Please Feel My Love

Please Feel My Love
Dance Floor



...'Biarkan aku egois untuk kali ini saja.' ...


...----------------...


Drama yang di bawakan oleh anggota dari Klub Drama, telah usai dipentaskan. Acara selanjutnya, adalah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa-siswi yang hadir pada malam ini.


"Okey. Selanjutnya kita bakalan berpindah ke acara yang paling di tunggu-tunggu, oleh semua pasangan yang hadir pada malam ini," ucap sang host malam ini.


"Kira-kira, acara selanjutnya apa yaa?"


"Dansa!" sorak penuh semangat dari seluruh audience yang hadir di sana.


"Widih, pada semangat semua ya. Gimana, untuk para jomblowan dan jomblowati, masih ingin mempertahankan status jomblonya?"


"Sebenernya bukan masalah mempertahankan status jomblonya atau enggak, cuma emang gak ada yang mau aja!" curhat salah satu jomblo yang berdiri di depan panggung.


"Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan kata yang lazim di ucapkan kepada orang-orang yang tengah diterpa masalah--, yang sabar ya kak."


"Daripada kita galau di acara yang special ini, mendingan kita mulai acara selanjutnya. Untuk para pasangan yang ingin turun ke dance floor saya persilakan."


Semua pasangan yang hadir pun berbondong-bondong untuk menuju dance floor. Tak terkecuali, Rayla dan Edward, yang bersama pasangannya masing-masing.


Setelah semua pasangan yang hadir berkumpul di dance floor sang host pun membacakan aturan mainnya.


"Baik, karena seluruh pasangan yang hadir pada malam ini sudah berkumpul, saya akan membacakan peraturannya. Pertama, para pasangan akan berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Kedua, jika musik berganti, semua pasangan harus melepaskan pasangan mereka masing-masing, dan mencari pasangan dansa baru. Ketiga, hal ini akan terus berlanjut, hingga para pasangan menemukan pasangan mereka yang semula. Untuk durasi mencari pasangan dansa baru yaitu, sepuluh detik. Jadi, dalam kurun waktu sepuluh detik tersebut, kalian sudah harus menemukan pasangan yang baru. Apa ada yang kurang jelas?"


Salah seorang siswi mengangkat tangannya, "Untuk durasi dansa sama pasangan baru itu, berapa lama?"


"Untuk durasinya, tergantung pada panitia yang berada di sound system. Jadi durasinya tidak tentu."


"Apa ada yang ingin di tanyakan lagi?"


"Lanjot!" teriak audience kompak.


"Okey, dansa metathesis kita mulai--, sekarang!"


Tepat setelah itu, musik klasik mulai terputar. Semua pasangan pun, mulai bergerak mengikuti irama musik yang mengalun.


Tak lama kemudian, musik pun berhenti, yang dimana mengharuskan mereka bertukar pasangan.


Dengan enggan Sam melepaskan rengkuhan tangannya pada pinggang Rayla, sedangkan Rayla hanya pasrah dengan siapa Ia harus berpasangan. Semoga saja bukan dengan orang yang selama ini Ia hindari.


Rayla bersorak bahagia ketika menemukan salah satu laki-laki yang juga tengah kebingungan mencari pasangan. Dengan segera Rayla mengampirinya, tetapi karena terlalu terburu-buru, dan tidak terbiasa menggunakan high heels, alhasil tubuh Rayla limbung. Rayla sudah pasrah ketika tubuhnya akan menyentuh lantai.


Rayla mengerutkan keningnya, ketika merasakan tubunya melayang, kemudian membentur sesuatu yang keras. Dengan perlahan Rayla membuka matanya, guna memastikan hal yang terjadi. Musik pun sudah kembali mengalun, yang dimana artinya, Rayla harus berpasangan dengan orang yang menolongnya agar tidak merasakan malunya jatuh ditengah-tengah acara dansa.


Netra Rayla bersitubruk dengan netra hitam yang selama ini Ia hindari, beberapa detik mereka habiskan hanya untuk saling menatap satu sama lain. Mata Rayla mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya Ia sepenuhnya sadar dengan hal yang baru saja terjadi.


Dengan segera Rayla ingin melepas rengkuhan tangan Edward pada pinggangnya, namun ditahan oleh Edward.


"Musiknya belum ganti," bisik Edward, tepat di hadapan wajah Rayla.


Nafas Rayla tercekat, ketika mendengar suara yang sudah lama tak Ia dengar. Dengan ragu, Rayla mendongak, menatap Edward, yang saat ini juga tengah menatap kearahnya.


Sejenak, waktu terasa berhenti diantara mereka. Baik Rayla maupun Edward, seolah tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing, dan mereka berkomunikasi lewat sorot mata yang mereka pancarkan.


Beberapa saat kemudian, Rayla memutus kontak mata mereka, kemudian menunduk dan tidak berani menatap kearah Edward kembali. Edward yang menyadari hal tersebut pun, hanya tersenyum simpul.


Seiring musik yang mengalun, Edward semakin mengeratkan rengkuhanya pada pinggang Rayla, seakan-akan tidak ingin Rayla pergi dari dekapannya. Pada nyatanya, hal itulah yang Edward inginkan. Jika saja Ia memiliki kemampuan untuk menghentikan waktu, pasti hal itu sudah Ia lakukan sejak tadi.


Dengan perlahan Edward mendekatkan wajahnya, "You look so beautiful tonight," bisik Edward di sebelah telinga Rayla.


Rayla mendongak ketika Edward berbisik di sebelah telinganya. Rayla tidak mengucapkan sepatah kata pun, untuk menanggapi pujian yang Edward berikan barusan.


Dengan tetap bergerak mengikuti alunan musik, Edward perlahan menyatukan kening mereka berdua. Edward terus menatap iris mata Rayla, begitupun Rayla yang membalas dengan menatap tepat di mata Edward.


Edward tersenyum, kemudian perlahan mengikis jarak yang ada diantara mereka, hingga tak ada jarak yang tersisa.


Rayla memejamkan matanya, ketika benda kenyal dan lembut tersebut menyentuh tepat di atas bibirnya. Euforia membucah diantara mereka. Edward tidak melakukan hal apa-apa, selain menyatukan bibir mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, Edward mejauhkan wajahnya, namun dengan keadaan kening mereka yang masih menyatu. Semburat merah di pipi Rayla, tak mampu Rayla sembunyikan. Dengan perasaan yang tak karuan, Rayla tak berani menatap wajah Edward. Tatapannya Ia alihkan kearah lain. Namun, sialnya, tatapan Rayla malah tertuju pada bibir Edward, yang beberapa detik lalu, menyatu dengan bibir miliknya. Bukannya mengalihkan kegugupan, sekarang Rayla malah tambah gugup, dan wajahnya telah merah seperti kepiting rebus.


Edward tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya, ketika melihat wajah Rayla yang memerah seperti kepiting rebus. Hal sederhana yang sangat berdampak pada suasana hati Edward. Hanya dengan melihat wajah malu-malu milik Rayla saja, sudah mampu membuatnya untuk tersenyum bahagia.


Beberapa saat kemudian, musik dansa pun terganti. Yang dimana artinya, Rayla dan Edward juga harus berpisah. Dengan tidak rela Edward melepas rengkuhannya pada pinggang Rayla. Sebelum Rayla pergi, Edward dengan cepat menarik Rayla ke dalam dekapannya kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Rayla.


"I miss you. I beg you to come back like before, and forgive me, please," bisik Edward lirih.


Rayla menepuk punggung Edward, "I'm sorry," ucap Rayla kemudian langsung melepas paksa dekapan Edward. Dan dengan cepat Ia berlalu pergi, meninggalkan Edward yang menatap kepergiannya dengan tatapan sendu.