Please Feel My Love

Please Feel My Love
Rumah Makan



...'Please, seseorang kasi tahu gue. Kenapa pas gue liat dia sama cowok lain, rasanya kayak ada sesuatu yang mengganjal di hati gue.'...


...----------------...


Edward tiba di apartemennya dengan waktu yang lebih singkat dari biasanya. Tentu saja, karena di jalan tadi Ia mengendarai motornya seperti orang yang kesetanan. Bahkan banyak umpatan dari pengendara lain yang di tujukan kepada Edward.


Setelah membuka pintu apartemennya dan melempar asal tas sekolahnya, Edward berjalan dengan cepat menuju dapur dan membuka kulkasnya kemudian mengambil minuman kaleng yang dingin. Ia membukanya dengan cepat kemudian langsung meneguknya. Ia melempar kaleng minuman tersebut ketika isinya sudah tandas Ia minum.


"Gue kenapa sih?" tanya nya pada dirinya sendiri. Ia sudah meminum satu kaleng minuman dingin, tetapi kenapa Ia masih merasa panas?


"Apa gue sakit ya?" tanya Edward kembali pada dirinya. Karena ingin memastikan, Ia pun pergi ke kamarnya kemudian mengacak-acak laci yang ada di dekat tempat tidurnya untuk mencari benda yang bisa mengukur suhu tubuh manusia. Ya apalagi kalau bukan termometer.


Setelah Edward menemukan barang yang Ia cari, Ia pun langsung mengecek suhu tubuhnya. Dan Ia menatap tak percaya pada angka yang di tunjukkan oleh termometer tersebut. Bagaimana tidak, angka pada termometer tersebut menunjukkan angka 37° Celcius. Yang di mana artinya suhu tubuhnya masih normal, tidak panas alias tidak sakit.


"Jadi sebenarnya gue kenapa?" erang Edward frustasi.


Jika Edward saat ini merasa frustasi dengan keadaan tubuhnya yang tidak Ia mengerti, di lain tempat Rayla sedang menatap jengah Sam yang tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Lo apa-apaan sih tadi?!" Rayla bertanya dengan nada yang tidak santai, sedangkan Sam menengok sebentar ke arah Rayla kemudian kembali lagi fokus ke arah depan. Kalo gak nengok ke depan lagi bahaya, bisa-bisa mobilnya nyungsep ke got!


Sam terkekeh sebelum menjawab, "Emang gue ngapain tadi?"


"Gak usah pura-pura lupa ingatan deh lo!"


"Serius nanya, gue emangnya ngapain tadi?" tanya Sam dengan senyum menggoda.


"Ngapain lo rangkul-rangkul gue?!" tanya Rayla penasaran.


"Ow itu, emang kenapa?"


Bukannya menjawab malah balik bertanya, dasar Sam!


"Lo buat orang lain salah paham tau gak sih?!" ucap Rayla geregetan.


"Edward maksud lo?" tanya Sam tidak suka.


"Bu-bukan," jawab Rayla gelagapan.


"Terus?" tanya Sam.


"Ya anak-anak yang lain," jawab Rayla ragu.


"Gue gak masalah tuh kalau mereka salah paham," jawab Sam enteng.


"Iya lo gak masalah, tapi gue yang bakal kena masalah!" ucap Rayla.


"Kena masalah gimana?" tanya Sam tidak mengerti.


"Lo itu Ketua OSIS di sekolah, pasti fans lo banyak. Gue gak mau ya kena bully gara-gara lo rangkul gue tadi!" ucap Rayla menjelaskan. Sam tertawa mendengar ucapan Rayla.


"Lah ini anak sehat enggak sih? Di kasi tau yang serius malah ketawa, au ah lier pala aing!" gerutu Rayla dalam hati.


"Lo tenang aja, selagi ada gue gak bakal ada yang berani bully lo kok," jawab Sam menenangkan.


"Kata-kata yang klise di ucapin sama laki-laki di novel," jawab Rayla.


Sam tertawa mendengar ucapan Rayla, "Lo suka baca novel?"


"Banget!" seru Rayla antusias.


"Kalau gitu nanti malem gue ajak lo ke gramedia buat beli novel, mau gak?" tanya Sam.


"Ok, nanti gue jemput jam tujuh. Udah harus rapi, gak usah dandan yang cantik-cantik ntar laki-laki yang ada di sana pada jelalatan," ucap Sam tidak ingin di bantah.


"Dasar tukang paksa!" cibir Rayla.


"Kalau gue gak maksa lo mana mau, iya kan?"


"Iya," Rayla mengangguk polos.


"Nah ya udah, gue maksa biar lo mau ikut gue ke gramedia ntar malem."


"Iya-iya, terserah Pak Ketua. Gue yang rakyat ngikut," jawab Rayla malas.


"Lo mau mampir makan dulu gak?" tanya Sam ketika matanya tak sengaja melihat tempat makan yang tak jauh di depan sana.


"Enggak, langsung pulang aja," jawab Rayla.


"Tapi gue laper, temenin gue makan dulu ya," pinta Sam.


"Ya udah, daripada gue di turunin di tengah jalan," jawab Rayla pasrah.


Sam tersenyum, kemudian membelokkan mobilnya memasuki area parkir rumah makan yang Ia maksud tadi. Setelah memastikan mobilnya terparkir rapi sesuai tempatnya, Ia pun membuka safe belt nya. Rayla pun ikut membuka safe belt nya kemudian turun dari dalam mobil Sam yang di ikuti oleh Sam.


Mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki rumah makan yang lumayan ramai pengunjung itu, setelah duduk di salah satu meja yang kosong. Sam pun melambaikan tangannya ke arah pelayan yang bekerja di rumah makan tersebut.


"Silakan mas, mbak, ini daftar menunya," ucap pelayan tersebut sembari menaruh kertas menu di hadapan Sam dan juga Rayla.


Setelah melihat-lihat menu dengan berbagai macam makanan dan juga minuman yang menggugah selera, akhirnya Rayla memutuskan untuk memesan gurame asam manis plus nasi putih dan untuk minumnya Rayla memilih es jeruk. Sedangkan Sam memilih untuk menyamakan pesanannya dengan Rayla.


Setelah di catat dan juga di bacakan kembali oleh pelayan rumah makan tersebut, pelayan tersebut langsung pamit undur diri.


"Lo suka gurame?" tanya Sam memulai percakapan di antara mereka.


"Enggak terlalu, cuma lagi pengen makan ikan gurame aja," jawab Rayla seadanya.


"Ngomong-ngomong lo suka novel genre apa?" tanya Sam setelah beberapa saat hening di antara mereka, tetapi hingar bingar dari pengunjung lain masih terdengar.


"Genre apa aja yang penting ceritanya menarik, seru dan bermanfaat," jawab Rayla antusias.


"Kalau horor?" tanya Sam penasaran.


"Boleh, asalkan nanti gak ada serem-seremnya," jawab Rayla enteng.


"Gimana jalan ceritanya genre horor tapi enggak ada seremnya?" tanya Sam tak habis pikir.


"Ya, mana gue tau. Lo kan nanya, ya udah gue jawab."


"Iya lo jawab, tapi setidaknya jawabannya yang masuk akal dong. Masak genre horor enggak ada seremnya," ucap Sam.


"Masuk akal kok jawaban gue, coba deh lo kasi tau gue dari segi mananya jawaban gue enggak masuk akal," ucap Rayla santai.


"Dari segi bujur sangkar," jawab Sam geregetan.


"Lo liatnya dari segi bujur sangkar sih, coba deh lo liat dari segi lima pasti masuk akal jawaban gue."


Sudahlah, Rayla sepertinya tengah lapar. Yang menyebabkan otaknya sedikit agak eror, beruntung pelayan dari rumah makan tersebut datang ke meja yang Sam dan Rayla tempati untuk mengantarkan pesanan mereka. Jadi Sam tidak perlu bersusah payah untuk mencari jawaban untuk menanggapi ucapan Rayla barusan.


Setelah makanan sampai, Rayla pun langsung memakan makanannya dengan lahap. Weh gurame asam manis berhasil membuat nafsu makannya meningkat drastis. Sedangkan Sam hanya menggelengkan kepalanya melihat Rayla yang memakan makanannya dengan lahap, tidak mau ketinggalan Ia pun langsung memakan makanan yang sudah ada di hadapannya.