Please Feel My Love

Please Feel My Love
Merenggang



...'Haruskah kamu menghancurkan ku di hadapan banyak orang?'...


...----------------...


Sudah dua minggu hubungan antara Edward dan Rayla merenggang. Baik Rayla maupun Edward hanya akan berbicara seperlunya saja. Mereka juga sudah tidak pernah berangkat bersama. Dua minggu terakhir ini, Edward selalu berangkat dan pulang bersama Bela. Sedangkan Rayla, hari ini Ia berangkat bersama Sam. Sebenarnya mereka tidak sengaja bertemu di jalan tadi. Mobil yang di kendarai oleh Devan tiba-tiba mogok, dan kebetulan Sam lewat dan menawarkan Rayla untuk berangkat bersama. Rayla pun menyetujui ajakan Sam, dan meninggalkan Devan yang masih berusaha memperbaiki mobilnya.


"Hari ini kita free class, guru-guru lagi pada rapat," ucap Sean yang memberikan pemberitahuan pada warga kelasnya.


Mereka bersorak, kemudian langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sedangkan Rayla hanya diam di tempatnya sembari membaca buku Biologi.


Tiba-tiba suasana berubah hening, ketika Sam memasuki kelas mereka. Dengan sigap, Sean menghampiri Sam kemudian bertanya apa tujuan sang ketua OSIS itu mengunjungi kelas XII IPA 2.


"Ada apa nih, tumben ke sini tanpa antek-antek lo yang lain," sapa Sean kepada Sam.


Sam tersenyum, "Bukan urusan OSIS kok. Gue mau ketemu Rayla, ada yang mau gue omongin sama dia."


Sean mengangguk, kemudian kembali bergabung bersama teman-temannya yang lain. Sedangkan Sam, menghampiri Rayla yang masih fokus membaca buku.


"Fokus banget," ucap Sam sembari duduk di sebelah Rayla.


Rayla pun sontak menoleh ke arah samping, dan mendapati Sam yang telah duduk di sebelahnya.


Rayla mengerutkan keningnya, "Ngapain lo di sini?"


"Nyamperin lo."


"Ada apa emangnya?"


"Mumpung lagi free class, mending lo ikut gue."


"Kemana?"


"Ruang OSIS."


"Ngapain gue ke sana?"


"Temenin gue buat laporan pergantian jabatan."


Rayla nampak berpikir, "Boleh. Gue juga gak ada kerjaan."


Sam tersenyum, "Ya udah, ayo."


Rayla bangkit, kemudian langsung mengikuti langkah Sam menuju ruang OSIS. Koridor yang mereka lewati nampak ramai, walaupun jam istirahat belum berlangsung.


Rayla dan Sam memasuki ruang OSIS yang tampak sepi. Rayla lebih memilih duduk di salah satu kursi yang ada di sana, sedangkan Sam mengambil laptop.


Sam duduk di sebelah Rayla, "Pulang sekolah nanti lo sama siapa?"


"Di jemput sepupu."


"Yang tadi itu sepupu lo?" tanya Sam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.


"Iya."


Sam manggut-manggut, "Ntar pulangnya bareng gue aja."


Rayla menggeleng, "Gak usah. Gue pulang bareng sepupu gue aja."


Sam diam, tak membalas ucapan Rayla. Kemudian, tiba-tiba Ia bangkit menuju salah satu rak yang ada di ruangan tersebut dan mengambil salah satu map yang tersimpan di sana. Sam kembali ke tempatnya semula, kemudian menyodorkan map yang baru saja Ia ambil ke arah Rayla. Sedangkan Rayla menatap Sam bingung, ketika tiba-tiba Sam memberinya sebuah map.


"Biar lo gak bosen, mending lo baca daftar acara pensi tahunan yang bakal di adain beberapa bulan lagi," jelas Sam yang melihat wajah bingung Rayla.


"Acaranya kapan?" tanya Rayla sembari mengambil map yang Sam sodorkan.


"Mungkin sekitar, tiga atau empat minggu selesai UN."


"Dan daftar acaranya udah selesai?" tanya Rayla tak percaya.


Sam tersenyum, "Yang ngurus acara nanti anak OSIS kelas XI. Jadi mereka harus udah siapin semuanya dari jauh-jauh hari. Ini cuma daftar acaranya aja kok yang udah kelar, laporannya belum."


Tiga puluh menit mereka lalui dengan keheningan. Sam pun telah menyelesaikan laporannya, dan kini Ia tengah memperhatikan Rayla yang tengah serius membaca daftar acara pensi, sembari sesekali melihat ponselnya.


"Bakal ada pesta dansa?" tanya Rayla setelah menyimak baik-baik dafar acara pensi.


Sam mengangguk, "Iya. Makanya nanti yang dateng harus sama pasangan."


"Kasian yang jomblo dong nanti," ucap Rayla sembari tertawa geli.


Sam memperhatikan Rayla yang tengah tertawa, "Lo mau jadi pasangan gue nanti?" tembak Sam.


Rayla tersenyum menanggapi ajakan Sam, "Gue belum tentu bakal dateng ke acaranya."


Sam mengangguk paham, "Mau ke kantin? Ini udah jam istirahat."


Rayla melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, "Boleh. Tapi, emang laporan lo udah selesai?"


"Udah."


"Ya udah, ayok ke kantin. Gue juga udah laper," ucap Rayla sembari bangkit dari kursi yang Ia duduki tadi.


"Tunggu bentar. Gue balikin laptop sama map ini ke tempatnya dulu," ucap Sam sembari bergegas menyimpan barang-barang yang tadi Ia ambil ke tempatnya semula.


"Yuk," ajak Sam.


Rayla langsung berjalan mendahului Sam, tetapi tak lama kemudian, dengan cepat Sam menyamakan langkahnya dengan Rayla.


Sam dan Rayla memasuki area kantin yang telah ramai oleh siswa. Dengan cepat, Sam menarik Rayla ke arah meja yang masih terlihat kosong sebelum ada anak lain yang menempatinya.


"Lo mau pesen apa? Biar gue yang pesenin," tanya Sam.


Rayla menggeleng, "Mending lo yang diem di sini, biar gue yang pesen. Lo mau pesen apa?"


"Bakso sama es jeruk," ucap Sam cepat sebelum antrian di stand tersebut makin panjang.


Rayla mengangguk, kemudian langsung pergi untuk memesan makanan. Tak lama kemudian, Rayla datang dengan nampan yang berisi dua gelas es jeruk di atasnya. Sam yakin, pesanan mereka nanti akan diantarkan oleh salah satu pegawai yang bekerja di stand makanan tersebut.


Tinggal melewati tiga meja lagi, Rayla akan sampai di tempat Sam duduk. Tetapi sebelum Rayla sampai di hadapan Sam, Ia terlebih dahulu terjatuh karena tali sepatunya yang tidak di ikat dengan benar terlepas. Naasnya, minuman yang Ia bawa tumpah ke arah siswa yang kebetulan lewat. Dengan segera, Rayla bangkit dan menunduk meminta maaf.


"Sorry. Tadi gue enggak sengaja," ucap Rayla yang masih belum berani mendongak melihat wajah orang yang sudah Ia kotori bajunya.


"Kalau gak kuat bawa, mending gak usah," ucap orang itu dingin.


Rayla mendongak ketika mendengar suara yang familiar di telinganya. Rayla menatap mata Edward, yang kini juga tengah menatapnya.


"Sorry. Tali sepatu gue lepas, jadi gak sengaja ke injek. Sini gue bantu bersihin," ucap Rayla kemudian maju selangkah untuk menyentuh baju Edward yang kotor karena terkena tumpahan jus jeruk yang Ia bawa tadi.


Edward mundur ketika Rayla berusaha menyentuh bajunya, "Gak perlu. Lain kali kalau mau jalan, mata, kaki, sama otaknya di pake, biar enggak nyusahin orang kayak gini."


"Tapi gue udah mau tanggung jawab," cicit Rayla sembari menunduk.


"Gue gak butuh tanggung jawab dari cewek ganjen kayak lo," ucap Edward dingin.


Rayla mendongak ketika Edward menyebutnya cewek ganjen.


"Maksud lo apa?" tanya Rayla dengan suara bergetar menahan tangis dan juga emosi. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Ck, gak usah buat drama nangis deh lo! Apa yang gue bilang emang bener kan? Bahkan semua murid di sini juga tau kalau lo sengaja deketin Sam buat numpang tenar doang," ucap Edward sinis.


Mata Rayla semakin berkaca-kaca mendengar ucapan Edward. Tak tanggung-tanggung, Edward mengatainya hampir di depan semua murid. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Rayla langsung berlari keluar dari kantin ke arah taman belakang sekolah. Murid-murid yang lain pun langsung berbisik-bisik mengenai kejadian yang baru saja terjadi. Sedangkan Sam, dengan cepat menyusul Rayla.


Rayla langsung duduk di bawah salah satu pohon yang ada di sana dan menangis. Sebenarnya Ia salah apa, hingga Edward tega berkata seperti itu di depan umum. Rayla menekuk lututnya kemudian menenggelamkan kepalanya di sana. Tak lama kemudian, Sam datang dan langsung memeluk Rayla.


"Jangan deket-deket gue," isak Rayla sembari mendorong Sam agar melepaskan dekapannya.


"Gak usah dengerin omongan Edward," bisik Sam sembari mempererat dekapannya pada tubuh Rayla. Sedangkan Rayla masih saja menangis di dalam dekapan Sam, hingga baju bagian depan Sam basah karena air matanya.