
*Semuanya berawal dari ikatan pertemanan, mungkin kita hanya dipertemukan tetapi tidak untuk di persatukan. Hanya menjadi pelabuhan persinggahan bukan sebuah ketetapan. Tidak usah tergesa-gesa untuk melupakan, biarkan waktu yang mengambil alih keadaan dan memudarkan rasa yang dulu pernah tertanam. Bertahan bersamamu selama ini membuat aku paham apa itu meminum racun secara perlahan, yang pada akhirnya akan membunuhku suatu saat nanti. Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku untuk selalu ada di sisi mu. Maafkan aku yang terlalu mengharapkan sebuah balasan perasaan. Pada akhirnya aku berada di titik di mana mengikhlaskan mu adalah sebuah pilihan yang harus aku ambil. Pergilah, kejar Ia yang selama ini menjadi sebab tawamu di bumi. Biarkan aku tetap tinggal dengan rasa yang sebisa mungkin aku tanam jauh di dalam relung hatiku. Karena kamu akan selalu menjadi Raja di dalam hatiku sampai kapanpun. Aku berharap semoga kau selalu bahagia dengannya tanpa adanya bayang-bayang ku di hidupmu lagi. Terimakasih untuk semua kenangan yang telah kamu ukir, aku harap dengan kepergian ku kamu akan lebih senang.
Manusia yang mendamba balasan perasaan, Rayla*.
Lelaki berambut hitam kecoklatan itu mematung di tempatnya setelah usai membaca sepucuk surat yang di berikan oleh asisten rumah tangganya kemarin. Ya surat itu sudah di berikan kemarin tetapi baru sempat Ia baca malam hari ini karena kemarin Ia harus segera pergi untuk menemani kekasihnya yang baru resmi menjalin hubungan dengannya 2 minggu yang lalu. Ia tidak menyangka bahwa Rayla sahabatnya menaruh perasaan lebih kepadanya. Memorinya berputar menampilkan kilasan kejadian yang sudah Ia dan Rayla lalui bersama, gadis itu adalah gadis yang selalu ada disisinya. Menemaninya di saat Ia membutuhkan dukungan, selalu mendukung apapun keputusan yang Ia pilih. Dengan segera Edward bangkit dari duduknya dan menyambar kunci motor sekaligus jaketnya. Ia menuruni anak tangga dengan langkah yang tergesa-gesa tujuannya hanya satu rumah Rayla.
Asisten rumah tangganya yang melihat anak majikannya menuruni tangga dengan tergesa-gesa merasa heran dan akhirnya bertanya, "Mau kemana Den malam-malam begini?."
Edward melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata, harapannya hanya satu semoga Rayla belum pergi meninggalkannya. Tetapi harapannya pupus ketika Ia tiba di depan gerbang rumah Rayla, suasana rumahnya yang sepi dan hanya lampu yang ada di halaman rumahnya saja yang menyala semakin meyakinkan Edward bahwa Rayla telah meninggalkannya pergi. Ia turun dari atas sepeda motornya dan menatap kosong rumah Rayla.
Menyesal, itu yang Edward rasakan, menyesal karena dirinya tak sanggup mengungkapkan yang sebenarnya. Kenapa Rayla sangat pintar untuk menyimpan rahasia? Kenapa Ia sangat pintar menyembunyikan lukanya? Tanpa Edward sadari air mata yang sedari tadi Ia tahan akhirnya perlahan turun melewati pipinya, dadanya sesak mengetahui fakta bahwa Rayla telah pergi meninggalkannya. Perlahan tubuhnya luruh dan jatuh terduduk di atas tanah. Apa yang Rayla tulis? Bahagia tanpa adanya dia di sisinya? Bahkan Edward tidak pernah membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Rayla di sisinya.
"Please don't leave me Rayla," lirih Edward dengan mendekap surat yang Rayla titipkan.