
...'Tak pandai untuk menjelaskan, tetapi hanya pandai untuk merasakan.'...
...----------------...
Rayla sedang mempersiapkan beberapa camilan dan juga minuman yang akan menemaninya dan juga Edward mengerjakan tugas dari bu Citra. Ketika Ia sedang sibuk mempersiapkan camilan dan juga minuman, tiba-tiba Mamanya datang.
"Tumben nyiapin camilan sampai segitunya, mau ada tamu Ay?" tanya Mamanya sembari menuangkan air ke dalam gelas yang dibawanya.
"Iya Ma," jawab Rayla.
"Siapa?" tanya Mamanya penasaran.
"Edward," jawab Rayla singkat.
Mamanya tersenyum menggoda ketika mendengar nama Edward disebut. "Ngapel? Tapi kok ngapel siang-siang gini, biasanya mah malem."
Rayla tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Mamanya, "Enggak. Rayla sama Edward mau ngerjain tugas bareng."
"Tugas apa?" tanya Mamanya kepo.
"Tugas Kimia, Ma."
Di saat keduanya sedang asik berbincang, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
"Bukain gih, siapa tau itu Edward udah dateng," perintah Mamanya kepada Rayla. Sedangkan Rayla mengangguk kemudian berjalan menuju pintu utama rumahnya untuk membukakan pintu.
"Masuk," ucap Rayla ketika melihat Edward yang sudah datang lengkap dengan tas ranselnya yang bertengger manis di punggungnya.
Edward pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah Rayla menuju ruang tamu yang ada di rumahnya.
"Siang tante," sapa Edward sembari mencium punggung tangan Mama Rayla.
"Eh si ganteng, siang juga," ucap Mama Rayla sembari tersenyum senang.
"Ambilin minum gih Ay, kasian habis dari luar apalagi cuacanya panas. Pasti haus," perintah Mamanya kepada Rayla yang saat ini hanya diam melihat interaksi keduanya.
Rayla mengangguk kemudian langsung melenggang pergi menuju dapur, sedangkan Mamanya menggiring Edward untuk duduk di salah satu sofa yang terdapat di sana.
"Om kemana tante?" tanya Edward ketika tidak melihat tanda-tanda keberadaan Papa Rayla.
"Biasalah, cari duit," jawab Mama Rayla santai.
Tak lama kemudian Rayla datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas sirup dan beberapa camilan.
"Mama gak kamu buatin Ay?" tanya Mamanya.
"Mama kan bisa ambil sendiri," jawab Rayla malas.
"Ya kan sekalian dong!"
Edward hanya menyimak perdebatan yang terjadi di antara Rayla dan juga Mamanya sembari tersenyum tipis, sedangkan Rayla menghela nafasnya.
"Jadi Mama mau Ayla ambilin juga?" tanya Rayla yang sedang dalam mode malas berdebat.
"Gak usah deh, Mama mau ke kamar aja," ucap Mamanya. Sedangkan Rayla memasang wajah jengkel.
"Tante pamit ke kamar dulu ya Ed," ucap Mama Rayla sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Iya tante, silakan," jawab Edward sopan.
Sepeninggal Mamanya Rayla, Edward pun beralih menatap Rayla. Sadar akan tatapan Edward yang mengarah kepadanya, Rayla pun bertanya.
"Kenapa?"
"Buku lo mana?" tanya Edward.
"Masih di kamar, tunggu bentar gue ambil."
Beberapa menit kemudian Rayla turun dengan beberapa buku dan laptop yang ada di tangannya, melihat Rayla yang kerepotan akhirnya Edward berinisiatif untuk membantu Rayla membawa buku dan laptopnya.
"Makasih," ucap Rayla ketika Edward mengambil alih semua barang-barang yang ada ditangannya tadi.
Edward mengangguk kemudian meletakkan semua barang yang Rayla bawa ke meja yang ada di ruang tamunya. Rayla pun langsung duduk di atas karpet berbulu yang ada di sana, Edward pun mengikuti Rayla dan duduk tepat di sebelahnya.
Edward hanya diam sembari memperhatikan Rayla yang saat ini tengah membuka laptopnya, dilihat dari jarak sedekat ini Rayla nampak lebih cantik ditambah dengan raut wajahnya yang serius. Sedetik kemudian Edward menggelengkan kepalanya, kemudian beralih untuk membuka buku dan membacanya.
"Template nya yang ini aja gimana?" tanya Rayla sembari menoleh ke arah Edward.
Edward hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Rayla, karena saat ini Ia tengah sibuk membaca buku sembari mencatat poin-poin penting yang akan ditampilkan di slide presentasi mereka. Setelah satu jam berdiskusi mengenai materi yang akan mereka presentasikan, kini tiba saatnya untuk memasukkan data-data yang telah mereka susun di atas buku kedalam powerpoint mereka.
"Gantian aja ngetiknya gimana?" usul Rayla sembari meminum sirupnya.
Edward mengangguk, "Boleh."
"Ok, gue dulu baru lo." putus Rayla dan langsung mulai mengetik.
Edward pun menumpukan kepalanya ke meja dengan wajah yang menghadap ke arah Rayla. Ia menikmati raut wajah Rayla yang nampak sangat serius, Ia tersenyum ketika melihat Rayla yang nampak kesusahan karena rambut gadis itu yang terurai. Beberapa kali Rayla menyingkirkan rambutnya yang menjuntai ke depan. Edward menegakkan tubuhnya, kemudian mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum ketika melihat karet gelang yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. Ia pun menggambil karet gelang tersebut kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Rayla.
Rayla menegang merasakan tangan Edward yang merapikan rambutnya, kemudian mengumpulkannya menjadi satu dan mengikatnya. Ia menahan nafas ketika Edward sedikit merapikan anak rambut yang ada disekitar keningnya.
"Makasih," ucap Rayla sembari tersenyum kikuk ketika Edward menatapnya.
Edward mengangguk, "Sama-sama."
Rayla menundukkan kepalanya kemudian langsung melanjutkan acaranya yang sempat tertunda karena Edward. Begitu juga dengan Edward, Ia kembali memperhatikan Rayla.
Beberapa menit kemudian Rayla nampak menguap, Edward pun berinisiatif untuk melanjutkan pekerjaan Rayla yang belum usai.
"Lo istirahat aja, biar gue yang ngelanjutin," ucap Edward sembari menegakkan tubuhnya.
"Tapi ini masih banyak, gue belum ada setengahnya ngetik," ucap Rayla.
"Gapapa, biar gue yang lanjutin," ucap Edward meyakinkan.
"Beneran gapapa?" tanya Rayla memastikan.
"Kelamaan," ucap Edward kemudian langsung mengambil alih laptop yang ada dihadapan Rayla. Melihat itu Rayla hanya pasrah kemudian meregangkan otot-ototnya dan meminum sirupnya kembali.
Rayla melirik ke camilan yang sama sekali belum tersentuh, kemudian matanya melirik ke arah gelas sirup Edward yang tersisa setengah. Ia berpikir, apakah Edward tidak menyukai camilan yang Ia sajikan?
"Lo gak mau makan?" tanya Rayla sembari mengambil satu bungkus makanan.
"Bentaran," jawab Edward dengan tidak mengalihkan atensinya dari layar laptop.
Rayla manggut-manggut, kemudian tangannya bergerak untuk mengambil camilan dari dalam bungkus yang sudah Ia buka. Ia memperhatikan Edward, melihat wajahnya yang serius Rayla pun berpikir dua kali untuk menawari Edward camilan yang tengah Ia makan. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Rayla pun memberanikan diri untuk menawari Edward.
"Mau gak lo?" tanya Rayla sembari menyodorkan tangan yang memegang bungkus camilannya. Edward pun menoleh, Ia tersenyum.
"Coba tangan lo yang kanan bawa sini," ucap Edward sembari tersenyum penuh arti. Rayla yang tidak mengerti dengan maksud Edward pun, dengan polosnya menyodorkan tangan kanannya yang berisi camilan yang siap Ia makan.
Edward tersenyum geli ketika melihat wajah Rayla yang shock karena Ia memakan camilan yang berada di tangan kanan Rayla.
"Suapin, gue gak bisa makan sambil ngetik," ucap Edward kemudian langsung mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop.
Rayla masih diam karena terkejut, "Astaga jantung gue!" jerit Rayla dalam hati.
Edward menoleh ke arah Rayla, "Kenapa lo diem?"
Rayla tergagap menjawab pertanyaan Edward, "Gapapa."
Edward tersenyum, "Yaudah kalo gitu. Suapin gue lagi ya."
Rayla hanya mengangguk, kemudian sedikit mendekat ke arah Edward agar bisa menyuapinya. Tanpa mereka sadari, Mamanya tengah menatap mereka berdua sembari mesam-mesem tidak jelas.