
...'Aku hanya tidak ingin kamu terluka.'...
...----------------...
Rayla berdecak, ketika ponsel yang sedang Ia isi dayanya berdering. Mengganggu acara maraton drakornya saja.
Dengan malas, Rayla mengambil ponselnya yang masih saja berdering. Kening Rayla berkerut, ketika melihat nama Edward yang memanggilnya. Tak lama kemudian, dering ponsel Rayla pun terhenti. Rayla hanya menggidikkan bahunya acuh, salah sambung mungkin, pikirnya. Baru saja Rayla akan menaruh kembali ponselnya, dering telepon kembali masuk dan membuat aktivitas Rayla terhenti.
Dengan beberapa pertimbangan yang telah Ia pikirkan, akhirnya Rayla menjawab panggilan tersebut.
"Selamat malam, dengan saudari Rayla?" sapa seseorang diseberang sana.
Rayla mengernyit, ketika menyadari orang yang tengah berbicara dengannya bukanlah Edward. Dengan ragu, Rayla menjawab sapaan orang tersebut, "Selamat malam. Iya dengan saya sendiri, ada yang bisa di bantu?"
Seseorang diseberang sana menghela nafas, "Kami dari pihak Rumah Sakit Kasih Bunda, ingin menginformasikan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sekarang tengah di tangani oleh dokter di ruang UGD."
Deg!
Jantung Rayla langsung berpacu cepat ketika pihak Rumah Sakit tersebut mengatakan bahwa Edward mengalami kecelakaan.
"Ba-bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Rayla dengan nada suara yang bergetar.
"Pasien saat di bawa kemari sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri, dan dengan tubuh yang berlumuran darah. Untuk kondisi lebih lanjut, kami tidak dapat memberitahu anda secara rinci, karena pasien saat ini tengah ditangani oleh dokter. Jika anda ingin memastikan keadannya, anda bisa datang ke Rumah Sakit langsung."
Rayla dengan cepat mematikan sambungan teleponnya. Dengan tergesa-gesa Rayla bangkit dari kasurnya, dan bersiap dengan secepat kilat. Sebelum Rayla keluar dari kamarnya, Rayla mengabari Rifki bahwa Edward mengalami kecelakaan, dan saat ini tengah berada dalam penanganan dokter.
"Ma, Rayla pamit keluar!" teriak Rayla sembari tergesa menuruni anak tangga.
"Eh, mau kemana kamu?!" pekik Aleta ketika melihat Rayla yang terburu-buru menghampirinya.
"Ke Rumah Sakit, Edward kecelakaan," jelas Rayla dengan raut wajah panik.
"Udah malam Ay, jenguknya besok aja," ucap Aleta.
"Ma--, please. Cuma sebentar aja kok," rengek Rayla
Aleta menghembuskan nafasnya kasar, "Yaudah. Tapi berangkatnya sama Pak Santoso ya!"
Rayla dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Iya. Kalau gitu, Ayla berangkat dulu," ucap Rayla kemudian langsung melenggang pergi setelah berpamitan dengan Mamanya.
Rayla membuka pintu mobil dengan tergesa, ketika Pak Santoso telah memarkir mobilnya di pelataran parkir Rumah Sakit. Rayla berlari dengan tergesa di sepanjang lobby, hingga sampai di depan meja resepsionis.
"Permisi, Ruang UGD ada di sebelah mana?" tanya Rayla sembari menetralkan nafasnya yang memburu karena berlari tadi.
"Dari sini, mbak lurus saja, kemudian nanti belok kiri," jelas resepsionis tersebut.
"Terimakasih," ucap Rayla kemudian bergegas pergi menuju ruang UGD.
Bertepatan dengan Rayla yang sampai di depan ruang UGD, dokter yang menangani Edward juga keluar. Dengan langkah pasti, Rayla menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Edward, dok?" tembak Rayla to the point.
Dokter tersebut meneliti penampilan Rayla dari atas sampai bawah, "Anda keluarga pasien?"
"Saya temannya."
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, "Pasien kehilangan banyak darah, dan memerlukan donor darah segera. Tetapi Rumah Sakit kami, kehabisan kantung darah yang tipe nya sama dengan milik pasien."
Dokter tersebut memperhatikan Rayla, "Baik. Mari ikut saya untuk melakukan beberapa pemeriksaan."
Rayla mengikuti dokter tersebut, dan masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di Rumah Sakit tersebut guna melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah beberapa menit, akhirnya dokter tersebut menyatakan bahwa tipe darah Rayla sama dengan tipe darah Edward. Dan Rayla, juga telah memenuhi syarat seorang pendonor. Tanpa berlama-lama lagi, dokter tersebut langsung melakukan prosedur pendonoran darah.
Mata Rayla terpejam erat, dan meringis menahan sakit, ketika jarum ditusukkan ke lengannya. Setelah beberapa menit, proses pemindahan darah pun usia. Rayla menahan nafasnya, ketika jarum yang tadi menembus kulit lengannya ditarik perlahan. Wajah Rayla langsung pucat ketika melihat bekas suntikan di lengan kanannya. Rayla melirik ke arah pintu yang terbuka, kemudian tertutup, ketika dokter yang menangani Edward keluar, sembari membawa darahnya.
Di lain sisi, Rikfi baru saja sampai di pelataran parkir Rumah Sakit. Dengan tergesa, Rifki berlari masuk ke dalam. Rifki mencegat salah satu perawat yang Ia temui di perjalanan menuju ruang UGD. Sepertinya, Ia perawat yang membantu menangani Edward, pikir Rifki.
"Sus, bagaimana keadaan teman saya?" tanya Rifki khawatir.
"Teman anda yang mana?" tanya suster tersebut dengan raut wajah bingung.
Rifki mengusap wajahnya kasar, "Yang kecelakaan sus, katanya dia masih di tanganin sama dokter di ruang UGD."
Suster tersebut mengangguk mengerti, "Pasien kehilangan banyak darah, dan saat ini dokter tengah melakukan prosedur donor darah pada seseorang yang tadi mengaku sebagai teman korban."
Rifki menyimak dengan seksama, setiap kata yang meluncur dari mulut suster terebut, "Terimakasih sus."
Suster tersebut, tersenyum, kemudian pamit undur diri. Rifki pun melanjutkan langkahnya menuju ruang UGD. Setelah sampai di sana, Rifki melihat dokter yang masuk ke dalam ruang UGD. Rifki pun lebih memilih untuk menunggu di kursi tunggu yang ada di sebelah pintu ruang UGD. Tak lama kemudian, Rayla menghampiri Rifki dengan wajah pucatnya. Rifki yang melihat Rayla pun, sontak langsung bangkit dari kursi yang Ia duduki.
"Lo gak papa, Ay?" tanya Rifki khawatir, ketika melihat wajah pucat Rayla.
Rayla menggeleng, "Gue gak papa."
Rifki menelisik Raya, sebelum perhatiannya terpaku pada sebuah bekas suntikan di lengan Rayla sebelah kanan.
"Lo yang donorin darah buat Edward?" tanya Rifki memastikan.
Rayla mengangguk lemah, "Iya. Tapi jangan bilang sama siapa-siapa. Cukup lo dan dokter aja yang tahu."
Rifki hanya menganggukkan kepalanya, "Lo serius gak papa? Muka lo pucet banget."
Rayla memaksakan sebuah senyum, "Tenang aja. Gue cuma shock."
"Lo gak trauma sama jarum suntik kan, Ay?" tanya Rifki was-was.
Rayla terkekeh ringan, "Iya."
Rifki membulatkan matanya, "Harusnya lo gak usah sampai maksain diri kayak gini, Ay! Astaga," ucap Rifki dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.
"Shut! Ini Rumah Sakit. Lo bisa di usir kalau buat ribut."
Rifki mengacak rambutnya, "Tapi Ay, lo udah tau punya trauma, masih aja maksain buat donorin darah lo ke Edward. Kalau lo sampai kenapa-napa, gimana?"
"Gue cuma gak mau Edward kenapa-napa," cicit Rayla.
Rifki menatap Rayla, "Tapi gak gini juga, Ay."
Rayla hanya tersenyum, kemudian melangkah menuju kursi tunggu yang ada di samping ruang UGD. Rifki mengikuti langkah Rayla, kemudian saat Rayla akan mendudukan dirinya, tiba-tiba Rayla terjatuh pingsan. Dengan sigap Rifki langsung menangkap tubuh Rayla, sebelum menyentuh lantai.
"Suster tolongin temen saya!" teriak Rifki ketika melihat suster yang berada tak jauh dari tempatnya dan Rayla berada.
Rifki membopong tubuh Rayla ke atas brankar yang dibawa oleh salah satu suter. Setelah memastikan posisi kepala Rayla, para suster pun dengan sigap mendorong brankar tersebut guna mendapatkan penanganan. Rifki menghembuskan nafasnya, kemudian merogoh ponsel yang Ia taruh disaku jaketnya, guna mengabari Ayah Edward. Ia belum sempat mengabarinya, karena takut akan berakibat pada jantung Ayah Edward yang baru saja di operasi, beberapa waktu yang lalu. Setelah berpikir sejenak, Rifki pun menekan tombol panggilan pada nomor Ayah Edward. Semoga semuanya baik-baik saja.