
...'Found you.'...
...----------------...
Lima tahun berlalu, dan kini Edward telah berhasil membangun sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang teknologi, di negeri yang dijuluki Paman Sam itu. Bukan perkara mudah untuknya membangun sebuah perusahaan di Negara besar dan persaingan yang ada dimana-mana. Jatuh bangun sudah sempat Edward rasakan, sebelum akhirnya Ia bisa sukses seperti sekarang ini.
Satu tahun lalu Ia sempat pulang ke Indonesia, karena permintaan Ayahnya yang kala itu membuka cabang bisnis baru, dan ingin Edward sebagai anak semata wayangnya turut menghadiri acara tersebut. Edward berada di Indonesia hanya dua minggu, kemudian Ia kembali terbang ke Amerika, karena masih banyak pekerjaan yang harus Ia urus.
Tidak ada perubahan signifikan yang Edward rasakan pada saat Ia kembali ke Indonesia. Hanya saja, rambut Ayahnya sudah mulai berubah warna, dan Rifki yang sudah memiliki seorang kekasih. Iya, si Rifki Myron Deswara itu sudah memiliki kekasih! Edward saja sempat tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu, tetapi pada saat Rifki memperkenalannya pada Kirana, pacar Rifki. Barulah Edward percaya, bahwa Rifki memang tidak mengada-ada jika Ia telah memiliki tambatan hati.
Berbeda dengan Edward, selama kurang lebih lima tahun Ia tinggal di Amerika, Ia tak pernah menjalin hubungan asmara dengan perempuan manapun. Bukannya Edward mau sombong, banyak perempuan yang secara terang-terangan menunjukkan jika mereka tertarik dengan Edward. Tetapi Edward tidak pernah menanggapinya. Hatinya masih dimiliki oleh orang yang sama di masa lalu.
Kembali ke bagian belahan Bumi yang lain, pagi-pagi sekali, Edward sudah rapi dengan setelan kantornya. Hari ini, Ia ada meeting dengan client yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan miliknya. Setelah sampai di kantor miliknya, Edward dengan segera naik menuju ruangan tempat Ia bekerja menggunakan lift khusus yang langsung terhubung dengan ruang kerjanya.
Setelah sampai, dengan segera Edward langsung duduk di kursi kebesaran miliknya, dan mulai berkutat dengan berbagai macam berkas dokumen, data, coding, dan tentunya computer. Selang tiga puluh menit kemudian, Richard, sekretaris Edward masuk ke dalam ruangannya. Setelelah diperbolehkan masuk oleh Edward, tentunya.
"Excuse me Sir, may I talk to you for a few minutes?" tanya Richard, dengan hati-hati karena Edward terlihat tengah sibuk dengan computer yang ada di hadapannya.
"Go ahead," jawab Edward, tanpa melihat ke arah Richard.
"I'd like to remind you about our meeting with Mr. Shane at 10 a.m. at Zee Café."
"I'll be gone in five minutes," jawab Edward.
"Alright Sir. I will wait for you in the lobby," ucap Richard.
Edward hanya berdeham, kemudian Richard pun keluar dari ruangan milik Edward. Setelah Richard keluar dari ruangan Edward, Edward pun mengecek kembali dokumen-dokumen yang akan dibawanya meeting bersama dengan Mr. Shane.
Di perjalanan menuju lobby, banyak yang menyapa Edward, tetapi hanya di balas dehaman singkat oleh Edward. Richard yang melihat Edward datang pun, segera berlari untuk membukakan pintu mobil yang akan mereka tumpangi.
Di perjalanan menuju lokasi meeting, Edward lebih fokus untuk menatap layar iPad nya, dan sesekali menjawab pertanyaan dari Richard mengenai kerjasama yang akan mereka lakukan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka pun sampai di Zee Café. Edward dan Richard pun memasuki café yang menjadi tempat meeting mereka kali ini. Diam-diam, Edward merasa kagum dengan arsitektur dari bangunan Zee Café ini. Desainnya sangat simple, tetapi terlihat elegan dan berkelas. Tak heran, jika café ini ramai pengunjung, baik dari golongan muda hingga golongan muda.
Edward mengikuti langkah Richard yang melangkah menuju salah satu ruangan yang sepertinya memang di buat khusus untuk acara meeting ataupun acara keluarga.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Mr. Shane pun datang bersama dengan seorang laki-laki dan juga seorang perempuan.
Edward tersenyum tipis, untuk menyambut kedatangan mereka, kemudian mempersilakan mereka untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
"Hello Edward, how are you?" tanya Mr. Shane kepada Edward.
"Good thank you. How are you?" jawab Edward.
"Very well."
Edward tersenyum tipis ketika mendengar jawaban dari Mr. Shane.
"So, should we talking about the contract now?" tanya Edward.
"Yes, sure," jawab Mr. Shane
Edward memberi kode kepada Richard untuk menjelaskan kontrak yang akan mereka tanda tangani.Hampir tiga puluh menit mereka terlibat dalam pembicaraan kontrak tersebut, hingga suara seorang perempuan menginterupsi kegiatan mereka.
Edward mendongak ketika merasa suara tersebut sangat familiar di telinganya. Edward mematung ketika melihat sosok yang selama ini Ia cari, tengah berdiri dengan membawa nampan yang berisi minuman. Iya, itu Rayla!
Rayla pun sama terkejutnya, ketika netranya bertemu dengan netra Edward. Dengan terburu-buru, Rayla kembali keluar, dan memberikan nampan yang Ia bawa tadi kepada orang yang ada di sebelahnya.
Edward yang melihat Rayla keluar pun dengan segera menyusulnya, "Excuse me, I will be back in a minute," ucap Edward, dan segera berlari keluar untuk mengejar Rayla.
Edward menelisik seluruh penjuru Kafe dan berharap menemukan sosok Rayla. Hingga matanya tak sengaja menatap siluet Rayla yang tergesa-gesa berjalan menuju pintu keluar. Dengan cepat Edward berlari, untuk menghentikan langkahnya.
Edward menarik tangan Rayla, kemudian langsung membawanya ke dalam dekapannya. Rayla pun berontak, ketika Edward memeluknya dengan erat.
"I miss you so bad," bisik Edward lirih di sebelah telinga Rayla, sembari mengeratkan dekapannya.
Rayla dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Edward, yang membuat dekapan Edward terlepas darinya.
Edward menatap Rayla sendu, ketika Rayla menolak dekapannya.
"Gue minta maaf, Effie," ucap Edward lirih, sembari berusaha mendekat ke arah Rayla, tetapi Rayla menghindar.
"Don't near," lirih Rayla.
"Why?"
Rayla menggeleng, kemudian dengan cepat berbalik dan berlari menjauh dari Edward. Tetapi dengan sigap, Edward kembali menarik Rayla dan mendekapnya.
"Please, jangan menghindar," pinta Edward.
Rayla akhirnya pasrah, dan tak terasa air mata yang sedari tadi Ia tahan, akhirnya perlahan luruh juga.
"Lo jahat," isak Rayla.
"Iya. Gue emang jahat," balas Edward.
Rayla makin terisak di dekapan Edward, bahkan dapat Rayla rasakan kemeja yang Edward gunakan basah karena air matanya. Tetapi sepertinya, Edward tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Terbukti bukannya melepaskan dekapnnya, Edward malah memilih untuk mendekap Rayla lebih erat.
"Kenapa lo sembarangan main peluk-peluk orang, sih?!" tanya Rayla kesal, sembari mendorong paksa tubuh Edward.
Bibir Edward terbuka untuk melayangkan protes, namun terhenti setelah mendengar ucapan Rayla selanjutnya.
"Lo tuh udah punya Bela! Lo harus jaga perasaannya dia!" ucap Rayla sembari menghapus kasar bekas air mata di pipinya.
Edward tersenyum mendengar perkataan Rayla, "Oh, jadi lo cemburu. Gitu?"
Rayla menggeleng ragu mendengar ucapan Edward.
"Gimana gue bisa cemburu, sedangkan gue gak ada rasa sama lo," ucap Rayla sediki tercekat.
Alis Edward menukik tidak terima mendengar ucapan Rayla.
"Kalau lo gak ada rasa sama gue, sekarang, tatap mata gue dan bilang, kalau lo bener-bener gak ada rasa sama gue," tuntut Edward.
Rayla berperang dengan batinnya sendiri ketika mendengar ucapan Edward. Satu menit berlalu, dan hanya hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang di dekat mereka yang terdengar. Baik Edward, maupun Rayla, mereka sama-sama terdiam. Bedanya, Edward diam untuk melihat reaksi Rayla, dan Rayla diam karena tengah berperang dengan batinnya sendiri.
"See? Lo gak berani ngelakuin itu. So please, jangan bohongin perasaan lo sendiri," ucap Edward lembut.
Rayla perlahan mendongak, dan menatap tepat di manik mata Edward, "Gue, bener-bener gak ada--," ucapan Rayla terhenti ketika Edward dengan cepat menarik Rayla mendekat, dan menyatukan bibir mereka tanpa permisi
Mata Rayla membulat sempurna karena terkejut. Dengan sekuat tenaga Rayla memberontak untuk melepaskan tautan bibir mereka. Tetapi Edward, malah menahan tengkuk Rayla.
Edward menjauhkan wajahnya dari wajah Rayla, kemudian berbisik lirih tepat di depan wajah Rayla.
"Just feel your feelings, and don't deny it," ucap Edward, kemudian menyatukan kembali bibir mereka, tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang kini tengah memperhatikan mereka.
Siapa yang peduli, ini Amerika bukan?