
...'Jangan pernah meremehkan seseorang, karena belum tentu kamu lebih baik darinya.'...
...----------------...
Rayla meremas ujung rok nya, Ia gugup. Ia belum siap untuk mati muda, punya pacar saja belum, masak udah mau mati duluan aja? Dan yang terpenting, Ia belum sempat menulis surat wasiat kepada orang tua dan juga untuk sanak saudaranya. Seseorang, tolong bawa Ia pergi dari sini sekarang juga. Rengek Rayla dalam hati.
"Ayo naik," ajak Edward ketika menyadari Rayla yang tak kunjung naik ke atas motornya.
"Emm, gue pulang sendiri aja deh Ed. Gue ada janji sama orang," ucap Rayla yang mencoba peruntungannya untuk segera menyingkir menjauh dari hadapan Edward.
Edward mengernyit mendengar penuturan Rayla, "Sama siapa?"
"Temen lama."
Edward mengangguk, "Gue anter."
Rayla menggeleng tak setuju dengan keputusan Edward. Ini dia lagi berusaha kabur loh. Kan gak epik kalau semisal kita kabur sama orang yang mau kita jauhin.
"Gue mau nginep di tempatnya," ucap Rayla yang masih saja mencari alasan.
"Ya gak papa, gue anter lo sampai tujuan, terus ntar gue balik pulang."
Rayla memejamkan matanya frustasi, ketika Edward sama sekali tidak membiarkannya lepas dari kuasa lelaki itu.
"Udah gak usah ribet nyari alasan. Balik bareng gue."
"Tapi--," ucapan Rayla terpotong karena Edward terlebih dahulu menyelanya.
"Don't try to run away, Miss Effie," potong Edward sembari menatap Rayla dengan tatapan intimidasi miliknya.
Rayla menelan ludahnya kasar, ketika Edward memandangnya dengan tatapan intimidasi nya. Mau tak mau Ia harus menguji adrenalin nya kali ini.
Dengan langkah yang sengaja di pelan kan, Rayla menghampiri Edward yang sudah duduk manis di atas motor kesayangannya. Dia berharap, hal itu dapat membuat Edward kesal, kemudian meninggalkannya untuk pulang terlebih dahulu, dan berakhir Rayla yang selamat dari uji adrenalin yang akan Edward berikan padanya. Tetapi sepertinya, hal yang Ia harapkan tidak akan terjadi. Karena saat ini, Ia sudah duduk di atas motor Edward sembari memejamkan matanya.
"Pegangan," titah Edward.
Perlahan, tangan Rayla mulai melingkari pinggang Edward. Edward tersenyum, ketika melihat tangan Rayla melingkari pinggangnya. Tanpa babibu lagi, Edward langsung menarik pedal gas nya kemudian melaju meninggalkan area sekolah.
Di perjalanan, Rayla tak sedetik pun membuka matanya. Ia memeluk erat pinggang Edward yang kini tengah mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Rayla berdoa, semoga Ia bisa selamat sampai tujuan tanpa kekurangan apapun. Ia bersumpah, tidak ingin menantang Edward lagi untuk menunjukkan skill balapannya. Rayla kapok!
Motor yang di kendarai Edward tiba-tiba berhenti. Tubuh Rayla pun tertarik ke depan, di belakang sana tampak wajah pucat Rayla. Edward menengok kebelakang guna memeriksa kondisi Rayla.
"Lo gak papa?" tanya Edward yang melihat wajah pucat Rayla.
"Kita gak berhenti di pintu pilihan antara surga dan neraka kan?" tanya Rayla masih dengan raut wajahnya yang nampak sangat shock.
Edward tertawa mendengar penuturan Rayla, "Enggak."
Rayla memperhatikan sekitar, "Terus, kita kenapa berhenti di kuburan?" rengek Rayla.
"Mau ketemu sama seseorang," jawab Edward, sembari turun dari atas motornya.
Rayla pun ikut turun dari atas motor Edward, Ia memperhatikan area sekitar dengan pandangan waspada.
"Tenang aja, mbak kunti jam segini masih tidur," ucap Edward yang berusaha mencairkan suasana.
Rayla mendongak menatap Edward, "Terus lo mau ketemu siapa?"
"Ikut gue," ucap Edward sembari menarik tangan Rayla memasuki area pemakaman.
Rayla pasrah mengikuti ke mana Edward membawanya, setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah gundukan tanah dengan nama Helena Christiana Eriksen yang terukir di atas batu nisan tersebut.
"Halo Bunda, apa kabar?" ucap Edward sembari mencium batu nisan Bundanya.
"Kali ini Edward dateng ke sini engga sendiri--," Edward melirik sekilas ke arah Rayla, "Dia temen Edward, namanya Rayla. Tapi Edward lebih suka manggil dia Effie. Alasannya? Biar beda daripada yang lain," lanjut Edward.
Rayla memperhatikan Edward kemudian ikut berjongkok di sebelah Edward.
"Bunda jangan terkejut ya, dia emang agak berisik orangnya."
Rayla melotot tak terima mendengar penuturan Edward, "Ayla gak berisik kok tante. Edward emang suka ngada-ngada!"
Edward terkekeh, "Tuh, Bunda denger sendiri kan. Selain berisik dan cerewet, Rayla juga orangnya suka nge-gas."
"Kok lo malah jelek-jelek in gue sih?"
"Tambah lagi satu bun, Rayla juga orangnya suka ngambek."
"Terus aja terus!"
Edward tersenyum melihat wajah Rayla yang tertekuk kesal karena ulah nya.
"Bunda yang tenang ya di sana. Gak usah khawatirin Edward, Edward bisa jaga diri," ucap Edward sembari mengelus sayang batu nisan Bundanya.
"Tante juga gak usah khawatir kalau Edward nakal. Karena ada Rayla, yang siap buat geplak Edward kalau dia berani macem-macem," timpal Rayla.
Edward tersenyum mendengar ucapan Rayla. Setelah beberapa saat diam, Edward akhirnya memilih untuk segera mengantar Rayla pulang, Ia harus menghadiri undangan makan malam bersama keluarga barunya malam ini. Meskipun Ia merasa enggan, tetapi Ia memilih untuk hadir. Bukan apa-apa, Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Ayahnya nanti.
Atensi Edward kembali teralih ke batu nisan yang ada di hadapannya, "Edward sama Rayla pamit dulu ya bun, kapan-kapan Edward main lagi ke sini," ucap Edward sembari mencium batu nisan Bundanya dengan penuh sayang.
Edward beranjak dari tempatnya, kemudian perlahan berjalan meninggalkan area makam Bundanya. Setelah beberapa langkah, Edward baru sadar jika Rayla belum bergeming dari tempatnya sedari tadi.
"Ayok pulang," ajak Edward yang hanya di angguki oleh Rayla.
"Kita pamit ya tan," ucap Rayla kemudian langsung bangkit menyusul Edward.
Edward menyerahkan helm kepada Rayla, tetapi nampaknya Rayla enggan menerima helm yang di sodorkan oleh Edward.
"Lo mau sampai malem di sini?" tanya Edward ketika Rayla tak kunjung mengambil helm yang Ia sodorkan.
Rayla menggeleng, "Takut," cicit Rayla pelan.
Edward tersenyum geli, karena mengetahui apa maksud ucapan Rayla.
"Gak usah takut, kan gue udah bilang tadi di sekolah. Jangan sampai lo trauma buat naik motor."
"Gue enggak trauma naik motor, tapi trauma naik motor bareng lo."
Edward sedikit tidak terima mendengar pernyataan Rayla barusan.
"Kenapa?"
"Lo kayak ngajak gue buat simulasi ketemu malaikat pencabut nyawa!"
Edward tertawa setelah mendengar alasan Rayla.
"Gue enggak ngebut lagi deh."
"Bener?" tanya Rayla dengan pandangan menyelidik.
"Iya."
"Janji?" tanya Rayla sembari mengangkat jari kelingking nya.
Edward tersenyum, "Janji," jawabnya sembari menautkan jari kelingking mereka berdua.
"Ayok naik," ucap Edward setelah dirinya memasang helm full face dan menghidupkan mesin motornya.
Rayla mengangguk, kemudian naik ke atas motor Edward dengan cara berpegangan pada pundak Edward.
Edward menuntun tangan Rayla agar melingkari pinggangnya lagi, "Pegangan."
"Jangan ngebut," ucap Rayla tak lama sebelum motor yang mereka kendarai kembali menembus padatnya lalu lintas di sore hari.