
...'Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Siapa sangka pada akhirnya aku dan kamu dapat bersatu?'...
Setelah insiden Edward tak sengaja bertemu dengan Rayla di Restaurant milik Rayla. Sekarang Edward menjadi semakin rajin untuk berkunjung ke sana. Yah, walaupun Rayla selalu saja menghindar ketika Ia berkunjung ke sana. Tetapi hal itu tidak masalah bagi Edward. Ia masih memiliki banyak cara agar Rayla, mau tak mau harus bertemu dengannya. Seperti dengan mengajukan complaint, dan meminta agar pemilik café lah yang harus bertemu dengannya. Simple kan?
Seperti hari ini, ketika jam istirahat telah tiba. Edward dengan segera bergegas keluar dari ruangannya, tentunya setelah memberi tahu Richard bahwa Ia tidak akan kembali ke kantor. Alasannya? Tentu saja karena Ia ingin menghabiskan waktu dengan Rayla. Yah, walaupun belum tentu rencananya akan terealisasikan.
Edward melajukan mobil yang Ia kendarai dengan kecepatan sedang. Seteleh menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Edward pun sampai di Café milik Rayla. Setelah merapikan sedikit penampilannya, Edward pun turun dari dalam mobil, dengan kaca mata hitam yang membingkai matanya.
"Welcome to Zee Café, how can I help you, Sir?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Edward yang tengah celingak-celinguk seperti orang hilang.
Edward berdeham, "Nothing," jawab Edward.
Pelayanan tersebut nampak ragu dengan jawaban Edward, tetapi melihat raut wajah Edward yang sedang tidak bersahabat, pelayan itupun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Edward menatap tak suka pemandangan yang ada di pojok café
ini. Terlihat disana Rayla tengah berbincang dengan seseorang yang Edward tidak tahu entah itu siapa, karena posisi laki-laki tersebut membelakanginya. Tetapi dilihat dari gerak-geriknya mereka cukup
dekat, terbukti dengan sikap Rayla yang sepertinya sangat nyaman berada di dekat orang tersebut.
Merasa sudah muak melihat pemandangan yang membuat Ia merasa
panas sendiri, akhirnya Edward pun melangkah mendekati meja yang ditempati oleh Rayla dan juga orang tersebut.
"Ekhem," deheman Edward berhasil mengalihkan atensi dari kedua orang yang tengah asik berbincang itu.
"Lo!?" pekik Edward ketika melihat orang yang tengah mengobrol dengan Rayla sedari tadi ialah orang yang sangat amat dikenalnya.
Dan disinilah mereka bertiga sekarang, duduk bertiga melingkari meja yang ada di pojok Café milik Rayla.
"Biasa aja dong ngeliatin gue nya," ucap Rifki sedikit meringis ketika melihat tatapan Edward yang seperti menusuknya.
Yup, orang yang sedari tadi berbicara dengan Rayla adalah
Rifki. Bodoh sekali Edward tidak dapat mengenali postur tubuh milik sahabat karibnya itu.
"Jelasin," ucap Edward penuh penekanan.
Rifki melirik Rayla, yang kini berpura-pura fokus mengaduk minuman yang ada di hadapannya.
"Bantuin dong, Ay," ucap Rifki memelas.
Edward menatap Rayla dan Rifki secara bergantian.
"Lo kerjasama, sama Rayla untuk nutupin kepindahannya dia dari Indonesia ke Amerika?" tanya Edward yang mulai mencerna situasi.
Rifki menunjukkan deretan giginya ketika mendengar ucapan Edward.
"Sebenarnya gue mau ngasi tau lo, Ed. Tapi, Rayla larang gue buat ngasi tau lo," ucap Rifki menjelaskan.
Rayla melotot tidak terima mendengar pernyataan Rifki.
"Kok lo malah nyalahin gue, sih!?" pekik Rayla.
Rifki menatap Rayla kalem, "Kan kenyataannya emang gitu Ay. Lo nyuruh gue buat gak ngasi tau Edward tentang kepindahan lo ke Amerika. Kata lo, kan lo mau move on dari Edward," ucap Rifki yang diakhiri dengan senyuman menggoda.
"Lo mau move on dari gue?" tanya Edward sembari menatap Rayla.
Rayla pun gelagapan ketika mendengar pertanyaan Edward yang
dilontarkan kepadanya. Rifki sialan!
"E-engga," elak Rayla.
Edward tersenyum tipis ketika melihat wajah Rayla yang
memerah.
"Jadi, lo suka sama gue?" tanya Edward yang semakin gencar menggoda Rayla.
Menyadari bahwa Edward tengah menggoda dirinya, Rayla pun memutar bola matanya jengah.
"Iya! Tapi itu dulu, kalau sekarang gue udah move on. Gue juga udah punya pacar," ucap Rayla asal.
Rifki yang mendengar ucapan Rayla, melotot kaget, "Berani banget mancing singa tidur," gerutu Rifki pelan.
Edward menggeram kesal ketika mendengar ucapan Rayla, "Siapa?" desis Edward.
"Apa?" tanya Rayla menantang.
"Alamat perang dunia ini mah," bisik Rifki pada dirinya sendiri.
"Pacar lo," tanya Edward sedikit tidak rela menyebut kata 'Pacar'
"Manusia lah, yakali setan."
"Gue serius."
"Gue jauh lebih serius."
Rayla menatap tak percaya pada ucapan Edward barusan.
"Dih, emang siapa lo?"
"Gue bilang putusin Effie Rayla Zefanya," ucap Edward penuh penekanan.
"Gue gak mau, Tuan Edward Rasia Nafandra yang terhormat," ucap Rayla kesal. Emang siapa Edward, yang berani-beraninya menyuruh Ia untuk putus, ya walaupun pacar Rayla halu, tapi kan tetep aja!
"Putusin, atau lo bakal ngelihat pacar kesayangan lo itu kesusahan," ucap Edward dingin.
"Emang lo siapa? Berani-beraninya nyuruh gue putus?" tanya balik Rayla.
"Lo gak boleh suka sama orang lain."
"Urusannya sama lo apa?"
"Pokoknya gue gak izinin lo buat move on dari gue."
Rayla tak habis pikir dengan jalan pikiran Edward. Rifki yang melihat drama yang tersaji di hadapannya pun, menghela nafas.
"Udah lo tenang aja bro. Rayla gak punya pacar. Lo masih megang tahta tertinggi di hatinya dia," jelas Rifki.
Rayla menatap Rifki dengan tatapan membunuh. Rifki yang menyadari tatapan Rayla pun angkat bicara.
"Udah Ay, gak usah di tutupin lagi. Gue malah seneng kalau lo berdua jadian. Lagian Edward juga udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama
Bela. Pokoknya gue dukung seratus persen, kalau kalian berdua nikah."
Lagi-lagi Rayla tercengang mendengar ucapan Rifki. Sedangkan Edward, mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Rifki.
"Emang sahabat gue lo, Rif. Sekarang gue ada kerjaan buat lo," ucap Edward sembari menepuk pundak Rifki.
"Apaan?"
"Cariin gue Wedding Organizer yang terbaik."
"Lo mau nikah?" tanya Rifki.
Edward mengangguk mantap menjawab pertanyaan Rifki.
"Sama siapa?"
"Rayla lah," jawab Edward cepat, sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Rayla.
"Emang Rayla mau nikah sama lo?"
"Kalau gak mau, tinggal gue paksa," jawab Edward enteng.
"Ngelamar orang gaada romantis-romantisnya," ucap Rayla sembari menggelengkan kepalanya.
"Jadi, lo mau nikah sama gue?" tanya Edward sembari memperbaiki posisi duduknya.
"Yah, daripada gue jomblo seumur hidup karena gak bisa move on dari lo?" jawab Rayla.
Edward tertawa mendengar ucapan Rayla, "Ah, gak sia-sia hari ini gue bolos dari kantor. Eh, tau-taunya dapet calon istri."
"Jaga baik-baik Rayla bro, kalau lo sampai nyakitin dia lagi. Gue bakal maju paling depan buat rebut Rayla dari lo," ucap Rifki sembari menepuk pundak Edward.
Edward menatap tak suka ke arah Rifki, "Gak usah macem-macem lo."
"Peace."
Edward beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Rayla yang
duduk di seberangnya.
"Makasih, udah mau nerima gue," ucap Edward sembari memeluk Rayla.
"Hmm."
"Gak romantis banget sih lo, jawabnya cuma pakai, hmm," protes Edward.
Rayla mendorong pelan tubuh Edward, kemudian dengan secepat kilat mendaratkan kecupan di pipi kiri Edward.
"Gausah sok protes lagi. Sana balik ke kantor, gue juga mau balik kerja," ucap Rayla ketika melihat Edward akan membuka suara.
"Gausah kerja, gue udah kaya. Mau disini," ucap Edward dengan senyum yang mengembang sempurna.
Rayla memukul pundak Edward keras, "Katanya mau nikahin gue. Tapi lo nya males kerja!"
Edward mengusap bekas pukulan Rayla, "Galak banget calon istri gue."
"Serah kalian dah, mending gue balik daripada ngeliatin kalian ngebucin," ucap Rifki sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Yaudah sana balik. By the way, makasi ya Rif buat semuanya," ucap Edward.
Rifki menggangguk, sembari memperhatikan Rayla yang kini berusaha mengusir Edward agar kembali ke kantornya. Rifki tersenyum tipis melihat mereka, akhirnya setelah sekian purnama, mereka bersatu juga. Gumam Rifki.