
...'Bukannya gak mau tanggung jawab pas udah baper, tapi mau gimana. Belum ada cukup keberanian untuk mengungkapkan nya.'...
...----------------...
Wajah Edward dan Rayla nampak berseri-seri. Mereka baru saja menyelesaikan dance-dance revolution mereka, untuk yang ketiga kalinya. Dan hasilnya adalah seri.
"Katanya engga jago main," cibir Rayla kepada Edward.
Edward menoleh ke arah Rayla, "Itu tandanya gue jago di segala bidang."
"Gini nih, dipuji dikit, sombong."
Edward terkekeh. "Gue enggak sombong."
"Terus, apa namanya kalo enggak sombong?"
"Berbicara fakta yang ada."
Rayla mendengus mendengar ucapan Edward. Sedangkan Edward, tersenyum tipis sembari memperhatikan wajah Rayla.
"Mau minum?" tawar Edward.
Rayla mengangguk dengan semangat, "Mau. Dari tadi kek nawarin nya!"
Edward geleng-geleng kepala melihat tingkah Rayla. Udah untung ditawarin, daripada enggak sama sekali.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Ntar ilang, gue repot," pesan Edward sebelum dirinya beranjak pergi.
Rayla memutar bola matanya malas, "Emang gue anak kecil apa?"
Edward mengangguk, "Iya. Lo masih bocah. Entar gue pusing nyariin nya kalau lo sampe ilang. Tempat yang sekarang lo lagi kunjungin ini, ruang lingkup nya luas."
Rayla merengut mendengar penuturan Edward, "Udah. Sana buruan beli minum, gue haus!"
"Dasar gak sabaran," gumam Edward, sembari beranjak pergi dari tempatnya dan Rayla beristirahat guna mencari minum.
Rayla diam, sembari mengamati hiruk-pikuk yang ada di sekitarnya saat ini. Ia tersenyum, ikut merasakan bahagia. Ketika melihat anak kecil yang tengah tertawa, karena diberi boneka yang berhasil didapatkan oleh orang tuanya dari mesin pencapit boneka.
Rayla tersentak, ketika merasakan sesuatu yang dingin menempel pada pipinya. Ia pun sontak menoleh dan menemukan pelakunya adalah Edward.
"Hobi banget lo ngagetin orang!" semprot Rayla.
Edward terkekeh, "Lo nya bengong, gue kira kesambet."
Rayla menggerutu mendengar ucapan Edward. Emang kalau orang kesambet, di tempelin minuman dingin ke pipinya bisa langsung sadar?
"Buruan minum, katanya tadi haus," komentar Edward, ketika Ia melihat Rayla yang tak kunjung meminum minumannya. Namun malah masih asik berkomat-kamit, seperti mbah dukun yang sedang membaca mantra.
"Bawel," ketus Rayla, kemudian langsung menegak isi dari botol minuman yang ada di tangannya.
"Salah mulu perasaan," gumam Edward.
"Lo bilang apa?" tanya Rayla.
Edward dengan cepat menggeleng, "Gak ada. Ayo main lagi."
Rayla menatap curiga Edward, "Lo, gak ada rencana nurunin gue di tengah jalan kan nanti?"
Edward buffering mendengar pertanyaan Rayla.
"Maksudnya?"
"Lemot!"
"Hah?" Edward mengernyit, ini kok gue di katain lemot?
"Dah lah, males gue."
"Lo kenapa sih?" tanya Edward, yang bingung dengan sikap Rayla.
"Gak papa."
Nah ini, bahaya. Kalau cewek udah bilang gak papa, alamat kliyengan ni kepala.
"Mau lanjut main atau pulang?" tanya Edward dengan hati-hati.
Rayla nampak berpikir, "Pulang. Tapi gamau pulang."
"Lah, gimana maksudnya?"
"Maksudnya, pulang dari sini. Tapi jangan langsung pulang, mampir dulu," jelas Rayla gemas. Pen tak ih aja deh! Gaada peka-pekanya jadi cowok!
Edward manggut-manggut, "Yaudah."
Rayla mendongak menatap Edward yang telah berdiri menjulang di hadapannya.
"Ada, tempatnya istimewa."
Rayla menelisik, "Lo gak niat ngajak gue ke kuburan malem-malem kan?"
"Mau ngapain gue ngajak lo ke kuburan, hah?" tanya Edward sembari mencubit pipi Rayla. Gemes woy!
Rayla mengaduh, kemudian menepis tangan Edward yang ada di pipinya.
"Sakit tau!" ucap Rayla, sembari memukul lengan Edward, dan Edward hanya diam saja. Pasrah.
"Lo, berprasangka buruk terus sama gue."
"Kan siapa tau!" ucap Rayla tak mau kalah.
"Ngapain juga sih, gue ngajak lo ke kuburan malem-malem?"
Dah lah, Edward pen jedotin kepala ke merkurius aja rasanya!
"Tegur sapa sama mbak kunti," jawab Rayla santai.
Edward melongo, mendengar ucapan ajaib Rayla.
"Udah. Ayo buruan," ucap Edward, kemudian langsung menarik tangan Rayla keluar dari area TIMEZONE. Sebelum tambah parah ngelindurnya!
"Kemana ih?" tanya, Rayla sembari berusaha melepas cekalan tangan Edward.
"Berkunjung ke rumahnya mbak kunti!" jawab Edward kesal.
"Ih, ngapain? Lo aja sana yang berkunjung, gue gak mau!" pekik Rayla, sembari berusaha lebih keras melepas cekalan tangan Edward, ketika merasa, ini bukanlah jalan menuju parkiran.
Edward menghembuskan nafasnya kasar, kemudian dengan sekali hentak. Ia berhasil mengurung tubuh Rayla, menggunakan tubuhnya.
Nafas Rayla tercekat, ketika melihat wajah Edward yang ada di hadapannya.
"L-lo mau ngapain?" tanya Rayla takut-takut. Ia menengok resah ke arah kanan dan kiri, berharap ada orang yang lewat. Tetapi sayang, di sekitarnya sepi. Ia baru sadar, jika ini adalah lorong menuju tangga darurat.
Edward tak menjawab pertanyaan Rayla, Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rayla. Rayla yang gugup pun, memundurkan kepalanya. Sesaat kemudian, Ia sadar, jika dirinya tak dapat lagi menghindar kerena tembok yang ada di belakangnya.
"L-lo jangan macem-macem!" gertak Rayla, yang semakin gugup karena wajahnya dan Edward hanya berjarak 10 cm saja. Salah gerak dikit, wah!
Edward tersenyum miring, "Satu macem aja kok."
Rayla tercekat, ketika melihat Edward tersenyum. Sialan, disaat-saat genting begini, bisa-bisanya Ia terpesona!
Rayla mencoba untuk mendorong dada Edward, tapi Edward dengan sigap menahannya.
"U-dah deh, jangan macem-macem. Jauh-jauh! Ntar malah salah paham."
"Siapa yang salah paham?"
"Orang lewat, yang lihat posisi kita!"
"Bagus dong."
Rayla membulatkan matanya mendengar ucapan Edward, "Bagus darimana nya!?"
Nah, udah mulai ngegas. Edward tersenyum, kemudian makin mendekatkan wajahnya ke wajah Rayla.
Rayla pun sontak memejamkan matanya, ketika merasakan hembusan nafas Edward yang menerpa wajahnya. Sedangkan Edward, nampak menahan senyumnya melihat tingkah Rayla.
"Ayo pulang," bisik Edward di sebelah telinga Rayla, kemudian meniup wajahnya.
Edward menjauhkan wajahnya, ketika Rayla perlahan membuka matanya. Wajah Rayla nampak merah padam, dan Edward suka!
Edward berusaha mati-matian agar tidak tertawa, melihat ekspresi Rayla saat ini.
"Apa!?" tanya Rayla sewot. Sumpah, Rayla malu banget ini!
Edward menggeleng, "Gak papa. Ayo pulang," ucap Edward kemudian langsung menarik tangan Rayla menuju parkiran.
Rayla menurut, kemudian menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu dengan cara berjalan menunduk. Edward yang menyadari hal itu pun menarik dagu Rayla agar mendongak.
"Jangan nunduk jalannya, ntar gue di kira kakak yang habis marahin adiknya."
Rayla merengut mendengar ucapan Edward, kemudian menepis tangan Edward yang ingin mengacak rambutnya.
"Gak usah acak-acak rambut! Ntar gue di kira, habis dari salon tapi enggak sisiran!" ucap Rayla sarkas.
Edward tertawa mendengar ucapan Rayla, yang dimana menarik perhatian pengunjung lain terutama kaum wanita, yang menatap kagum ke arahnya.
"Yaudah, sini gue sisirin rambutnya," ucap Edward, sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Rayla.
Dengan cepat Rayla menghindar, dan melepaskan genggaman tangan Edward. Ia pun langsung berlari menjauh dari jangkauan Edward. Sedangkan Edward, tersenyum. Tak lama kemudian, Ia pun menyusul Rayla yang berada jauh di depannya.