Please Feel My Love

Please Feel My Love
Perkara Kecil



...'Memang jawabannya simpel antara iya atau tidak, tapi kalo kita gak mikir gimana efek untuk kedepannya kan sama dengan bohong.'...


...----------------...


Edward memperhatikan Rayla yang sedang berfikir, sebenarnya Edward heran kenapa Rayla terlihat sangat serius untuk berfikir menerima tawarannya atau tidak. Padahal kan jawabannya hanya iya atau tidak kenapa Rayla rasanya sangat sulit untuk memutuskan?


Jengah menunggu Rayla yang tidak kunjung menjawab dan malah sibuk dengan dunia khayalannya sendiri, Edward pun melepas helmnya dan turun dari atas motornya kemudian menarik tangan Rayla untuk berdiri agar segera naik ke atas motornya.


"Lama banget lo mikirnya, bisa-bisa lebaran monyet kita baru pulang." ucap Edward dan menarik lengan Rayla untuk berdiri.


"Eh, apaan si?" ucap Rayla tapi tak urung mengikuti arah tarikan tangan Edward.


"Ketimbang di suruh mutusin mau pulang bareng atau gak aja lama banget. Gimana nanti kalo misalnya lo di lamar, bisa-bisa calon suami lo keburu jadi perjaka tua nungguin jawaban lo yang lamanya se abad!" cibir Edward.


Rayla membulatkan matanya mendengar ucapan Edward, "Sembarangan lo kalo ngomong! Kalo yang lamar gue itu Jungkook BTS, gak perlu mikir lama juga bakalan gue terima."


"Emang Jungkook mau sama lo?"


"Pasti mau lah, secara gue kan kembarannya mbak IU." ucap Rayla dengan tingkat kepercayaan diri yang sudah melebihi batas normal.


Edward sekarang mengerti, kenapa Rifki selalu berkata padanya jika berdebat dengan perempuan lelaki akan selalu kalah. Hari ini Ia membuktikan nya sendiri, perempuan memang mempunyai seribu satu jawaban untuk memojokkan lawan bicaranya. Sepertinya pekerjaan yang sangat cocok untuk para perempuan adalah menjadi pengacara, pikir Edward.


"Ngehalu aja lo kerjaannya, ayok buruan naik!" ucap Edward kemudian naik ke atas motornya.


"Lo gak ada niat macem-macem kan sama gue?" tanya Rayla was-was.


Edward mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan yang Rayla ajukan, sedetik kemudian Ia baru mengerti.


"Ya enggak lah, gue cuma mau nganterin lo pulang sebagai ucapan terimakasih gue karna lo udah gagalin acara bunuh diri gue pas itu. Gak lebih," ucap Edward berusaha meyakinkan Rayla.


"Bener yah? Janji?" ucap Rayla dan menunjukkan jari kelingking nya di depan wajah Edward.


Edward tersenyum, "Iya janji." jawabnya kemudian mentautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Rayla.


Sejenak mereka saling memandang dengan jari tangan yang saling bertautan, sampai Rayla tersadar dan dengan segera Ia menarik tangannya. Edward pun dengan kikuk ikut menarik kembali tangannya, Edward dengan segera menggunakan kembali helmnya. Sedangkan Rayla Ia sedang berfikir untuk mencari cara bagaimana Ia akan naik ke atas motor Edward, sedangkan Ia sedang memakai rok.


"Motor lo tinggi banget sih!" keluh Rayla.


"Lo nya aja yang pendek," jawab Edward santai dan sedetik kemudian Ia mendapatkan sebuah pukulan yang lumayan keras di pundaknya sehingga Ia memekik sakit.


"Aduh! Lo ngapain pukul gue sih?" tanya Edward kesal kepada Rayla.


"Punya mulut tuh jangan asal jeplak, main ngatain orang pendek segala." ucap Rayla kesal.


"Iya-iya maaf," jawab Edward malas. Ia pernah membaca jika lelaki harus mengalah kepada perempuan jika tidak ingin membangunkan sisi singa betina pada perempuan.


"Kalo gak mau ngalah ya bilang, gak enak banget didenger nadanya." decak Rayla.


Edward hanya menghembuskan nafasnya kasar, ternyata sangat sulit untuk menghadapi perempuan.


"Daripada lo ngoceh terus, mending lo buruan naik atau gue bakal berubah pikiran gak jadi nganterin lo pulang." ucap Edward yang sudah lelah menghadapi Rayla yang ternyata sangat cerewet itu.


"Hadap depan lo!" ketus Rayla.


Edward yang memang sudah tidak ingin berdebat dengan Rayla pun hanya menuruti kemauan gadis itu, Ia pun menghadap depan dan menunggu Rayla untuk segera naik di jok belakang motornya.


Tiba-tiba tubuhnya tersentak kaget karena Rayla memegang pundak nya agar bisa naik ke jok belakang motornya, Rayla merasakan tubuh Edward menegang ketika Ia sentuh. Setelah Ia rasa sudah duduk dengan nyaman, Ia pun melepas pegangannya pada pundak Edward.


"Gue udah naik nih, lo gak ada niatan buat jalan sekarang?" tanya Rayla ketika sudah menunggu beberapa saat tetapi Edward tak kunjung melajukan motornya.


Edward tersentak dari lamunan singkatnya, ada rasa aneh yang menjalar di dalam dirinya ketika Rayla memegang pundak nya. Tak ingin terlarut dalam rasa aneh yang baru saja sempat Ia rasakan, Edward dengan segera men-starter motornya kemudian melajukannya.


Di tengah perjalan Edward baru ingat jika Ia tidak mengetahui di mana alamat rumah Rayla, Edward pun memperlambat laju motornya kemudian bertanya kepada Rayla.


"Alamat rumah lo di mana?" tanya Edward dengan suara yang lumayan keras.


Rayla yang tidak mendengar jelas apa yang Edward katakan pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Edward.


"Lo bilang apa barusan? Gue gak denger, kebawa angin suara lo." ucap Rayla dengan berteriak.


"Kalo gue gak teriak, lo gak bakal bisa denger suara gue ucup." balas Rayla berteriak.


"Enak aja main ganti-ganti nama gue lo, nama gue udah keren Edward malah lo ganti ke ucup. Berasa main di kartun Adit Sopo Jarwo gue,"


"Kan bagus, jadinya muka lo bisa nongol di tv."


"Kenapa jadi bahas itu sih?"


"Lo duluan, gue kan cuma ngikut."


"Udah-udah jangan di lanjut, cepet kasi tau gue di mana alamat lo."


"Di Jalan Cakra Kebagusan, perumahan nomor 20" ucap Rayla memberi tahu Edward di mana letak rumahnya. Edward pun hanya mengangguk dan melajukan motor nya menuju alamat yang di beri tahu oleh Rayla tadi.


Setelah itu tidak ada obrolan lagi dari mereka, Edward yang sibuk untuk fokus mengendarai motornya sedangkan Rayla yang sibuk memperhatikan keadaan sekitar. Setelah menempuh jarak selama tiga puluh menit, akhirnya Edward dan juga Rayla sampai di rumah Rayla. Dengan segera Rayla turun dari atas motor Edward.


"Thanks udah nganterin gue balik," ucap Rayla ketika Ia sudah turun dari atas motor Edward.


"Iya, sama-sama." jawab Edward.


"Lo mau mampir dulu?"


Edward melirik sekilas ke dalam rumah Rayla, kemudian menggeleng.


"Enggak deh lain kali aja, gue mau langsung pulang aja."


Rayla menganggukkan kepalanya mengerti, "Ya udah sana, hati-hati di jalan."


"Sip, gue balik dulu ya." ucap Edward kemudian men-starter kembali motornya dan melajukannya.


Setelah motor Edward hilang dari pandangannya, Rayla pun bergegas untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


"Pulang sama siapa kamu Ay?" tanya seorang wanita paruh baya yang nampaknya sedang bersantai sembari menonton televisi di ruang keluarga.


Rayla yang tadinya ingin segera naik menuju kamarnya pun mengurungkan niatnya, Ia berjalan mendekati Mamanya yang sedang bersantai itu.


"Sama temen Ma," jawab Rayla ketika Ia sudah duduk di sofa sebelah Mamanya.


"Cewek apa cowok?" tanya Mamanya kembali.


"Cowok," jawab Rayla seadanya.


Mamanya menatap anaknya menggoda, "Pacar kamu ya?"


"Ihh bukan Ma, kita cuma temenan aja kok."


"Kamu kenal dia di mana?"


"Ya di sekolah lah Ma, masak di kolong jembatan si?"


"Bukan gitu maksudnya, kamu udah kenal lama sama dia?"


"Baru aja tadi kenal namanya, kalo ketemunya sih udah yang ke dua kalinya."


"Lah kok bisa? Gimana ceritanya?"


"Rayla pernah gagalin dia pas mau bunuh diri," ucap Rayla dengan cengiran khasnya.


"Astaga Rayla,"


"Kenapa Ma?" tanya Rayla dengan tatapan polosnya, perasaan Ia tidak melakukan kesalahan apa-apa, tetapi kenapa Mamanya nampak kaget dengan jawabannya? Menggagalkan orang yang mau bunuh diri kan gak dosa ya?


"Sudah, bukan apa-apa. Sana kamu ganti baju dulu setelah itu makan," titah Mamanya kepada Rayla.


"Ya udah kalo gitu Rayla ganti baju dulu ya Ma," pamit Rayla kepada Mamanya dan segera berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.