Please Feel My Love

Please Feel My Love
Misi Dari Rian



...'Memang kita mampu untuk membeli sesuatu, tetapi sesuatu yang gratis itu rasanya lebih mantul dan yang paling penting uang di kantong tetap aman.'...


...----------------...


Saat ini keadaan kelas XII IPA 2 sangatlah memprihatinkan, bagaimana tidak banyak penghuni kelasnya yang berubah profesi menjadi pengamen dadakan. Itu semua terjadi karena Sean memberi tahu kepada teman-temannya bahwa sampai jam pulang nanti tidak akan ada guru yang mengajar, karena guru-guru sedang mengadakan rapat.


"Guys, nonton film horor yuk!" ajak Rian dengan semangat. Tetapi tidak ada yang menanggapinya, siswa yang lain tetap sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing tanpa memperdulikan seruan Rian.


"Ngenes banget lo kagak ada yang nanggepin!" ucap Rifki dengan tertawa lepas.


"Maaf, anda dari kelas mana ya? Kok nyasar ke sini?" tanya Rian dengan raut muka yang menyebalkan.


"Sialan lo!" umpat Rifki.


"Kok kamu nge-gas sih? Aku nanya nya baik-baik loh ini."


"Geli gue sumpah! Apaan aku kamu, biasanya juga lo gue!"


Rian terkekeh kemudian menjawab, "Biar beda aja gitu rasanya."


"Biar ada manis-manisnya ya?"


"Itu mah iklan kali!"


"Ya kan mirip!"


"Mirip apaan!"


"Biar beda rasanya!"


"Serah Rif serah!"


"Yaelah gak asik banget si lo, gitu aja ngambek!" ucap Rifki meledek Rian.


"Mana ada gue ngambek, emang gue cowok apaan!" jawab Rian tidak terima.


"Hati-hati tuh Rian tukang kibul!" celetuk Dean yang kebetulan ada di dekat mereka.


Rifki sontak menyemburkan tawanya mendengar celetukan Dean, bagaimana tidak seusai mengatakan kalimat tersebut Dean langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan wajah Rian yang berubah kesal.


"Udah puas ngetawainnya?" tanya Rian dengan wajah kesalnya yang amat kentara.


"Belum!" jawab Rifki kemudian melanjutkan tawanya kembali.


Rian hanya mendengus kesal melihat Rifki yang sepertinya gila nya sedang kambuh kali ini. Tunggu-tunggu gilanya Rifki kambuh? Bukannya dia memang gila ya?


"Udah ah, lo ketawa mulu dari tadi bosen gue dengernya!" ucap Rian yang sudah jengah mendengar suara tertawa milik Rifki.


"Daripada gue nangis-nangis ya mendingan gue ketawa dong!"


"Tapi gue lebih seneng liat lo nangis daripada ketawa!"


"Lo temen siapa sih sebenernya?"


"Yang jelas semua penghuni sekolah ini adalah temen gue kecuali lo tentunya!" jawab Rian yang berhasil membuat Rifki melotot ke arahnya.


"Berani lo ngomong gitu?"


"Ya beranilah, buktinya gue udah ngomong gitu!"


"Dah lah, debat sama lo gak ada faedahnya. Mending godain cewek yuk!" ajak Rifki dengan antusias.


"Mana ada yang mau di godain sama lo! Tampang setara cicak aja bangga lo!"


"Wah-wah lo meremehkan pesona seorang Rifki Myron Deswara." ucap Rifki angkuh sembari menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jarinya sendiri.


"Gue baru tau loh Rif nama panjang lo," ucap Rian dengan polos.


"Kenapa keren yak?"


"Iya nama lo keren, tapi sayang pemilik namanya mengecewakan!"


"Sebenernya lo ada masalah apa sih Yan sama gue?"


Rian hanya menggidikkan bahunya acuh, tanpa menjawab pertanyaan yang Rifki lontarkan.


"Ditanya bukannya di jawab malah kaya anak epilepsi yang lagi kambuh!" ucap Rifki yang kesal akibat Rian yang tak menjawab pertanyaannya.


"Kagak!"


"Lo mau godain cewek kan tadi?" tanya Rian.


"Iya!" jawab Rifki dengan antusias sembari menganggukan kepalanya.


"Gue ada tantangan nih buat lo," ucap Rian sembari tersenyum miring. Rifki yang melihat Rian tersenyum miring bukannya takut malah sebaliknya, Ia sangat antusias dengan tantangan Rian. Beda hal nya jika Edward yang tersenyum miring, bisa di pastikan Rifki akan mendapatkan bencana saat itu juga.


"Lo harus bisa dapetin nomornya Rayla," ucap Rian.


Rifki mengerutkan keningnya bingung, "Kenapa harus nomornya Rayla?"


"Gue mau kasi nomornya ke Sean buat di masukin ke grup kelas kita,"


"Tinggal minta sendiri aja lo ribet bener!"


"Kagak seru lah, kagak ada tantangannya."


"Terus kalo gue berhasil dapetinnya?"


"Gue traktir lo besok di kantin,"


"Ini serius kan, lo gak lagi ngeprank gue kan?"


"Kagak elah, tapi syaratnya lo gak boleh ngasi tau tujuan sebenernya. Lo cari alasan lain pokoknya,"


"Ahsiap, masalah kecil itu mah."


"Oh iya, dan kalo lo gak berhasil lo yang harus traktir gue besok."


Rifki hanya menunjukkan jari jempolnya, kemudian berjalan mendekati Rayla yang saat ini tengah duduk di bangkunya sembari memainkan handphonenya.


"Semoga dapet nomornya, kan mayan buat irit uang jajan besok." gumam Rifki.


"Halo neng cantik," sapa Rifki kepada Rayla dan langsung duduk di bangku Vika yang sedang kosong. Entah di tinggal kemana oleh penghuninya itu.


Rayla memandang Rifki dengan raut wajah yang bingung.


"Kalo di sapa ya balik sapa atuh neng, jangan cuma di liatin gue tau kok gue ganteng." ucap Rifki dengan PD nya.


Rayla memutar bola matanya malas, "Ngapain lo?"


"Ahay, akhirnya di ajak ngobrol juga sama neng cantik."


"Salah minum obat lo ya?" tanya Rayla bingung.


"Gue sehat walafiat kok,"


"Terus?"


"Terus apanya?"


"Ngapain lo di sini?"


"Owh itu," jawab Rifki cengengesan, Rayla menatapnya jengah.


"Tukeran nomor handphone yuk!" ucap Rifki tanpa keraguan.


Rayla melongo mendengar ucapan Rifki, "Lo serius gak salah minum obat kan ini?"


"Di bilangin gue sehat walafiat, kenapa lo malah nanyain gue salah minum obat mulu si?"


"Habisnya gak ada gerangan, lo tiba-tiba minta tukaran nomor handphone."


Rifki menggaruk tengkuknya, Ia sedang mencari alasan untuk memuluskan jalannya agar bisa mendapatkan nomor handphone Rayla. Baru saja Ia ingin menjawab pertanyaan Rayla, tiba-tiba seseorang menarik tangannya untuk segera bangkit dari tempat duduk Vika.


Rifki memekik terkejut, pasalnya orang yang menariknya sungguh tidak berperikemanusiaan. Hampir saja Rifki terjungkal jika Ia tidak bisa menjaga keseimbangannya. Dengan wajah kesal dan umpatan yang sudah Ia susun di dalam hati, Rifki membalikkan badannya dan bersiap untuk menyemprot pelaku penarikan paksa dengan rentetan umpatannya.


Tetapi setelah berbalik, Ia mengurungkan niatnya. Di hadapannya saat ini berdiri sosok Edward dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak apa artinya.


"Mau protes?" tanya Edward sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Engga kok engga!" jawab Rifki gelagapan.


Tanpa aba-aba Edward langsung menyeret Rifki keluar kelas, Rifki yang mendapatkan serangan dadakan pun terlonjak kaget tetapi tak urung juga Ia mengikuti kemana langkah Edward akan membawanya pergi. Sedangkan Rayla menatap kepergian Rifki dan Edward dengan raut wajah bingung, tetapi Ia tak mengambil pusing kemudian Ia kembali memainkan handphone nya guna melanjutkan acara scroll instagramnya yang sempat tertunda tadi. Sedangkan Rifki sedang mengumpat dalam hati, gara-gara Edward Ia gagal mendapatkan nomor handphone Rayla dan juga traktiran dari Rian. Kalau begini ceritanya, besok Rifki lah yang harus mentraktir Rian karena Ia gagal menjalankan misinya untuk mendapatkan nomor handphone Rayla. Edward benar-benar menyebalkan!