
...'Hapus lah ragu mu, dan melangkah lah maju.'...
...----------------...
Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam, Rayla baru saja selesai makan malam bersama kedua orang tuanya. Saat ini Ia tengah memikirkan apakah ada tugas yang belum Ia kerjakan, dan seketika ingatannya teringat pada paper bag yang tadi di berikan Sam untuknya. Ia pun bangkit dari atas tempat tidurnya kemudian berjalan menuju meja belajarnya dan mendudukkan dirinya di kursi meja belajar miliknya. Tangannya mulai meraih paper bag yang tadi di berikan oleh Samuel, ketua OSIS di sekolahnya. Ia memang belum melihat isinya, karena Sam berpesan padanya agar membukanya ketika Ia sudah di rumah saja. Niatnya Ia ingin langsung membukanya saat baru sampai di rumah, tetapi karena tidak tahan oleh ocehan Mamanya yang memintanya untuk segera makan. Ia pun akhirnya meletakkan begitu saja paper bag yang di berikan oleh Sam di atas meja belajarnya, dan Ia baru ingat sekarang bahwa Ia belum mengetahui apa yang di berikan Sam untuknya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ia pun membuka perlahan paper bag yang di berikan oleh Sam. Dahinya berkerut bingung ketika melihat ada satu kotak cokelat berbentuk bunga di dalamnya. Untuk apa Sam memberinya cokelat? Tanyanya pada dirinya sendiri. Tak lama kemudian dering handphone membuatnya mengalihkan perhatiannya dari satu kotak cokelat yang kini tengah ada di tangannya. Rayla pun beranjak dari kursi meja belajarnya menuju nakas yang ada di dekat tempat tidurnya. Lagi-lagi otaknya di peras, pasalnya saat ini yang menghubunginya adalah nomor yang tidak di kenal. Belum habis perkara cokelat, sekarang nambah perkara nomor tak di kenal. Rayla pun mengangkat panggilan dari nomor yang tak di kenal, kemudian mendekatkan handphonenya ke telinganya.
"Selamat malam," sapa seseorang di seberang sana.
"Malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rayla tak ingin bertele-tele.
"Lo kira gue tukang sales produk?" jawab orang di seberang sana sembari terkekeh geli.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Ini siapa ya? Kalo gak ada kepentingan mending saya tutup telponnya."
"Eits, jangan dong! Ini gue Sam," ucap Samuel.
"Astaga gue kira siapa nelpon malem-malem," jawab Rayla sembari menggelengkan kepalanya.
"Ngarep di telpon siapa lo?'" tanya Sam jail.
"Park Jimin," balas Rayla.
"Gak usah halu tinggi-tinggi, ntar jatuhnya sakit!"
"Gue kan halu nya sampai langit ke tujuh, jadi ntar jatuhnya di awan. Gak bakal sakit," ucap Rayla kemudian tertawa.
"Iyain aja deh, biar seneng."
"Ngomong-ngomong, ngapain lo nelpon gue malem-malem?" tanya Rayla ketika beberapa saat sempat hening.
"Gue cuma mau pastiin, lo udah buka paper bag yang gue kasi atau belum."
"Ow, itu. Barusan gue buka," jawab Rayla sembari berjalan menuju meja belajarnya dan kembali mendudukkan dirinya di kursi meja belajarnya.
"Gimana lo suka gak?" tanya Sam antusias.
"Asal itu makanan dan bisa di makan, gue pasti suka," balas Rayla sembari terkekeh. Sam pun ikut terkekeh mendengar ucapan Rayla.
"Baguslah kalo lo suka."
"Dalam rangka apa lo ngasi gue cokelat?" tanya Rayla penasaran.
Sam tersenyum di seberang sana mendengar pertanyaan Rayla, "Cuma hadiah kecil buat lo."
"Emangnya gue ngapain?" tanya Rayla gagal paham.
Sam terkekeh mendengar pertanyaan polos Rayla, "Masih ingat hari di mana lo bawa gue ke rumah sakit karena gue nabrak pembatas jalan?"
Otak Rayla berputar menggali informasi di malam yang di maksud oleh Samuel.
"Ingat. Itu kejadiannya pas gue baru pindah dari Amerika, gak sengaja liat orang tiduran di jalan. Akhirnya karena gue kepo, gue suruh Pak Santoso buat lihat. Eh ternyata orang kecelakaan," ucap Rayla yang membuat Sam meledakkannya tawanya saat itu juga. Tiduran di jalan? Ada-ada saja istilah yang Rayla gunakan, pikir Sam sembari menggelengkan kepalanya.
"Gue tebak lo bengong dulu buat nginget nya," ucap Sam ketika Ia sudah dapat mengendalikan dirinya.
"Sotoy!"
Rayla memutar bola matanya malas, "Iya!"
Sam tertawa mendengar jawaban nge gas Rayla, "Santai dong jangan nge gas gitu."
"Lo dapet nomor handphone gue dari mana?" tanya Rayla yang baru menyadari Ia belum pernah memberikan nomor handphonenya kepada siapapun, kecuali pihak sekolah.
"Harus gue jawab?"
"Iyalah, kalo gak di jawab. Gue doain ntar lo ketemu paus pas main ke pantai."
Sam terkekeh, "Main ke pantainya bareng lo ya. Biar nanti kalo ketemu paus, gue tinggal narik lo terus bilang. Lo yang ngebet pengen ketemu sama paus."
"Ogah! Buruan jawab, dapat nomor gue dari mana!" desak Rayla.
"Lihat di data kesiswaan lo," jawab Sam enteng.
Otak Rayla mulai connect sekarang, Sam adalah ketua OSIS. Sudah barang tentu Ia mengetahui seluk beluk semacam itu.
"Ah gue baru ingat fakta, kalo lo ketua OSIS."
Sam hanya terkekeh menanggapi ucapan Rayla.
"Gue tutup ya telponnya," ucap Rayla ketika tak mendengar balasan Sam terkait ucapannya barusan.
"Tunggu dulu," cegah Sam.
"Kenapa?"
"Besok berangkat bareng gue ya," ucap Sam yang seperti pernyataan bukan pertanyaan.
Tanpa pikir panjang Rayla pun meng iyakan, karena Pak Santoso memang masih cuti untuk mengurus anaknya yang masih sakit. Ia juga malas berangkat bersama Devan kembali, sepupunya itu sangat sulit untuk di bangunkan di pagi hari. Tadi pagi juga Rayla hampir saja telat jika Ia tidak menyuruh Devan untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan yang paling penting, Ia tidak mau di telantarkan lagi di pinggir jalan seperti tadi.
"Ok. Jangan kesiangan lo jemput nya," ucap Rayla mewanti-wanti.
"Tenang aja, walaupun lo telat. Telatnya juga bareng gue," ucap Sam menggoda Rayla.
"Mau telat bareng lo kek, enggak kek. Tetep aja ntar gue kena hukuman," balas Rayla.
"Gapapa, kan di hukumnya juga bareng gue."
"Gak ada untungnya tau!"
"Ada, lo jadi lebih semangat ngejalanin hukumannya," ucap Sam yang semakin menggoda Rayla. Ngardus ae lo bang!
"Gak kebalik ya?" balas Rayla.
Sam hanya tertawa, mendengar balasan Rayla.
"Udah sana belajar biar pinter, good night," ucap Sam kemudian mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Rayla.
"Main langsung di matiin aja, dasar gak jelas! Awes aja kalo besok dia siang jemput nya, gue tendang tu anak biar nyungsep ke dasar laut! Biar ketemu monster laut sekalian!" gerutu Rayla seorang diri sembari meletakkan handphonenya dan juga cokelat yang di berikan oleh Sam di rak yang ada di dekat meja belajarnya.
Rayla pun mulai membuka buku pelajaran yang akan di bahas besok, setidaknya masih ada cukup waktu untuk Ia mengerti garis besar dari materi yang akan di sampaikan oleh gurunya besok. Sembari berdoa, semoga Ujian Nasional yang akan Ia tempuh beberapa bulan lagi dapat berjalan dengan lancar.