
...'Kita hidup sebagai manusia sudah kodratnya tidak bisa lepas dari memilih sesuatu.'...
...----------------...
Setelah Devan dan juga Rayla hilang dari jangkauan retina matanya, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Edward beranjak dari tempatnya berdiri menuju tempat di mana Ia memarkir sepeda motornya.
"Nasib gue di tinggal mulu deh kalo sama ini orang," gerutu Rifki ketika melihat Edward yang sudah berjalan menjauh darinya. Ia pun menyusul Edward dengan sedikit berlari agar dapat menyamakan langkahnya.
"Lo gak mau nyari makan dulu?" tanya Rifki ketika dirinya sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan Edward.
"Nanti aja di jalan," jawab Edward. Jangan makan di tengah jalan juga, bahaya!
Rifki hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Edward. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat mereka memarkir motornya masing-masing. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Edward segera menggunakan helmnya begitu pula dengan Rifki. Tak lama kemudian dua motor tersebut sudah berbaur dengan motor yang lainnya.
Dua anak manusia tersebut sekarang sudah berada di salah satu warung bubur yang ada di pinggir jalan. Edward sengaja membelokkan motornya kesini, Ia hanya merindukan rasa bubur ayam yang sudah lama tidak Ia rasakan.
"Lo bawa dompet kan Ed?" tanya Rifki di sela-sela menyantap bubur ayamnya.
"Enggak," jawab Edward.
Rifki tersedak mendengar jawaban Edward, buru-buru Ia meminum air mineral yang ada di hadapannya.
"Gue juga gak bawa dompet ketinggalan di apartemen lo tadi, yang gue bawa cuma handphone gue doang. Terus gimana caranya nanti kita bayar?" ucap Rifki mulai panik.
"Gampang," jawab Edward masih dengan memakan bubur ayamnya tanpa peduli dengan raut wajah panik milik Rifki.
"Lo kok tenang-tenang aja sih?! Ntar kita di laporin ke kantor polisi gimana?!" jawab Rifki. Kepanikan tidak dapat Ia sembunyikan dari nada suaranya.
"Ntar lo gue gadain di sini. Kan lumayan buat bantu-bantu nyuci piring, mangkok, sendok dan peralatan yang lain," jawab Edward enteng.
Sedangkan Rifki, Ia sudah mendengus kesal mendengar ucapan Edward.
"Lemes bener tuh bibir mau gadaiin orang!"
"Daripada lo masuk penjara. Mending mana, masuk penjara atau nyuci perabotan di sini?" tanya Edward.
"Enggak dua-duanya!"
"Harus milih!"
"Pilihan lo itu semuanya merugikan buat gue! Mana mau gue milih sesuatu yang merugikan buat diri gue sendiri," ucap Rifki tak terima.
"Tumben otaknya jalan, baru habis lompat tinggi sambil sikap lilin lo?" tanya Edward heran. Lah gimana ceritanya?
Rifki mendengus mendengar ucapan Edward, lompat tinggi sambil sikap lilin? Yang benar saja! Yang ada tulangnya akan copot satu persatu dari tubuhnya.
"Bergaul di mana lo Ed?" tanya Rifki prihatin.
"Di kubangan lumpur," jawab Edward.
"Pantesan, otak lo ke tutupan lumpur kayaknya."
"Ini nih, ciri-ciri orang yang gak ngaca dulu sebelum ngomong. Jangan salah, otak gue tuh ke tutupan sama tengkorak bukan sama lumpur!" jawab Edward sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ya gak ada salahnya kan di ucapan Edward? Otak kan emang ke tutupan tengkorak bukan lumpur.
"Kalah berarti sama otak gue, otak gue aja ke tutupan neuron," jawab Rifki bangga. Eh, neuron di luar?
Edward memutar bola matanya malas, "Mana ada neuron otak di luar. Gimana jalan ceritanya otak lo bakal berfungsi kalo yang jadi pemeran utama fungsi otak lo di luar?"
"Oh gitu ya?" tanya Rifki sembari menumpu wajahnya menggunakan tangan kanannya.
"Hmm," jawab Edward kemudian kembali memakan buburnya yang tinggal sedikit. Ngomong sama Rifki itu perlu tenaga ekstra, Edward cuma ngingetin ya pemirsa.
"Hmm," jawab Edward sekenanya. Karena mulutnya tengah di isi suapan terakhir bubur ayamnya.
"Terus gue beneran bakal lo gadain di sini? Turun tahta gue Ed, dari anak Herman Aufa Deswara jadi tukang cuci piring" ucap Rifki sembari merenungkan nasibnya.
Edward sudah tidak tahan melihat wajah nelangsa yang Rifki tunjukkan, alhasil Ia menyemburkan tawanya. Sebelumnya Ia sudah menelan dulu semua makanan yang tersisa di dalam mulutnya. Biar gak nyembur pas ngomong guys.
"Lo kenapa ketawa sih? Mana puas banget lagi ketawanya!" ucap Rifki kesal.
"Gimana gue gak ketawa coba," ucap Edward di sela-sela tawanya. Setelah berhasil meredakan tawanya, Edward pun melanjutkan kalimatnya.
"Gue gak sebodoh itu buat makan kalo lagi gak bawa uang," ucap Edward.
"Jadi?-," ucap Rifki menggantung kata-katanya. Beberapa detik kemudian, Ia menyadari sesuatu.
"Lo ngerjain gue?!" pekik Rifki keras, bahkan beberapa pelanggan yang ada di sana sampai menoleh ke arah mereka.
Edward kembali meledakkan tawanya ketika mengetahui Rifki sudah sadar bahwa Ia hanya mengerjainya saja.
"Sumpah, kok lo ngeselin banget sih jadi orang?!" ucap Rifki yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Edward.
"Balasan karena lo udah ganggu tidur gue tadi pagi," jawab Edward.
"Dah lah, pengen debut jadi artis pemain suara hati istri deh gue. Biar bisa nyanyi, ku menangis membayangkan," ucap Rifki sembari sedikit melantunkan lirik lagu Hati Yang Kau Sakiti-Rossa.
Edward memegangi perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak tertawa. Mood booster sekali mengerjai Rifki itu, pikirnya.
"Udah puas ketawanya?" tanya Rifki dengan wajah kesalnya.
"Gue cuma bercanda, jan sensi gitu napa," ucap Edward.
"Tau ah bodo, ngambek gue." ucap Rifki.
"Kayak cewek aja lo isi ngambek segala," cibir Edward.
Rifki tak memperdulikan ucapan Edward, Ia sibuk mengedarkan pandangannya mencari objek yang tepat untuk Ia memanjakan matanya. Yang penting gak liat muka Edward aja! ucap Rifki dalam hati.
"Mau lo gak jadi gue traktir? Terus berujung lo beneran bakal nyuci perabotan di sini," pancing Edward.
Rifki membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Edward. Enak saja menyuruh Rifki mencuci perabotan, yang ada pecah semua perabotannya!
"Gue lagi ngambek bukannya lo bujuk malah lo ancam!" semprot Rifki tak terima. Sedangkan Edward menggidikkan bahunya acuh.
"Ngapain gue repot-repot bujuk lo, ntar juga balik sendiri."
"Nasib punya temen opso integritas, ya begini."
"Opso? Bahasa planet mana tuh?" tanya Edward yang tidak mengerti dengan kosa kata yang Rifki gunakan.
"Tidak ada, bahasa Korea, masih di planet bumi. Belum ke saturnus."
"Enak aja ngatain gue gak ada integritas," ucap Edward tak terima.
"Kenyataan bro,"
"Beneran gak gue bayarin tau rasa lo!"
"Gue kabur aja langsung, ntar kalo di laporin lo yang bakal ikutan gue seret ke kantor polisi," jawab Rifki enteng.
Edward memutar bola matanya malas menanggapi ucapan Rifki. Tak ingin berdebat lebih lama lagi, karena akan menyebabkan makanan cepat di proses. Edward pun bangkit dari kursi yang Ia duduki dan menghampiri penjual bubur tersebut untuk membayar bubur yang telah Ia dan Rifki makan. Setelah usai membayar, Edward dan Rifki pun memutuskan untuk pulang ke apartemen Edward. Rifki kembali ke apartemen Edward karena ingin mengambil dompetnya yang ketinggalan di sana, kalau tidak segera Ia ambil takutnya nanti di colong **** ngepet!