The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 89. Sebuah Perpisahan



Chapter 89


Di saat mereka telah sampai di tepi benua Arbeltha bagian timur laut, Dyze dan yang lainnya merasakan adanya guncangan dahsyat dari dalam Bumi(tanah).


“Khiirk!”


Guncangan itu hampir membuat Hydra kehilangan keseimbangannya, namun untung saja sedetik setelah itu Bumi(tanah) kembali tenang.


“Barusan itu .. Tidak mungkin sebuah kejadian alami.”


Perkataan Chloe disetujui oleh Dyze.


“Aku merasakan sebuah keberadaan yang asing .. Di atas sana.” – Dyze menunjuk langit yang menunjukkan waktu malam hari.


“Kelihatannya kamu senang sekali ya?”


Claire berkomentar seperti itu karena ia melihat Dyze menunjuk langit sambil tersenyum lebar. Perkataan Claire dijawab oleh Dyze sambil menarik kembali jarinya.


“Sepertinya begitu.”


“…? Mau apa kalian?”


Pertanyaan itu keluar dari mulutnya saat melihat para siren turun dari Hydra, disusul dengan Argus, Livia, dan Arcandra yang mengikuti jejak mereka.


“Kami akan berenang untuk mengawal anda.”


“Begitu? Aku tidak begitu mempermasalahkannya sih. Tapi memangnya kau Livia, mampu melakukannya?”


“Tentu saja! Livia belakangan ini secara diam-diam telah mempelajari sebuah teknik misterius~!”


“Teknik misterius?” Dyze, Chloe, Claire saling bertukar pandangan, memikirkan apa yang dimaksud olehnya.


『 Ocean Diving 』


Sebuah gelembung transparan dari lautan terbentuk, kemudian membungkus Livia secara sepenuhnya.


“Teknik ini ..” Mereka semua langsung melihat ke arah Argus, dia tersenyum kecil membalas tatapan mereka.


“Lumayan.” Dyze bersiul menanggapi Livia yang menunggu reaksi mereka.


“Itu keren!” Chloe memujinya dengan sedikit berlebihan. Apakah karena dia masih anak-anak?


“Mengagumkan.” Singkat seperti biasanya— Claire.


Para siren itu sendiri memberi tepuk tangan yang meriah pada Livia, hal ini membuatnya begitu bahagia dan bergumam:


“Aku bersyukur dipertemukan oleh takdir dengan kalian.”


Perkataan itu benar-benar menyangkut di hati mereka, terutama bagi Chloe dan Claire, meski Chloe kebal dari serangan yang berbau menyerang jiwa, tapi kini dia merasa jiwanya terguncang karena sebuah masalah spele.


Dyze menepuk kedua tangannya sebanyak dua kali untuk mengalihkan perhatian.


“Ayo. Kita membuang banyak waktu.”


Mereka semua mengangguk, patuh dan tunduk pada perintahnya.


Hydra pun menyelam dan berenang di lautan itu, para Siren kemudian berenang secara bersamaan di sampingnya, para siren itu saling berpasangan dalam upaya membentuk sebuah formasi.


Karena jumlah mereka yang ganjil (5) Livia berpasangan dengan Omega untuk menyempurnakan formasi.


Kini 3 siren{Alpha, Beta, Gamma} di sisi kiri dari Hydra dan yang tersisa{Omega, Delta, Livia} menempati sisi lainnya.


Saat Arcandra ingin melayang seperti Argus di udara, Argus justru memintanya untuk beristirahat saja.


Hal ini juga disetujui oleh Dyze.


Jadi kini ada formasi dua sisi dari para Siren dan seorang Xana, di depannya terdapat seorang ahli sihir terkuat, dan di atas Hydra yang sedang di kawal terdapat seorang Assasin dari ras Meta-Human, Qilin, seorang calon manusia terkuat, penguasa waktu, dan seorang Dewa jatuh(Fallen God).


Para Siren bersenandung menghiasi malam yang sunyi, hanya ada sinar bulan yang menemani, angin segar lautan yang berhembus mendukung suasana yang sepi.


Mereka melintasi laut menuju benua kehutanan selama 2 jam. Sebenarnya Hydra dapat melakukannya lebih cepat dari ini, namun Dyze tidak memerintahkannya, dia hanya ingin ..


Menikmati suasana ini setidaknya lebih lama lagi.


---


“Kerja bagus.”


Kini mereka telah sampai di tepi benua Gionnera, bahkan di tepi sekalipun, masih terdapat hutan yang cukup lebat dalam jarak 300 meter di hadapan mereka.


“Tunggu. Kalian yang kusebutkan jangan melangkah terlebih dahulu.”


Dyze kemudian menyebutkan sekitar 8 nama, diantaranya:


Alpha.


Beta.


Gamma.


Omega.


Livia.


Xelyn.


Hydra.


“Nama-nama itu kembalilah ke Arbeltha. Kalian belum cukup kuat untuk dapat ikut ke jalanku.”


“Eh?”


Karena masih belum dapat percaya, dan mengira mereka melakukan suatu kesalahan, Alpha memohon pada Dyze untuk menerangkan alasan sebenarnya.


Dyze menghela napas panjang, dia memutar otak untuk merakit alasan yang pas.


[ Bilang saja tugas mereka di Arbeltha belum selesai sepenuhnya. Jika mereka dapat menundukkan seluruh Arbeltha, itu pasti akan menguntungkan anda, Tuanku. ]


Bingo.


“Tugas kalian di Arbeltha belum sepenuhnya selesai. Buktikan padaku kekuatan kalian .. Dengan cara menundukkan Arbeltha sepenuhnya di bawah kekuasaan kalian.”


Kedelapan orang itu saling bertukar pandangan, ekspresi kesedihan yang tadinya terukir di wajah mereka, kini lenyap seketika.


Mereka bergegas dalam melaksanakan misi mereka, dan di saat para siren, seorang xana, dan Hydra sedang menunggu seseorang.


Itu adalah Xelyn.


Dia berpisah dengan Eleina dengan berjabat tangan.


“Aku tidak akan kalah padamu.” Xelyn mengatakan itu dengan senyum lebar.


“Itu bagus! Aku juga tidak akan lengah!” Eleina membalasnya dengan bersemangat.


Sedetik setelah itu, Xelyn menyusul yang lainnya dengan sihir manipulasi gravitasi miliknya.


Dia terbang di udara tanpa terikat hukum gravitasi, meninggalkan Dyze dan yang lain di belakangnya.


“Jangan berlama-lama lagi.”


Kini yang tersisa hanyalah, Chloe, Claire, Argus, Arcandra dan Eleina. Eleina sendiri tidak tahu alasan pasti dia dibawa.


“Sedang apa kau?”


Arcandra menegurnya, membuat Eleina yang tadinya sedang melamun menjadi tersadar kembali.


Tidak ingin tertinggal rombongan, Eleina menggunakan kelincahannya untuk menyusul mereka.


Kurang dari sedetik dia telah berada di belakang Dyze, setia untuk mengikutinya kemana saja.


Di tepi hutan, Dyze berhenti melangkah, membuat Chloe dan yang lainnya bertanya-tanya dalam hati.


“Apakah kalian mengantuk?”


Kelima orang itu menggelengkan kepalanya.


“Begitu. Kebetulan karena sudah tengah malam kurasa tidak akan ada yang menyadarinya.”


Dyze menoleh ke arah Chloe.


“Kau bisa mengubah waktu menjadi siang ataupun malam sesuka hatimu, ‘Kan?”


Chloe mengangguk.


“Iya. Kenapa?”


“Kalau begitu ubahlah menjadi pagi. Tidak nyaman bagiku untuk memasuki hutan dalam waktu malam seperti ini.”


“Ah jadi begitu.”


Chloe tersenyum tipis sambil membusungkan dadanya.


『 Time Set: Morning 』


Dalam kedipan mata waktu tiba-tiba menjadi pagi, sesuai dengan yang dikehendaki oleh Chloe.


“Kemampuan anda terlalu gila.”


Arcandra yang serangannya mampu membelah bulan dalam keadaan santai saja berkeringat karena tahu potensi yang dimiliki oleh Chloe seperti jurang yang tidak terbatas.


Chloe menanggapinya hanya dengan tertawa anggun.


“Kerja bagus. Ayo sekarang kita masuk.”


Dyze menepuk kepala Chloe, meski dari ukuran tubuh Chloe lebih tinggi darinya, Dyze tetap mencoba meraih kepalanya tanpa menjinjit.


Hanya dengan tindakan sederhana itu membuat Chloe memerah, keanggunannya tadi lenyap tidak tersisa.


“T-tunggu!”


Chloe menyusul Dyze yang telah memasuki hutan.