
Hingga hanya tersisa para Siren yang memiliki luka di perutnya sedang terbaring lemas di tanah.
“Para Siren ini.., habitat utama mereka berada di lautan, lalu kenapa mereka dapat bertahan di daratan?”
Pertanyaan Argus juga membuat Chloe dan Claire heran saat memikirkannya.
Klikk.
Chloe mengembalikan waktu seperti semula, dan sebelum para Siren yang tersisa bertemu dengan ajalnya, Dyze langsung melompat ke arah mereka.
“Hupp. Kerja bagus.”
Mendapatkan pujian dari Dyze merupakan kesempatan langka, bagi mereka pujian dari orang sepertinya lebih berharga dari sebuah permata.
“Orang seperti mereka yang memiliki loyalitas tinggi biasanya mempunyai potensi terpendam. Sangat berbeda dengan sampah yang bahkan masih menyimpan egonya hingga akhir hayat.”
Dyze meminjam pedang Chloe dan menyayat pergelangan tangannya, darahnya yang menetes sia-sia ke tanah membuat kedua wanita di sampingnya tergoda.
Dia membuat siren-siren yang sekarat itu menelan setetes darahnya, dan setelah menuruti instruksinya, mereka merasakan suatu sensasi terbakar dari dalam nadinya.
Sel sel darah mereka seolah melaju dengan sangat cepat, dan jantung mereka berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Luka berupa robekan di perut mereka perlahan beregenerasi dan menutup dengan sendirinya.
Siren-siren itu mulai memperoleh kesadarannya kembali.
Mereka menoleh satu sama lain dan melihat ke sekitar.
Para siren itu terpaku, bukan karena fakta bahwa kelompoknya telah terbantai, tapi alasan sebenarnya mereka mematung seperti batu adalah menyadari bahwa mereka berhasil hidup kembali dan bebas dari cengkraman kematian.
Saat itulah para Siren menyadari hanya ada satu sosok yang bisa melakukan hal ini.
Mereka langsung serentak bersujud ke arah Dyze dan mengungkapkan rasa Terima kasih serta rasa syukurnya.
Karena peristiwa yang menakjubkan dan hanya bisa dilakukan dengan mukjizat membuat mata para Siren itu terbuka lebar.
Pemahaman mereka yang tadinya menganggap Dyze se sosok terror yang harus dihindari sebagai musuh kini memujanya layaknya seorang Dewa.
Dan karena tidak biasa mendapatkan pujian apalagi merasa layaknya disembah seperti ini membuat Dyze merasa merinding.
Sehingga dia mencari cara untuk mengalihkan perhatian mereka agar tidak lagi fokus untuk memujanya.
"Kalian. Siapa nama kalian?"
"Kami tidak memiliki nama Tuan!"
"Begitu ya.."
Sebuah pemikiran terbesit di kepala Dyze, dia juga melukis senyum di wajahnya.
Akan kugunakan kesempatan ini untuk mengalihkan perhatian.
"Kalau begitu, kau, mendekatlah padaku."
Dia menunjuk ke siren yang menjadi perwakilan dan paling pertama dalam melakukan tindakannya.
Meski kebingungan memikirkan alasan kenapa ia bisa dipanggil, siren itu tetap memenuhi panggilan Dyze dengan patuh.
"Aku akan memanggilmu sebagai Alpha."
"Be-benarkah itu..!? Terima kasih Tuan!"
Siren yang kini bernama Alpha itu bersujud ke arah Dyze, dia kini benar-benar seperti ingin menangis karena terharu.
Karena dia telah melayani Gorgon selama beberapa dekade namun Gorgon-- Medusa sama sekali tidak memperhatikan perkembangan ataupun tindakannya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa seperti diakui.
Setelah diperintahkan, dia langsung menjauh dari Dyze dan kembali ke tempat asalnya.
Dyze kemudian memanggil para siren itu satu per satu.
"Kau akan ku panggil sebagai Beta."
“Terima kasih banyak Tuanku.”
“Kau akan ku panggil sebagai Omega.”
“T-terima kasih Tuan!”
“Kau akan ku panggil sebagai Gamma.”
“Terima kasih atas kebaikanmu Tuan.”
“Kau akan ku panggil sebagai Delta.”
“Semoga kebaikan engkau selalu menyertai kami.”
“Dan kau akan ku panggil sebagai Sigma.”
“Hanya anda yang pantas dijadikan Tuan untukku.”
Setelah memberi mereka nama, harapan Dyze untuk memanfaatkan kondisi ini sebagai pengalihan telah pupus sepenuhnya.
Karena alih-alih berhenti, mereka justru semakin memujanya, seakan obsesi mereka kian menambah seiring berjalannya waktu.
Dyze juga memberi mereka nama sesuai dengan sifat dasar mereka yang terlihat dari sorot mata, perkataan, dan kesan pertama yang dia dapatkan.
Dimulai dari Alpha, dia memiliki paras wajah yang cantik, rambut panjangnya berwarna biru laut, tidak hanya itu, iris mata yang dia miliki juga selaras dengan rambutnya.
Sorot matanya tegas dan penuh dengan keyakinan. Dyze sendiri yakin jika Alpha memiliki jiwa kepemimpinan, hal itu dibuktikan dari dia yang rela menjadi perwakilan suara dari kelompok mereka meski memiliki resiko dia akan langsung terbunuh di saat itu juga.
Setelahnya, Beta. Dia memiliki rambut pirang yang dikuncir layaknya ekor kuda, iris mata miliknya juga cantik, berwarna kuning keemasan. Sikapnya tidak jauh berbeda dengan Alpha, yang membedakan mereka hanyalah Beta yang lebih pendiam darinya.
Selain itu, Beta merupakan orang kedua yang langsung memenuhi perintah Dyze setelah melihat Alpha gugur di hadapannya.
Lalu yang selanjutnya, Omega. Dia memiliki perawakan gadis muda yang cantik, bulu matanya lentik, dan rambut merah yang dia miliki juga lembut, cukup identik dengan milik Claire. Omega mengikat rambutnya dengan gaya Pig tail, dan iris mata miliknya berwarna merah seperti buah delima.
Dilihat dari caranya menjawab dengan terbata-bata, Dyze menyimpulkan bahwa dia merupakan orang yang pemalu, sedikit tertutup, dan sulit berkomunikasi.
Dan Dyze membenci orang yang memilih memendam perasaannya dari pada jujur untuk mengungkapkannya.
Omega sendiri cenderung menghindari kontak mata langsung dengan Dyze, entah disebabkan dia takut, gugup, atau karena alasan lainnya.
Kemudian ada Gamma, dia memiliki penampilan gadis yang lebih tua dari Omega. Rambutnya lurus berwarna ungu, iris matanya hitam pekat layaknya sebuah tinta.
Berbeda halnya dengan Omega yang selalu menghindari kontak mata langsung dengan Dyze, Gamma justru melakukan hal sebaliknya.
Dia menatap Dyze dengan penuh percaya diri namun meski begitu Gamma masih memiliki rasa hormat dan segan padanya.
Dyze cukup tertarik dengan kepribadian seperti Gamma yang selalu percaya diri, namun hal yang paling dinantikan olehnya adalah bagaimana ekspresi yang akan dia gunakan saat akan terjatuh ke jurang keputus-asaan untuk kedua kalinya?
Yang berikutnya adalah, Delta. Dia memiliki penampilan seorang gadis pendek, mimik wajahnya datar, rambut panjang berwarna kecoklatan yang menutupi mata kanannya. Mata kiri Delta memiliki iris berwarna oranye, dan untuk mata kanannya, dia belum menunjukannya saat ini.
Dyze sendiri tidak dapat terlalu menebak kepribadiannya dalam sekali lihat, yang jelas, dia tahu bahwa Delta merupakan orang yang cukup bijaksana dan berhati-hati dalam berbicara.
Hal itu dapat dibuktikan dari Delta yang hemat dalam berbicara, dan jarang menunjukan ekspresi wajah.
Dan yang terakhir, Stigma. Dia memiliki rambut panjang berwarna putih tanpa terikat, raut wajah yang santai namun begitu percaya diri, dan iris mata yang berwarna abu-abu menambah nilai untuknya.
Sama seperti Delta, Dyze tidak dapat menyimpulkan kepribadian Stigma dalam sekali lihat, dia merupakan orang yang sulit dipahami.
Jika diasumsikan dia merupakan orang yang berambisi maka mengapa dia memutuskan untuk menyerah dan mengabdi padanya?