Please Feel My Love

Please Feel My Love
Menagih Janji Edward



...'Memberi nama panggilan khusus kepada seseorang, walaupun panggilan khusus tersebut terlihat seperti ejekan. Bukan berarti kita menistakan mereka, tetapi justru nama panggilan yang seperti ejekan itu yang sangat berbekas di dalam ingatan.'...


...----------------...


Rifki menyusuri koridor dengan berlari, tak heran banyak pasang mata yang memandang aneh ke arahnya. Rifki yang biasanya selalu menyapa setiap gadis yang berada di koridor, sekarang malah berlari seperti ada penagih hutang yang mengejarnya.


"Edward!" teriak Rifki ketika Ia sudah sampai di depan pintu kelasnya. Sontak penghuni kelas yang sudah datang memandang aneh ke arah Rifki.


Rifki masih mengatur nafasnya sembari memegangi pintu kelas, Ia nampak seperti kuda yang habis di pacu berlari ribuan kilometer.


Edward yang mendengar namanya di panggil pun mendongakkan kepalanya menuju sumber suara, Ia mendengus kesal ketika mengetahui siapa yang memanggilnya barusan. Sebenarnya Ia sudah mengira yang memanggilnya adalah Rifki, tetapi Ia hanya ingin memastikan. Siapa tau pendengarannya sedikit bermasalah hari ini.


"Apaan?" tanya Edward malas ketika Rifki sudah duduk di atas kursinya.


"Janji lo mana!"


"Janji apaan?" tanya Edward yang tidak mengerti.


"Jan pura-pura lupa dong lo! Gue yang susah nanti!"


"Gue serius, janji apa yang lo maksud?"


"Janji dua hari yang lalu!" ucap Rifki dengan tidak sabaran.


"Owh, terus?"


"Itu doang respon lo? Astaga! Nemu di mana si gue temen macam lo!"


"Ya terus respon gue harus gimana? Teriak-teriak gitu kek lo yang lagi nonton teaser BTS?"


"Bukan!"


"Terus?"


"Terus-terus mulu lo kek tukang parkir!"


Sudahlah, Edward ingin mengungsi ke pluto saja kalo begini terus. Di tanya kenapa, malah di ajak keliling Jakarta jawabannya.


"Lo kok diem aja sih?!"


"Gue diem salah, gue respon 'terus' ntar di bilang kayak tukang parkir. Serba salah deh gue," ucap Edward heran.


"Ya emang!"


"To the points bisa gak sih? Maksud lo apaan?"


"Lo harus tepat in janji lo ke Rian, gue kemaren di teror malem-malem sama tu anak gara-gara batal traktir dia kemaren."


"Emang gue peduli dengan fakta lo yang di teror?"


"Gak usah gue jawab, yang ada bakal buat gue darah tinggi!"


"Intinya lo nanti harus traktir Rian! Gue gak mau tau!"


"Iya, gue orangnya selalu menepati janji."


"Halah, janji itu ada untuk di ingkari!" ucap Rifki mencibir.


"Dan kata maaf itu ada untuk memperbaiki janji yang pernah di ingkari," balas Edward.


"Gak bakal menang gue kalo debat sama lo, mending gue ke bangkunya Rian buat ngobrol gosip terbaru dan ter aktual," ucap Rifki kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Rian yang saat ini tengah mengobrol dengan beberapa anggota OTR lainnya.


Edward hanya melirik sekilas tanpa menjawab ucapan Rifki, kemudian melanjutkan acara mencorat-coret bukunya.


Dua puluh menit kemudian bel tanda pelajaran pertama di mulai pun berbunyi, sontak semua penghuni kelas XII IPA 2 berhamburan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing jika tidak ingin kena petuah dari sang sesepuh pelajaran Matematika yang tidak pernah telat mengajar, tidak pernah absen memberikan tugas yang memusingkan kepala, bahkan sangat pelit dengan nilai Matematika.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Ismail.


Nah kan, baru saja bel berbunyi satu menit yang lalu. Tapi Pak Ismail sudah sampai di kelas mereka, padahal jarak ruang guru ke kelas mereka terbilang cukup jauh. Murid-murid di kelas XII IPA 2 sangat merekomendasikan Pak Ismail agar mendapat julukan sesepuh dan juga kembaran Mail di serial Upin dan Ipin. Di beri julukan sesepuh karena pembawaannya yang sangat dewasa, bahkan umurnya baru menginjak kepala tiga. Dan di beri julukan kembaran Mail karena beliau sangat pelit terhadap nilai anak didiknya.


Jika di pikir-pikir, kalau ada lomba memberi julukan guru yang paling kocak. Mungkin kelas XII IPA 2 yang akan jadi pemenangnya, karena hampir semua guru yang mengajar di kelas ini mereka sudah memberinya label masing-masing.


"Kalian semua lagi pada sariawan ya? Pertanyaan Bapak kok enggak ada yang jawab?" tanya Pak Ismail sembari memperhatikan seluruh penghuni kelas.


"Selamat pagi Pak," jawab serentak dari seluruh penghuni kelas XII IPA 2.


"Baiklah, untuk materi hari ini silakan kalian buka buku halaman 22/7 × 7 × 7!" ucap Pak Ismail.


"Yaelah apa susahnya langsung ngasi tau nomor halamannya sih? Ini pakai acara di suruh ngitung dulu lagi!" gerutu Dean sembari menghitung hasil yang di maksud dari perkalian dan juga pembagian yang baru saja di ucapkan oleh Pak Ismail.


Pak Ismail pun menjelaskan materi yang ada di halaman 154, sebagian murid fokus untuk mendengarkan, mencatat dan juga bertanya jika ada yang mereka tidak mengerti. Dan sebagian lagi, ada yang bermain pulpen, ada yang mencorat-coret buku mereka, bahkan ada yang meletakkan bukunya di hadapannya seperti sedang membaca tetapi nyatanya malah sedang terlarut ke dalam dunia mimpinya.


Tiga jam telah berlalu dengan berbagai kombinasi angka dan juga rumus, akhirnya jam pelajaran Matematika pun usai. Bel tanda pelajaran berakhir bak surga yang ada di depan mata, murid yang tadinya mengantuk tiba-tiba menjadi bersemangat ketika menyadari waktu istirahat akan segera tiba.


"Sampai di sini dulu pembelajaran hari ini, untuk latihan kalian di rumah. Silakan coba kalian kerjakan tugas halaman 1/2 × 60 × 6, nomor 3 kurang 2, 4 kurang 2, dan 5 kurang 2!"


"Baik Pak," jawaban serentak dari seluruh penghuni kelas XII IPA 2. Pak Ismail hanya menganggukkan kepalanya kemudian melenggang pergi menuju ruang guru.


Setelah Pak Ismail meninggalkan ruang kelas mereka, beberapa murid bersorak gembira karena bebas dari penjelasan Matematika yang belibetnya minta ampun.


"Itu guru, udah kebiasaan kali ya buat anak didiknya puyeng mikirin halaman sama nomor soal yang di buat?" ucap Rifki kepada Edward.


"Biar kita mikir dikit, gak cuman ngandelin google. Mentang-mentang zaman teknologi," balas Edward.


"Udahlah gak usah bahas yang berat-berat. Mending ke kantin, jan lupa lo mesti traktir Rian siang ini."


"Yang gue traktir di sini cuman Rian, lo nggak usah ikut-ikutan," ucap Edward kemudian langsung melenggang pergi menuju kantin.


"Yah Ed, lo kok gitu sih?!" ucap Rifki tak terima kemudian menyusul Edward yang sudah lebih dulu melangkah menuju kantin sekolah.


Di sepanjang perjalanan menuju kantin, tak henti-hentinya Rifki membujuk Edward agar mau mentraktirnya juga. Tapi ya namanya juga Edward, Ia sama sekali tidak menggubris segala rengekan dan rayuan Rifki. Heran, padahal Ia juga berasal dari anak orang yang berada. Tetapi masih juga suka membujuk orang agar mau mentraktirnya.