Secara mengejutkan, ia berani mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
“Eh?”
Seisi ruangan menjadi hening, karena di berita tidak dijelaskan apapun mengenai pemusnahan(genosida) ras Light Elf, ditambah Claire sangat syok mengetahui Eiria benar benar dari ras Elf cahaya. Karena cepat atau lambat Asmodeus pasti akan menemukan Eiria, yang membuat mereka juga akan dalam bahaya.
“Aku tidak begitu mengerti mengapa mereka tiba tiba saja dapat menyerang ras kami, padahal kampung halaman kami dilindungi oleh benda pusaka yang mengisolasi ras Light Elf dari dunia luar. Namun pada malam itu, di malam berdarah, tiba tiba saja pelindung dari pusaka itu berhenti berkerja, kemudian malam yang sangat pekat memasuki desa. Di dalam kegelapan malam itu kami dapat melihat bala tentara ras iblis yang sangat besar..”
Mendengar hal itu, Dyze hanya menanggapinya dengan tertawa; seperti pemburu yang menemukan mangsa nya. Hal ini membuat mereka bertiga tidak dapat berkata kata. Eiria terlihat masih belum menyelesaikan kalimatnya.
“..Namun jika hanya itu, seharusnya tidak ada masalah..tapi! Mereka memasang sesuatu berbentuk kubah yang menyelimuti seisi desa. Saat itulah kami merasakan sesuatu sedang menghisap energi kehidupan kami, itu juga menjadi alasan mengapa cahaya ku menjadi redup seperti ini. Aku dapat lolos dari malam neraka itu karena pengorbanan dari kedua orang tua ku, mereka berdua bertindak sebagai umpan agar anak mereka bisa lolos...
. . . . .
“--Aku bersumpah, aku akan melihat kematian Asmodeus di depan mataku sendiri!” Sebuah amarah, dendam, kebencian, kesedihan, menyatu dan dapat terlihat dari tatapan mata nya yang intens.
Sementara itu di suatu tempat yang letaknya sangat jauh dari kota Erdein, terlihat 7 siluet sedang duduk di sebuah meja bundar. Seisi ruangan dipenuhi kegelapan, dengan cahaya yang minim. Salah satu dari siluet itu seperti tidak dapat menahan ledakan emosinya. Dia memukulkan tangannya ke meja dengan keras, membuat meja yang terbuat dari obsidian itu bergetar.
“Noire! Apa maksudmu! Ini mata mata mu kan!? Bagaimana bisa penyerangan yang aku lakukan dengan sangat hati hati itu tersebar luas di benua manusia?!”
Orang itu berdiri dari kursi nya dan hendak mendekati Noire yang sedang memasang senyum untuk memotong tubuhnya menggunakan kapak miliknya.
Namun ia dihentikan oleh seorang wanita berperawakan tinggi besar, baju terbuka, dan Heterochromia(perbedaan warna kedua iris mata) yang membuatnya terlihat cantik. Mata kanan SuperNova berwarna emas, sedangkan mata kirinya berwarna merah namun di tutup menggunakan penutup mata olehnya.
Meski SuperNova dikenal berdarah dingin, dia tidak gegabah untuk menentang makhluk terkuat tanpa alasan. Dia menghalangi Asmodeus karena dia adalah salah satu dari sedikit Raja Iblis yang pernah merasakan langsung kekuatan Noire.
Dia takut tatanan Dunia akan terganggu jika Noire melepaskan amarah nya pada Asmodeus yang membuatnya akan mati dalam seketika.
SuperNova melakukan segala upaya untuk menenangkan Asmodeus
“Tenanglah Asmodeus. Dinginkan kepalamu, meski kau belum pernah merasakan langsung kekuatannya, dia tetaplah salah satu raja iblis tertua!"
Asmodeus yang dibutakan oleh kemarahan membuatnya bertindak gegabah.
“Cih, jangan halangi aku SuperNova! Meski dia salah satu dari 3 raja iblis tertua sekalipun aku tidak akan gentar!”
Dia menerobos SuperNova yang menghalanginya dan langsung ingin menyerang Noire dengan kapak besarnya yang terbuat dari adamantium. Kapak ini memiliki kemampuan khusus yakni saat membelah tubuh korbannya, ia akan menghisap darah korban dan akan menjadi bertambah kuat.
—Dia memasang seringai di wajahnya, yang membuat fokus Asmodeus menjadi buyar. Saat Asmodeus lengah, sesuatu menggeliat dari bayangan Noire, seolah olah ada orang yang tinggal di dalamnya.
Tepat setelah melihat celah, sesuatu di dalam bayangan Noire melesat keluar. Sosok itu melesat seperti sambaran petir ingin menangkapnya.
“A-apa!?” Asmodeus ingin menjaga jarak, namun terlambat. Wajahnya telah di tangkap oleh sosok yang berada di bayangan itu.
“Raiden.”
Mendengar Tuannya memanggil namanya, Raiden berlutut namun masih tidak melepaskan wajah Asmodeus yang berada di genggamannya. Ia seolah membelah dirinya sendiri.
"Ya, Tuan."
“Lakukan.”
Hanya dengan kalimat seperti itu, Raiden seperti menjadi orang yang sepenuhnya berbeda sebelumnya. Aura nya menjadi sangat padat dan berat, raja iblis lainnya sampai tidak berbuat apa apa karena tidak ingin berurusan dengan Raiden maupun Noire. Mata Raiden seolah terbakar api amarah, dengan sangat kuat ia ingin menghantamkan kepala Asmodeus ke meja obsidian hingga hancur.
Karena tekanan dari dorongan Raiden terlalu kuat, udara menjadi terbelah, tepat setelah berada di ujung meja tersebut, hanya berjarak beberapa inchi lagi maka tengkoraknya pasti akan hancur dan meleburkan otak di dalamnya. Namun terdengar suara yang membuat Raiden mengurungkan niatnya.
“Bukankah itu sedikit berlebihan, Noire?”
Sebuah suara datang dari siluet yang juga dikenal sebagai salah satu dari 3 raja iblis tertua bersama nya.
“Orion ya?”
Orion, pria yang memiliki rambut lancip berwarna putih berantakan, alisnya yang juga berwarna putih cukup menarik perhatian. Ia memiliki warna kuning seperti predator untuk bagian pupil mata nya.
“Aku setuju dengan Orion, meski aku juga jengkel dengan apa yang ia lakukan padamu tapi jangan membunuhnya sekarang, tatanan dunia mungkin akan terguncang karena kematiannya.” Siluet lainnya yang sepertinya merupakan raja iblis tertua lainnya mengeluarkan pendapat.
“Aries kah?”
Aries, dia seorang perempuan yang memiliki rambut terurai panjang berwarna putih kapur, memiliki mata predator yang berwarna merah seperti bunga kematian(Higanbana). Kulitnya seputih salju yang membuat siapapun terpukau karena pesonanya.
Mendengar pendapat kedua raja iblis tertua selain dirinya, Noire tidak memiliki pilihan.
“Tch, kali ini kau selamat.”
Mendengar itu Raiden melepaskan Asmodeus dari genggamannya. Aura nya pun mulai menyusut. Membuat raja iblis lainnya dapat bernapas lega kembali.
Asmodeus terduduk di lantai hingga SuperNova membantunya berdiri.
“Kan. Sudah kubilang.”
SuperNova membantu Asmodeus hingga ia duduk di kursinya.
Ruangan kemudian menjadi sunyi. Raiden kembali memasuki bayangan Noire karena tidak ada kursi yang bisa ia tempati.
Merasakan udara canggung, Orion menanyakan tujuan Noire mengadakan rapat yang melibatkan seluruh raja iblis.
“Ini mengenai tentang ‘Dia’ sepertinya ia telah mendapatkan kekuatannya kembali. Dengan ini janji ku pada Ariel telah lunas.”
Orion dan Aries melirik satu sama lain, seolah tertarik dengan sosok ‘Dia’ yang selalu Noire bicarakan pada mereka.
“ ‘Dia’ ya? Ini pasti akan menjadi momen yang menyenangkan.” Orion, Aries, dan Noire tersenyum karena akhirnya mereka mendapatkan lawan yang sepadan untuk mereka.
Sedangkan 4 raja iblis lainnya hanya bisa bengong mendengar pernyataan Noire di karenakan mereka tidak tahu apa apa.
“Yang lebih penting lagi, apa maksudmu janji dengan Ariel? Nama yang sangat tidak asing.”
“Benar, aku seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Kapan ya?” tambah Aries.
“Khu khu khu. Benar sekali, dia adalah sosok malaikat yang membubarkan perang terbesar yang bahkan melibatkan seluruh ras dengan manusia 3000 tahun lalu.”
Noire menyeringai, yang kemudian disusul oleh tawa Orion dan Aries setelah mendengar hal itu.
“Begitu. Dia ya? Yang saat itu berupa sosok yang sangat menyilaukan, bilah pedang nya juga terbuat dari cahaya. “
Para raja iblis yang mendengar itu seketika langsung tahu jika topik ini berkaitan dengan sejarah Dunia yang dihapus oleh Manusia.
“Mengenai janji nya.. Kalian ingin tahu?”
Noire memasang wajah serius, yang membuat seisi ruangan menjadi dingin dan sunyi.
“Jadi begini..”
Ctaar!
Saat Noire menceritakan perjanjian yang ia lakukan dengan Ariel terjadi sambaran petir yang menelan suaranya.
Namun seisi ruangan itu dapat mendengar di karenakan pendengaran mereka yang sangat tajam. Asmodeus, SuperNova, dan 2 raja iblis lainnya menelan ludah dan berkeringat. Karena mengetahui Dunia cepat atau lambat akan segera berguncang.
Sedangkan Orion dan Aries hanya menanggapinya dengan senyum kecil.
“Yah, tidak akan kubiarkan kau bersenang senang sendirian.”
“Benar! Aku juga ingin ikut!”
Melihat tingkah mereka yang seperti sahabat karib membuat raja iblis lain bingung, karena Noire, Orion, dan Aries ini terkadang seperti sahabat karib, namun di lain waktu seperti musuh bebuyutan.
“Hanya itu yang ingin kusampaikan. Kuharap kalian tidak menyiram air ke api yang sudah terbakar. Terutama kau Asmodeus.”
Untuk sesaat seisi ruangan menjadi sangat berat dan sesak, namun hal itu segera berhenti saat Noire telah lenyap dari tempatnya.
“.. Seperti biasa dia sangat gila kan?”
Aries tersenyum. Senyum anggun yang tiada dua nya di Dunia.
“Ya. Dia tidak pernah berubah.”
Orion melipat tangannya sambil tertawa kecil.
Asmodeus masih terlihat gemetar. Jangankan menyentuh Noire, menghindari Raiden pun dia tak mampu.
Ia menggertakkan giginya, mengepal erat kedua tangan. Tatapan intens yang memiliki api kemarahan terlihat di mata nya.
“Aku akan menemukan, dan membuat kematianmu menjadi ribuan kali lebih menyakitkan dari orang tuamu, Light Elf Brengsek!”
---------- Di saat yang sama------------
“—Aku bersumpah, aku akan melihat kematian Asmodeus di depan mataku sendiri!” Sebuah amarah, dendam, kebencian, kesedihan, menyatu dan dapat terlihat dari tatapan mata nya yang intens.