
...'Menjaga sesuatu sangatlah penting, apalagi jika itu bukanlah hak milik kita.'...
...----------------...
Edward berjalan bolak-balik di dalam kamarnya, Ia nampak tengah memikirkan sesuatu.
"Apa gue balikin sekarang aja ya saputangannya?" tanya Edward kepada dirinya sendiri. Ia memandang lekat saputangan yang kini tengah Ia genggam menggunakan tangan kanannya.
Setelah melewati perdebatan panjang antara otak kanan dan otak kirinya, akhirnya Edward memutuskan untuk pergi ke rumah Rayla guna mengembalikan saputangan miliknya.
Edward dengan segera menyambar jaket, handphone, serta kunci motornya yang tergeletak di meja ruang tamunya. Ia pun melangkah menuju pintu apartemennya dan menguncinya dengan password yang baru agar Rifki nanti tidak bisa semena-mena lagi masuk ke dalam apartemennya dan menghabiskan semua chiki yang Edward punya.
Ngomong-ngomong masalah chiki, kemarin ketika Edward pulang dari ziarah ke makam Bundanya chiki miliknya sudah ludes di makan oleh Rifki. Padahal rencananya, Edward akan menjadikan chiki itu sebagai temannya untuk mengerjakan soal-soal latihan untuk persiapan Ujian Nasional nya nanti. Tetapi dasar Rifki, Ia dengan prinsip ambil satu tambah sepuluh nya malah menghabiskan semua chiki milik Edward.
Setelah memastikan pintu apartemennya terkunci dengan rapat, Edward langsung pergi melangkahkan kakinya menuju basement apartemennya. Dan tak lama kemudian motor yang Ia kendarai sudah berbaur dengan para pengendara lainnya menembus dinginnya udara malam.
Edward menatap pagar yang menjulang di hadapannya dengan ragu, Ia sudah sampai di rumah Rayla dari lima menit yang lalu. Tapi Ia masih ragu untuk masuk ke dalam dan menyampaikan maksudnya untuk bertemu Rayla.
Edward berjingkat kaget ketika mendengar suara klakson mobil tepat di belakangnya, Ia menoleh ke arah belakang untuk mengetahui siapa orang yang ada di balik kemudi mobil tersebut.
Edward mengerutkan keningnya bingung ketika melihat seorang pria paruh baya yang turun dari dalam mobil yang berhenti tak jauh dari tempat Ia memarkirkan motornya.
"Kamu cari siapa?" tanya pria itu ketika sudah sampai di hadapan Edward.
Edward langsung gelagapan ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir pria paruh baya yang ada di hadapannya.
"Kamu teman anak saya?" tanya pria itu kembali ketika dirinya tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaan nya yang pertama.
"Anak om namanya siapa?" tanya Edward gagal paham.
"Effie Rayla Zefanya," jawab pria yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah Rayla.
"Ah iya om, saya temannya Rayla," ucap Edward sembari tersenyum canggung.
"Kenapa kamu diam di sini, tidak langsung masuk ke dalam?''
Edward memutar otaknya guna mencari alasan yang tepat kenapa dirinya hanya berdiam diri di luar pagar tanpa masuk ke dalam. Beruntung karena seorang satpam datang dan langsung membukakan pagar guna mempersilakan tuan rumahnya untuk masuk.
Edward bernafas lega ketika Ayah Rayla tidak lagi menanyakan alasan kenapa Ia berdiam diri seperti patung selamat datang di depan pagar rumahnya.
"Ayo masuk ke dalam," ajak Ayahnya Rayla kepada Edward.
"Iya om," jawab Edward sopan.
"Kamu duduk dulu di sini, om panggilkan Rayla dulu."
"Terimakasih om, maaf merepotkan," ucap Edward merasa tidak enak.
Ayah Rayla hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian langsung melangkah menuju kamar Rayla guna memberitahunya bahwa ada temannya yang datang berkunjung.
"Ay, ada temen kamu tuh di bawah," ucap Papanya ketika sudah sampai di kamar Rayla.
"Temen? Siapa?" tanya Rayla bingung, siapa juga temannya yang mau bertamu malam-malam.
"Enggak tau, mending kamu samperin ke bawah deh. Kasian dia lama nunggu," ucap Papanya.
"Ya udah Ayla samperin dulu," ucap Rayla kemudian bangkit dari kursi meja belajar yang Ia duduki sebelumnya.
"Kayaknya dia ngapel deh Ay, sekarang kan malam minggu," ucap Papanya dengan kerlingan jahilnya.
"Iya cowok, ganteng lagi. Tapi masih gantengan Papa sih," ucap Papanya pede.
Rayla memutar bola matanya malas ketika mendengar ucapan Papanya.
"Ingat umur Pa!"
"Umur Papa masih muda."
"Iya masih muda kalo di hitung pakai kalender bangsa vampir!"
"Boleh juga saran kamu Ay, ngomong-ngomong di jual di Shopee gak ya kalender vampir yang kamu maksud itu?"
"Udah ah, Papa makin ngaco aja. Ayla mau nemuin temen Ayla dulu, kasian udah lama nunggu," ucap Rayla kemudian dengan segera melangkah keluar menuju ruang tamu. Karena jika tidak segera, maka perbincangan dirinya dan Papanya tidak akan berakhir dalam waktu yang dekat.
Rayla memicingkan matanya ketika dirinya merasa familiar dengan sosok yang sekarang tengah duduk di sofa ruang tamunya.
"Ngapain lo ke sini malem-malem?" tanya Rayla ketika dirinya sudah ada di dekat Edward.
Edward mendongak untuk dapat melihat Rayla, kemudian menjawab, "Ada perlu."
"Perlu apa? Jangan bilang lo mau ngajak gue jalan? Sorry ya, gue mau rebahan cantik aja di rumah," ucap Rayla dengan penuh percaya diri kemudian duduk di atas sofa yang tidak jauh dari tempat Edward duduk.
Edward mendengus mendengar jawaban Rayla, siapa juga yang ingin mengajaknya jalan. Ia kesini hanya ingin mengembalikan saputangan saja, tidak lebih.
"Gak usah kepedean! Gue ke sini cuma mau bilang makasih plus mau ngembaliin saputangan punya lo," ucap Edward sembari menyodorkan saputangan milik Rayla.
"Yeay, saputangan kesayangan gue akhirnya balik!" seru Rayla.
"Udah tau saputangan kesayangan, masih juga di kasi ke orang. Masih untung gue orangnya bertanggung jawab, coba aja kalau gak. Udah gue buang saputangan lo!" ucap Edward.
Rayla memutar bola matanya malas, "Suka-suka gue lah! Yang punya kan gue bukan lo, lagian awalnya gue udah ikhlas ini saputangan ilang dengan membawa kebaikan. Eh tau-taunya masih lo simpen, dan lo balikin ke gue."
"Kalo gitu gue pulang dulu," ucap Edward seraya bergegas untuk bangkit dari sofa yang Ia duduki. Tetapi niatnya Ia urungkan ketika mendengar pertanyaan Rayla.
"Lo ke sini cuma mau balikin saputangan gue doang?"
Edward mengangguk sebagai jawabannya.
"Kenapa gak lo kasi di sekolah aja?"
"Gue gak mau jadi bahan ghibah satu sekolah cuma karena gue ngasi lo saputangan di sekolah," ucap Edward.
Rayla menganggukkan kepalanya tanda paham akan apa yang di maksud oleh Edward.
"Gue pulang dulu, salam sama bokap nyokap lo," ucap Edward seraya bangkit dari sofa yang Ia duduki.
"Hati-hati, malem minggu kayak gini biasanya setan-setan pada jalan-jalan nyari pacar. Gue gak mau besok denger kabar kalo lo di culik salah satu setan yang udah gak kuat ngejomblo," ucap Rayla dengan nada yang di buat serius.
Edward menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rayla.
"Ada-ada aja lo," jawab Edward.
"Dih di bilangin gak percaya," gumam Rayla. Ia pun mengikuti langkah Edward menuju pintu utama rumahnya.
Rayla memperhatikan Edward yang kini tengah memasang helmnya, setelah terpasang Edward pun dengan segera men starter motornya kemudian melajukannya ke arah apartemennya. Ketika motor yang Edward kendarai sudah tak dapat di tangkap oleh retina matanya, Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya. Mengingat hari yang semakin malam, Ia takut ucapan yang tadi Ia ucapkan kepada Edward malah menimpa dirinya. Kan gak asik!