Please Feel My Love

Please Feel My Love
OTW Sekolah



...'Jangan pernah menanggap sepele masalah hati, karena nyatanya masalah hati sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-harinya.'...


...----------------...


Hari sudah berganti, sang mentari sudah menampakkan dirinya untuk menjalankan tugasnya menyinari bumi. Sebagian besar orang sudah berhenti menyelam di dunia mimpi, dan memulai aktivitas mereka di pagi hari. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis yang saat ini tengah memakan sarapannya bersama kedua orang tuanya.


"Kamu berangkat bareng Devan lagi ya Ay, Papa hari ini ada meeting penting," ucap Papa Rayla sembari menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Rayla menggeleng mendengar ucapan Papanya, "Enggak mau!"


"Terus kamu mau berangkat bareng siapa? Pak Santoso kan lagi cuti," tanya Mamanya angkat bicara.


"Ayla nanti berangkat bareng temen Ayla," ucap Rayla sembari meminum susunya yang tinggal setengah gelas.


"Cewek atau cowok?" tanya Papanya menyelidik.


"Cowok," jawab Rayla sekenanya.


"Cowok yang waktu itu ke sini malam-malam ya Ay?" tanya Papanya sembari mengerling jahil.


"Bukan, ini beda. Dia ketua OSIS di sekolah Ayla," ucap Rayla menjelaskan.


"Wah hebat kamu Ay, murid baru bisa berangkat bareng sama ketua OSIS di sekolah kamu," ucap Papanya sembari terkekeh. Sedangkan Mamanya hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang tengah menggoda Rayla.


Rayla mendengus mendengar ucapan Papanya, "Papa gak usah aneh-aneh deh."


"Papa enggak aneh-aneh kok Ay, cukup kamu aja yang aneh teriak-teriak kalau lagi nonton YouTube."


"Ayla gak aneh ih, orang di YouTube di tampilin muka-muka pangeran masak Ayla gak teriak?"


Baru saja Papanya ingin membalas ucapan Rayla, suara istri tercintanya malah memotong ucapannya.


"Ingat umur Pa, kamu udah gak muda lagi," ucap Mamanya yang seakan tau apa yang akan di katakan oleh suaminya itu.


Rayla terkekeh mendengar ucapan Mamanya, sedangkan Papanya mendengus mendengar ucapan istri tercintanya.


"Papa walaupun udah berumur, tetep aja gak kalah ganteng sama pangeran-pangeran yang ada di handphone Ayla tau Ma," protes suaminya.


Di tengah perdebatan yang terjadi di keluarga itu, tiba-tiba bel rumah berbunyi yang menandakan ada tamu yang datang.


"Biar Ayla aja yang bukain pintunya Ma," ucap Rayla ketika melihat Mamanya akan bangkit dari kursi yang di duduki nya. Mamanya hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali ke posisinya semula.


Rayla dengan sigap bangkit dan berjalan menuju pintu utama rumahnya, dan ketika pintu sudah terbuka nampak Sam yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Pagi," sapa Sam dengan senyumannya ketika melihat Rayla yang membukakannya pintu.


"Pagi, langsung berangkat sekarang atau mau mampir masuk ke dalam dulu?" tanya Rayla.


"Langsung berangkat aja, lo gak mau telat kan? Kalau gue sih, ok ok aja. Mau telat atau enggak," ucap Sam bergurau.


Rayla memutar bola matanya malas menanggapi ucapan Sam, "Ya udah. Lo tunggu di sini bentar, gue mau ngambil tas sama pamit ke ortu gue dulu."


Sam hanya menganggukkan kepalanya. Rayla pun segera masuk kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil tasnya dan juga berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Siapa Ay?" tanya Mamanya ketika melihat Rayla yang akan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Temen Ayla Ma," jawab Rayla yang hanya di jawab anggukan oleh Mamanya. Ia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju kamarnya.


"Hati-hati di jalan," ucap Mamanya yang hanya di jawab jari berbentuk 'O' oleh Rayla.


"Yuk berangkat," ajak Rayla ketika Ia sudah berada di hadapan Sam.


"Berangkat kemana?" tanya Sam jail.


"Kuburan Mak Lampir!"


"Astaga, mainnya ke tempat yang elit kek. Malah ke kuburan, gak takut ketemu mbak kunti?"


"Takut lah!" ucap Rayla.


"Terus kenapa lo mau ke kuburan hmm?" tanya Sam sembari menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi Rayla.


"Entah, udah ah ayok berangkat. Ntar telat ga asik, masak ketua OSIS telat," ucap Rayla kemudian berjalan menuju mobil Sam yang terparkir di dekat gerbang rumahnya.


"Kok lo bawa mobil, gak motor?" tanya Rayla ketika Ia dan Sam sudah di perjalanan menuju sekolah mereka.


"Tadi mendung, gue takutnya hujan. Ya udah gue bawa mobil," ucap Sam sembari fokus mengemudi.


Rayla mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Sam. Ia pun memfokuskan dirinya untuk men scroll layar handphonenya, sedangkan Sam fokus mengemudi. Terlalu asik menyelam di dunia maya, hingga akhirnya Rayla tak menyadari mobil yang di kendarai oleh Sam sudah masuk ke area parkir sekolahnya.


"Lo mau tetep di sini atau turun?" tanya Sam ketika Ia sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


"Turun lah," jawab Rayla cepat.


"Ya udah ayok," ajak Sam kemudian melepaskan seat belt nya.


Rayla mengangguk dan ikut melepaskan seat belt nya. Mereka berdua pun turun bersamaan, dan langsung menjadi pusat perhatian. Bisik-bisik tetangga pun mulai terdengar dan juga berbagai macam tatapan tertuju secara terang-terangan ke arah mereka. Ada yang menatap mereka dengan antusias, berbinar, sinis, bahkan tatapan tajamnya sekaligus.


Tanpa Rayla sadari, sedari tadi ada yang mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan tajam miliknya. Edward, laki-laki itu menatap tajam punggung Rayla dan juga Sam yang saat ini berjalan beriringan di tengah koridor sekolah. Rifki yang melihat itu hanya tersenyum jahil.


"Yah ada yang kecolongan start nih," ucap Rifki menggoda Edward.


Edward berbalik menatap Rifki dengan tatapan dinginnya, "Gak usah banyak omong!"


"Saran gue, kalo tertarik jangan gengsi!" ucap Rifki.


"Gue tertarik? Mimpi lo," ucap Edward sengit. Jilat ludah sendiri, tau rasa lo!


"Gue si cuma ngingetin ya, daripada ntar lo panas sendiri," ucap Rifki sembari tersenyum penuh arti.


"Maksud lo?" tanya Edward dengan kening yang berkerut bingung.


"Gue denger-denger sih, Rayla kenal sama Sam udah lumayan lama. Mereka kenal pas Rayla baru-baru pindah dari Amerika, jadi gak menutup kemungkinan bentar lagi bakal ada kabar. Ketua OSIS SMA Fulminans Zapota, jadian sama Effie Rayla Zefanya murid baru pindahan dari Amerika," ucap Rifki santai.


Edward diam mencerna ucapan yang Rifki katakan, kemudian Ia terkekeh.


"Sok tau banget lo, emangnya lo tau dari mana?" tanya Edward tidak percaya. Hey ayolah, Rifki kan tidak pernah membawa berita yang kebenarannya teruji. Jadi wajar saja kan kalau Edward ragu.


"Dih di kasi tau enggak percaya. Lo lupa gue tuh salah satu anggota OTR?" tanya Rifki.


Edward menggidikkan bahunya acuh mendengar ucapan Rifki, Ia pun lebih memilih untuk berlalu menuju ruang kelasnya daripada memikirkan ucapan Rifki barusan. Sudah Edward katakan tadi bukan, Rifki tidak pernah membawa berita yang kebenarannya teruji. Jadi Edward tidak mau ambil pusing dengan memikirkan semua ucapan Rifki barusan.